More Than Alteration [Chapter 6]

 

more-than-alteration-5.png.png

cast-mta.pngGenre:
Family, Angst, Little commedy, Romance
Rating:
PG – 13

More than Alteration 6
Inspired song:
T-Ara “Day by Day”, VIXX LR “Beautiful Liar”, Shannon W. “Day Break Rain”

Leo, seorang idol papan atas tengah dipusingkan dengan masalah pribadinya. Ia memang batal bertunangan dengan Park Chorong. Tetapi sebagai gantinya, Park Jiyeon lah yang kini menjadi tunangannya. Seharusnya memang seperti itu karena perjodohan yang dilakukan oleh kakek mereka, mengharuskan Leo dan Jiyeon bertunangan.
Setelah berbicara empat mata dengan Ken beberapa menit yang lalu, Leo memutuskan mengambil hari cuti cukup sehari untuk menenangkan pikirannya. Sedangkan Jiyeon, sang tunangan, entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Dia menerima pertunangan itu begitu saja. Benar-benar gadis yang polos.

“Apa ada yang salah dengan acara pertunangan itu selain gadis yang bertunangan denganmu?”
Suara Irene memenuhi ruang dengar Leo yang terduduk melamun di ruang latihan seorang diri. Leo mendongakkan kepalanya dan melihat sosok cantik yang sangat dirindukannya.
“Pertunangan iAdd sungguh membuatku gila. Aku tidak menyangka kalau masalahnya akan serumit ini.”
Irene mengerutkan keningnya, menampakkan garis-garis halus, kemudian duduk di samping Leo. “Aku benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Hah! Untungnya pertunangan itu batal.”

Leo menoleh ke arah Irene, memfokuskan perhatian pada kata-kata Irene yang baru saja terucap. Sesaat kemudian ia tersenyum kecil.
“Maaf, aku bicara seperti itu. Bagiku… pertunangan itu bisa menjadi penghalang untuk kita.”
“Apa maksudnya?” Leo membenahi posisi duduknya. Kini ia mengangkat kaki kirinya di, atas sofa dan tetap membiarkan kaki kanannya menginjak lantai. Sedangkan tubuhnya condong menghadap Irene yang duduk di sampingnya.

Irene tertunduk malu. Ia baru saja mengatakan sesuatu yang bersumber langsung dari hatinya. “Jujur saja, aku senang jika pertunangan itu benar-benar batal.”
Leo masih tenang dalam diam. Ia membiarkan Irene menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkannya.
“Aku… ingin kita seperti yang dulu. Bisakah kita… menjalin hubungan itu? Hubungan diantara kita berdua.” Jantung Irene berdetak lebih kencang, tak beraturan dan membuatnya gugup. Tidak mudah bagi seorang wanita mengatakan kejujuran di depan pria yang dicintainya. Ya, benar saja. Irene memang masih mencintai Leo.

Leo terdiam sembari berpikir. Memikirkan hubungannya sendiri dengan Jiyeon dan hubungannya dengan Irene. Dua hubungan yang teramat sulit untuk dijalani.
“Irene-a, bukannya aku menolak ajakan itu… tapi… ada sesuatu yang membuatku harus memikirkan hal itu matang-matang.” Leo bicara sehalus mungkin, takut jika nanti kata-katanya menyakiti hati Irene.

Irene menghela nafas panjang. Ia sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan oleh Leo. Pemuda itu pasti ingin berpikir dulu sebelum menjalani hubungan asmara dengannya, untuj yang kedua kali.
“Sudah ku duga, kau pasti akan mengatakan seperti itu. Sudah, lupakan saja kata-kataku tadi.” Irene beranjak dari tempat duduknya namun tiba-tiba Leo menahannya dengan memegang lengan kecil Irene.

“Tunggu, Irene-a. Bukan itu maksudku. Ada sesuatu yang ingin aku luruskan agar hubungan kita bisa diketahui publik, seperti yang dulu. Aku… harus bicara pada manajerku. Kabar tentang hubungan kita pasti sangat berpengaruh pada karir kita.”
Irene menenggak cairan cola dalam kaleng yang masih utuh isinya. Ia sengaja mengacuhkan kata-kata Leo karena tidak ingin mendengar apapun dari pemuda itu. Apapun yang dikatakan oleh Leo, pasti menyakiti hatinya.
***

Ken dan Jiyeon baru pulang dari acara konferensi pers. Acara itu berlangsung lancar dan menyenangkan bagi Jiyeon, khususnya Ken yang sangat ingin melakukan sesuatu bersama Jiyeon.
“Ah, Jiyeon-a, besok malam di rumahku ada pesta penyambutan saudari sepupuku dari Amerika, namanya Lee Ahreum. Kau bisa datang, kan?” tanya Ken yang sangat berharap Jiyeon menerima ajakannya. “Aku ingin kau ikut memeriahkan pesta itu.”
Jiyeon mengerutkan dahinya sedikit. Ia belum bisa memberikan jawaban pada Ken.
“Aku tidak akan memaksamu. Ini demi sandiwara kita. Jika kau datang ke pesta itu, publik akn semakin yakin kalau kita… berkencan.” Ken menatap manik mata Jiyeon lekat-lekat seakan tak ingin berpaling dari sepasang mata indah itu.
Nampaknya Jiyeon masih berpikir apakah dia akan ikut dengan Ken atau tidak. Jiyeon takut jika dirinya datang di acara pesta penyambutan saudari Ken, tiba-tiba Leo mengajaknya bertemu atau sesuatu yang lain. “Aku ingin ikut. Tapi….”
“Kau tidak perlu takut, Jiyeon-a. Aku yang akan menjelaskannya pada Leo dan kakakmu.”
Jiyeon sedikit kaget saat Ken menyebut kakaknya. Chanyeol belum begitu paham tentang situasi Jiyeon yang sekarang. “Baiklah, aku ikut. Tapi… jangan katakan apapun pada kakakku. Cukup pada Leo karena Chanyeol oppa belum begitu mengerti situasiku, Jaehwan.”
Ken mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti. Terimakasih kau menerima ajakanku,” kata Ken senang. “Aku antar kau pulang.”
“Pulang?” tanya Jiyeon memastikan kalau dia tidak salah dengar.
Ken mengangguk lagi. “Kenapa?”
Jiyeon menggigit bibir bawahnya. Ia ingin mengatakam sesuatu pada Ken tetapi takut kalau namja berhidung mancung itu tersinggung.
“Memangnya kenapa?” tanya Ken kedua kalinya.
“Mmm… aku… ingin pergi ke apartemen Leo dulu baru pulang. Jadi, kau tidak perlu mengantarku pulang.”
Ada rasa kecewa di dalam lubuk hati Ken. Namun ia harus merelakan Jiyeon pergi menurut keinginannya sendiri. “Baiklah, kalau begitu. Aku mengerti. Berhati-hatilah di jalan!”
Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman manis yang membuat Ken tidak bisa melupakannya malam ini. “Aku pergi. Sampai jumpa,” ucap Jiyeon yang tak lama kemudian melangkahkan kaki menjauh dari Ken yang berdiri di samping mobilnya.
Hari ini Ken merasa cukup bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Jiyeon. Ia masih belum menyadari kalau lambat laun perasaannya pada Jiyeon semakin mengalami kemajuan. Dulu mereka bersahabat waktu masih kecil. Namun setelah Jiyeon pindah ke Jepang, Ken tidak dapat bertemu dengan Jiyeon lagi.
***
Jiyeon berjalan gontai menyusuri jalan menuju rumahnya. Ia masih memikirkan kebohongan yang baru saja ia lakukan di depan Ken tadi. Pergi ke apartemen Leo hanya dijadikan alasan agar Ken mengurungkan niatnya mengantar Jiyeon pulang.
“Aku tidak bisa membiarkan keluargaku mengamuk pada Ken hanya karena hubungan kami yang tergolong rumit,” lirih Jiyeon saat tangannya hendak membuka pintu besidi depan rumahnya.
Ceklek!
Jiyeon pun berhasil membuka pintu rumahnya yang ternyata belum dikunci oleh anggota keluarga yang lain.
“Baru dari mana?”
Deg!
Suara Chanyeol masuk ke dalam ruang dengar Jiyeon dan menyebabkan gadis itu berdiri tegak, tak bergerak sedikit pun. Jiyeon menoleh ke arah sebelah kiri. Nampaklah seorang Park Chanyeol sedang membawa sebuah botol minuman soda di tangan kanannya.
“O, oppa!” Suara Jiyeon mendadak terdengar parau.
Chanyeol mengangkat kedua alisnya. “Aku tidak akan menghakimimu dI sini. Aku hanya ingin bertanya. Ke mana kau pergi sampai malam begini?”
Bibir Jiyeon terasa kelu, bingung ingin mengatakan sesuatu pada Chanyeol tetapi takut kakaknya itu marah atau tersinggung. “Aku… baru pulag dari kantor, Oppa. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan sebelum pulang.”
“Sesuatu yang berkaitan dengan Jaehwan?”
Jiyeon tegang dan serasa sukar menelan salivanya sendiri. “Mmm… I, iya, Oppa.”
Chanyeol terdiam, menerka-nerka tugas apa yang baru saja diselesaikan oleh Jiyeon.
“Oppa, kau mengerti maksudku, kan?” Jiyeon takut jika kakak yang disayanginya itu marah.
“Sampai kapan kau akan menjalin hubungan dengan Jaehwan?” tanya Chanyeol dengan nada bicara yang agak tinggi.
Jiyeon menghela nafas panjang. “Aku juga belum tahu. Mungkin masih agak lama karena kami baru memulai tugas ini. Sungguh, Oppa. Aku hanya menganggap hubunganku dengan Jaehwan hanya sebatas pekerjaan. Ya, tugas kantor karena aku adalah rekan kerja Jaehwan. Begitu pula sebaliknya.”
“Sekarang aku tanya, bagaimana perasaanmu pada Jaehwan dan Leo?”
Deg!
Pertanyaan macam apa itu? pikir Jiyeon. Ia sendiri pun tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Masalah perasaan, sama sekali tidak terpikirkan oleh Jiyeon. Ia tidak berpikir sejauh itu. “Apakah aku harus tahu tentang perasaanku sendiri terhadap mereka, Oppa?” tanya Jiyeon bingung. Bagaimana dia tidak bingung kalau dirinya sendiri tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat bersama Leo ataupun Jaehwan. Jika boleh jujur, Jiyeon lebih merasa nyaman jika dirinya berada di dekat Leo. Namun Jaehwan juga baik padanya meski Jiyeon hanya merasa biasa saja saat di dekat Jaehwan.
“Entahlah, Oppa. Aku sendiri juga bingung. Aku… baru saja mengenal Leo dan baru bertemu lagi dengan Jaehwan. Mungkin perasaanku terhadap mereka masih biasa saja karena aku tidak merasakan apapun yang aneh di hatiku. Oppa pernah bilang kalau jatuh cinta itu indah dan manis, kan? Ada sesuatu yang aneh di hati saat kita sedang jatuh cinta pada seseorang. Tapi… itu belum terjadi padaku, Oppa.”
Chanyeol bernafas lega. Ia bersyukur kalau Jiyeon belum memiliki perasaan spesial terhadap Jaehwan. Bagaimana pun juga, Jiyeon adalah tunangan sah Leo, bukannya kekasih Jaehwan. Jadi menurut Chanyeol, Leo lebih berhak mendapatkan cinta Jiyeon daripada Jaehwan meskipun Jaehwan adalah sahabatnya sejak kecil. “Aku harap kau bisa jatuh cinta pada Leo, bukan pada Jaehwan,” kata Chanyeol ketus seakan-akan ia tidak menyukai hubungan Jiyeon dengan Jaehwan.
Jiyeon pasrah. Ia sudah dapat membaca pikiran Chanyeol dari mimik muka namja jangkung itu. “Iya, Oppa. Aku mengerti.”
“Anak pintar!” ucap Chanyeol seraya mengacak rambut Jiyeon sembarangan. Tak lama kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya yang terletak bersebelahan dengan kamarr Jiyeon.
***
Ceklek! Brak!
Jiyeon menutup pintu kamarnya dengan kasar tanpa peduli ada yang mendengarnya atau tidak. Tas mahal yang sedari tadi ia tenteng di tangan kanannya, kini ia lempar begitu saja di atas ranjang king size yang dilapisi kain sprei warna ungu muda.
Bruk!
Betapa nyamannya merebahkan diri di atas ranjang bekas milik Chorong. Meskipun dulunya kamar itu milik Chorong, Jiyeon tetap terima karena kamar itu masih bagus dan terlihat cantik. Memang tidak sebagus kamarnya yang kini digunakan oleh Chorong. Tetapi menurut Jiyeon, kamar bekas Chorong itu masih nyaman dipakai dan tidak kotor. Lumayan untuk melepas penat sehari-hari setelah lelah bekerja.
Saat tengah merebahkan diri di atas ranjangnya, Jiyeon teringat sesuatu. Ya, pertanyaan Chanyeol padanya masih terngiang indah dalam ingatan Jiyeon. Siapa laki-laki yang akan mendapat cinta darinya? Jawaban dari pertanyaan itu akan sulit ditemukan.
“Aku sendiri bingung dengan perasaanku. Leo ataudan Ken? Dua orang itu selalu baik padaku. Leo… sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasakan sesuatu yang lain  meskipun baru kali itu aku mengenalnya. Ken… dia adalah sahabat lamaku yang selalu membuatku tersenyum. Ken sangat baik padaku seperti saudara kandungku sendiri. Hah! Entah siapa yang akan aku cintai, aku tidak peduli. Tapi firasatku mengatakan kalau aku akan jatuh cinta pada Leo. Ah, lupakan saja. Aku tidak mau jatuh cinta jika hanya bertepuk sebelah tangan. Tidak akan. Semoga saja tidak terjadi hal yang seperti itu.” Jiyeon bicara pada dirinya sendiri untuk menenangkan pikirannya.
***
Tok tok!
Chanyeol berdiri di depan pintu kamar Jiyeon yang berwarna putih. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada adik kesayangannya sebelum sarapan bersama anggota keluarga yang lain.
“Jiyeon-a, kau sudah bangun?” teriak Chanyeol dari luar kamar.
Jiyeon dapat mendengar suara Chanyeol dengan jelas. “Eoh, aku sudah bersiap, Oppa. Sebentar!” teriak Jiyeon dari dalam kamar. Ia bergegas merapikan baju dan rambutnya kemudian mengambil tas kesayangannya.
Ceklek!
Seorang Park Jiyeon yang sudah berdandan cantik dan penampilan yang rapi. “Ada apa, Oppa?”
“Hari ini aku mengajak Leo makan siang bersama. Kau harus ikut! Aku tidak ingin mendengar penolakan darimu.”
Jiyeon menatap kosong pada lantai berwarna putih di sampingnya. Ia sedang mengingat sesuatu. Semoga tidak ada jadwal acara dengan Ken, batinnya. “Hem, baiklah, aku ikut.”
“Oke, biar Leo yang menjemputmu di ruang kerja. Hari ini dia akan menghabiskan waktu seharian di perusahaan.”
“Ya, aku tahu, Oppa. Kami akan mengadakan rapat terakhir untuk menyelenggarakan acara bakti sosial.” Jiyeon menatap Chanyeol kemudian tersenyum pada kakak laki-lakinya itu.

Selama mengikuti rapat bakti sosial, Jiyeon sulit fokus pada materi yang dibahas saat itu. Akibatnya, dia berkali-kali mendapat teguran dari sang ketua tim selaku pemimpin rapat. Keanehan pada Jiyeon tersebut rupanya berhasil menyita perhatian Leo yang duduk tak jauh dari Jiyeon. Tak jarang, Leo mencuri-curi kesempatan untuk memandang Jiyeon yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Acara rapat telah berakhir. Semua anggota rapat membubarkan diri kecuali Jiyeon yang masih asyik larut dalam pikirannya sendiri.
Leo hendak meninggalkan ruang rapat. Namun ketika ia sampai di belakang kursi yang ditempati oleh Jiyeon, langkahnya terhenti.
“Ada apa?” tanya Leo berbisik di dekat telinga Jiyeon. Posisi Leo yang membungkuk, mmbuatnya leluasa mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyeon dari belakang.
Jiyeon nyaris terlonjak saat menengar suara Leo sedekat itu. “Ti, tidak ada apa-apa,” jawab Jiyeon gugup saat dirinya berada dalam jarak kirang dari sepuluh sentimeter dari tubuh Leo.
“Berdirilah! Rapat sudah selesai, apakah ingin menjadi penunggu ruangan ini?” Leo menegakkan tubuhnya dan tetap berdiri di belakang Jiyeon yang asyik duduk di bangkunya.
Karena rapat sudah selesai dan Leo pun menyuruhny keluar dari ruangan, akhirnya Jiyeon mengangkat tubuhnya dan beranjak dari tempat duduknya semula. Leo pun menyusulnya di belakang.
Tap tap tap!
Leo dan Jiyeon berjalan beriringan menuju lobi kantor. Keduanya berjalan normal dan terlihat biasa saja. Rambut Jiyeon yang sepanjang bahu bergerak mengikuti gerakan tubuh Jiyeon.
“Bukankah pertunangan kita harus dirahasiakan dari publik demi karirmu? Lalu kenapa kita berjala bersama-sama seperti ini?” Jiyeon membuka percakapan. Akhir-akhir ini dia mengalami banyak perubahan.
“Hanya berjalan biasa tidak akan menimbulkan kecurigaan. Jangan khawatir!” ujar Leo santai. Dia baru ingat kalau pertunangannya dengan Jiyeon harus dirahasiakan dulu demi karirnya sebagai seorang idol yang sedang naik daun. “Lalu bagaimana hubunganmu dengan Ken? Aku dengar banyak netizen yang mendukung hubungan kalian dan banyak pula yang memuji kalau kalian adalah pasangan serasi.”
Jiyeon menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Memang benar yang dikatakan Leo tadi. Fakta seperti itu seharusnya membuatnya semakin senang karena misinya berhasil dan sebentar lagi pasti karir Ken akan merangkak naik, menyaingi karir Leo yang berada di atas Ken.
“Yah, begitulah. Itu artinya tugasku berhasil dengan baik. Meski hanya pura-pura, Ken benar-benar menjalankan perannya dengan sangat baik sehingga banyak yang mengira kalau kami menjalin hubungan yang serius.”
Tap!
Leo menghentikan langkahnya dan membiarkan Jiyeon tetap melangkah di depannya. Menyadari hal itu, Jiyeon pun tak melanjutkan ayunan langkanya dan membalik badannya. “Ada apa?”
“Sampai kapan?” tanya Leo.
Jiyeon mengerutkan kening, bingung. “Apa maksudmu?”
Tap tap! Leo berjalan dua langkah, mendekati Jiyeon dan berdiri di depan gadis itu. “Sampai kapan kalian bermain sandiwara itu?” tanya Leo melanjutkan pertanyaannya tadi.
Jiyeon mengangkat kedua alisnya dan menatap Leo. “Entahlah, aku kurang tahu tentang hal itu. Mungkin sampai Ken mencapai misinya dan album solonya keluar.”
“Album solo?” tanya Leo mengulangi kata itu.
“Ya, album solo,” jawab Jiyeon diiringi anggukan kecil.
Leo tampak gusar dan jantungnya mulai berdegub kencang.
“Ada apa? Kau tampak aneh, Oppa,” tanya Jiyeon yang khawatir pada Leo karena ekspresi wajah Leo berubah seketika. Sangat berbeda dengan beberapa detik yang lalu.
Leo menggeleng dan menepis tangan Jiyeon yang menyentuh pipinya. “Jangan lakukan itu! Aku baik-baik saja.”
Ada sesuatu yang aneh pada Leo. Hal itu disadari oleh Jiyeon saat dirinya membahas tentang Ken, ya, hubungan dirinya dengan Ken.
“Jadi, kita tetap pergi makan siang dengan Chanyeol oppa atau tidak?” tanya Jiyeon yang ingin memastikan Leo bersedia makan siang dengannya dan Chanyol.
“Ya, jadi. Kita berangkat sekarang.” Leo mulai berjalan pelan, melanjutkan langkahnya menuju lobi kantor.
***

Sebuah restoran Jepang nampak ramai pada jam makan siang. Bagaimana tidak? Restoran tersebut terletak di posisi yang strategis, diantara dua perusahaan besar yang memiliki jumlah karyawan tidak sedikit. Salah satu pelanggan yang tengah menanti pesanan adalah Park Chanyeol, putera kedua keluarga Park yang sukses memimpin perusahaannya sendiri. Chanyeol tiba di restoran sepuluh menit yang lalu. Ia duduk diam di sebuah bangku sambil bermain game di ponselnya. Sesekali ia melirik arloji mahalnya di lengan kiri. Sudah sepuluh menit ia menunggu Leo dan Jiyeon datang.
“Chanyeol-a! Kau di sini?” Tiba-tiba Ken datang menghampiri Chanyeol yang sedang asyik bermain game online di ponselnya.
Deg!
Chanyeol terlonjak kaget dan hampir melempar ponselnya begitu saja. Beruntung namja tu segera sadar kalau ia tengah memegang ponsel kesayangannya itu. Jika tidak, pasti benda berbentuk persegi panjang itu jatuh terlempar secara tidak sengaja.
“Eoh, Ken, kau juga di sini? Kapan kau datang?” Chanyeol merasa kedatangan Ken saat itu merupakan ancaman untuknya. Ia harus segera membuat Ken enyah dari tempat itu sebelum Leo dan Jiyeon datang. Jika mereka bertiga bertemu, Chanyeol tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
“Aku sedang menunggu klien. Kami sudah janjian di tempat ini. Kau sendiri?” tanya Ken balik.
“Eoh? A, aku?” Chanyeol mendadak gugup. “Aku, aku… aku juga sedang menunggu klien untuk makan siang sekaligus membahas kerja sama kami nanti.”
“Oh, kalau begitu aku akan meninggalkanmu sendiri. Takutnya nanti kalau klienmu sudah datang dan tidak ada tempat yang tersisa,” kata Ken seraya melihat sekelilingnya. Tak ada bangku kosong satu pun. Semua tempat sudah penuh. Hanya ada beberapa kursi melingkar mengitari satu meja yang merupakan pesanannya sendiri. “Aku akan kembali ke tempatku. Senang bertemu denganmu, Park Chanyeol.”
Chanyeol tersenyum. “Ya, sama-sama.”
Ken duduk di bangku yang telah ia pesan. Sedangkan Chanyeol menunggu Leo dan Jiyeon dengan resah, khawatir kalau nantinya mereka berdua bertemu dengan Ken dan suasana menjadi tidak menyenangkan.
“Oppa!” panggil Jiyeon dengan nada tidak terlalu tinggi. Ia dan Leo langsung duduk di bangku yang masih kosong. “Oppa, maaf kalau kami terlalu lama datang di tempat ini. Kau pasti sudah menunggu lama, kan?”
“Tidak juga,” jawab Chanyeol ringan. “Kalian pesan apa?”
“Aku ingin menu spesial di restoran ini.” Berhubung itu adalah restoran Jepang, Jiyeon sama sekali tidak pilih-pilih jenis masakan Jepang yang dijual di restoran itu. Semua jenis makanan Jepang pernah ia lahap saat masih tinggal di negeri sakura itu.
“Aku sama dengan Jiyeon,” kata Leo lirih. Suaranya terdengar agak parau sekarang.
Setelah menikmati santap siang hari ini, Chanyeol, Jiyeon dan Leo berniat mengobrol ringan di restoran karena sudah lama mereka tidak mengobrol. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Chanyeol pada Leo dan Jiyeon.
“Aku ragu mengatakannya tapi… ini harus kita bicarakan mulai sekarang.” Chanyeol tampak serius.
“Memangnya apa yang ingin Oppa bicarakan?” tanya Jiyeon setelah ia membenahi posisi duduknya.
Bukannua segera menjawab pertanyaan Jiyeon, Chanyeol malah menatap Leo dan Jiyeon bergantian.
“Oppa! Katakan sekarang!”
“Tentang apa?” tanya Leo.
Chanyeol semakin membuat Leo dan Jiyeon penasaran apalagi ia tersenyum aneh saat ini.
“Baiklah, akan ku katakan sekarang. Eomma menginginkan pernikahan kalian dilaksanakan secepatnya. Aku rasa itu ide yang bagus sekali,” jelas Chanyeol.
“Apa?” seru Leo dan Jiyeon bersamaan hingga mengundang perhatian banyak orang yang makan di restoran Jepang itu, termasuk Ken.
Ken mengerutkan keningnya saat melihat Jiyeon apalagi ada Leo juga di sana. “Jadi, Chanyeol tidak ada rapat dengan klien melainkan dengan Leo dan Jiyeon,” lirihnya tak percaya kalau Chanyeol telah membohonginya.
“O, Oppa, kenapa terburu-buru?” tanya Jiyeon pada Chanyeol yang mendukung ibunya untuk segera menikahkan dirinya dengan Leo. “Maksudku… petunangan ini kan rahasia, apa jadinya kalau dilanjutkan ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat?”
“Dalam waktu dekat ini jadwalku sibuk, jadi mungkin aku belum bisa untuk….”
“Tenang saja,” potong Chanyeol. “Pernikahannya sangat sederhana. Kalian hanya perlu melaksanakannya di gereja tanpa pesta dan undangan. Hanya keluarga yang akan menghadiri pernikahan kalian, seperti tunangan waktu itu.” Chanyeol terlihat sangat antusias denga pernikahan adiknya. “Jadi, bagaimana? Kalian setuju, kan?”
Jiyeon maupun Leo diam membisu, tidak dapat mengatakan apapun.
“Eomma sudah menghubungi keluarga Jung. Karena pihak laki-laki hanya pasrah tentang pelaksanaan pernikahan, jadi yang mengatur semuanya adalah pihak perempuan.”
“Apa?” Kali ini Leo dan Jiyeon tidak berteriak seperti tadi.
“Kenapa? Bagus, kan? Apalagi kalau pelaksanaannya minggu depan. Wah, pasti seru.”
Leo menghembuskan nafas kasar. Bagaimana jika pernikahan itu benar-benar dilaksanakan dalam waktu dekat? Dia pasti akan sangat menyakiti Irene. Keinginannya untuk kembali pada Irene, gadis yang dicntainya, bisa hancur karena pernikahan itu.
***
Hari semakin sore. Matahari perlahan mulai menyembunyikan diri di ufuk barat. Pukul 5 sore, Jiyeon telah menyelesaikan semua pekerjaannya dan kini ia hanya bersantai di ruangan staf lantai dua. Jiyeon berdiri di balik kaca jendela yang berukuran 4×2 meter, menikmati pemandangan sore hari yang menenangkan hati dan pikiran. Tiba-tiba teringat sesuatu dalam ingatannya. Ya, perihal pernikahan yang dibicarakan oleh Chanyeol saat makan siang tadi. Masalah itu rupanya cukup membuat Jiyeon merasa terbebani karena pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat dibuat main-main. Pernikahan adalah janji yang diucapkan di hadapan Tuhan.
“Jiyeon-a!” panggil Ken secara tiba-tiba.
“Omo!” Jiyeon terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah Ken yang baru saja tiba di ruang staf tempat Jiyeon mengerjakan semua tugas-tugasnya. Nafas Jiyeon terengah-engah akibat kaget setelah mendengar Ken memanggilnya.
Ken menahan tawa. Ia tidak sengaja mengagetkan Jiyeon. “Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.”
Jiyeon mengatur nafasnya agar normal kembali. “Kau selalu membuatku kaget, eoh! Ada apa?”
Ken masih terkikik geli mengingat ekspresi Jiyeon saat kaget tadi. “Maaf kalau aku mengagetkanmu. Kau sudah siap, kan?”
Jiyeon mengingat-ingat apakah ia ada janji dengan Ken. Rasanya dia sama sekali tidak ada janji apapun dengan namja pemilik hidung super mancung itu. “Siap untuk apa?” tanya Jiyeon bingung.
“Kau sudah mendapatkan pesan dari manajer, kan?” tanya Ken yang berusaha mengibgatkan Jiyeon kalau manajer sudah mengirimkan pesan padanya untuk bersiap melakukan wawancara nanti malam.
“Pesan? Maksudnya pesan di ponsel?” tanya Jiyeon lagi. Jujur, dia sama sekali belum memegang ponselnya sejak makan siang tadi.
Ken mengangguk mantab kemudian duduk di kursi kerja milik Jiyeon. Sedangkan Jiyeon sendiri berdiri di depan jendela, di depan Ken yang baru saja memutar kursi empuk itu.
“Oh, iya ya, aku ingat.” Ponsel? Di mana ponselku? batin Jiyeon yang tidak ingat di mana ia meletakkan ponselnya. Jiyeon mencari ponselnya di dalam saku blazer yang ia kenakan namun tidak ada. Di dalam laci meja kerja pun nihil. Di atas meja tentu saja tidak ada karena meja itu telah diberesi oleh Jiyeon saat selesai mengerjakan tugasnya.
“Kenapa? Kau mencari apa?” tanya Ken penasaran karena Jiyeon terlihat sibuk mencari sesuatu.
“Ah, bukan apa-apa. Tadi Chanyeol oppa menitipkan kunci mobilnya padaku. Tapi sepertinya dia sudah mengambilnya. Tapi kapan, ya?” Jiyeon berbohong pada Ken, takut kalau ia mengatakan yang sebenarnya nanti Ken akan tersinggung atau bahkan kecewa. “Acaranya jam berapa? Biar aku bersiap-siap dulu.”
Ken melirik arlojinya. “Setengah jam lagi.”
“Apa?” pekik Jiyeon mengagetkan Ken. “Ya ampun, kenapa aku bisa lupa.” Jiyeon menepuk dahinya cukup keras, menyadari betapa bodoh dirinya sendiri. “Baiklah, aku bersiap dulu. Aku… pergi ke toilet dulu.” Jiyeon beranjak dari tempatnya kemudian berjalan cepat menuju toiket yang berjarak tidak jauh dari ruang kerjanya.
***
Acara wawancara telah berlangsung sesuai rencana. Skenario yang dijalankan oleh pasangan palsu yaitu Ken dan Jiyeon benar-benar sempurna. Publik berhasil ditipu demi kemajuan karir Ken yang sebentar lagi akan merilis albun barunya. Agar album itu laris manis di pasaran, tentunya perusahaan berusaha menaikkan tingkat kepopuleran Ken. Salah satu caranya adalah dengan menyuruh Ken dan Jiyeon berpacaran di depan publik. Dengan begitu, nama Ken akan semakin melonjak.
Setelah acara selesai, Jiyeon masih terduduk di ruangannya, istirahat melepas lelah karena seharian bekerja. “Ternyata begini rasanya bekerja.” Jiyeon sangat bersyukur dirinya kembali ke kehidupan normal, tidak seperti kehidupannya di negeri sakura, Jepang. Di sana ia haus menjalani pengobatan psikis agar kejiwaannya normal kembali pasca insiden kecelakaan itu. Mengingat masa lalu mampu membuat Jiyeon menitikkan airmata.
“Jiyeon-a,” panggil Ken lirih. Ia baru saja selesai ganti pakaian di ruangannya. “Ada apa?” Ia kaget melihat Jiyeon menangis. Ia sangat takut jika ada sesuatu yang menyakitkan bagi Jiyeon apalagi jika dirinya sendiri yang membuat Jiyeon bersedih.
Jiyeon mengusap airmatanya kemudian tersenyum pada Ken. “Aku tidak apa-apa. Hanya teringat masa laluku. Banyak orang yang mengira kalau aku….”
“Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Kau adalah gadis yang cantik, baik, cerdas dan selalu membuat orang lain nyaman bila di dekatmu. Jangan berpikir macam-macam lagi. Kau sudah berubah, Jiyeon-a. Kau harus bisa menjadi lebih baik. Jangan terpuruk pada masa lalu!” Ken berusaha menghibur Jiyeon agar ia tidak bersedih saat mengingat masa lalunya yang tidak diinginkannya. “Ayo kita pulang!”
“Biar aku saja yang mengantarnya pulang, sekalian membicarakan tentang sesuatu dengan keluarga Park.” Tiba-tiba Leo datang dan berjalan mendekati Jiyeon dan Ken yang berjarak kurang lebih enam meter.
Ken mengira Jiyeon sengaja memanggil Leo untuk mengantarnya pulang. Ia pun tidak berani mengusir Leo karena kedudukan Leo lebih tinggi darinya. Leo adalah tunangan Jiyeon meski Jiyeon sendiri tidak begitu menginginkannya. “Baiklah, aku serahkan Jiyeon padamu, Hyung. Jaga dia baik-baik.” Tanpa banyak kata, akhirnya Ken meninggalkan Leo dan Jiyeon di ruang kerja staf itu.
Dengan langkah gontai, Ken berjalan menyusuri lorong bangunan milik Choi Siwon. Ia kecewa karena beberapa kali ingin mengantar Jiyeon pulang, gadis itu selalu menolaknya atau ada penghalang yang membuatnya gagal mengantarkan Jiyeon. Ken merasa bertanggung jawab atas Jiyeon karena dia adalah pacar pura-pura seorang Park Jiyeon. Memang hanya di depan publik dan Jiyeon pun menganggapnya sebatas teman. Namun tidak bagi Ken. Baginya, Jiyeon adalah cinta pertamanya dan kekasihnya yang nyata, bukan pura-pura. Kenyataan pahit yang harus ia hadapi adalah Jiyeon bukan miliknya melainkan milik Jung Taekwon alias Leo. Leo lah yang lebih berhak atas Jiyeon. Namun namja itu seakan tak mengharapkan Jiyeon hadir dalam kehidupannya
Sesampainya di mobil, Ken menutup kedua kelopak matanya beberapa detik.
Tok tok!
Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya yang sukses mengagetkan dirinya yang ingin merenung. Ken menegakkan posisi tubuhnya kemudian melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.
Lee Ahreum, gadis berpostur tinggi semampai tengah berdiri di samping mobilnya.
Sreeeet!
Ken membuka kaca mobilnya.
“Kau tahu? Aku menunggumu di pesta penyambutanku. Tetapi kau malah bersantai di sini,” gerutu Ahreum yang kesal karena Ken melupakan pesta penyambutannya.
“Sudah, jangan membahas itu. Aku sedang tidak ingin adu mulut denganmu. Kau itu… sepupuku yang paling cerewet. Aku sedang kesal, jadinjangan membuatku bertambah kesal dengan mendengar ocehanmu, eoh.”
“Hish! Seharusnya aku yang kesal. Bukan dirimu!”
“Dari mana kau tahu kalau aku ada di sini?” tanya Ken santai.
“Tadi aku bertemu dengan Irene. Dia bilang, mungkin saja kau ada di sini. Hah! Ternyata benar. Gampang sekali mencarimu, tidak perlu keliling kota.”
Ken terbelalak. “Irene? Maksudmu Bae Irene?”
Ahreum mengangguk. “Eoh, Bae Irene.”
“Kau mengenalnya? Dari mana?”
Ahreum terkikik geli melihat ekspresi Ken yang penasaran setengah mati. “Akan ku ceritakan nanti. Sekarang ayo kita pulang!” Ahreum membuka pintu mobil sebelah kanan Ken. Detik berikutnya, dia berhasil masuk ke dalam mobil.

 

 

Tbc

Advertisements

2 thoughts on “More Than Alteration [Chapter 6]

    • Iya udah pernah aku publish di IF.
      Smua ff yg aku buat psti aku publish ulang di sini dear. Soalnya blog ini adalah blog pribadiku. Makasi ya udah apresiasi ff nya

      Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s