More Than Alteration [Chapter 7]

image

image

Genre:
Family, Angst, Little commedy, Romance
Rating:
PG – 13

More than Alteration 7
Inspired song:
T-Ara “Day by Day”, VIXX “Error”, Shannon W. “Day Break Rain”

Tap tap tap!
Jiyeon dan Leo berjalan ragu di teras rumah mewah milik keluarga Park. Jiyeon tidak yakin kalau Leo akan membahas pernikahan dengan keluarganya, apalagi jika Chorong ada di rumah. Dari ekspresinya, tidak mungkin Leo berani bicara tentang suatu hal yang serius dengan keluarga Park, atau mungkin dia ingin membatalkan pertunangan dirinya dengan Jiyeon.
“Apa yang ingin kau bicarakan dengan keluargaku?” tanya Jiyeon yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Leo pun berhenti mengayunkan kakinya. Ia menoleh ke arah Jiyeon. “Hanya tentang pelaksanaan pernikahan. Keluargaku akan memasrahkan semuanya pada keluargamu. Toh, pernikahan itu akan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, kan? Jadi, aku ingin memastikan kalau pernikahan itu akan benar-benar aman dari media massa. Kau paham?”
Deg!
Rupanya Leo memang tidak menghendaki pernikahan itu. Ia hanya berpura-pura setuju dan tetap ingin merahasiakannya. Jiyeon terdiam sejenak, berpikir bagaimana ia akan menjalani segala sesuatu dengan pura-pura. Ini… hanya sandiwara, tak ada bedanya dengan status pacaran dengan Ken. “Kau tidak perlu mengatakan itu pada keluargaku. Aku sendiri yang akan mengatakannya.”
“Tidak. Biarkan aku yang melakukannya. Ini menyangkut masa depan keluargaku,” sahut Leo.
Tap!”
Jiyeon melangkah satu langkah untuk menyejajarkan dirinya dengan Leo. Ia menatap Leo nanar. “Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Kau tidak ingin pernikahan ini bocor ke media massa karena itu akan berpengaruh pada harga saham perusahaan keluargamu dan juga… karirmu sebagai penyanyi solo, kan? Aku tahu itu dengan baik, Oppa. Jadi, biarkan aku yang bicara.” Jiyeon bersikeras ingin megambil alih tugas itu karena ia khawatir keluarganya akan merasa tersinggung jika Leo yabg bicara. “Aku jamin kaluargaku akan setuju. Kau tidak perlu khawatir.”
Leo tampak sedang berpikir. Jika Jiyeon bisa dipercaya maka dia akan membiarkan Jiyeon yang menjelaskan tentang rahasia pernikahan dan segalanya kepada keluarga Park. “Kau yakin bisa melakukannya?”
“Tentu saja,” jawab Jiyeon penuh keyakinan kalau dirinya bisa melakukan apa yang ingin dilakukan oleh Leo. “Jadi, sekarang kau pulang saja. Aku juga ingin istirahat.”
Leo akhirnya setuju dan percaya kalau Jiyeon akan menjelaskan perihal pernikahan yang diinginkan keluarga Jung pada keluarganya. “Baiklah, aku pulang.”
Jiyeon mengangguk. “Selamat malam!”
Beberapa saat kemudian Leo berbalik arah, berjalan menuju tempat parkir mobil mewahnya kemudian pergi pulang.


Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh para penggemar idol yang diorbitkan oleh perusahaan milik Choi Siwon. Ya, hari ini adalah hari pelaksanaan bakti sosial yang digelar secara besar-besaran dan dihadiri oleh beberapa pejabat penting dan beberapa idol terkenal, seperti Leo, Ken, Hakyeon, Irene, Suzy, dan lain-lain. Acara akbar tersebut merupakan hasil kerja keras tim panitia yang terdiri dari lima puluh orang lebih dan salah satunya adalah Park Jiyeon. Gadis yang dikabarkan tengah menjalani hubungan asmara dengan salah satu idol, yaitu Ken. Ken dan Jiyeon adalah salah satu alasan para pengunjung mendatangi acara bakti sosial itu. Keduanya terlihat sangay serasi dan kompak di depan publin, benar-benar jauh berbeda dengan kenyataannya.
Semua tamu kehormatan dan bintang tamu telah datang. Acara pembukaan pun siap dimulai. Seluruh panitia telah bertugas sesuai dengan pembagian tugas masing-masing.
“Jiyeon-a, selama acara pembukaan, aku ingin kau memantaunya terus. Kau mengerti, kan? Setelah acara pembukaan selesai, kau boleh kembali ke tenda 2 untuk memantau jalannya cek kesehatan gratis di sana.” Sang ketua panitia memberikan tugas khusus pada Jiyeon dan langsung dilaksanakan oleh gadis berpostur tinggi semampai itu.
Jiyeon yang tengah mengenakan seragam panitia, kini berdiri di samping panggung utama yang menjadi pusat perhatian karena acara pembukaan akan dimulai dalam hitungan detik.
Semua hadiri menempati kursi masing-masing. Termasuk Leo, Ken, Hakyeon, Chanyeol, Suzy, dan Chorong. Namun gadis bernama Irene tidak ada di deretan kursi yang disediakan untuk para idol.

“Park Jiyeon!”
Sebuah suara asing berhasil masuk ke dalam gendang telinga Jiyeon. Suara itu terdengar jelas. Jiyeon pun membalikkan badan, membelakangi para hadirin yang duduk di depannya.
Bae Irene dengan ekspresi datar dan kostum casual-nya, kini berdiri di depan Jiyeon dengan melipat kedua tangan di depan dadanya. Jiyeon mengerutkan kening. Ia berusaha mengingat nama gadis yang memanggilnya tadi.
“Kau mengenalku? Ah, tidak penting kau mengenalku atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Hmm, tidak, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Bertanya tentang apa?” tanya Jiyeon balik tanpa curiga apapun pada Irene.
Irene mengubah posisi berdirinya. Kini ia bersandar pada tiang penyangga tenda panggung. “Apa hubunganmu dengan Leo?”
Deg!
Jiyeon membelalakkan kedua bola matanya setelah mendengar pertanyaan dari Irene. Dalam hati ia bertanya-tanya, dari mana Irene tahu tentang hal itu? Pasti ada seseorang yang berusaha membocorkan rahasia hubungan Jiyeon dan Leo.
“Apa maksudmu? Kau tidak berhak bertanya seperti itu padaku? Ada hubungan dengan Leo atau tidak, aku rasa itu bukan urusanmu. Lagipula aku juga tidak mengenalmu meski kita bekerja dalam satu perusahaan.” Jiyeon tidak ingin menanggapi pertanyaan Irene. Ia memilih bungkam dan tetap menjaga rahasia itu.
“Hah! Sombong sekali. Kau hanya seorang staf di perusahaan ini. Tetapi gayamu sungguh di luar dugaan. Kau bersikap seolah-olah dirimu adalah idol terkenal.”
Jiyeon heran kenapa tiba-tiba ada wanita yang mengeluarkan kata-kata begitu menusuk hati di pagi yang cerah ini.
“Annyeong, Irene-a.” Tiba-tiba Ken datang tanpa diduga.
Irene menghembuskan nafas dan memutar bola matanya malas. Ia kesal melihat Ken datang tanpa diundang. Irene terlalu malas membalas sapaan Ken yang berusaha ramah padanya.
Ken sama sekali tidak peduli pada Irene. Ia tidak mempermasalahkan sikap Irene yang begitu acuh dan dingin. “Oh ya, Jiyeon-a. Ini Bae Irene, saudara kembarnya Bae Suzy tapi… sekarang wajah mereka berbeda.”
Saat Ken mengatakan itu, wajah Irene terlihat merah padam menahan amarah.
Jiyeon sedikit menggigit bibir bawahnya. Ia lupa bahwa gadis yang berbicara ketus padanya adalah Bae Irene. Mereka pernah bertemu tetapi Jiyeon lupa dengan wajah Irene. “Oh… iya, maaf Irene-ssi. Aku tahu namamu tetapi sungguh lupa dengan wajahmu.”
“Cih!” Irene membuang muka.
“Memangnya ada masalah apa sampai kau menemui Jiyeon di sini?” tanya Ken penasaran.
“Tidak ada urusannya denganmu, Ken,” jawab Irene ketus.
Ken menarik salah satu sudut bibirnya. “Tentu saja ada urusannya denganku. Kau bicara dengan kekasihku, itu juga urusanku. Memangnya apa yang kalian bicarakan tadi? Sepertinya aku mendengar nama Leo disebut-sebut.”
“Jika terbukti gadis ini memiliki hubungan dengan Leo, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menyingkirkannya.” Irene terlalu blak-blakan bicara di tempat umum seperti itu.
“Wah wah, kau terlalu ketus dan tidak sabaran, Irene-a. Aku benar-benar kagum padamu. Memangnya apa hubungan Jiyeon dengan Leo? Kau tahu dari mana kalau mereka memiliki hubungan? Ah, kau terlalu paranoid, Irene-a.”
Irene terlalu lama menaham emosinya. “Dia yang mengubah wajahku menjadi seperti ini. Jika dia terbukti memiliki hubungan dengan Leo maka aku akan membuat hidupnya menderita selamanya.” Irene bicara demikian sambil menahan airmata yang ingin menyeruak keluar dari muaranya. Sesaat kemudian, Irene beranjak pergi dari tempat itu
Sedangkan Jiyeon melamun memikirkan kata-kata Irene tentang dirinya yang telah mengubah wajah Irene. “Ken, apa yang telah aku lakukan pada Irene? Kenapa dia mengatakan kalau aku adalah orang yang mengubah wajahnya?”
Deg!
Pertanyaan semacam itu sama sekali tidak diharapkan oleh Ken. Ia ingin menjawab pertanyaan itu namun hati kecilnya menolak, mengingat Jiyeon yang sudah melakukan perubahan besar dalam hidupnya. “Entahlah, aku tidak ingat. Atau mungkin… aku tidak tahu tentang hal itu.”
“Apakah aku harus bertanya pada Leo?”
Ken terlonjak kaget. “Apa maksudmu? Leo sama sekali tidak tahu tentang masa lalumu. Jiyeon-a, dengarkan aku! Jangan pernah terlibat masalah dengan Irene jika tidak terpaksa. Hindari saja gadis itu, kau yang akan rugi jika berurusan dengannya.”
Jiyeon tampak meragukan kata-kata Ken. “Apakah Irene sejahat itu?”
Ken menghembuskan nafas kasar. Ia kesal karena Jiyeon tak kunjung mengerti. Ia memutar bola matanya sengaja, mencari kata-kata untuk menjelaskan pada Jiyeon agar gadis itu tidak tersinggung. Ken takut sekali jika Jiyeon tersinggung karena hal itu bisa berdampak langsung pada kondisi kejiwaan Jiyeon. Tetapi apa yang ia takutkan itu sama sekali tidak terjadi pada Leo. Namja yang notabennya tunangan Park Jiyeon itu justru tidak peduli dengan kondisi kejiwaan Jiyeon yang mungkin masih labil.
Satu hal yang diketahui Jiyeon barusan adalah keterlibatan dirinya dengan Irene di masa lalu. Ia yakin kalau dulu Irene ada hubungannya dengan masa lalunya yang kelam.
“Dengar, Jiyeon-a! Bukannya aku ingin menghancurkan hubunganmu dengan Leo atau ingin menjelek-jelekkan dia di depanmu. Tetapi yang perlu kau tahu adalah cinta sejati Leo sejak dulu hanya Irene, Bae Irene. Gadis yang memojokkanmu tadi. Dia pernah menjalin hubungan spesial, bisa dikatakan dia adalah kekasih masa lalunya Leo.”
Jiyeon terdiam memikirkan penjelasan Ken. Jika semua yang dikatakan oleh Ken itu benar maka pertunangan itu hanyalah rekayasa yang harus segera diakhiri. Jiyeon mengepalkan kedua tangannya. Setelah acara pembukaan selesai, dia akan bicara empat mata dengan Chanyeil karena kakaknya itulah yang memaksa dirinya mau bertunangan dengan Leo.
“Ya, aku tahu. Terimakasih kau telah memberitahukannya padaku, Ken.”
Jiyeon sama sekali tidak menatap Ken yang sengaja berdiri di depannya. “Maaf, Ken. Aku harus kembali menjalankan tugasku.” Tak berapa lama kemudian, Jiyeon pergi memantau kinerja anggota panitia penyelenggara acara baksos itu.
Ken hanya bisa menatap Jiyeon dari belakang dan menghembuskan kasar. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, Jiyeon-a. Aku akan menunggumu,” gumam Ken lirih.


Acara bakti sosial telah berlangsung selama dua jam. Salah satu yang menjadi pusat perhatian para fans adalah kehadiran Ken dan Jiyeon. Dua idol lain juga tak kalah dengan Ken, yaitu Leo dan Irene. Banyak kabar yang beredar kalau Leo akan menjalin cinta lama yang dulu pernah hilang, Bae Irene. Gadis itu dikenal mampu membuat Leo bertekuk lutut di hadapannya. Terbukti, Leo tidak dapat melupakan Irene padahal sudah lebih dari setahun mereka putus.
Acara belum selesai namun Jiyeon sudah merasa sangat lelah dan pusing. Kondisi badannya hari ini sedang tidak sehat. Kelelahan dan banyak pikiran membuat tubuhnya lemah.
“Aku akan membantu kalian memberesi semua peralatan medis ini. Sebagian kru, tolong bantu membongkar tenda karena nanti malam tempatnya akan dipakai untuk acara konferensi pers.” Jiyeon memberikan instruksi pada kru panitia. Mereka bekerja bersama-sama agar pekerjaan lebih cepat selesai.
“Jiyeon-a, kau ada waktu?” tanya Ken diam-diam pergi menemui Jiyeon yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.
“Ada apa?” tanya Jiyeon sembari memegang kepalanya yang terasa pusing dan berat. Mungkin sudah saatnya gadis itu istirahat di rumah selama beberapa hari.
Ken berdiri di samping Jiyeon, layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. “Benarkah kabar tentang pernikahan itu?”
Deg!
Jiyeon langsung menoleh ke arah Ken dan membelalakkan kedua matanya. “Apa maksudmu?” Jujur, Jiyeon masih kurang mengerti maksud pertanyaan Ken. “Tentang pernikahan? Siapa?” tanya Jiyeon bingung.
Ken mengerutkan kening dan menatap Jiyeon nanar. “Kau dan Leo. Benarkah itu?” tanya Ken dengan nada suara amat pelan.
“Jujur saja, aku juga tidak tahu, Ken. Aku… sama sekali belum memikirkan hal itu. Tapi keluargaku terus menerus mendesakku untuk segera menikah dengan Leo, terutama Chanyeol oppa. Kau tahu bagaimana semangat Chanyeol oppa yang ingin menjodohkanku dengan Leo, kan? Aku hanya bisa menurut pada oppa karena aku yakin dia tahu hal yang terbaik untukku dan bisa membuatku bahagia. Oppa tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku sedih.”
“Tapi pertunangan itu sudah cukup membuatmu tertekan, kan? Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Chanyeol.” Ken tidak ingin Jiyeon merasa terpaksa menikah dengan Leo. Ia tidak menginginkan pernikahan itu karena Leo dan Jiyeon tidak saling mencintai. “Kalian tidak saling mencintai. Perjodohan itu… apakah memang harus dilanjutkan?”
“Ken, kau tahu sendiri kalau awalnya Chorong eonni yang akan dijodohkan dengan Leo. Tetapi kata Chanyeol oppa, perjanjian para kakek tidak seperti itu. Perjanjian itu tentang perjodohan anak bungsu keluarga Park dengan putera tunggal keluarga Jung. Mungkin saat ini kami belum bisa mencintai satu sama lain. Tetapi aku yakin suatu saat kami akan saling mencintai.”
Ken begitu miris mendengar kata-kata Jiyeon. Yang ia pikirkan hanyalah perasaan Jiyeon. Perasaan gadia itu akan terluka jika pertunangan dengan Leo tetap dilanjutkan karena Jiyeon hanya akan menjadi dinding pemisah antara Leo dan Ken. Lama kelamaan, dinding itu akan hancur.
“Ya, ku harap apa yang kau inginkan itu terjadi. Aku hanya ingin kau bahagia, Jiyeon-a.” Ken bertambah lesu. Ia harus mencari cara lain untuk membuat Jiyeon bahagia. Seperti yang ia katakan pada Leo, jika Leo menyakiti Jiyeon maka dirinya lah yang akan membahagiakan Jiyeon.
“Aku tinggal dulu. Tugasku belum selesai.” Jiyeon hendak meninggalkan Ken sendirian namun tiba-tiba tangan Ken memegang tangan Jiyeon dan menahannya pergi
“Tunggu, Jiyeon-a.” Ken sedikit menarik lengan Jiyeon sehingga tubuhnha berdekatan dengan Jiyeon bahkan tidam ada jarak diantara mereka berdua. Jantung Ken berdegub kencang. Tak lama kemudian, Ken mendekatkan wajahnya apda wajah cantik Jiyeon yang terdiam. Bibirnya menyentuh bibir lembut Jiyeon dengan sempurna. Beberapa detik berlalu tanpa dipedulikan keduanya. Ken melumat bibir Jiyeon lembut. Jiyeon pun larut dalam kenikmatan ciuman pertamanya dengan seorang Lee Jaehwan. Baik Ken maupun Jiyeon rupanya meneteskan airmata saat berciuman. Namun keduanya sama sekali tidak menyadari kalau cairan bening itu menyeruak keluar.


Acara bakti sosial akhirnya selesai sesuai jadwal yang telah dibuat. Acara itu pun berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan banyak orang. Setelah menyelesaikan tugas sebagai panitia acara tersebut, Jiyeon bersiap untuk pulang. Kali ini ia akan pulang bersama Ken. Jiyeon merasa sungkan dan takut selalu mengecewakan Ken yang ingin mengantarnya pulang.
“Kau sudah siap?” tanya Ken yang telah membukakan pintu mobil untuk Jiyeon.
Jiyeon mengangguk pelan. Gadis itu terlihat sangat lelah dan mengantuk. Secepat mungkin Ken meluncur mengendarai mobil yang ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri itu.
Sepuluh menit berlalu. Waktu yang cukup singkat untuk perjalanan sejauh 20 kilometer. Ken sengaja mempercepat laju mobilnya karena ia tahu kalau Jiyeon ingin segera istirahat di rumah.
Sesampainya di rumah, Jiyeon langsung menuju kamar tidurnya yang terletak tepat di samping kamar Chorong. Kebetulan, Chorong sedang bersantai di ruang santai lantai dua yang berada di depan kamarnya dan kamar Jiyeon.
“Diantar oleh Ken?”
Tap!
Jiyeon menghentikan langkahnya mendadak. “Ya,” jawab Jiyeon singkat. Ia tidak ingin mengatakan hal lain karena hanya akan memancing keributan dengan Chorong. “Maaf Eonni, aku ke kamar dulu.”
Chorong tidak menjawab sama sekali. Ia hanya menatap Jiyeon masuk ke kamarnya. Entah apa yang ada di dalam benak Chorong, yang pasti kehadiran Jiyeon membuatnya merasa kesal dan menambah kebencian pada adik perempuannya itu.


Tok tok!
Jiyeon tersentak kaget mendengar pintu kamarnya diketuj oleh seseorang yang pasti tengah berdiri di depan pintunya. Jiyeon yang baru selesai membersihkan diri, langsung membuka pintu itu. “Ini pasti oppa,” lirihnya diiringi senyuman karena ia senang sekali Chanyeol main ke kamarnya.
Ceklek!
Deg!
“Eonni….”
Chorong berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya. Ekspresi datarnya membuat Jiyeon bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan? Sehingga Chorong datang ke kamarnya. “Eo, eonni… ada apa?” tanya Jiyeon ragu. Ia terpaksa bertanya demikian karena Chorong hanya diam dan menatal Jiyeon dengan tatapan kebencian.
“Aku hanya ingin mengobrol denganmu.” Choronh menerobos masuk ke dalam kamar Jiyeon. Ia melihat sekeliling ruangan yang sama sekali tidak mengalami perubahan sejak ia tinggalkan. “Hmm… kamar ini tidak berubah.”
“Aku sengaja tidak mengubahnya karena aku menyukai apa yang eonni sukai.” Jiyeon sama sekali tidak berharap Chorong akan terketuk hatinya untuk berbaikan dengannya. Ia hanya mengatakan kebenaran yang sesuai dengan hatinya.
Chorong berjalan lurus menuju ranjang king size yang sengaja diletakkan berhadapan dengan pintu. Tak lama kemudian, gadis bersurai panjang itu duduk di pinggir ranjang. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Tetapi sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat padamu.”
Jiyeon yang tadinya menundukkan kepala, kini berani mengangkat kepalanya dan menatap Chorong.
“Selamat atas pertunanganmu dengan Leo dan sebentar lagi kalian kan menikah,” lanjut Chorong.
Jiyeon hanya diam dengan tatapan kosong.
“Kenapa kau malah diam?” tanya Chorong ingin tahu karena Jiyeon tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Oh itu… terimakasih, Eonni. Tapi sungguh aku tidak bermaksud merebut dia dari eonnie.”
“Tapi kau senang, kan? Dalam lubuk hatimu, pasti kau sangat mencintai Leo. Benar, kan?”
Jiyeon sedikit kaget. Ia tidak tahu alasan Chorong mengatakan seperti itu. Sejujurnya, Jiyeon masih bingung dengan perasaannga karena ada dua pemuda yang hadir dalam kehidupannya dan mereka telah menerobos masuk ke dalam hatinya. Jiyeon tidak menjawab pertanyaan Chorong. Ia memilih diam dan membiarkan Chorong menerka-nerka jawabannya sendiri.
“Sebelum kau menikah dengan Leo, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Jiyeon-a.”
Jiyeon mengangkat kedua alisnya. “Apa?”
Chorong tersenyum sinis. “Tentang masa lalumu. Aku yakin sebagian masa lalumu telah terhapus dari memorimu. Atau mungkin… semuanya telah terhapus dan kau benar-benar lupa tentang masa lalumu.”
Deg!
Jiyeon gugup dan sedikit takut mendengar lanjutan kata-kata Chorong. Ia takut teringat masa lalunya yang membuatnya hampir gila, bahkan banyak orang sudah mengatakannya gila.
“Aku yakin kau akan kuat mendengarnya, Jiyeon-a. Kalau dulu kau masih kecil dan belum kuat menerima kenyataan. Sekarang semuanya telah menjadi masa lalu dan kau harus kuat mengingatnya.”
Jiyeon menghela nafas panjang. Benar kata Choring, ia harus kuat mendengar masa lalunya. “Baiklah, katakan saja, Eonni. Aku siap mendengarnya.”
“Tenang saja, aku akan menceritakan persis seperti aslinya, tidak ada yang kurang dan tidak ada yang aku lebihkan.”
Jiyeon menatap Chorong kaku. Sebenarnya ia takut mendengar masa lalu itu. Ia takut akan kembali menjadi Park Jiyeon yang dulu hampir gila.
“Baiklah. Dengarkan baik-baik. Kita bertiga: aku, kau dan Chanyeol berteman baik dengan Ken dan dua putri keluarga Bae, yaitu Irene dan Suzy.”
Deg!
Jiyeon mendengar nama Irene dan ternyata mereka pernah berteman di masa kecil.
“Tetapi gegara kecelakaan itu… keluarga Bae melarang kedua putrinya bergaul dengan kita. Kau ingat kecelakaan itu? Ya, kecelakaan sebuah bus karena membanting setir setelah menabrak seorang anak perempuan yang nekad mengambil bola di tengah jalan.”
Jiyeon terdiam. Ia menyadari kalau dirinya lah yang salah pada waktu itu.
“Bus itu mengangkut anak-anak yang hendak pergi berlibur. Kau tahu, siapa saja yang berada di dalam bus itu?”
“Siapa? Aku sama sekali tidak tahu, Eonni.”
Chorong mendesah kasar. “Sebagian besar dari anak-anak itu adalah anak rekan bisnis appa. Lee Jong Suk, seorang anak laki-laki pewaris perusahaan keluarga Lee di kota Busan, meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Dia adalah….” Tiba-tiba Chorong meneteskan airmata. Hal itu semakin membuat Jiyeon penasaran.
“”Dia adalah anak yang dijodohkan denganku. Orangtuanya sudah sepakat dengan appa kalau anak laki-lakinya akan dijodohkan denganku. Kau sudah membunuh calon suamiku, Jiyeon-a. Itulah yang membuatku berubah membencimu. Kau adalah pembunuh!”
Sret!
Jiyeon mundur satu langkah dengan berlinang air mata. Dia menggeleng. “Bukan, aku bukan pembunuh, Eonni. Itu murni kecelakaan. Bukan aku yang membunuhnya. Aku bukan pembunuh.”
“Tapi kau penyebab utama kecelakaan itu. Kau yang menyebabkan bus itu terguling,” teriak Chorong melampiaskan kemarahannya pada Jiyeon. Sedangkan Jiyeon hanya bisa terdiam dalam isak tangisnya.
Bruk!
“Eonni… maafkan aku, Eonni. Aku salah, tapi aku bukan pembunuh. Aku mohon maafkan aku, Eonni.” Jiyeon bersimpuh di bawah kaki Chorong sembari menangis tersedu-sedu. Perasaannya sama hancurya dengan perasaan Chorong. “Sungguh, aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu, Eonni. Yang aku tahu hanya tentang kecelakaan itu. Aku sama sekali tidak tahu tentang korban kecelakaan.”
Chorong menyeka airmata dari wajah cantiknya. Ia tak dapat menahan tangisnya. Sebisa mungkin gadis itu mengatur nafasnya agar dadanya terasa sedikit lega.
“Seandainya aku tahu semua itu… aku tidak akan berani kembali ke Korea. Eonni, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?”
“Aku tidak perlu mengatakan hal itu sekarang.”
Jiyeon terduduk lemas di atas lantai kamarnya. Ia berusaha mengingat kejadian yang memilukan itu. “Kenapa aku sulit mengingat kecelakaan itu?” lirih Jiyeon seraya memegang kepalanya erat-erat sambil sesekali menarik rambutnya sendiri. “Eonni, apakah karena alasan itu juga… appa tidak menyukaiku? Apakah itu penyebab appa membenciku hingga tidak mau menanggapiku?”
Chorong mengangguk mantab. “Ya, itu alasannya. Kau tahu? Adik kandung Leo juga meninggal dalam kecelakaan itu. Jung Eunji sempat diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Namun setelah dioperasi, nyawanya tidak tertolong.”
Deg!
Satu pukulan lagi bagi Jiyeon. Ternyata dia juga menyebabkan kematian adik kandung Leo, pemuda yang menjadi tunangannya beberapa minggu ini. “A, apa? Adik kandung Leo?”
Chorong mengangguk lagi. “Kau tahu apa alasanku memaksa Leo bertunangan denganku?”
Jiyeon menggeleng.
“Itu karena dirimu, Jiyeon-a. Kau telah menyebabkan Lee Jong Suk meninggal. Dia adalah calon suamiku, anak laki-laki yang kelak dijodohkan denganku. Dia meninggal karena ulahmu. Aku tidak terima hal itu. Jadi, aku merebut Leo darimu. Sebenarnya aku tahu isi perjanjian kakek dengan kakek Leo. Mereka menjodohkan dirimu dengan Leo. Aku tahu itu tapi aku berniat merebutnya darimu karena kau tidak berhak mendapatkan jodoh seperti Leo. Aku tidak terima kau mendapatkan pemuda sebaik Leo.”
“Eonni….” Jiyeon memegang tangan Chorong. “Kau tidak perlu melakukan hal itu. Jika aku tahu, tanpa kau minta pun, aku ikhlas menyerahkan Leo padamu. Aku benar-benar minta maaf apdamu, Eonni. Aku sungguh bodoh hingga tidak tahu sama sekali tentang korban kecelakaan itu. Chanyeol oppa dan Ken… apakah mereka juga tahu?”
“Ya, mereka berdua tahu tentang semuanya.”
Jiyeon diam sejenak. Ia berencana untuk menanyai Ken tentang kecelakaan itu.
“Jujur, aku belum bisa memaafkanmu, Jiyeon-a. Kau memang adik kandungku. Tapi kau telah menyebabkan Jong Suk dan beberapa temanku meninggal. Kau juga yang menyebabkan perusahaan kita nyaris bangkrut karena putra tunggal rekan bisnis appa meninggal dalam kecelakaan itu. Mereka semua menyalahkan dirimu. Maka dari itu, appa mengirimmu ke Jepang untuk diasingkan sekaligus mendapat pengobatan psikis di sana.
“Diasingkan? Jadi, selama bertahun-tahun di Jepang… ternyata aku diasingkan di sana?” Jiyeon menepuk dahinya sendiri agak keras. Ia berdiri dan berjalan mondar mandir. “Eonni, terimakasih telah mengatakan yang sebenarnya padaku.”


Hari ini Jiyeon tak tampak mondar mandir di kantor. Gadis itu rupanya datang di kantor pada siang hari. Kantung matanya terlihat jelas dan membuat wajahnya tampak aneh. Jarang sekali Jiyeon memiliki kantung mata dan lingkaran hitam di bawah matanya.
Jiyeon berjalan dari arah lobi menuju ruang latihan Irene yang terletak di lantai tiga. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Irene pada pagi itu. Sesampainya di depan pintu ruang latihan Irene, Jiyeon menghentikan langkahya kemudian menatap pintu itu selama beberapa detik. “Aku harus melakukannya.”
Tok tok!
Jiyeon mengetuk pintu di depannya kemudian menarik knop pintu itu.
Ceklek!
Rupanya Irene ada di dalam ruang latihan itu. Gadis itu sedang berlatih balet untuk pementasan drama musikal bulan depan.
“Kau… kenapa datang kemari?” Begitulah sambutan Irene pada seorang Jiyeon yang nekad datang ke ruang latihannya.
“Bolehkah aku masuk?” tanya Jiyeon dengan sopan.
“Masuklah! Aku harap kau tidak membuat kekacauan di ruang latihanku,” kata Irene dingin. Ia berusaha menahan diri untuk tidak membuat Jiyeon kesal. “Ada perlu apa?”
Jiyeon ragu untuk mengatakan niatnya datang ke tempat itu. “Hmm… Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, Irene-ssi.” Jiyeon berbasa-basi untuk menyiapkan diri sebelum ia mengatakan tujuan kedatangannya. “Aku datang kemari untuk meminta maaf padamu atas segala kesalahan yang telah ku perbuat, terutama kecelakaan yang dulu pernah kau alami.”
Deg!
Irene menahan emosi dan wajahnya berubah merah padam. “Tidak usah! Aku tidak butuh maaf darimu. Simpan saja maafmu itu,” kata Irene dingin. Ia terlalu sedih jika mengingat kecelakaan yang telah merenggut wajah aslinya.
“Tapi….”
“Apakah kau tahu, akibat ulahmu dulu, aku harus menjalani operasi plastik beberapa kali. Publik mengecamku dan menyebut diriku gadis yang gemar melakukan operasi plastik. Apakah kau tahu betapa menyedihkan pengalaman seperti itu? Hatiku hancur, bahkan dulu aku merasa masa depanku telah hancur karena wajahku tak dapat dikenali lagi.”
Jiyeon merasa sangat menyesal. Ia tak dapat menahan airmata yang menyeruak keluar dari muaranya. “Aku sungguh minta maaf, Irene-ssi. Jujur saja, aku baru tahu kalau ternyata kau mengalami sesuatu yang menyakitkan karena kecelakaan itu. Awalnya aku tidak tahu sama sekali. Seseorang telah menceritakan padaku semua yang terjadi akibat kecelakaan itu, termasuk apa yang terjadi pada dirimu. Aku sangat menyesal.”
Irene melangkah dua langkah dan mendekati Jiyeon. “Kau bilang menyesal? Tidak ada gunanya kau mengatakan hal itu. Kau telah merenggut wajah asliku dan sekarang lihat apa yang kau lakukan padaku.”
Jiyeon mengerutkan kedua alisnya. “Apa maksud perkataanmu?” Masih begitu sulit bagi Jiyeon untuk langsung dapat menangkap maksud kata-kata Irene.
Irene mendekatkan wajahnya pada Jiyeon. “Kau telah menorehkan luka di hatiku dan sekarang kau menaruh garam di atas luka itu,” bisik Irene di dekat telinga Jiyeon.
“Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.”
Irene mencengkeram bahu Jiyeon. “Dengarkan aku baik-baik Park Jiyeon-ssi. Kau sudah merenggut wajah asliku dan sekarang kau merebut kekasihku. Dua luka kau berikan padaku. Kau ini manusia atau iblis? Kau adalah satu-satunya manusia tidak berperasaan di dunia ini.”
Kekasih? Jiyeon langsung teringat Leo. “Maksudmu Leo?”
“Ya, dia adalah kekasihku. Aku dan Leo saling mencintai tapi tiba-tiba kau datang dan langsung memaksakan pertunangan konyol itu.”
Deg!
Kali ini Irene membahas tentang pertunangan itu lagi.
“Jangan kau kira hanya keluargamu dan keluarga Jung yang tahu tentang pertunangan itu. Aku tahu semuanya, Park Jiyeon. Sekarang jika kau menajdi diriku, apakah kau bisa memaafkan perbuatan itu? Apakah kau bisa memaafkan orang yang telah merusak wajahmu dan merebut kekasihmu?”
Jiyeon mendadak lemas. Kedua kaki jenjangnya tak mampu lagi menopang tubuh langsingnya. “Maafkan aku. Aku… benar-benar minta maaf.” Jiyeon menatap Irene dengan linangan airmata di kedua bola mata bulat miliknya. “Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?”
Irene menghela nafas panjang. “Putuskan hubunganmu dengan Leo! Biarkan Leo kembali padaku. Dia bukan milikmu, Park Jiyeon. Meskipun kau memaksa Leo menikah denganmu, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta darinya karena cinta itu adalah milikku. Leo hanya mencintaiku.”
Telinga Jiyeon terasa panas saat Irene mengatakan kalau Leo hanya mencintai dirinya. “Ya, aku tahu. Aku akan melakukan apa yang kau mau.”
“Itu saja tidak cukup.”
Jiyeon mendongakkan kepalanya. Ia merubah posisi tubuhnya dari duduk di atas lantai menjadi berdiri tepat di depan Irene.
“Aku ingin kau merusak wajahmu yang cantik itu.” Irene memberikan sesuatu pada Jiyeon. “Aku ingin kau melukai wajahmu agar tidak bisa dikenali lagi, sama seperti yang aku alami dulu.”
Rupanya Irene memberikan sebuah gunting pada Jiyeon dan menyuruh Jiyeon merusak wajahnya sendiri.
“Irene-ssi, tolong jangan seperti ini.” Jiyeon memohon dengan segala kerendahan hati. Sebuah gunting telah berada dalam genggamannya.
“Kenapa? Kau tidak mau melakukannya? Berikan padaku! Biar aku yang melakukannya untukmu.” Irene merebut gunting itu dari tangan Irene.
“Aku mohon jangan lakukan itu, Irene-ssi.”
Irene mendekati Jiyeon dan mengacungkan sebuah gunting di depan wajah Jiyeon.
Brak!
Prang!
Tiba-tiba Leo datang dan langsung merebut gunting dari tangan Irene. Detik berikutnya, pemuda itu membuang gunting itu ke arah dinding berkaca sehingga kaca dalam ruang latihan itu pun pecah.
“Apa yang kau lakukan, eoh?” Leo nampak merah padam karena kalut melihat Jiyeon dalam bahaya dan Irene yang nekad ingin merusak wajah Jiyeon.
“Kenapa kau membuang gunting itu? Aku ingin merusak wajahnya. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan dulu.” Irene menangis histeris karena Leo terkesan membela Jiyeon.
“Kau tidak perlu membalas dendam seperti itu. Kau bisa dipenjara karena melakukan tindak kriminal, Irene-a!
Irene tidak peduli. Ia tetap ingin merusak wajah Jiyeon. “Biarkan aku melakukannya supaya hidupku bisa tenang.”
“Irene-a!” bentak Leo karena Irene sama sekali tidak mau mendengarkan kata-katanya. “Jiyeon-a, keluarlah dari sini!”
Jiyeon menggeleng sambil menangis. “Tidak. Aku tidak akan ke mana-mana. Jika itu yang diinginkan olehnya, aku rela. Aku akan melakukan apa saja agar dia mau memaafkanku.”
“Jiyeon-a, aku mohon keluarlah dari sini.”


Hari ini Ken berlatih sangat keras. Ia harus segera meluncurkan album solonya.
“Aku tidak boleh tertinggal dari Leo. Album baruku harus segera dirilis. Kalau bisa sebelum Leo merilis albumnya.” Ken sangat berambisi menjadi idol terkenal, melebihi Leo.
Glek!
“Ah segar sekali,” ucapnya setelah meneguk air putih dari botol minumnya.
Tit tiittt!
Sebuah pesan masuk membuat Ken terpaksa mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas. Setiap latihan, Ken selalu menyimpan ponsel kesayangannya di dalam tas.
Klik!
‘Cepat bawa Jiyeon keluar dari ruang latihan Irene!’

Sebuah pesan dari Leo sangat membuat Ken khawatir. Ia segera mengenakan jaket kemudian berlari menuju ruang latihan Irene yang terletak di ujung utara lantai tiga.
Sesampainya di depan pintu ruang latihan Irene, Ken bertemu dengan Suzy yang berdiri di sana. “Suzy-a….” Tak ingin berlama-lama di luar ruangan, Ken membuka pintu itu.
Ia berlari mendekati Jiyeon dan memegang tangan gadis itu. “Ayo kita keluar!”
Jiyeon tidak berani menatal Ken yang mencoba menyelamatkannya.
“Tunggu! Lihatlah aku, Park Jiyeon!” perintah Suzy yang tengah membawa sebuah botol kecil di tangan kanannya. Botol itu sedikit disembunyikan di balik tasnya.
Ken mengetahui kalau Suzy membawa sebuah botol kecil.
“Ada ap….”
Tiba-tiba Suzy mengeluarkan isi botol kecil berukuran 350 mili liter itu dan menyiramkannya ke arah wajah Jiyeon. Beruntung Ken segera mengerudungi Jiyeon menggunakan jaket yang ia kenakan.
“Aargh!” rintih Ken saat dua jari tangan kanannya terkena cairan dari botol itu.
Leo tercengang melihat kejadian yang baru saja terjadi. “Bae Suzy! Kau menyiramkan air keras ke arah Jiyeon?”
Ken, Jiyeon, dan Irene mendengar kata-kata Leo. Ken menoleh ke arah Jiyeon yang ia lindungi menggunakan jaketnya dan pandangannya beralih pada Suzy yang masih menggenggam sebuah botol yang menjadi tempat air keras.
“A, apa?” lirih Irene tak percaya.
Sedangkan Suzy berdiri di sebelah kiri Ken dan tubuhnya sedikit bergetar. Ia ingin segera pergi dan membuang botol itu namun kakinya terasa kaku digerakkan.
Jiyeon yang merasa sudah aman, membuka jaket Ken dari kepalanya. Nafasnya terengah-engah. Ia baru saja disiram dengan air keras. Jika Ken tidak segera mengerudungi kepalanya dengan jaket, pasti wajahnya sudah terbakar karena terkena air keras itu.
“Ken…” lirih Jiyeon yang mengkhawatirkan tangan Ken karena terkena air keras meskipun hanya sedikit.
“Itu balasan untuk orang yang telah merusak wajah saudari kembarku,” kata Suzy dengan nada datar. “Kau pantas mendapatkannya, Park Jiyeon.”
Leo memberi isyarat pada Ken untuk segera membawa Jiyeon pergi dari tempat itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Jiyeon. Ken menarik lengan Jiyeon dan memaksanya keluar dari ruangan terkutuk itu.
“Kau tidak perlu bertemu dengan iblis bersaudara itu, Jiyeon-a!” kata Ken dengan penekanan di bagian tengah kalimatnya.

 

Tbc

Advertisements

2 thoughts on “More Than Alteration [Chapter 7]

  1. Hmmm..msh khwtr dg publik..
    Lw smpi publik tw jiyeon nkh dg Leo, pasti jiyeon bakal d hujat.. Pdhl kn dy gk brslh..
    What!!!!! Jd sprti tu ksh tragis yg trjd dlu na..
    Byk yg menaruh dendam pd jiyeon,,,
    Syukur lh wajah jiyeon gk npa2..
    Ken hrs lindungi jiyeon dr org2 yg benci na

    Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s