More Than Alteration [Chapter 2]

MORE THAN ALTERATION

CAST MTA

Genre:

Romance, Family, Angst, Hurt/ comfort, Friendship

Rating untuk part 2: PG – 13

Rating untuk FF keseluruhan: PG – 15

Length: Multichapter

Beberapa jam kemudian.

Jiyeon tersenyum riang setelah mendapat pekerjaan yang direkomendasikan oleh kakanya, Park Chanyeol. Pengalaman bekerja merupakan hal yang sangat berharga baginya.

“Aku akan menagntarmu pulang, Jiyeon-a.” Chanyeol menggandeng tangan adiknya – takut jika nanti adik kesayangannya itu hilang untuk kedua kalinya.

Jiyeon tersenyum. Hari ini dia banyak tersenyum saat berada di dekat Chanyeol. Sudah pasti hal itu terjadi. Dulu, mereka berdua benar-benar tidak akrab. Namun keajaiban telah menghampiri keduanya dan sekarang… mereka nampak akrab sekali.

Putri sulung keluarga Park berjalan sendirian – menyusuri koridor yang menghubungkan ruang direktur Choi dengan lift. Langkahnya tak tergesa, kedua manik matanya asyiik menikmati lukisan pemandangan yang berderet rapi di atas dinding di kanan-kirinya. Benar-benar kantor agensi yang unik, batin Jiyeon.

“Jiyeon-a!” Suara Ken terdengar memekakkan telinga. Jiyeon pun menghentikan langkahnya.

“Jaehwan? Ada apa?” tanya Jiyeon polos.

Jaehwan alias Ken hanya tersenyum. “Bersiaplah! Aku akan menculikmu!” Dengan sigap, ia menarik lengan Jiyeon dan membawanya ke suatu tempat.

***

“Kau membawaku ke restoran? Untuk apa?” tanya Jiyeon yang sama sekali tidak mengerti maksud Ken yang membawanya ke sebuah restoran ternama di kota Seoul.

“Untuk makan, bukan untuk main golf,” jawab Ken mengesalkan. “Sudahlah, duduk dan pesan makanan kalian,” lanjut Ken.

Meja segiempat dekat dengan jendela yang menampilkan pemandangan kota Seoul yang luar biasa indah – dikelilingi oleh dua orang pemuda terkenal di Korea Selatan dan seorang gadis polos yang masih merasa asing di dunia luar.

Setelah memesan makanan keinginan masing-masing, Ken, Leo dan Jiyeon melanjutkan pertemuan perdana mereka dengan perbincangan ringan yang diselingi canda tawa akibat ulah Ken.

Jiyeon pov

Kepulanganku ke tanah kelahiran – Korea Selatan – ternyata tak terlalu mengerikan. Sebelum menginjakkan kakiku di pesawat kemarin, aku sempat takut. Ya, takut jika saja aku tak akan bahagia di Korea dan selalu menemui orang-orang yang memperlakukan diriku dengam tidak baik. Setelah aku tiba di Korea, bertemu dengan keluarga dan teman – ditambah satu teman lagi yang baik padaku, aku… tidak akan takut lagi. Entah bagaiman caranya… aku akan melupakan masa laluku yang begitu miris dan membuat hidupku berubah.

“Jiyeon-a, malam semakin larut. Sebaiknya kau segera pulang.”

Tiba-tiba suara Ken membuyarkan lamunanku. Aku sedikit terperanjat karena kaget. “Eoh, benar. Sebaiknya memang begitu.” Ah, entahlah apa yang baru saja ku katakan pada Ken. Aku benar-benar refleks mengatakannya.

“Jiyeon-a…” panggil Ken lagi. Kali ini aku tidak tahu maksud Ken memanggilku.

“Wae?” tanyaku datar sambil menatapnya. Ku lihat ekspresi wajahnya berubah drastis. Kali ini dia menunjukkan ekspresi serius atau sungguh-sungguh atau apapun namanya. Aku berharap dia segera menjawab pertanyaanku.

Ken terdiam beberapa saat. Dia tertunduk, mungkin saja tengah memikirkan sesuatu.

“Jiyeon-a, maaf. Aku tidak bisa menepati janji pada kakakmu untuk mengantarmu pulang. Aku… tidak….”

“Eoh, gwaenchana. Aku bisa pulang sendiri, jangan khawatir. Aku tidak akan tersesat selama masih ada maps di ponsel.” Itulah yang aku katakan pada Ken. Dia meminta maaf dengan tulus. Aku tahu kalau dia ingin sekali menepati janjinya pada Chanyeol oppa. Tapi… kemungkinan besar – saat ini Ken memiliki sesuatu yang harus dia selesaikan. “Pergilah, Ken, jika kau memang harus segera pergi. Aku akan pulang sebentar lagi.” Jujur saja, aku tidak ingin menjadi beban orang lain. Aku tidak ingin membebani Ken.

“Biar aku saja yang mengantar Jiyeon-ssi,” ucap pemuda jangkung yang duduk di sampingku.

Eh? Aku dan Ken langsung menatap aneh pada pemuda pemilik marga Jung itu – yang malah asyik meneguk sisa jus apel yang dipesannya tadi.

“Serius?” tanya Ken dengan tujuan mengonfirmasi kalau Taekwon benar-benar mengucapkan kata-kata yang membuatnya merasa lega.

Jung Taekwon mengangguk pelan – isyarat bahwa dirinya memang benar berniat mengantar Jiyeon pulang.

“Tidak perlu repot-repot mengantarku, aku bisa pulang sendiri,” sahutku sontak tanpa berpikir lebih dulu. Tentu saja hal itu tak perlu dipikirkan dulu karena aku tidak ingin merepotkan siapapun.

“Kajja! Jalan semakin sepi. Tidak bagus untuk seorang gadis berjalan di tengah gelapnya malam,” kata Taekwon.

Glek!

Aku menelan saliva-ku dan Ken menunjukkan ekspresi tak percaya. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Taekwon mengejutkan dirinya. Kata-kata itu terlalu manis. Mungkin baru kali ini Ken mendengar Taekwon alias Leo mengucapkan kata-kata seperti itu apalagi menyebut kata ‘gadis’. “Baiklah, aku pulang. Kalian… hati-hati di jalan.”

Jiyeon pov end.

Tak berapa lama kemudian, Ken beranjak dari tempat duduknya. Ia segera melangkahkan kaki meninggalkan cafe yang semakin sepi. Sepeninggal Ken yang tengah dalam perjalanan pulang, Jiyeon dan Taekwon masih duduk santai di atas kursi mereka.

“Kajja pulang!”

Akhirnya Taekwon mengajak Jiyeon segera meninggalkan cafe itu. Tak ingin Taekwon menunggunya, Jiyeon pun segera menegakkan tubuhnya dan berjalan ringan menuju pintu keluar. Sedangkan Taekwon menyusulnya di belakang.

***

Hampir tengah malam, Jiyeon dan Taekwon menjejakkan kaki mereka di jalan yang sepi – menuju kediaman keluarga Park.

Srek!

Jiyeon menghentikan langkahnya. “Taekwon-ssi…” panggil gadis yang memiliki postur tubuh tinggi semampai itu.

Taekwon yang berada tepat di belakangnya pun berhenti – mengikuti apa yang dilakukan oleh Jiyeon. “Wae?” tanya pemuda itu dengan nada datar.

Jiyeon membalikkan badannya – menghadap ke arah Taekwon yang menatapnya biasa saja. “Sampai di sini saja. Aku bisa pulang sendiri.”

Taekwon sedikit menyipitkan kedua netranya. “Baiklah.”

“Gomawo, Taekwon-ssi.” Sesaat kemudian, Jiyeon melangkahkan kakinya kembali menuju kediaman keluarganya yang terletak tidak jauh dari tempatnya berjalan saat ini.

Tiga menit telah berlalu. Jiyeon merasa ada yang mengikutinya di belakang. Seseorang pasti sedang membuntuti, pikirnya.

Srek!

Tiba – tiba gadis cantik itu berhenti dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Jiyeon saat melihat Taekwon yang masih berjalan di belakangnya. “Taekwon-ssi… bukankah tadi….”

“Aku berjalan di jalan ini bukan untuk mengantarmu pulang atau membuntutimu,” potong Taekwon yang tidak ingin mendengar lanjutan dari kalimat yang dilontarkan oleh Jiyeon padanya.

“Lalu?”

“Aku mau pulang,” jawab Taekwon singkat. Ia melanjutkan langkahnya yang kini mendahului Jiyeon.

***

Beberapa menit berlalu begitu lama. Jiyeon merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Taekwon. Benarkah arah rumah pemuda itu searah dengannya?

“Taekwon-ssi!” panggil Jiyeon yang berdiri di belakang Taekwon. Mereka berdua berdiri di depan sebuah rumah mewah milik tuan Park. “Terimakasih telah mengantarku pulang.”

“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mengantarmu sampai di pertengahan jalan. Hal itu terlalu sepele bila mendapat ucapan terimakasih.”

“Anhi. Kau telah menemaniku berjalan menyusuri jalan yang sepi, meskipun kau mengatakan hanya mengantarku sampai pertengahan jalan. Gomawo. Lain kali… mampirlah ke rumah ini.”

Taekwon tidak merespon sama sekali, namun ia mengatakan sesuatu sebelum melanjutkan langkahnya. “Masuklah! Angin malam tidak bagus untuk seorang gadis sepertimu. Annyeong!”

Deg!

Jiyeon merasakan ada sesuatu yang aneh di jantungnya. Ia menarik nafas panjang kemudian membuangnya asal. “Gomawo, hati-hati, Taekwon-ssi.”Senyum terkembang di bibir mungil Jiyeon.

***

Mentari hari ini terlalu cepat beranjak naik dan bergeser ke arah barat. Sejak sunrise, putri bungsu keluarga Park telah sibuk memasak di dapur – membantu para pelayan yang bekerja di rumahnya. Ia tidak bisa bersantai ria atau hanya melihat para pelayan menyelesaikan tugas-tugas mereka yang lumayan banyak.

“Nona…tolong hentikan. Saya bisa menyelesaikannya sendiri,” kata seorang pelayan yang sebaya dengan ibunya.

“Shireoyo! Aku akan mencuci semua peralatan masak yang telah kotor. Ahjumma, tolong perlakukan aku seperti orang biasa saja.” Jiyeon menghentikan aktifitasnya mencuci piring, sejenak – untuk mengatakan kata-kata itu.

“Tapi….” Sang ahjumma tentu saja keberatan. Menganggap putri majikannya seperti orang biasa merupakan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan.

“Turuti saja kemauannya, Ahjumma!”

Suara Chorong sukses membuat Jiyeon dan asisten rumah tangga itu menoleh ke arahnya. Park Chorong – putri sulung dari keluarga Park memang dikenal memiliki sikap ketus dan sulit bergaul. Kepribadiannya yang berbeda dengan dua saudara kandungnya – membuat orang lain enggan berurusan dengannya, bahkan enggan menyapanya.

“Anggap saja dia seperti orang lain, Ahjumma. Bukankah itu yang dia inginkan?” Chorong mengulangi kata-katanya dengan sedikit perbedaan pada susunan kalimatnya. “Jiyeon-a, apakah aku juga harus melakukan hal yang sama dengan ahjumma?”

Jiyeon menatap Chorong yang tengah mengambil gelas berisi cairan putih kental kemudian meminumnya sedikit. “Eh? Maksudnya a – apa?” tanya Jiyeon gugup. Entah bagaimana ia bersikap di depan kakaknya, yang pasti rasa sakit telah menjalar di seluruh permukaan hati Jiyeon. Gadis polos itu dapat menangkap maksud ucapan kakaknya yang langsung menyayat hati.

“Kau pasti sudah dapat memahaminya, tidak perlu menanyakan hal itu padaku. Atau… kau bertanya begitu karena otakmu tak mampu berpikir sejauh itu?”

Deg!

Pagi buta, pukul lima lebih beberapa menit – Chorong dengan sengaja menghina Jiyeon di depan dua orang asisten rumah tangga yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.

Prang!!

Sebuah piring kaca milik nyonya Park jatuh terlepas dari genggaman tangan Jiyeon. Piring bening itu meluncur mulus – terbentur kerasnya lantai berwarna putih. Jiyeon gugup, tubuhnya bergetar. Tiba-tiba ingatan masa lalunya terbayang lagi di pikirannya.

Bruk!

“Agassi!” Salah seorang asisten rumah tangga yang sering dipanggil dengan sebutan ‘ahjumma’ saja oleh seluruh aanggota keluarga Park, berhambur mendekati Jiyeon yang terjatuh – terduduk di atas lamtai dengan raut wajah lusuh.

Wajah cantik Jiyeon mendadak pucat pasi, tubuhnya gemetar dan nafasnya sedikit tersengal.

“Agassi, ireona.” Ahjumma mencoba membantu Jiyeon menegakkan tubuhnya namun hal itu tak berhasil.

Kedua kaki Jiyeon tak hentinya gemetar. Ia tidak dapat berdiri dengan tegak. Sementara itu, Chorong yang menjadi satu-satunya penyebab Jiyeon seperti itu – hanya tersenyum kecil dam melirik Jiyeon dari dua sudut matanya. Tak ada secuil kebaikan dalam hati gadis bersurai hitam itu untuk sekedar menanyakan pada adiknya ‘apakah kau baik-baik saja?’.

Tap tap!

“Ahjumma! Wae irae?” Park Chanyeol muncul dari balik pintu kayu sebuah ruangan. Ia segera mengangkat tubuh Jiyeon. “Duduklah di sini,” ucapnya lirih.

Chanyeol prihatin melihat keadaan adik satu-satunya itu. “Tidak bisa… ini sama sekali tidak benar.” Ia memalingkan wajahnya, melihat kakak perempuannya yang malah asyik menyantap sarapan pagi itu. “Nuna! Apa yang telah terjadi? Apa yang kau lakukan pada Jiyeon?”

“Wah, kau benar-benar berada di pihaknya, Chanyeol-a? Kau tidak ingat hasil rapat minggu lalu? Kalau kau ingat, diamlah dan jangan membelanya. Gadis itu telah membuat keluarga kita malu selamanya.”

“Nuna!” seru Chanyeol geram melihat sikap angkuh kakaknya. “Apa yang membuat keluarga kita malu, eoh? Katakan padaku, apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang mempermalukan keluarga? Kau berencana mendekati Lee Jaehwan, kan? Rencanamu akan berjalan mulus jika laki-laki itu menginjakkan kakinya di Korea. Benar, kan?”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat sangat mulus di pipi tirus Chanyeol. Sedangkan Jiyeon, gadis itu hanya mampu berdiri mematung di belakang kakak laki-lakinya sembari menggigit bibir bawahnya. Ia tak dapat membayangkan betapa perih rasanya ditampar sekeras itu.

“Benar dugaanku. Kau tidak akan mendapatkan Lee Jaehwan, Nuna!” Chanyeol tak ingin berlama-lama berdiri di depan kakaknya. Ia segera memalingkan tubuhnya, menghadap ke arah Jiyeon yang terbengong melihat dirinya. “Kajja!” ucap Chanyeol lirih seraya menarik lengan Jiyeon agar segera enyah dari hadapan nenek sihir Chorong.

Tap tap tap!

“O, oppa, lepaskan aku. Ku mohon, Oppa. Tanganku kram.” Jiyeon berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Chanyeol yang telah menariknya menuju ruang keluarga.

Chanyeol melepaskan lengan Jiyeon yang telah memerah. “Ah, mian. Jiyeon-a….”

Dengan penuh tanda tanya, Jiyeon menatap kakak laki-laki yang sangat disayanginya itu. “Kenapa? Ada apa?” tanya Jiyeon lirih.

“Bekerjalah denganku. Kau… tidak usah bekerja di perusahaan hiburan milik direktur Choi.”

“Memangnya ada apa? Kenapa begitu, Oppa? Bukannya oppa sendiri yang meminta pada direktur Choi untuk menerimaku?”

Chanyeol mendesah kasar. Ia bimbang antara mempekerjakan Jiyeon di perusahaan yang dipimpinnya bersama sang ibu atau membiarkan adik cantiknya itu bekerja di perusahaan hiburan milik Choi Siwon. “Aku punya alasan penting, Jiyeon-a.”

“Alasan?”Jiyeon mengangkat kedua alisnya – bertanyah- tanya dalam hati. Ia menginginkan penjelasan lebih banyak tentang kata-kata yang diucapkan oleh Chanyeol. “Katakan padaku, apa alasan oppa mau melakukannya?”

“Tidak, aku tidak akan memberitahumu, tidak untuk saat ini. Ya sudah, lanjutkan saja jika kau ingin bekerja di bawah pimpinan direktur Choi. Aku berangkat.” Chanyeol beranjak dari tempatnya berdiri. Dia berjalan semakin jauh.

Penasaran – itulah yang ada di kepala Jiyeon. Ia hanya dapat menatap kepergian Chanyeol dengan penasaran yang tinggi. “Apa alasan oppa melakukannya?” batin Jiyeon yang masih berdiri di depan sebuah televisi berlayar 52 inchi.

***

Pukul 11 siang, direktur Choi mengadakan rapat mendadak dengan dewan direksi majalah Cyle dan beberapa sponsor yang secara mutlak mendanai pemotretan dan acara sosial yang akan dilaksankan beberapa hari lagi. Memang, harinpelaksanaan acara penting tersebut diputuskan lebih cepat dari rencana yang telah disusun. Semua petinggi perusahaan milik direktur Choi dan seluruh kru yang bertugas menyelesaikan banyak tugas dalam acara sosial itu – tengah dilanda kesibukan yang tentu saja menyita banyak waktu.

Selepas tiba di perusahaan yang menaungi tiga penyanyi ganteng (Hakyeon, Leo, dan Ken), Jiyeon bergegas menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh manajer padanya. Gadis itu tak sempat memikirkan perkataan kakaknya tadi pagi, tak sempat memikirkan alasan Chanyeol melarangnya bekerja di tempat itu.

Tak ada sesuatu yang salah, tak ada yang buruk juga. Tempat itu adalah tempat terbaik yabg pernah ia kunjungi – selain perusahaan ayahnya. ‘Tidak ada salahnya aku mengabdikan diri di sini. Jika ada sesuatu yang salah, akulah penyebab kesalahan itu,’ batin Jiyeon dengan menundukkan kepalanya – menyembunyikan setetes air mata yang mulai menitikkan diri dari ujung mata indahnya. ‘Lupakan masa lalu, lupakan segala kenangan buruk,’ batin Jiyeon.

“Park Jiyeon!” panggil manajer Jung yang sibuk memberikan pengarahan pada tim acara sosial. Maklum saja, ketua tim mereka sedang berhalangan hadir dalam rapat dadakam itu.

“Ne, Manajer Jung.” Jiyeon berlari kecil – mendekat ke arah Jung Yong Hwa dengan ekspresi serius.

“Mulai sekarang, kau adalah wakil ketua tim.”

“Ne? Wakil ke – ketua?” tanya Jiyeon yang merasa tidak yakin bahwa yang didengarnya tadi benar-benar nyata.

“Baiklah, sekarang tugasmu menjadi pengganti ketua tim. Tidak usah takut. Kau yang bertindak tetapi ketua timmu yang akan bertanggung jawab. Dia tidak ada di tempat ini saat keadaan genting seperti sekarang. Ah dasar!” Yong Hwa begitu emosi dan kesal pada ketua tim acara sosial yang bernama Kim Wonshik. “Aku tahu, kau tidak bisa menjadi ketua tim karena masih sangat baru di bidang entertainment seperti ini, kan? Maka dari itu, aku menunjukmu sebagai wakil ketua tim. Tugasmu sekarang adalah mengecek kehadiran semua peserta rapat – termasuk para direktur perusahaan yang menjadi sponsor kita.”

Jiyeon mengangguk mantab. Ia mengerti dan tahu betul tugas yang diberikan padanya. Tanpa berlama-lama berdiri di depan Yong Hwa, gadis pendiam itu segera masuk ke dalam ruang rapat.

Tempat yang begitu luas dan dipenuhi kursi rapat melingkari sebuah meja berbentuk elips. Beberapa orang telah menempati kursi empuk itu dan tak sedikit yang sibuk dengan gadget mereka. Jiyeon berjalan mengitari meja itu, membaca tiap tag yang dipajang dinatas meja. Beberapa orang direktur dan perwakilan dari beberapa perusahaan telah hadir, begitu juga dengan Hakyeon, Leo dan Ken yang sedari tadi asyik mengobrol.

“Jiyeon-a!” panggil Ken tanpa ada kepentingan apapun dengan Jiyeon. Ia melambaikan tangannya pada gadis cantik itu. Jiyeon pun membalas dengan melambaikan tangannya rendah dan menyunggingkan senyum manisnya.

Mana ada seorang idol melambaikan tangan pada seorang staf perusahaannya? pikir Jiyeon. Ia terkikik mengingat apa yang dilakukan oleh Ken beberapa detik yang lalu.

Saat mengecek peserta rapat itu, tanpa sengaja – Jiyeon membaca sebuah nama yang sangat tidak asing baginya. Nama PARK CHORONG membuatnya terbelalak dan berdiri di depan meja Chorong.

“Kau staf di sini, kan?”

Deg!

Jiyeon tersentak kaget. “Ne? Ah, i – iya, Direktur Park. Ada yang bisa saya bantu?”

Chorong tersenyum tipis. “Tolong panggilkan manajer Jung. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya. Kau… bisa memanggilkan manajermu itu untukku?” dengan nada sedikit menyombongkan diri, Chorong meminta Jiyeon untuk memanggil Jung Yong Hwa.

“N, ne. Tentu saja. Tunggu sebentar, Direktur Park. Akan saya panggilkan – sesuai keinginan Anda.” Jiyeon membalikkan badan kemudian berjalan menuju pintu. Tak lama kemudian, gadis itu menghilang di balik pintu.

Seseorang telah mengamati perbincangan Jiyeon dengan Chorong. Ia mengerutkan kening dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa begitu?

“Jaehwan!” panggil Leo yang duduk manis di sebelah kiri Ken.

“Oh God! Hyung! Kau mengagetkanku. Serius! Aku terkejut.” Ken menatap kesal pada Leo.

Bukannya tertawa atau tersenyum karena berhasil mengagetkan Ken si tampan cerewet itu, justru Leo melirik tajam ke arah laki-laki tampan itu.

“Kenapa memanggilku? Aku sedang memikirkan sesuatu tetapi kau menghancurkannya dengan sengaja,” kata Ken kesal.

“Tumben kau berpikir…” kata Leo ringan.

Ken mendesah kasar. “Aku juga bisa berpikir, Hyung.”

Ceklek!

Jiyeon masuk ke dalam ruangan – diikuti Yong Hwa yang berjalan di belakangnya. Sesampainya di dekat kursi milik Chorong, Jiyeon sedikit membungkukkan badannya.

“Manajer Junh sudah datang, Direktur Park,” kata Jiyeon singkat dengan maksud memberitahu Chorong bahwa orang yang dipanggilnya sudah datang.

Chorong tersenyum puas.”Baiklah, kau bolehpergi. Oh ya, terimakasih umm….”

“Park Jiyeon. Nama saya Park Jiyeon.”

“Jiyeon-a!” Ken sengaja memanggil Jiyeon. Gadis yang dipanggil pun segera menoleh ke arahnya.

“Ne? Anda memanggil saya?”

Ken mengerutkan keningnya. “Bukankah kalian berdua itu… kakak beradik?”

Deg!

Jiyeon maupun Chorong tentu saja terkejut mendengar Ken mengungkap jati diri mereka. Deru nafas Jiyeon memburu seakan sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Ia menautkan jari-jarinya untuk menyembunyikan gemetar yang sedang terjadi pada tubuhnya.

“Maaf, mungkin Anda salah mengenali orang. Saya bukan saudarinya.” Jiyeon dengan berat hati mengatakan hal itu pada Ken – di hadapan Hakyeon, Leo, dan… Chanyeol.

Ya, Park Chanyeol ternyata hadir dalam rapat yang diadakan secara mendadak oleh direktur Choi. Laki-laki berpakaian rapi dengan setelan jas abu-abu itu mengerutkan keningnya – terkejut mendengar Jiyeon yang tidak mengaku bahwa ia adalah adik kandung Chorong.

“Nama marga keluarga kami memang sama, tapi… kami bukan saudara,” lanjut Jiyeon – berharap kalau kali ini dia mengatakan sesuatu yang benar. Bukankah itu yang akan dikatakan oleh Chorong….

Ken nampak terkejut mendengar pengakuan Jiyeon. Ia tahu bahwa Chorong adalah kakak kandung Chanyeol dan Jiyeon tetapi kenapa Jiyeon tidak mengatakan yang sebenarnya? ‘Pasti ada sesuatu diantara mereka bertiga.’

Chorong terdiam dan sedikit menundukkan kepalanya – membiarkan sebagian poni rambutnya menutupi kelopak mata indah itu. Ia berusaha mengatur nafas agar tak terlihat kaget dan nampak santai. “Kami memang bukan saudara kandung tetapi… dia adalah adik angkatku.”

Deg!

Chanyeol, Jiyeon, dan Ken membelalakkan kedua mata bulat mereka. Chanyeol merasa tidak adil jika Chorong mengatakan bahwa Jiyeon adalah adik angkat mereka. Sama syoknya dengan Chanyeol, Jiyeon berusaha tegar mendengar pengakuan pahit dari sang kakak yang menganggap dirinya hanya sebagai adik angkat.

Ken terdiam – berusaha memahami situasi tiga anggota keluarga Park. Bagaimanapun juga, mereka adalah temannya sejak kecil. Mungkin hanya dirinya yang mengetahui kebenaran hubungan Chanyeol, Chorong, dan Jiyeon.

Saat situasi sedikit menegangkan, tiba-tiba Taekwon alias Leo beranjak dari kursinya. Dia hendak melangkahkan kaki jenjang miliknya namun dihalang oleh Ken yang menahan tangannya.

“Kau mau ke mana, Hyung?” tanya Ken karena sebentar lagi rapat dimulai.

“Toilet,” jawab Leo singkat dengan ekspresi datar. Ken pun segera melepaskan tangannya yang menahan Leo beberapa detik yang lalu.

Saat Leo berjalan melewati kursi Park Chorong, gadis itu melirik dari sudut matanya yang indah kemudian menyunggingkan senyum tipis.

“Rapat segera dimulai, kembalilah ke tempatmu, Jiyeon-a.” Chanyeol menyuruh adik kesayangannya itu kembali ke kursi yang sudah disediakan untuk Jiyeon.

Tanpa sepatah kata terucap dari mulutnya, Jiyeon melangkah menuju kursi kosong di samping Hakyeon. Ia menarik nafas panjang beberapa kali agar tak terlihat tegang. Hari ini merupakan hari yang berat baginya – sebagai anggota keluarga Park.

***

Beberapa jam telah berlalu. Semua anggota rapat merasakan panas di pantat mereka karena terlalu lama duduk di atas kursi yang meskipun tergolong kursi nyaman. Ken dan Hakyeon menggeliat – merilekskan otot-otot yang terasa kaku kemudian menarik nafas secara bersamaan. Tak lama kemudian, keduanya tersenyum puas dan saling mengacungkan jempol kanannya.

Rapat telah usai. Chanyeol masih asyik berkutat dengan gadget di tangannya. Tak lama kemudian, seseorang berdiri di sampingnya dan menatapnya datar.

“Aku ingin bicara denganmu.” Kata-kata yang diucapkan Chorong terdengar kaku, padahal ia bicara pada adik kandungnya.

Chanyeol mendongakkan kepalanya – meninggalkan perhatiannya dati gadget kesayangan yang masih tergenggam di tangannya. “Bicara tentang apa? Aku tidak ada waktu,” sahut Chanyeol yang tak kalah kaku dari Chorong. Ia memang sengaja melakukannya.

Sementara itu, Jiyeon hanya dapat menatap kedua kakaknya dengan tanda tabya besar yang bersarang di kepalanya.

“Jiyeon-ssi, jika tidak keberatan, maukah makan malam dengan kami… nanti?”

Ken dan Hakyeon terbelalak melihat dan mendengar Leo mengajak Jiyeon makan malam. Tidak biasanya pemuda itu mengajak seorang gadis makan malam dengan mereka bertiga.

Jiyeon pun nampak terkejut namun akhirnya ia mengiyakan ajakan langka itu. “Boleh,” jawab Jiyeon singkat. Dia sedikit malu jika diajak makan malam oleh orang yang baru dikenalnya.

Ken tersenyum puas. “Baguslah! Kita bisa makan malam berempat. Akhirnya ada seorang gadis diantara kita, Hyung.” Ken merangkul bahu Hakyeon yang menahan tawanya dan mengangguk mantab.

***

Kembali pada Chorong dan Chanyeol yang kini berada di sebuah lorong kosong tanpa seorang pun yang lewat di sana. Chanyeol memasang wajah cuek karena Chorong mengajaknya membicarakan sesuatu.

“Cepatlah, Nuna! Aku tidak punya banyak waktu.” Chanyeol melirik arloji mahalnya di lengan kiri. Hari ini dia memang tidak punya banyak waktu untuk sekedar mengobrol

Bahkan Jiyeon pun tak disapanya.

Chorong menatap Chanyeol tajam seakan hendak menerkam adik jangkungnya itu.

“Kenapa?” tanya Chanyeol sinis saat menyadari kalau Chorong menatapnya tajam.

“Apa yang kau rencanakan dengan Jiyeon? “

Chanyeol tercengang. Rencana apa yang dimaksud oleh Chorong?

“Nuna, apa maksudnya? Aku dan Jiyeon sama sekali tidak merencanakan sesuatu. Bahkan… dia seperti hendak menjauh dariku. Kau bisa lihat sendiri, kan? Jangan membuat spekulasi sesuka hatimu. Kau hanya menyita waktuku yang sangat berharga.” Chanyeol hendak beranjak dari tempat membosankan itu. Namun saat kakinya akan melangkah, ia berhenti sejenak. “Aku ingatkan, Nuna. Kau boleh saja menjadi sponsor acara sosial itu, tetapi jangan pernah mengusikku karena aku mengeluarkan uang pribadi untuk menjadi sponsor, bukan uang perusahaan.” Setelah menjelaskan posisi dirinya dalam acara sosial yang akan digelar beberapa hari lagi, Chanyeol bergegas meninggalkan Chorong yang dilanda kekesalan tingkat akut.

“Hah! Park Chanyeol dan Park Jiyeon! Kalian berdua begitu tamak. Benar-benar tidak menyangka… aku bisa punya adik seperti mereka berdua. Apa bagusnya menjadi sponsor dengan uang sendiri? Justru kau akan rugi, Chanyeol!” Chorong menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar. Ia membenahi penampilannya dengan menata rambut panjangnya yang tergerai indah menutup punggung dan merapikan blazer yang ia kenakan. Setelah itu, gadis yang merupakan putri sulung keluarga Park itu berjalan melangkah keluar dari gedung agensi artis-artis terkenal di Korsel.

***

Pukul tujuh malam, Ken menemani Jiyeon pergi ke sebuah apotik untuk membeli multivitamin. Ken bersikeras ingin mengantar Jiyeon sekaligus membeli vitamin C yang sering ia konsumsi. Keduanya tengah sibuk menanyakan barang yang dibutuhkan pada seorang apoteker di dalam apotik dekat restauran Jepang. Sementara itu, Hakyeon dan Leo menunggu keduanya di restauran Jepang dengan dua gelas jus jeruk di depan mereka masing-masing.

“Taekwon-a, kau yakin kalau mereka berdua akan kembali ke sini?” tanya Hakyeon pada Leo yang tengah menutup kedua matanya.

Leo hanya mengangguk. Ia masih menutup kedua mata dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja – suaranya membentuk irama sebuah lagu. Hakyeon mengamati Leo, penasaran.

“Hei, apa yang kau lakukan? Kau sedang menyanyi dalam hati?” tanya Hakyeon polos.

Tiba-tiba Leo membuka matanya. “Tidak.” Hanya satu kata itu yang dapat terucap dari mulut seorang Jung Taekwon. “Aku yakin mereka pasti kembali. Tunggu saja.”

Hakyeon melirik Leo dari kedua sudut matanya. Sepertinya Leo yakin sekali kalau Ken dan Jiyeon pasti kembali.

Seperti yang dikatakan oleh Leo, Ken dan Jiyeon pun kembali ke restauran dengan membawa bungkusan plastik yang pastinya berisi obat. Keduanya bersikap biasa saja karena memang tak ada hubungan spesial antara Ken dan Jiyeon. Namun nampaknya Hakyeon melihat sesuatu yang lain.

“Kalian baru saja dari apotik atau….”

“Tentu saja dari apotik.”

Hakyeon belum selesai mengatakan sesuatu, Ken langsung memotongnya tanpa merasa bersalah. “Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu, Hyung.”

“Benarkah?” tanya Hakyeon.

Ken mengangguk kecil. “Kau mengira kalau kami berdua pacaran, kan?”

“Uhuukk!” Leo tersedak. Ia melirik Hakyeon.

“Kami berdua adalah teman sejak kecil. Jadi, tidak mungkin berpacaran. Aku hanya merindukan saat bersama temanku yang paling baik. Jiyeon baru saja kembali dari Jepang. Jadi… tidak ada salahnya kalau aku ingin mengobrol dengannya. Iya, kan?”

Hakyeon mengangguk – mengiyakan pernyataan Ken.

“Sebenarnya… Ken adalah tipe pria idealku, Hakyeon-ssi. Tetapi… dia adalah sahabatku. Jadi, tidak mungkin kami berpacaran. Jangan salah paham dulu.”

“Harap dimaklumi, Jiyeon-ssi. Hakyeon adalah orang yang suka mengkhayal dan berpikiran yang aneh-aneh,” sahut Leo dengan santai.

Jiyeon membulatkan kedua bola matanya. “Berpikiran yang aneh?”

“Sudah jangan dibahas. Itu… tidak penting. Hahaha….” Hakyeon tertawa mengingat keanehan dirinya sendiri. “Ngomong-ngomong, apakah benar kalau kau adalah adik angkat direktur Park, Jiyeon-ssi?”

Pertanyaan Hakyeon membuat kepala Jiyeon terasa pening. Bagaimana ia harus menjawabnya? Ia harus menjawab apa?

“Ya, aku hanya adik angkatnya,” jawab Jiyeon dengan terpaksa.

Ken tak merespon, sedangkan Leo dan Hakyeon tampak sedang berpikir.

“Bagaimana ceritanya?” tanya Hakyeon melanjutkan pertanyaannya.

Deg!

Bagaimana pula Jiyeon menjawab pertanyaannya yang secara tidak langsung melukai hatinya? Dia bukan adik angkat Chorong melainkan adik kandungnya.

“Tuan Park mengadopsiku saat aku masih kecil, bahkan aku belum dapat berjalan.”

Sontak, Ken menolehkan kepalanya – menatap Jiyeon tanpa berkedip. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin Jiyeon bisa mengatakan hal itu? Jawabannya bohong. Kenapa Jiyeon berani berbohong?

“Ngomong-ngomong… apakah tidak masalah jika aku makan malam dengan kalian? Kalian bertiga kan….”

“Tentu saja tidak. Kalau di atas panggung, kami memang penyanyi. Di depan kamera, kami adalah aktor. Tetapi jika di luar itu semua, kami sama seperti yang lainnya. Hanya warga Korsel biasa. Jangan berpikiran yang aneh-aneh seperti Hakyeon, Jiyeon-ssi.” Leo menjawab pertanyaan konyol dari Jiyeon dengan serius dan lumayan panjang.

“Ah, jangan panggil aku dengan sebutan yang resmi seperti itu. Panggil namaku saja, Jiyeon. Aku lebih muda dari kalian dan… kalian lebih terhormat dibanding diriku.” Jiyeon meletakkan jus jeruk yang telah diminumnya sedikit.

“Baiklah. Kami akan memanggilmu dengan Jiyeon saja,” sahut Hakyeon yang tidak ingin ketinggalan acara mengobrol malam itu.

***

Pukul 10 malam, Jiyeon berjalan menyusuri lorong jalanan menuju kediaman keluarga Park. Ia nampak lesu dan tak ingin melanjutkan langkahnya. Sudah dapat dibyangkan betapa dingginnya sikap keluarga Park padanya – kecuali Chanyeol. Setiba di depan pagar besi nan tinggi yang menghalangi pandangan Jiyeon saat memandang rumah mewah dan megah yang berdiri di balik jeruji besi itu – Jiyeon mengehentikan langkahnya, enggan masuk ke dalam rumah mewah itu. Rumah itu bagaikan surga namun bagi Jiyeon, rumah itu adalah neraka. Tangan kanan Jiyeon memegang pagar besi di depannya dan siap menggesernya perlahan agar terbuka dan ia dapat masuk ke halaman rumah ayahnya. “Tidak, tidak bisa,” lirih Jiyeon.

“Apanya yang tidak bisa?”

Terdengar suara yang dikenali oleh Jiyeon. Gadis itu sontak membalikkan badannya agar dapat melihat siapa yang berdiri di belakangnya. “Taekwon-ssi?”

Leo tersenyum tipis. “Kenapa tidak masuk? Kau sedang menunggu seseorang?”

Jiyeon menggeleng. “Ah, tidak. Aku… hanya ragu.”

Leo mengernyitkan keningnya. “Ragu?”

“Aku ragu masuk ke sana karena… sudah berjanji pada ayahku bahwa aku akan hidup mandiri dengan menyewa apartemen. Akan tetapi… sampai sekarang aku masih tinggal bersama mereka di rumah itu. Aku… ingin hidup di apartemenku sendiri.”

Tap!

Leo menyentuh bahu kanan Jiyeon. “Masuk saja. Apakah mereka bersikap dingin padamu?”

Deg!

Jiyeon tidak menyangka kalau Leo akan mengatakan hal yang sebenarnya. Laki-laki itu tidak mungkin tahu seluk-beluk tentang keluarganya. “Tidak. Aku… tidak akan masuk ke sana.”

Leo dapat melihat cahaya redup dari wajah cantik Park Jiyeon. Gadis itu tak terlihat ceria seperti kemarin. “Lalu kau mau ke mana?”

“Entahlah. Aku akan mencoba mendatangi rumah Ken. Dia mempunyai seorang kakak perempuan. Aku… bisa tidur di sana jika mereka mengijinkan.”

“Rumah Ken? Bukannya Ken tinggal di apartemen pribadinya?”

Jiyeon menatap Leo tak percaya. “Benarkah?”

Leo mengangguk. “Ya, sekarang Ken sudah dapat membeli apartemen mewah dengan hasil kerja kerasnya sendiri.”

Jawaban Leo terdengar seperti bom yang telah meletus di kepala Jiyeon. Ken tinggal di apartemen miliknya. Nampaknya Leo bisa dipercaya. Lalu… ia harus tidur di mana? Setidaknya hanya untuk malam ini.

“Ikuti aku!” Leo menarik lengan Jiyeon agar tidak ada penolakan dari gadis bermarga Park itu. Tanpa menolak, Jiyeon menurut saja. Dia ingin tahu tujuan Leo membawanya pergi.

“Taekwon-ssi, bukankah rumahmu ke arah sana? Kau mau ke mana?” Jiyeon menunjukkan arah rumah Leo yang memang searah dengan rumahnya. Setiap Leo ingin pergi ke kediaman keluarganya, ia pasti melewati jalan depan rumah Jiyeon.

Leo tersenyum tipis. “Itu rumah orangtuaku. Ikuti saja, kau akan tahu nantinya.”

“Eh?” Jiyeon tetap menatap Leo dari arah belakang. Ia sangat ingin mengenal pemuda baik hati itu lebih dekat – setidaknya seperti Ken yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. “Baiklah. Aku akan diam saja dan berpura-pura tidak melihat jalan yang kita lalui ini.”

Leo tersenyum tipis. Ia masih melanjutkan kegiatan kaki jenjangnya – menapaki jalan beraspal yang menuntunnya menuju sebuah bangunan bertingkat yang memiliki 25 lantai.

“Sudah sampai,” ucap Leo ringan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana yang tertutup oleh ujung kemeja motif kotak-kotak.

Mendengar kata ‘sudah sampai’, membuat Jiyeon terbelalak dan menyadarkan diri di mana posisinya saat ini. Gadis polos itu baru menyadari kalau ternyata Leo mengajaknya ke sebuah apartemen mewah di kawasan Seoul. “Uwaaah… tinggi sekali.”

Leo terkikik melihat ekspresi Jiyeon yang lucu – mengagumi gedung berlantai 25 itu. “Jangan seperti itu. Bukankah di Jepang juga banyak gedung tinggi seperti ini?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Hemm… tetapi aku belum pernah masuk ke dalam gedung setinggi itu. Aku… hanya tinggal di sebuah bangunan yang terasing… dan sebuah panti asuhan,” jawab Jiyeon lesu. Ia teringat kembali masa-masa saat dirinya berada di Jepang. “Untuk alasan apapun, aku tidak mau kembali ke sana lagi,” lanjutnya dengan masih menatap gedung indah di depan matanya.

“Sudahlah, ayo masuk. Apartemenku ada di sana.” Tanpa sadar, Leo menarik jemari tangan kiri milik Jiyeon hingga gadis itu merasa harus mengikutinya.

***

“Kenapa kau membawaku ke sini? Bukankah ini apartemenmu?” tanya Jiyeon polos. Satu-satunya alasan Leo membawa dirinya adalah untuk tidur dalam satu apartemen. Ya begitulah perkiraan Jiyeon saat ini.

“Masuklah!”

Tentu saja Jiyeon merasa ragu saat Leo memintanya masuk ke dalam apartemen elit miliknya yang kelihatan rapi dan bersih. Jiyeon menatap Leo sesaat, setelah melihat anggukan kepala yabg dilakukan ileh Leo, akhirnya gadis itu masuk ke dalam apertemen. Betapa terkejutnya Jiyeon melihat ruangan nan rapi, bersih, indah dan sedap dipandang mata. Dinding apartemen yang berwarna abu cerah tidak membuat mata cepat lelah. Dua kamar tidur dengan cat dinding warna ungu muda membuat Jiyeon tersenyum.

“Terlihat romantis,” gumamnya. Ia melanjutkan melihat ruang santai di dalam apartemen itu. Sebuah tv 52 inchi dan sebuah DVD player terpajang indah di atas sebuah meja yang memang khusus digunakan untuk meletakkan dua alat elektronik teraebut.

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Leo mendadak.

Jiyeon sama sekali tidak mengerti. Kenapa Leo bertanya seperti itu?

“A, apa maksudnya?” tanya Jiyeon balik. Jujur saja, gadis itu masih agak kaku berbincang dengan Leo dan belum percaya sepenuhnya pada pemuda yang baru dikenalnya itu.

Leo tersenyum. Ya, pemuda yang dikenal sebagai orang yang jarang senyum itu – senang sekali memamerkan senyumnya di depan Jiyeon. “Kau bisa tinggal di sini sampai mendapatkan apartemenmu yang baru.”

Deg!

Apakah ucapan Leo tadi benar adanya? Apakah ia benar-benar meminta Jiyeon tinggal di apartemennya untuk sementara waktu?

“Taekwon-ssi….”

“Jangan menolak. Aku mohon terima saja. Kalau kau menolak, di mana lagi tempat yang bisa kau tuju, Jiyeon-ssi?”

Jiyeon tertunduk memikirkan kata-kata Leo. Ia mengatur nafasnya – bingung mengambil keputusan antara menerima tawaran Leo atau menolaknya. Sementara itu, Leo sengaja tidak mengatakan sepatah kata pun agar Jiyeon dapat memikirkan tawaran itu matang-matang.

Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menerima tawaran Leo. Benar kata pemuda itu. Tak ada tempat tujuan lagi baginya. Kali ini Jiyeon harus mendengarkan kata-kata Leo.

“Aku akan pulang ke rumah keluargaku. Kau bisa tinggal di sini sesuka hatimu. Aku tidak membatasi, sampai kapanpun, kau bisa tinggal di sini.”

“Berapa aku harus membayarnya?” tanya Jiyeon lirih.

Leo mengernyitkan keningnya. “Membayar? Untuk apa?” tanya Leo balik. Ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna kuning – di depan sebuah layar tv berukuran 52 inchi.

Jiyeon masih berdiri di depan Leo pada jarak tiga meter. “Biaya sewanya per bulan,” jawab Jiyeon takut. Ya, gadis itu takut jika nanti Leo menarik bayaran yang melebihi kemampuannya.

Pemuda bernama Jung Taekwon itu nampak tengah berpikir. “Baiklah, biaya sewa akan aku tentukan besok. Hmmm… aku akan mencari informasi dulu mengenai hal itu. Kau tahu, kan? Aku adalah orang sibuk yang setiap saat harus memenuhi panggilan manajer untuk sekedar pasang body di depan kamera.”

“Baiklah. Terserah kau saja, Taekwon-ssi.”

Lagi-lagi Leo tersenyum. “Jangan memanggilku sepertu itu. Kita berdua sudah cukup akrab dalam berteman. Jadi, panggil saja namaku. Ah, iya. Usiamu pasti di bawahku, kan?”

Jiyeon terbengong. Jika dirinya lebih muda dari Leo, itu artinya ia harus memanggil Leo dengan sebutan oppa. Tapi hubungan mereka tidak sedekat itu.

“Aku akan memanggilmu Park Jiyeon atau… Jiyeon saja. Bagaimana?” usul Leo.

“Oke, panggil Jiyeon saja. Lalu aku akan memanggilmu….” Jiyeon tak melanjutkan kalimatnya. Kedua manik mata bulatnya fokus pada sebuah benda berbentuk lingkaran yang terbuat dari kerajinan tangan seseorang yang tak asing bagi Jiyeon. Benda yang dilihat gadis berhidung mancung itu berupa gantungan kunci yang terbuat dari anyaman tali dan diberi boneka beruang kecil di bagian bawah.

“Jiyeon-a…” panggil Leo karena Jiyeon memutuskan kalimatnya begitu saja. Ia memperhatikan apa yabg dilihat oleh Jiyeon. Rupanya sebuah gantungan kunci anyaman tali – mampu menarik perhatian Jiyeon hingga kelopak matanya tak berkedip sekalipun. “Park Jiyeon!” panggil Leo lagi.

Jiyeon sedikit tersentak kaget saat tangan kanan Leo menyentuh bahu kanannya. “Ada apa? Kau sakit?”

“Ah, t-tidak. Aku tidak apa-apa.” Jiyeon menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gata namun sedikit pegal karena sibuk bekerja tadi pagi.

Leo mengambil benda yang terlihat lucu dan indah itu. “Benda ini adalah pemberian mantan kekasihku.”

Kedua mata bulat Park Jiyeon nampak berkaca-kaca saat menatap benda kecil di tangan Leo seakan ia pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Jiyeon-a, ada apa?” tanya Leo heran melihat Jiyeon yang tak berkedip saat menatap gantungan kunci cantik yang dipegangnya. “Kau sakit?” tanyanya lagi.

Jiyeon menggeleng secepatnya – takut nanti Leo mengira kalau dirinya tengah sakit. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku… juga pernah melihat benda seperti itu. Seseorang yang sangat ku sayangi telah memberikannya padaku ketika kami berdua masih kecil. Dia bilang kalau gantungan itu adalah jimat keberuntungan.”

“Kau masih menyimpannya?” tanya Leo lagi.

“Entahlah. Sejak aku pindah ke Jepang, segala yang ku punya telah hilang tak berbekas. Termasuk benda kecil itu,” jawab Jiyeon bohong.

TBC

 Hai haaaai annyeong….

Laykim udah lama back, tapi sayangnya blm back di FF. Ini FF perdana yg q publish setelah sekian lama hiatus gak bilang2. Perjuangan banget publish FF ini karena sebagian file nya hilang. Maklum, ngetiknya di lepi ama hp. Heuheu…

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s