Last Angel [Chapter 3]

 

The Last Angel 3

Inspired Song:

Black Paradise “B2ast”, Sugar Free “T-Ara”, Hush “Apink”

Main Cast:

Park Jiyeon & Lee Jaehwan (Ken VIXX)

Other cast:

Byun Baekhyun (EXO), Bae Irene (RED VELVET), Lee Junho (2PM), Lee Ahreum, Cha Hakyeon (VIXX)

Genre:

Romance, fantasy, hurt/ comfort

Length: multichapter

Rating: PG – 15

Hepi reading…

 

 

 

Jaehwan memutuskan untuk beristirahat di dalam kamarnya sendirian. Ia ingin menenangkan pikiran dan membiarkan tubuhnya beristirahat dari segala aktivitasnya. Sedangkan Jiyeon, memutuskan untuk pergi ke restauran dan mulai bekerja di sana. Ia harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang sudah diberikan padanya. Sembari berjalan menuju restauran, Jiyeon memikirkan nasibnya lagi. Tiga hari sudah berlalu tetapi belum ada tanda-tanda apapun. Nampaknya Jaehwan memang belum ingin jatuh cinta. “Aish! Apa susahnya jatuh cinta?” runtuk Jiyeon dengan volume yang cukup keras.

“Kau sedang jatuh cinta?”

Jiyeon mendadak menghentikan ayunan langkahnya. Suara itu baru dikenalnya dan terdengar tidak asing di telinganya. Perlahan ia membalikkan badan untuk melihat siapa yang bertanya padanya.

‘Kenapa aku harus bertemu dia lagi? Setidaknya jangan sekarang karena aku harus segera sampai di restauran,’ keluh Jiyeon dalam batinnya.

Lee Junho berdiri di depan Jiyeon dengan senyum nakalnya. “Hmm akhirnya kita keremu di sini. Bukankah aku menyuruhmu menungguku di apartemen Jaehwan?”

Jiyeon diam dan hanya bisa menelan salivanya. Tanpa disuruh menunggu di apartemen Jaehwan pun ia akan tinggal di sana. “Aku mohon jangan sekarang. Pagi ini aku harus segera sampai di restauran. Aku harus mulai bekerja. Kau… mengerti, kan? Aku mohon mengertilah….” Jiyeon mengangkat kedua tangannya dan merapatkan kedua telapak tangannya. Dia memohon pada Junho untuk tidak mengganggunya pagi ini.

Junho menggerakkan alisnya ke atas. “Bekerja? Kau bekerja di mana?”

‘Hish! Kenapa dia malah menanyakan tempatku bekerja? Menyebalkan!’ batin Jiyeon kesal.

“Aku tidak bisa mengatakannya.”

“Cih! Kau pasti berbohong padaku. Gadis sepertimu mudah sekali berbohong pada orang lain.” Junho malah mengejek Jiyeon dan memancing amarah gadis itu.

“Yaak Lee Junho! Berhenti berkata kasar seperti itu! Kau ingin ganti rugi atas mobilmu yang kau bilang rusak itu, kan? Maka biarkan aku pergi bekerja hari ini. Akan ku lunasi biaya perbaikan mobil itu secepatnya!” teriak Jiyeon dengan amat kesal. Ia tidak tahan lagi berhadapan dengan orang bermarga Lee, seperti Junho dan Jaehwan.

Junho membelalakkan mata sipitnya. “Kau tahu namaku?”

Jiyeon terdiam. Ia tidak sudi menjawab pertanyaan Junho.

“Pasti Jaehwan yang memberitahukan namaku.”

“Terserah,” sahut Jiyeon sewot. Ia berusaha berjalan secepat mungkin agar segera menjauh dari namja aneh bernama Lee Junho.

*****

Setelah berjalan kaki selama tiga puluh menit, akhirnya Jiyeon sampai di restauran tempat ia diterima untuk bekerja. Restauran itu memang terletak cukup jauh dari apartemen Jaehwan apalagi kalau ditempuh dengan berjalan kaki.

Hosh! Hosh! Hosh!

Jiyeon berdiri di luar, bersandar pada dinding restauran yang berwarna orange muda. Ia mengatur nafasnya perlahan-lahan dan mengusap peluh di pelipis dan sebagian wajahnya. “Jauh sekali,” keluhnya lirih. “Seandainya aku punya uang, aku bisa naik bus dan tidak akan selelah ini. Hah! Nasibku malang sekali.”

Seusai beristirahat sejenak di depan restauran, Jiyeon melangkah masuk ke dalam restauran dengan langkah ragu. Ia masih ragu apakah dirinya benar-benar diterima di restauran itu atau tidak. Jiyeon berjalan melewati beberapa meja yang telah dipenuhi oleh pelanggan yang telah mendapatkan pesanan makanan mereka. Saat dirinya tiba di depan kasir, tiba-tiba seseorang menepuk bahu kanannya dan sukses membuatnya kaget.

“Omo!” pekik Jiyeon kaget. Ia berputar membalikkan badannya pelan. Tak lama kemudian, nampaklah seorang namja berpostur tubuh tinggi, langsing, dan memiliki paras nan imut.

Jiyeon mengerutkan kening saat melihat sosok Baekhyun. Ia sedang berpikir, sepertinya dirinya pernah berkenalan dengan Baekhyun di masa lalu. Masa lalu seperti apa? Masa lalu Jiyeon adalah dirinya yang merupakan malaikat terakhir.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membuatku merinding!” ujar Baekhyun yang tak begitu suka ditatap nanar oleh Jiyeon. “Siapa kau?” tanya Jiyeon polos.

Baekhyun membuka mulutnya membentuk huruf O. Tiba-tiba ia menarik lengan Jiyeon dan mengajaknya ke bawah tangga. “Kau sudah melupakanku?”

Jiyeon menggaruk tengkuknya, bertambah bingung. “Apa maksudmu? Aku memang merasa pernah melihatmu sebelum pertemuan kita kemarin. Tapi… Ah, mungkin aku salah orang.”

‘Gadis ini malaikat atau bukan, sih?’ batin Baekhyun kesal menghadapi Jiyeon yang tak dapat berpikir cepat. “Kau benar-benar melupakanku?” Namja imut itu sengaja terdiam sejenak setelah mengajukan satu pertanyaan pada Jiyeon agar gadis polos bermarga Park itu segera mengingat tentang dirinya.

“Memangnya siapa kau?” tanya Jiyeon polos.

Baekhyun langsung menepuk dahinya agak keras. Dia heran kenapa ada malaikat sebodoh Jiyeon. “Hei, aku ini Byun Baekhyun. Kau ingat?”

“Namamu kan memang Byun Baekhyun. Lalu kenapa kau bertanya seperti itu padaku?”

Tak ada gadis sebodoh Jiyeon, batin Baekhyun kesal dan gemas karena Jiyeon bersikap seperti orang bodoh. “Hei, ingat sekali lagi, siapa yang menyuruhmu segera menyelesaikan misi menjadi malaikat?”

“Ada banyak malaikat yang memberikan nasehat itu padaku.” Jiyeon menghentikan kata-katanya. Dia keceplosan. “Ya ampun,” ucapnya lirih seraya menutup mulutnya.

Baekhyun tersenyum senang. “Ya, hanya aku yang tahu kalau kau adalah malaikat. Kau benar-benar melupakanku!” Baekhyun sudah terlalu percaya diri dan yakin kalau Jiyeon akan mengenalnya.

“Kau… Siapa ya?” tanya Jiyeon lirih sembari mengingat-ingat sosok Baekhyun. Ada sekilas ingatan tentang Baekhyun namun ia telah lupa hal itu.

“Siapa yang terus-terusan mengejekmu menjadi devil? Siapa yang mengancammu segera menjadi devil? Siapa yang meremehkan kemampuanmu mengubah takdirmu menjadi malaikat selamanya?” Baekhyun sengaja memberondongi beberapa pertanyaan pada Jiyeon agar gadis itu segera mengingatnya.

“Tunggu! Yang meremehkanku dan menyuruhku segera menyelesaikan misi menjadi malaikat itu….” Tiba-tiba Jiyeon membuka mulutnya dan membentuk huruf O. Tak lama kemudian ia menutup mulutnya itu dan menatap Baekhyun tak percaya. “Kau… Malaikat juga?”

Baekhyun mengelus dada. “Akhirnya kau ingat juga. Ya, aku Baekhyun yang menyuruhmu ini itu.”

“Waaah! Daebak! Tapi ngomong-ngmong, kenapa kau ada di sini?” Jiyeon melanjutkan pertanyaannya.

“Dengar, aku sudah lama hidup di dunia ini sebagai manusia. Aku menginginkan menjadi manusia selamanya. Maka dari itu, aku diberi tugas menjadi manusia sementara waktu dan selama itu, aku tidak boleh melakukan hal buruk lebih dari 100 kali.”

Jiyeon menyipitkan kedua matanya dan menatap anak tangga, memikirkan maksud kata-kata Baekhyun. “Sudah berapa lama kau menjadi manusia seperti ini? Lalu… bagaimana bisa kau menjadi malaikat lagi seperti waktu itu?”

Baekhyun ingin teryawa terbahak-bahak namun ia harus berhasil menahannya agar tidak didengar oleh orang lain, terutama Irene. “Aku akan menjadi malaikat seminggu sekali. Kau pasti akan seperti itu juga.”

“Apa? Bagaimana kalau tertangkap basah oleh seseorang?”

“Aku belum pernah mengalami hal itu. Aku jamin aman.”

Jiyeon menghela nafas panjang, sedikit lega karena ia tidak akan menjadi manusia selama 100 hari penuh. “Aku benar-benar senang kalau bisa menjadi malaikat satu kali dalam seminggu.”

*****

Praaang!

Beberapa buah cangkir sengaja dibanting di atas lantai dan sukses mengejutkan Jiyeon dan Baekhyun yang kebetulan berada di dalam dapur. Keduanya saling berpandangan lalu segera berhambur ke tempat sumber suara dan meninggalkan aktivitas mereka sejenak.

“Aku sudah mengatakannya padamu dengan jelas! Jangan pernah datang ke tempatku dengan alasan apapun!” Suara Jaehwan terdengar meledak-ledak di ruang istirahat untuk para staf.

Baekhyun dan Jiyeon tercengang melihat Jaehwan yang sudah berdiri di depan Irene.

“Bagaimana dia bisa kemari? Bukankah tadi dia masih sakit?”

“Entahlah,” sahut Baekhyun lirih.

Keduanya berbisik sambil melihat kejadian yang menghebohkan restoran milik keluarga Lee pada jam istirahat.
Irene terlihat sangat ketakutan. Ia menautkan jari-jarinya dan menundukkan kepala. Tentu saja, ia tidak akan berani menatap manik mata Lee Jaehwan yang sedang kesal padanya.

“Dengarkan aku baik-baik! Jaga jarakmu denganku. Aku… masih belum siap menerima semua yang terjadi di masa lalu.” Kali ini Jaehwan bicara dengan nada yang lebih rendah.

Bae Irene, seorang gadis yang terikat masa lalu dengan Lee Jaehwan, hanya dapat mengangguk pelan tanpa menatap Jaehwan yang sedang berbicara padanya. Kesalahan Irene kali ini adalah berani datang ke tempat tinggal Jaehwan dengan alasan menjenguk namja yang tengah sakit itu.

“Hish! Benar-benar menyebalkan! Aku kira Jaehwan adalah orang yang berhati lembut,” ujar Jiyeon lirih tanpa mau memalingkan pandangannya dari sosok Jaehwan yang berdiri membelakanginya. Jiyeon hendak melangkah mendekati Jaehwan namun tiba-tiba Baekhyun mencegahnya agar tidak melangkah lebih jauh.

“Tidak perlu. Ini urusan mereka berdua,” lirih Baekhyun mengingatkan Jiyeon kalau dia tidak perlu ikut campur dalam urusan Jaehwan dan Irene.

Jiyeon menatap kecewa pada Baekhyun. “Tapi aku hanya ingin melerai mereka berdua. Jaehwan harus menyadari kalau Irene adalah yeoja yang memiliki hati lembut.”

Baekhyun mendesah kasar. “Ada sesuatu yang buruk telah terjadi di masa lalu. Penyebabnya tida lain adalah Irene.”

“Apa?” Jiyeon terkejut mendengar penjelasan dari Baekhyun. Ia masih menatap Baekhyun namun dengan maksud yang berbeda. Ia belum bisa mencerna dengan akalnya sendiri. “Apa yang telah terjadi?” tanya Jiyeon dengan sangat penasaran. “Aku kira hubungan mereka baik-baik saja.”

Kata-kata Jiyeon enggan direspon oleh Baekhyun yang masih menatap datar ke arah Jaehwan dan Irene yang tengah adu mulut.

“Apa kau tahu masalah mereka berdua?” tanya Jiyeon secara tiba-tiba.

Baekhyun menoleh pada Jiyeon seraya mengangkat kedua alisnya. “Kau bertanya padaku?” tanya Baekhyun dengan jari telunjuk mengarah pada dirinya sendiri.

Jiyeon hanya menggerakkan bola matanya, melihat Baekhyun dari dua sudut matanya.

“Tentu saja,” jawab Jiyeon datar. “Aku punya rencana untuk Jaehwan dan Irene. Oleh karena itu, aku harus tahu masalah mereka terlebih dahulu.”

Baekhyun sama sekali pada Jiyeon. Ia sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Jiyeon. Hal ini pasti bersifatbaik dan menguntungkan banyak orang. Jadi, Baekhyun merasa tenang-tenang saja. “Lakukanlah! Tapi jangan sampai menyakiti orang lain!”

Jiyeon mengangguk paham. “Eoh. Aku ini malaikat paling cerdas. Kau tidak perlu memberitahuku seperti itu.”

“Yaak Jiyeon-a, memangnya apa yang ingin kau lakukan terhadap mereka berdua?” tanya Baekhyun penasaran. Rupanya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu pada Jiyeon. Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya ia bertanya pada Jiyeon dan sukses membuat gadis itu mengerutkan kening, enggan memberitahukannya pada Bakehyun.

“Haruskah aku memberitahumu?”

Baekhyun mengangkat kedua bahunya. “Terserah.”
“Aku hanya khawatir padamu. Saat itu aku tidak sengaja melihat Jiyeon keluar dari apotik. Dia membawa beberapa bungkus obat. Aku pergi menyapanya. Saat aku tanya obat itu, ternyata kau sakit demam. Dari situlah aku tahu bahwa kau sedang sakit. Aku… tidak ingin terjadi hal buruk padamu, Oppa.”

Jiyeon dan Baekhyun terenyuh mendengar pengakuan Irene.

“Jadi… sebenarnya Irene mencintai Jaehwan?” lirih Jiyeon entah pertanyaan itu ditujukan pada siapa.

“Dia memiliki perasaan itu sudah lama namun kenyataan membuatnya selalu patah hati. Kau tahu? Irene lah yang menyebabkan ibu Lee Jaehwan meninggal, tepatnya di restauran ini.”

Deg!

Jiyeon langsung menoleh ke arah Baekhyun. “Apa? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

“Memangnya kenapa?” tanya Baekhyun polos.

Jiyeon berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Karena aku ingin membuat hubungan mereka berdua dekat. Aku ingin membuat mereka… menjalin hubungan asmara.”

“Apa? Kau sudah gila?” pekik Baekhyun yang berhasil membuat Jiyeon, Jaehwan, dan Irene menoleh ke arahnya.

*****
Jiyeon dan Jaehwan telah kembali ke apartemen milik Jaehwan setelah menempuh perjalanan dengan sebuah taksi. Keduanya saling diam dan tidak ada pembicaraan apa-apa. Jiyeon terdiam karena memikirkan cara untuk membuat Jaehwan dan Irene dekat agar keduanya bisa menjalin hubungan, terutama Jaehwan. Namja itu harus bisa jatuh cinta pada seseorang.

Tak ada suara di dalam apartemen milik Lee Jaehwan. Baik Jiyeon maupun Jaehwan enggan mengeluarkan kata-kata untuk sekedar menyapa. Jiyeon memilih masuk ke dalam kamarnya, begitu pula Jaehwan. Saat ini sepertinya merupakan hari tenang bagi Jiyeon dan Jaehwan karena tak ada yang mau berkata meskipun hanya mengeluarkan sepatah kata. Alasan Jiyeon memilih diam adalah untuk menghindari pertengkaran atau lebih tepatnya adu mulut dengan Jaehwan yang akan membuahkan sebuah penghinaan bagi dirinya yang tidak memiliki asal usul yang jelas.

Sebagai manusia biasa, Jiyeon cukup sadar diri bahwa dirinya hanya menumpang hidup di tempat Jaehwan. Bahkan namja itu pula yang memberinya pekerjaan, baju yang bagus dan makanan yang enak.

*****

Keesokan harinya.

Matahari merangkak bergeser ke arah barat secara perlahan. Tanpa terasa, Jiyeon telah menyelsaikan menu ke 78 sampai siang ini. Hari ini restauran sangat ramai. Bahkan, Baekhyun yang merupakan tangan kanan Irene sekaligus asisten manajer di tempat itu, rela mengorbankan dirinya membantu tugas para pelayan yang kewalahan menjalankan tugas mereka.

Hosh!

“Hah! Hari ini benar-benar melelahkan!” keluh Jiyeon saat ini. Ia duduk di atas sebuah bangku kayu yang ada di atap restauran. Gadis jelmaan malaikat yang malang itu harus mampu melaksanakan tugasnya sebagai seorang koki andalan restauran yang dikelola oleh Baekhyun dan Irene. Mereka berdua telah mempercayakan kenikmatan dan kelezatan makanan dan minuman di restauran itu pada Jiyeon.

“Setidaknya aku harus membuat orang-orang di sekitarku tidak merasa dirugikan. Aku hanya tinggal sementara di sini. Jadi… aku harus berbuat baik pada siapapun.”

“Ke mana saja kau? Apa yang kau lakukan di sini?”

Deg!

Jiyeon langsung terlonjak kaget dan menegakkan tubuhnya, berdiri dengan kedua kaki sebagai tumpuannya. Rambutnya sedikit berantakan karena diterpa angin dan gerakan tubuh yang mendadak. “K, kau… Kenapa bisa ada di sini?” Jiyeon gugup menghadapi Jaehwan yang entah kenapa tiba-tiba berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada.

Jaehwan memasang ekspresi datar kemudian melangkah kecil mendekati Jiyeon. “Aku pemilik restauran ini. Memangnya harus ada alasan khusus untuk datang kemari?”

Pertanyaan Jaehwan mampu membungkam Jiyeon yang bingung mencari jawabannya. “Biasanya ada sesuatu yang membawamu kemari,” lontar Jiyeon asal.

Lee Jaehwan sama sekali tidak menanggapi kata-kata Jiyeon. “Apa maksud ucapanmu yang tadi?”

Deg!

Ucapan? Jiyeon bahkan lupa dengan apa yang telah ia ucapkan. “Ucapan yang mana? Memangnya apa yang aku….”

“Kau mengatakan kalau… Kau hanya tinggal sementara di sini. Kau ingin pergi? Kau… Sudah ingat tempat asalmu?”

“Itu…” Jiyeon bingung. Apa yang harus ia katakan pada Jaehwan?

“Kenapa kau keliatan bingung? Jangan-jangan kau menipuku!”

Jiyeon membelalakkan kedua netranya kemudian mengerutkan kening. “Apa kau bilang? Hey, aku ini memang nampak seperti gelandangan. Tapi aku ini orang yang jujur dan apa adanya. Kau tidak bisa menilaiku seperti itu. Jika aku penipu, mana mungkin aku merawatmu sakit dan bertanggung jawab terhadap pekerjaanku di sini? Aish! Dasar!”

Jaehwan terdiam. Apa yang dikatakan oleh Jiyeon memang benar. Jika dirinya memang seorang penipu, pasti sudah kabur begitu saja setelah mengambjl barang berharga.

“Kenapa diam?” tanya Jiyeon sedikit kesal.

Jaehwan tidak menjawab. Dia malah mengatakan kalau ada asosiasi koki se-Korsel yang akan digelar di hotel berbintang lima di Seoul. “Aku tidak tahu kau akan datang atau tidak. Yang penting aku sudah memberitahukanmu mengenai hal ini. Jika kau datang ke acara tersebut, kau bisa mendapat banyak ilmu dari sana.” Setelah mengatakan hal tersebut, Jaehwan langsung enyah dari hadapan Jiyeon. Ia merasa canggung berbicara dengan gadis asing yang asal usulnya tidak jelas.

“Kenapa dia bersikap aneh seperti itu? Apakah karena di sini ada Irene? Tapi… Irene kan sedang berada di ruangannya. Atau jangan-jangan dia takut Irene melihat kedatangannya di sini dan tidak menemuinya. Hah! Entahlah.” Jiyeon menyusul Jaehwan turun ke lantai satu.

*****
Saat sedang berjalan menuju dapur, tiba-tiba Jiyeon mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk menjalankan misinya. Ia tersenyum senang dan mulai melakukan sesuatu.

Lima belas menit kemudian.

“Aku harus cepat-cepat!” pekik Jiyeon di dalam dapur seorang diri. Ia bergegas memasukkan beberapa potong kimbab ke dalam sebuah wadah berbentuk bulat dan sup kimchi di wadah yang lain. Setelah itu, ia berlari menuju tempat kasir di bagian depan restauran.

Dengan senyum sumringah yang ia tunjukkan pada Baekhyun dan Jaehwan, Jiyeon menyerahkan dua wadah makanan itu pada Jaehwan. Jelas saja dua namja di depannya merasa curiga.

“Kau…” Jaehwan memenggal kalimatnya. Ia mencium bau sup kimchi dari salah satu wadah yang baru saja ia terima dari Jiyeon. Jiyeon terkikik geli.

“Tidak usah mencium baunya seperti itu. Kau pasti lapar. Hemm… Kelihatan sekali kalau kau sedang menahan lapar. Irene-ssi benar-benar hebat. Dia bisa menebak apa yang kau rasakan saat ini.”

Jaehwan mengernyitkan kening. “Apa maksudmu?” Dia merasa canggung saat Jiyeon menyebut nama Irene di depannya.

“Sudahlah, kalau kau lapar, makan saja makanan itu.” Jiyeon bergegas menarik sebuah kursi kayu di ruang saji untuk Jaehwan. “Duduklah di sini lalu makanlah!”

Jaehwan menatap aneh pada Jiyeon. Sikapnya terlihat sangat aneh saat ini. “Apakah terjadi sesuatu padamu?”

Jiyeon membulatkan kedua matanya kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak. Tidak terjadi apapun yang buruk padaku. Aku baik-baik saja. Justru kau yang aneh. Sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi padamu.”

“Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Kau membuatku pusing.” Jaehwan hendak beranjak setelah meletakkan kotak makanan di atas meja kasir.

“Lee Jaehwan!” teriak Jiyeon kesal karena Jaehwan tidak mau memakan makanan yang ia berikan. Padahal makanan itu adalah kesukaannya sejak kecil. “Kau tahu betapa susahnya membuat makanan itu? Irene telah membuatkan makanan itu khusus untukmu. Tetapi kau malah…”

Sebenarnya Jaehwan juga kesal pada sikap Jiyeon yang terkadang semaunya saja. Dengan terpaksa, Jaehwan duduk di bangku yang ditunjukkan oleh Jiyeon.

“Aku akan membantumu membuka kotaknya,” ujar Baekhyun yang baru saja mengetahui bahwa makanan itu adalah trik Jiyeon semata. “Waaah ini kan makanan kesukaanmu!” seru Baekhyun yang pandai bersandiwara.

Jiyeon terkikik geli. “Makanlah! Setidaknya hargai Irene yang telah membuatkannya untukmu. Selagi kau makan, aku akan memanggil Irene kemari.” Jiyeon membalikkan badan kemudian mengedipkan mata pada Baekhyun, memberikan isyarat kalau sekarang tugas Baekhyun adalah membujuk Jaehwan menghabiskan makanan itu.

Baekhyun mengangguk kecil. Tak lama kemudian, Jiyeon menghilang di balik pintu yang menjadi jalan masuk ke ruang manajemen restauran.
Seorang gadis tengah disibukkan oleh aktivitas sebagai seorang supervisor. Ia harus bekerja secara maksimal agar tidak merugikan keluarga Lee yang telah mempercayakan nasib restauran itu padanya. Bae Irene sibuk membolak-balikkan kertas-kertas yang berisi resep masakan terbaru yang ia beli dari seorang koki handal di Jepang.

Tok tok tok!

Tanpa ragu, Jiyeon mengetuk pintu ruang kerja Irene.

“Eoh, masuklah!” Entah siapa yang datang, Irene sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin tamunya segera masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan.

Jiyeon melangkah masuk ke dalam ruang kerja Irene.

“Oh, ternyata kau, Jiyeon-ssi. Duduklah!”

Tak lama kemudian, Jiyeon duduk tepat di depan Irene.

“Ada apa?” tanya Irene to the point.

Bukannya menjawab pertanyaan Irene, Jiyeon malah tersenyum. “Aku punya kabar bahagia untukmu.”

Irene hanya merespon kata-kata Jiyeon dengen mengerutkan keningnya.

“Ya, ada kabar bahagia untukmu, Irene-ssi.” Jiyeon berhenti berkata sejenak. “Tadi aku membuat sup kimchi dan makanan kesukaan Jaehwan untukmu. Aku mengatakan kalau makanan itu adalah hasil masakanmu. Jadi, tujuanku datamh kemari untuk memberitahukan itu sekaligus memintamu menemui Jaehwan. Dia pasti akan merubah sikapnya. Yah, meskipun mungkin hanya sedikit.”

“Tapi…”

“Sudahlah, ayo keluar!” Jiyeon tidak mengizinkan Irene melanjutkan kalimatnya. Ia segera mengajak Irene menemui Jaehwan yang tengah menikmati makanan kesukaannya.

“Kau tak perlu malu, Irene-ssi. Aku akan membantumu berbaikan dengan Jaehwan.”

*****

Irene dan Jiyeon telah sampai di hadapan Jaehwan. Namja itu tertegun melihat kedatangan Irene. “Terimakasih makanannya. Kau masih… hafal dengan makanan kesukaanku.”

Jiyeon tersenyum senang sedangkan Irene tersipu mendengar kata-kata Jaehwn.

‘Akhirnya aku berhasil melakukan itu,’ batin Jiyeon senang.

Sreet!

Jaehwan menggeser kursinya ke belakang. Tak berapa lama kemudian namja itu berdiri dan tiba-tiba menarik lengan Jiyeon. “Sini kau!”

Sepasang netra Jiyeon terbelalak heran. “A, ada apa?” tanya Jiyeon yang sama sekali tidak tahu alasan Jaehwan menarik lengannya keluar restauran.
Di luar restauran.

Jaehwan berdiri tepat di depan Jiyeon. Gadis itu malah menatap langit biru dan terlalu malas bicara dengan Jaehwan.

“Jangan lakukan hal itu lagi padaku. Kau pikir aku menyukai semua yang kau lakukan tadi? Kau pikir aku tidak tahu kalau makanan itu adalah hasil masakanmu?”

Deg!

Jiyeon mengalihkan pandangannya pada sosok Jaehwan yang berdiri di depannya. “I, itu…jelas saja Irene yang membuatkannya untukmu. Seharusnya kau berterimakasih pada Irene. Bukannya marah-marah seperti ini.”

“Aku tahu bagaimana rasanya masakan Irene dan masakanmu. Ini bukan masakan Irene. Dia tidak mungkin membuat makanan seenak itu.” Tiba-tiba Jaehwan terdiam. Apa yang telah ia katakan tadi membuatnya mengakui kelezatan masakan Jiyeon. “Maksudku…”

“Eoh, aku yang membuat makanan itu. Aku melakukannya untuk membuatmu berbaikan dengan Irene. Kau tahu? Permusuhan itu sangat merugikan. Jika Irene punya salah, belajarlah untuk memaafkannya. Sikapmu padanya sudah sangat keliru. Tidak seharusnya kau memarahinya tidak jelas dan menjauhinya.”

Jaehwan geram. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya, siap menghajar siapa saja yang ia temui. “Irene itu…”

“Kenapa dengan Irene? Katakan saja!”

Jaehwan menatap Jiyeon tajam. “Dia yang membunuh ibuku. Kau puas sekarang?”

Deg!

Jiyeon tidak menyangka kalau Jaehwan akan membeberkan rahasia padanya. “Apa maksudmu?”

“Irene yang menyebabkan ibuku mati terbunuh. Dia ditembak oleh seseorang.”

Jiyeon mengerti maksud kata-kata Jaehwan akan tetapi sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa Irene menyebabkan ibu Jaehwan terbunuh. “Aku… sama sekali tidak mengerti maksud ucapanmu, Jaehwan. Kau mengatakan hal yang tidak bisa ku percaya. Mana mungkin orang sebaik Irene bisa menyebabkan ibumu mati terbunuh?”

Jaehwan mendesah kasar. Ia tidak ingin mengingat masa lalu yang terlalu menyakitkan. Kepergian ibunya merupakan racun dalam kehidupannya. Tanpa terasa, airmata nan hangat mengalir lembut di pipi Jaehwan. Hatinya merasakan sakit yang teramat dalam kala mengingat kematian ibunya yang disebabkan oleh Irene.

“Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Maaf jika pertanyaanku membuatmu harus mengingat hal itu lagi,” ujar Jiyeon lirih. Ia tidak sanggup melihat Jaehwan sedih apalagi menangis di hadapannya.
Jiyeon pov

Aku benar-benar merasa bersalah pada namja itu. Karena aku, dia harus mengingat masa lalu yang pahit tentang ibunya.

“Ada seseorang yang ingin membunuh Irene. Saat orang itu menembakkan pelurunya ke arah Irene, Irene menyadari bahaya yang akan menimpanya. Dia… langsung berlindung di belakang ibuku dan…” Jaehwan berhenti menceritakan kronologi pembunuhan yang menimpa mendiang ibunya.

Aku sudah dapat menduga kelanjutan cerita Jaehwan. Peluru itu pasti bersarang di tubuh ibunya dan menyebabkan dia meninggal. Ku lihat manik mata Jaehwan berkaca-kaca. Dia berusaha keras menahan airmatanya. Ya, aku dapat melihatnya dari mata bulat itu.

“Sudahlah, kau tidak perlu menceritakan semuanya. Aku… minta maaf, Lee Jaehwan.”

Aku memeluknya, ya, memeluknya erat dan mengusap punggungnya. Lee Jaehwan menangis dalam pelukanku. Aku pun tak sanggup menahan airmata ini mengalir dari muaranya. “Maafkan aku,” ucapku lagi.

*****

Kini aku dan Jaehwan sedang berada di pinggir sungai Han. Angin sore bertiup menerpa wajah kami berdua, begitu lembut dan menyegarkan. Aku memejamkan mata untuk menikmati betala lembutnya terpaan angin sore. Sedangkan Jaehwan menatapriak air sungai dengan tatapan kosong.

“Ada apa denganmu?” tanyaku berpura-pura tidak tahu kalau sebenarnya Jaehwan sedang memikirkan dan mengingat ibunya. “Sudahlah, jangan terlalu menyiksa dirimu dengan kenangan pahit di masa lalu. Hal itu tidak akan menyembuhkan luka yang kau derita. Ibumu pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Kau harus tetap tersenyum dan semangat menjalani hidup, Jaehwan.”

Lee Jaehwan tetap menatap air yang mengalir deras di sungai Han.

“Lihatlah aku!”

Ku tangkup wajah Jaehwan dan ku paksa dia melihatku. “Lihat aku sejenak! Kau masih memiliki keluarga dan orang-orang yang sayang padamu. Meninggalnya ibumu jangan kau jadikan bumerang dalam hidupmu. Lihatlah aku! Aku sendirian di dunia ini. Kedua orangtuaku sudah tiada. Keluarga pun aku tak punya. Aku juga tidak memilikianyak teman. Hanya kau, Baekhyun dam Irene lah yang ku punya. Setidaknya aku masih memiliki orang-orang yang bisa ku percaya. Aku tetap bahagia. Karena kalian selalu baik padaku.”

Aku berharap apa yang ku katakan tadi dapat menyentuh hati Jaehwan. Tidak ada kebohongan sama sekali dalam perkataanku tadi. Aku memang sendirian di dunia ini.

“Entah kenapa… setiap kau mengatakan sesuatu, aku merasa sedikit tenang.”

Deg!

Apa yang dikatakan oleh Jaehwan tadi? Apakah dia mulai menyukaiku? Ah tidak, ini tidak mungkin dan tidak akan terjadi.

Jiyeon pov end.
Jiyeon berdiri kemudian merapikan bajunya. “Ayo pulang!” ajaknya pada Jaehwan yang terlihat sudah semakin tenang.

Jaehwan hanya melihat Jiyeon tanpa ekspresi.

“Kau tidak mau pulang? Baiklah, kalau begitu jangan pulang! Biar apartemen itu aku ambil alih!”

“Yaak!” teriak Jaehwan pada Jiyeon yang berlari menjauhinya.

*****

Tiba di depan pintu apartemen Jaehwan, seorang namja berdiri dengan ekspresi kesal di sana.

Melihat namja tersebut, Jiyeon langsung membuka mulutnya membentuk huruf O. “Junho-ssi,” lirih Jiyeon.

“Hyung! Sedang apa kau di sini? Kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau kau mau datang.”

“Aku tidak ada keperluan denganmu,” jawab Junho singkat lalu mengarahkan tatapan matanya pada Jiyeon yang berdiri di belakang Jaehwan. “Kau! Urusan kita belum selesai!”

Tiba-tiba Junho memegang tangan Jiyeon dan hendak menyeretnya ke dalam lift.

Tap!

Tangan Jaehwan langsung mencengkeram tangan Junho yang digunakan untuk menyeret lengan Jiyeon.

“Lepaskan dia, Hyung. Kalau kau masih punya urusan dengannya, selesaikan saja di sini. Aku masih memerlukannya.”

“Cih! Sejak kapan kau membutuhkan wanita? Bukankah kau sudah menjauhi yang namanya wanita?”

“Selesaikan saja urusanmu di sini. Aku tidak ingin kekasihku pergi jauh dariku!”

Ceklek!

Jaehwan membuka pintu apartemennya dengan sedikit kasar dan melepas alas kakinya begitu saja.

“Masuklah!” Jaehwan menyuruh Jiyeon segera masuk ke dalam kamar apartemen miliknya. Sedangkan Junho melihat tingkah adik sepupunya yang aneh.

“Aku perlu bicara denganmu!” Junho menarik lengan Jiyeon lagi dan membuat gadis itu terpaksa membalikkan badannya.

“Bicara apa lagi? Bukankah masalah itu sudah selesai? Kau bilang…”

“Hentikan, Hyung. Aku ingin istirahat. Jadi, pulanglah dan jangan mengganggu di apartemenku!” Jaehwa memotong kalimat Jiyeon dan membuat Junho geram.

“Ada apa denganmu? Kau menyukai gadis ini, eoh?” Junho tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Adik sepupu yang belum pernah jatuh cinta itu tidak mungkin menaruh hati pada wanita yang baru saja dikenalnya. “Kau tidak mungkin jatuh cinta padanya. Kau bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta seperti itu.”

Jaehwan menatap Junho tajam namun sepasang netranya nampak lelah. “Ya, aku menyukai Jiyeon. Jadi aku tidak ingin kau mengganggu kami sesuka hatimu.”

Junho menarik nafasnya dalam-dalam. “Hah! Benar-benar aneh.”

“Kau menginginkan dia, kan? Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Jaehwan yang terdengar seperti tantangan untuk Junho.

Junho berkacak pinggang, kesal pada sang adik sepupu. “Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi untuk meminta ganti rugi pada gadis itu!”

“Tunggu!” seru Jaehwan sebelum Junho melangkahkan kaki dari hadapannya. “Ini ganti rugi yang kau inginkan. Seberapa parah rusak yang disebabkan oleh Jiyeon? Uang ini pasti cukup, kan?” Ia menyerahkan beberapa uang bernilai paling tinggi pada Junho. Jaehwan yakin kalau uang itu pasti cukup untuk memperbaiki mobil Junho yang rusak akibat ulah Jiyeon.

Junho kesal pada Jaehwan dan menatapnya tanpa kedip. “Baiklah, aku terima.” Tak lama kemudian, ia meninggalkan aparteme Jaehwan dengan kekesalan tingkat tinggi dan emosi yang batal meledak. Kedua tangannya mengepal kuat karena terlalu kesal. Ia tidak bisa berbuat apapun untuk memberi pelajaran pada Jaehwan agar tidak bersikap kurang ajar padanya, selaku kakak sepupu yang seharusnya dihormati.
Kembali ke apartemen Jaehwan.

Jiyeon masuk ke dalam apartemen dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ada apa dengan Jaehwan? Apa yang terjadi pada namja itu? Kenapa dia mengaku kalau dirinya adalah kekasih Jiyeon? Apa maksud kata-katanya menyukai Jiyeon?

‘Aku tahu kalau dia hanya bersandiwara di depan Junho agar kakaknya itu tidak mengganggu ketenangannya saat ini. Tapi bukan begitu caranya. Bagaimana kalau Junho mengatakan sesuatu pada Irene tentang yang ia dengar tadi?’ batin Jiyeon seraya memegang ujung rok pendeknya kemudian meremasnya. “Lee Jaehwan! Kau selalu bertindak semaumu,” lirih Jiyeon.

Jaehwan mendengar ucapan Jiyeon samar. “Apa maksudmu??”

“Eoh… A, apa?” Jiyeon tidak menyangka kalau Jaehwan dapat mendengar kata-katanya padahal namja itu sudah melangkah ke kamarnya.

“Maksudku…” Jiyeon memikirkan jawaban lain atas pertanyaan Jaehwan tersebut. Ia tidak bisa mengataka yang sebenarnya. “Aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau mengatakan kalau kita menjalin hubungan? Bukankah itu akan berdampak pada nama baikmu dan juga… karirmu?”

Jaehwan berpikir sejenak. Memang benar yang dikatakan oleh Jiyeon. Jaehwan baru mengingatnya sekarang. Berarti mulai saat ini ia harus berpura-pura menjalin hubungan dengan Jiyeon. “Astaga… Aku berpikir sejauh itu.”

“Bagaimana kalau Irene tahu?” tanya Jiyeon dengan nada datar.

“Kenapa kau menyebut nama itu lagi? Ini tidak ada kaitannya dengan Irene dan aku tidak peduli dengan hal itu. Aku melakukannya karena muak melihat Junho datang ke tempatku hanya ingin membawamu dan membicarakan masalah konyol itu ”

“Baiklah, aku mengerti. Aku tahu kau sangat tertekan dan banyak pikiran. Tenanglah! Aku akan membuatmu tidak perlu berpura-pura mempunyai hubungan spesial denganku. Aku juga akan membayar kembali uang yang kau berikan pada Junho tadi.”

Jaehwan terdiam. ‘Bukan itu yang ku inginkan, Park Jiyeon,’ batinnya sedih.
Tbc
Haluuuu… Mayan lama ya aku gak apdet ff. Pertama sih karena emang sibuk sebagai admin di tiga blog (Indo Fanfictions, Indo Fanfictions Arts dan SM Fanfictions Indo). Kedua, sibuk real life sebagai guru dan artworker karena sekarang aku open request art by payment. Jdi harus profesional. Alhasil, ff jadi terlantar. Ketiga, agak males sih nulis ff karena bnyak bgt sidernya

Makasih untuk yg udah mau baca ff ini. Lope u yg mau komen yaah…

Papay

 

Advertisements

5 thoughts on “Last Angel [Chapter 3]

  1. Pantas ja jaehwan sgt benci pd tu yeoja…
    Ibu na tewas krn dy.
    Baekhyun ternyata malaikat jg toh..
    Bgs lh setidaknya na jiyeon gk sndiri,, dy bs curhat ttg misi na pd baekhyun,,,
    Duuh q kaget junho muncul d apartemen,,
    Ayooooo udh da rasa cinta kh tuk jiyeon??? 😁

    Like

  2. semoga ucapan jaehwan menjadi kenyataan yg bilang bahwa jaehwan menyukai jiyeon dan sudah jantuh cinta pada jiyeon,, kan jd lebih seruuu nantinya ^^

    Like

  3. wahh..
    keren,,
    munkin jaehwan tu pengen kalo jiyeon itu pura” jadi pacarnya supaya ada alasan buat deket ma jiyeon ..
    next thor..
    kalo bsa jgn lama” yea.. hehe…

    Like

  4. Dia suka kamu jiyeon
    Aduhhh malaikat nggak peka nih di jiyeon
    Lucu aja wktu dia nggk inget ama baekhyun
    Hahahahaha

    Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s