The Night Castle [Chapter 4]: Who Are You?

THE NIGHT CASTLE WHO ARE YOU

THE NIGHT CASTLE [CHAPTER 4]: Who Are You?

 Previous

Starring:

Park Jiyeon | Luhan | Kim Myungsoo | Kim Jiwon | Lee Jong Suk

Kim Woo Bin | Yuri | Irene RV | Sulli | Nickhun

Cameo Part 4:

Lee Taemin, Min Yoongi (Suga BTS), Kim Taehee, Leo Jung

Genre:

Fantasy | Romance | AU | Thriller

Rating:

PG – 13 atau PG – 15

Poster and Storyline by myself

Cerita ini hanya fiktif belaka, berasal dari imajinasi author yang terinspirasi dari film The Vampire Diaries [TVD] Season 1 – 3 dengan alur dan cast berbeda dari TVD. Author hanya pinjem beberapa istilah dari TVD.

Sorry for typos, please leave comment or like it…

Happy Reading

Suasana hening dan kabut hitam tebal menyelimuti suatu area pemakaman yang terletak di jantung kota Paris, Perancis. Sesosok gadis berparas cantik dengan tatapan mata teduh tengah duduk bersandar pada salah satu nisan yang sudah tampak usang dan warna putih telah berubah menjadi kuning kecoklatan.

Nafas berat terdengar cukup nyaring di tempat itu. Suara-suara hewan malam tak berhenti bersautan menambah seram suasana pemakaman umum yang sudah tak terpakai 9 tahun terakhir ini.

“Sulli-a…” panggil seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan gadis berwajah pucat tersebut.

Gadis yang dipanggil dengan nama Sulli itu hanya menggerakkan bola matanya menatap laki-laki yang berdiri dalam jarak 7 meter dari tempatnya duduk bersandar pada nisan.

“Apakah kau akan tetap menjadi sosok misterius yang tidak berguna? Kau bisa membuktikan pada siapa saja yang menganggapmu aneh. Kau bukanlah vampir jahat, Choi Sulli.” Myungsoo menciba membujuk Sulli yang masih tak menghiraukannya.

“Apa urusanmu? Bagaimanapun keadaanku, tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Pergilah! Aku tidak menyuruhmu datang ke sini.”

Myungsoo tersenyum sinis. Sulli memang tak pernah mengindahkan apapun yang dia katakan. Myugsoo hanya dianggap seperti burung hantu yang berkicau pada malam hari. “Gurae, aku akan memanggil Ji Won sekarang juga.”

Mendengar nama Kim Ji Won, Sulli langsung menoleh ke arah Myungsoo. Dia bangkit dari duduknya. “Kim Ji Won?” lirihnya dengan suara parau.

“Ji Won ada di tempat ini. Ah, aku lupa. Mungkin saja dia sudah ada di Korea Selatan lagi.”

Tak ada tanggapan dari Sulli. Ia berjalan mengelilingi makam yang menjadi tempat peristirahatannya.

“Sulli-a, kenapa kau selalu berada di tempat kumuh seperti ini? Kau ingin bergabung bersama mereka?” Myungsoo bertanya untuk kesekian kali.

Sulli merasa suara Myungsoo membuat kebisingan di tempat istirahatnya. Dia memang tak pernah menyukai Myungsoo. “Sekali lagi kau membuka mulutmu, aku akan membungkamnya dengan paksa,” sahut Sulli dengan nada dingin.

Myungsoo hanya dapat mendesah kasar. “Baiklah, terserah kau saja. Aku datang ke tempat ini hanya untuk membawamu kembali ke Korsel. Raja Lee memerintahkan kita untuk berkumpul di Korsel.” Dengan langkah pelan, Myungsoo mendekati Sulli yang berdiri mematung di depan sebuah makam yang selalu ia jaga. “Aku tahu bagaimana perasaanmu. Pantaskah vampir bertingkah seperti ini?” Pertanyaan Myungsoo bermaksud menyindir Sulli.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai. Mantan kekasihmu tidak meninggal tetapi juga berubah menjadi vampir, sama sepertimu. Sedangkan aku? Hal yang sebaliknya terjadi pada kekasihku. Bagaimana kau bisa merasakan apa yang ku rasakan?”

“Sulli-a… jangan seperti itu. Manusia saja bisa tegar menghadapi kematian orang tercinta. Kau adalah vampir yang seharusnya lebih kuat dari manusia. Hentikan tingkah konyolmu ini!”

“Wah waah waaah… rupanya ada reuni di sini.”

Sulli dan Myungsoo menoleh ke sebelah kiri mereka. Lee Taemin berdiri dengan tatapan angkuh dan mata bersinar merah terang.

“Lee Taemin?” lirih Myungsoo terkejut melihat Taemin dalam keadaan sehat dan segar bugar.

Taemin tersenyum senang. “Kenapa? Kau pikir aku akan mati gegara serangan kalian bersama penyihir bermarga Kwon itu? Jangan bermimpi! Aku akan tetap hidup untuk membawa Park Jiyeon dari tangan kalian.”

“Mwo? Park Jiyeon?”

“Ckckck… Choi Sulli, kau benar-benar ketinggalan kereta. Ah iya, kau belum pernah bertemu dengan Park Jiyeon, kan? Tidak ada salahnya kau menuruti kemauan Myungsoo yang mengajakmu kembali ke Korsel.” Taemin yang semula duduk nangkringdi atas pohon oak kini turun melayang di atas tanah. “Nasib gadis cantik itu akan sangat mengenaskan seperti yang terjadi pada mantan kekasihmu, Park Sooyoung.”

Slaaap!!
Sulli menyerang Taemin dengan emosi yang memuncak. Kedua matanya berubah merah terang, urat-urat di wajahnya seakan keluar daro kulit putih mulus. Kecantikan yang terpancar di wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Kuku-kuku jarinya semakin lama semakin panjang dan siap menembus kulit halus Lee Taemin. Sulli mencekik Taemin dengan tangan kanannya. Ia menusukkan kuku-kuku tajamnya ke dalam kulit Taemin.

Taemin nyengir kesakitan.

“Katakan sekali lagi, nasib siapa yang mengenaskan?” tanya Sulli yang sangat membenci Taemin.

“PARK SOOYOUNG alias Joy.”

Sulli memperdalam tusukan kukunya.

Aaargh!!
Taemin mengerang kesakitan karena kuku Sulli adalah kuku vampir tertajam dan mengandung racun mematikan.

“Kau yang membunuh Joy, huh? Jawab aku!” Sulli tidak dapat menerima kenyataan bahwa Joy yang notabennya adalah adik sepupunya telah meninggal dibunuh oleh si angkuh Taemin.

“Sudahlah, Sulli-a. Joy tidak akan kembali pada kita hanya dengan membunuh si brengsek itu.”

Sulli mengangkat salah satu alisnya. “Mwoya? Kau menyerah begitu saja, Kim Myungsoo?”

“Aku tidak bermaksud menyerah seperti yang kau kira. Aku sangat sedih melihat tubuhnya terbakar sinar matahari akibat ulah laki-laki itu. Itulah yang aku rasakan, sama seperti yang kau rasakan, Sulli-a.”

Airmata meleleh melalui kedua sudut mata Sulli. Dia sungguh tak mengira kalau Park Sooyoung alias Joy meninggal dengan cara yang mengenaskan. “Matilah kau, Lee Taemin!” Sulli yang sedari tadi mencekik leher Taemin, kini semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di leher Taemin hingga kulit Taemin terkelupas akibat terkena racun dari kuku-kuku Sulli. Tak lama kemudian, Sulli mematahkan leher Taemin dengan mudahnya.

Myungsoo membelalakkan kedua matanya saat menyaksikan Sulli memisahkan kepala Taemin dari tubuhnya hanya dengan sekali gerakan mematah. Rasa ngeri menjalar di tubuhnya. Baru kali ini Myungsoo melihat dengam mata kepalanya sendiri, bagaimana Sulli membunuh musuh-musuhnya.

“S, Sulli-a… kau benar-benar melalukannya?” Myungsoo tak dapat mempercayai kenyataan yang dilihatnya tadi. “Kau… mematahkan leher Taemin….”

“Eoh. Aku sangat membenci laki-laki itu. Dia sudah membunuh Joy. Jadi, untuk apa aku ragu membunuhnya? Seharusnya kau berterimakasih padaku, dengan begini dendammu bisa terbalaskan. Benar, kan?” Tatapan amarah dan bola mata yang berwarna merah menyala telah lenyap. Kini yang ada hanya tatapan mata dingin dari manik mata Sulli yang redup. Siapapun yang belum mengenal Sulli pasti akan mengira kalau gadis itu adalah gadis yang malang dan perlu diberi belas kasihan. “Aku ikut denganmu.”

“Apa kau bilang?”

“Yaak! Kau memaksaku kembalinke sifat asliku! Aku akan ikut denganmu. Kita akan kembali ke Korsel,” ketus Sulli yang telah mengembalikan sifat aslinya yang periang dan cerewet. “Kau tidak ingin memberikan selamat padaku?”

“Mwo? Selamat atas apa? Dalam rangka apa, huh?”

Sullib mendelik kesal. “Apakah aku harus satu sekolah lagi denganmu? Aish, menyebalkan!”

“Yaak! Apa maksudmu, eoh?”

Korea Selatan.
Istana vampir tampak begitu sepi. Tak ada aktifitas para vampir yang bisa dikatakan sibuk. Kesunyian istana tersebut menyebabkan kesan menyeramkan semakin kuat ditambah hawa dingin malam itu. Dinding-dinding yang terbuat dari batu alam menjad penghalang indera manusia untuk sekedar melihat megahnya istana itu.

Tap tap tap!
Suara langkah kaki dua orang terlalu menggema di sebuah lorong sunyi yang hanya dihiasi oleh lembabnya dinding istana. Bau anyir darah menusuk indera penciuman. Seharusnya bau darah itu dapat menggugah rasa lapar dua orang vampir yang sedang berjalan di lorong tersebut. Namun faktanya, bau itu justru membuat keduanya ingin muntah.

“Oppa, apa yang terjadi? Sepi dan menurut manusia bisa menyeramkan. Wae?” Ji Won masih melangkahkan kakinya agar lekas sampai di sebuah ruangan yang menjadi tempat tujuannya.

Kim Woo Bin hanya tersenyum dingin. Wajah laki-lako jangkung itu benar-benar menunjukkan kalau dirinya adalah seorang vampir. “Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku mencium bau sesuatu yang asing. Kau juga mencium bau itu?”

Ji Won mengerutkan keningnya. “Yang ada hanya bau darah yang membusuk.”

Woo Bin mengacak rambut adiknya. “Aigoo… aku dengar indera penciumanmu sebagai vampir merupakan yang terkuat diantara kita semua.”

Ji Won melirik Woo Bin dari sudut mata indahnya. “Siapa yang mengatakan hal konyol seperti itu? Tentu saja bukan aku orangnya.”

“Benarkah? Lalu siapa?” Woo Bon nampaknya sedikit terkejut mendengar kejujuran Ji Won bahwa bukan dirinya lah yang memiliki indera penciuman super tajam.

Senyum di bibir tipis seorang Ji Won ditunjukkan beberapa saat. “Aigoo… ternyata oppa ketinggalan informasi. Tentu saja si vampir Cina, Xi Luhan. Dia lah pemilik indera penciuman terkuat di kalangan vampir.”

Woo Bin menghentikan langkahnya. “Bukan kau tetapi malah… si cantik Luhan?”

Ji Won mengangguk mantab. “Benar sekali.”

“Aku kira kalau bukan dirimu… itu berarti Kim Myungsoo.”

“Kenapa semua kelebihan harus menjadi milik Myungsoo? Aku muak mendengarnya.”
“Yaak! Bukankah dia itu mantan kekasihmu? Bisa-bisanya kau bicara seperti itu!”

Ji Won melotot ke arah Woo Bin yang bersikap aneh padanya. “Sesuka hatiku,” sahutnya singkat.

Slaaap!!
Sekelebat bayangan hitam mengganggu Woo Bin dan Ji Won yang tengah mengobrol. Mereka berdua tak mengenal aroma vampir yang tercium dari bayangan tadi. Ji Won mengerutkan keningnya dan kedua iris matanya berubah merah. Seorang vampir asing mendatangi istana, pikirJi Won.

“Annyeong!”

Ji Won menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sebelah kirinya. Kedua mata Ji Won dapat melihat wajah vampir itu dalam pekatnya malam.

“Kim Myungsoo!” Woo Bin menyerukan nama vampir terkuat dari Korea.

“Eoh, annyeong, Brother. It’s so nice to meet you again. Ji Won-a, apa ada sesuatu yang salah?” Sosok laki-laki menyerupai Myungsoo tersenyum sinis.

Ji Won diam membisu. Dia yakin bahwa vampir yang berdiri di depannya bukanlah Kim Myungsoo. “Tidak ada yang salah. Aku hanya merasa ada sesuatu dalam hatiku. Yah… seperti rasa kangen karena lama tidak berjumpa denganmu, Oppa. Aku dengar kalau kau mengalami luka parah setelah pertarungan tempo lalu. Sekarang kau nampak kuat dan siap menyerang siapa saja. Aku yakin kau sudah pulih 100%.”

“Ckckck… Kim Ji Won, kau selalu berbicara tanpa jeda. Yah, seperti yang kau lihat. Kondisiku sudah jauh lebih baik.”

Ji Won menarik salah satu simpul bibirnya.

“Tidak kah kau ingin melihat keadaan teman sekamarmu?”

Deg!
Apa lagi ini? batin Ji Won. Teman sekamar? Hanya ada dua orang yang masih mau berbagi kamar dengannya yaitu Jiyeon dan Irene. “Waeyo?”

“Kau pasti akan terkejut melihat surprise dariku. Cobalah datang ke asramamu.”

Slaaap!
Sosok vampir mirip Myungsoo menghilang begitu cepat hingga Ji Won tak sempat mengucap satu huruf pun padanya.

“Apa yang ia bicarakan, Sister?” tanya Woo Bin pada Ji Won yang tengah berkonsentraai menembus ruang dan waktu untuk mencari apa yang dibicarakan oleh sosok Myungsoo tadi.

“Mian, Oppa. Aku harus ke asrama. Sesuatu yang buruk telah terjadi di sana.”

Slaaap!
Ji Won menghilang dalam hitungan kurang dari satu detik.

Asrama siswi kini tak aman lagi untuk menjadi salah satu tempat tinggal favorit bagi para siswi yang enggan kembali ke rumahnya. Gedung asrama yang telah menjadi tempat tinggal bagi sebagian besar siswi terlihat nampak sepi dan tenang. Ah, bukan tenang melainkan mencekam. Beberapa ruang kamar terlihat rusuh dan gelap karena lampu yang tak berfungsi lagi masih terpasang indah di dalam kamar dan di depan kamar-kamar.

Akhir-akhir ini banyak orang yang menderita demam tinggi dan terus-menerus berlamjut seperti itu. Salah satu orang yang mengalami hal itu adalah Bae Irene.

Irene adalah teman sekamar Ji Won dan Jiyeon. Usia mereka hanya selisih satu tahun jika Ji Won merupakan manusia normal, bukan seorang vampir.

“Ada apa, Jiyeon-a?” tanya Ji Won pada Jiyeon yang tengah mengompres dahi Irene dengan kain dingin.

Jiyeon terkejut mendengar suara Ji Won yang sudah berdiri manis di sampingnya. “Eoh, kau sudah datang…” lirih Jiyeon yang tidak ingin Irene terbangun mendengar  suaranya. “Irene mengalamu demam selama dua hari. Sampai saat ini demamnya tak kunjung turun.” Ekspresi wajah Jiyeon nampak sangat khawatir melihat sahabatnya terbaring lemah di atas ranjangnya.

Ji Won mengerutkan keningnya. Ia menemukan sesuatu yang aneh dan terasa ganjil. “Kau tahu penyebabnya?” tanya Ji Won lagi.

Jiyeon menggeleng. “Entahlah. Kemarin setelah pulang dari sekolah, aku dan Irene menonton film di bioskop. Sesampainya di asrama, tiba-tiba ia menggigil kedinginan. Aku juga bingung. Ah, Ji Won-a….” Jiyeon memutus kalimatnya.

“Wae?” tanya Ji Won seraya mengangkat kedua alisnya.

Dengan ragu, Jiyeon mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap wajah cantik Ji Won. “Apakah ini berkaitan dengan bangsa vampir?” tanya Jiyeon lirih yang tidak ingin ada orang lain mendengar kata ‘vampir’ keluar dari mulutnya.

“Vampir?” Ji Won mengingat sesuatu. Jika sakit yang diderita Irene itu disebabkan oleh ulah vampir, lalu siapa yang telah melakukannya? “Aku sungguh tak memiliki ide apapun. Hal ini belum pernah terjadi dan aku pikir bukan vampir penyebabnya.”

“Jongmal?” Jiyeon tak percaya. Bagaimana mungkin Irene bisa sakit mendadak seperti itu? Pasti ada penyebab lain yang tidak masuk akal.

Tok tok tok!
Cekleek!
“Oh, Oppa, kau sudah pulih?” Jiyeon terkejut sekaligus senang melihat namja tampan berdiri di depannya dengan senyum termanis yang ia miliki.

“Eoh, aku sudah baikan.” Myungsoo melangkahkan kaki kanannya untuk melewati gawang pintu kamar Jiyeon namun ia tidak bisa melakukannya. Myungsoo menatap Jiyeon dan mengangkat salah satu alisnya, isyarat bahwa dirinya bertanya kenapa Jiyeon tidak mengizinkannya masuk ke dalam kamarnya.

“Bukankah aku sudah pernah mengizinkan oppa masuk ke dalam kamar ini….” Jiyeon pun bingung karena sebelumnya, dia pernah mengijinkan Myungsoo dan Luhan untuk bisa masuk ke dalam kamarnya.

Ji  Won merasa ada yang aneh pada Myungsoo. “Oppa, kau tidak berganti tubuh, kan?”

“Apa maksudmu?”

“Kau sudah pernah masuk ke dalam kamar ini dengan ijin salah satu dari kami. Tentunya kau masih bisa masuk ke dalam sini jika diantara kami tidak ada yang menolakmu masuk. Itu artinya kau masih bisa masuk ke dalam sini dengan bebas. Tapi… faktanya kau tak bisa melakukannya. Bukankah itu artinya ada sesuatu yang terjadi padamu?”

“Mwo?” Myungsoo mengerutkan keningnya.

“Baiklah, kalau begitu aku akan….”

“Andwae, Jiyeon-a! Tidak perlu. Biar aku saja yang keluar. Kau tetaplah jaga Irene di dalam.” Kim Ji Won melangkahkan kakinya melewati gawang pintu dengan santai. “Kita perlu bicara sebentar, Oppa.” Tak lama kemudian, gadis berambut panjang lurus itu berjalan menjauh menyusuri lorong asrama diikuti oleh Myungsoo.

Ji Won dan Myungsoo berjalan menuju taman asrama yang terletak tak jauh dari gedung asrama itu sendiri. Letak taman itu tepatnya berada di depan asrama dan dipisahkan oleh jalan raya beraspal. Taman yang dipenuhi dengan berbagai tanaman bunga itu menjadi saksi pertemuan Ji Won dan Myungsoo. Ji Won yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Myungsoo. Kecurigaannya itu dimulai ketika mereka bertemu di istana vampir. Cara bicara dan tatapan mata Myungsoo sangat berbeda dengan dirinya yang sebenarnya.

Ji Won menghentikan langkahnya di depan sebuah ayunan. Dia membalikkan badan agar dapat menatap Myungsoo yang juga telah berhenti berjalan.

“Ada apa? Tidak seperti biasanya kau mengajakku bicara.”

“Memang seperti itulah yang terjadi pada kita berdua setelah memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing. Meskipun kebersamaan kita telah lama berlalu, aku masih mengenal dirimu seutuhnya, Oppa.”

“Apa kau mulai merayuku lagi? Kau ingin kita bersama lagi?” Myungsoo terlihat sinis.

Ji Won mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Anhi. Baru kali ini aku mendengar pernyataan itu dari mulutmu. Aku mengajakmu bicara bukan untuk membahas masa lalu kita. Tapi lebih tepatnya aku ingin mengatakan kecurigaanku padamu.”

Tok tok tok!
Jiyeon dikejutkan oleh suara ketukan pintu lagi. Dia ragu untuk membuka daun pintu yang telah diketuk beberapa kali itu.

“Aku tidak akan mengijinkan siapapun masuk kecuali orang yang aku percayai,” lirihnya sebelum mengambil langkah santai menuju pintu kamarnya.

Cekleeek!
Jiyeon membuka daun pintu itu perlahan. Tampaklah seorang namja berparas cantik yang memamerkan senyunnya pada Jiyeon.

“O, Oppa…”lirih Jiyeon agak terbata.

“Eoh, aku datang. Waeyo? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah telah terjadi sesuatu?” Luhan melangkah masuk ke dalam kamar Jiyeon. Berhasil. Namja cantik itu bahkan mencari sosok Irene yang kabarnya tengah sakit demam.

Jiyeon merasa sangat lega. Kali ini seseorang yang telah diijinkan masuk ke dalam bukanlah seseorang seperti Myungsoo tadi.

“Yaak! Ada apa, eoh?” Luhan menyenggol siku lengan kanan Jiyeon yang kini berdiri di sampingnya.

“Ah, itu… hanya sesuatu yang sama sekali tidak ku ketahui.”

“Mwonde?”

“Oppa, kau bisa masuk ke dalam kamar apakah karena aku pernah mengijinkanmu masuk?”

Luhan melirik Jiyeon. Ia tak tahu arah bicara seorang Jiyeon. “Kau tidak sedang tidur, kan?” Luhan harus memastikan bahwa Jiyeon tidak keliru mengajukan pertanyaan seperti itu padaya.

“Yaak! Bertanyalah tentang ssesuatu yang jelas. Jangan bertele-tele. Kenapa kau menanyakan hal itu? Tentu saja aku bisa masuk ke dalam kamar ini karena kau sudah mengijinkanku masuk sejek beberwapa waktu yang lalu saat kita melawan Taemin. Kau ingat?”

Jiyeon mengangguk. “Tapi… tadi… ah, maksudku Myungsoo oppa datang dan tidak bisa masuk ke dalam sini.”

“Jinjja?” Luhan nampak kaget. “Bukankah dia….”

“He’em. Aku telah mengijinkan kalian berdua masuk tapi dia tidak dapat masuk. Ji Won sedang bicara dengannya.

Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. “Ada yang aneh.”

“Mwo?” Jiyeon mendengar kalimat yang terakhir diucapkan oleh Luhan dengan tidak jelas atau samar.

“Kau tunggu di sini. Aku akan menyusul Ji Won dan Myungsoo.” Ekspresi wajah sang vampir berdarah Cina nampak mencemaskan sesuatu yang mungkin akan terjadi. Ya, pastinya sesuatu yang buruk dan harus dihindari.

Ji Won masih curiga pada sosok namja mirip dengan Myungsoo yang berdiri di depannya. Senyuman sinis yang dipancarkan dari wajah imut nan dingin itu beda dari biasanya. Hal itulah yang membuat keyakinan Ji Won meningkat. Namja vampir itu bukan Kim Myungsoo.

“Katakan di mana kau sembunyikan Kim Myungsoo! Kau pikir bisa mengelabuhiku?” seru Ji Won yang tak sabar ingin mendengar pengakuan dari mulut manis namja tampan itu.

“Yaak! Apa maksudmu? Kim Myungsoo itu aku. Aku adalah Kim Myungsoo!”

Ji Won membuang nafas dengan kesal. “Siapa kau? Katakan siapa sebenarnya dirimu!” teriak Ji Won hingga mengundang perhatian siswi lain yang secara kebetulan berjalan di dekat taman itu.

“Ji Won-a….”
Suara Luhan Xi terdengar merdu menyapa nama Ji Won. Gadis yang dipanggilnya sontak menoleh ke arah asal suara.

“Oppa….” Ji Won mengerutkan keningnya.

“Kau benar, dia bukan Kim Myungsoo.” Luhan mendekati Ji Won dan menajamkan indera penciuman dan penglihatannya untuk mengungkap siapa namja yang menyerupai Myungsoo itu berasal.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, eoh? Sudah berkali-kali aku katakan kalau diriku adalah Kim Myungsoo, adik dari Kim Taehee. Kalian ingat itu, huh?”

Kim Ji Won menggeleng. “Anhi. Kau bukan Myungsoo oppa. Baiklah kalau kau bersikeras menyatakan diri sebagai Kim Myungsoo.” Ji Won mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nama Luhan di deretan kontaknya.

“Kau tidak perlu menghubungiku, Ji Won-a. Aku tahu siapa vampir berengsek itu.” Luhan melangkah santai dengan keyakinan penuh bahwa seseorang yang berdiri tak jauh dari Ji Won adalah Min Yoongi yang menyamar sebagai Kim Myungsoo. “Kau bukanlah Myungsoo. Aku bisa membuktikannya.”

“Ooh, jadi kau yang memiliki julukan vampir paling peka penglihatan, eoh? Luhan Xi, vampir keturunan Cina yang telah berubah menjadi vampir sejak, hmmm berapa tahun ya? Mungkin aku lebih tua darimu.” Dengan sombongnya Min Yoongi yang menyamar menjadi Myungsoo mendekati Luhan dan menatapnya seraya mengucapkan mantra sihirnya untuk membuat Luhan kesakitan.

Slaaap!!
Jleb!!

Ji Won membelalakkan mata bulatnya menyaksikan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Kejadian yang berlalu sangat cepat. “S, Sulli… Choi Sulli….”

Seorang gadis berambut panjang terurai memakai seragam sekolah sama persis dengan seragam yang dikenakan oleh teman-teman Ji Won yang berlalu lalang di depan asrama.

“Aku benci melakukan ini,” ucap Sulli dingin. Raut wajahnya sangat menyeramkan. Kedua mata berwarna kuning dan wajah cantiknya seakan memiliki akar yang menjalar di seluruh bagian. Wajah pucat itu berangsur normal menampilkan sosok Sulli yang cantik. “Sepertinya aku tahu siapa vampir berengsek yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu,” ucap Sulli seraya memperhatikan apa yang baru saja dilakukannya. Ya, dia baru saja mencabut jantung Min Yoongi begitu saja tanpa ijin dari sang pemilik.

Luhan tersenyum tipis. “Dari mana saja kau? Kenapa baru sekarang, eoh?” Tatapan mata Luhan tertuju pada Sulli yang menatapnya balik.

Sulli membalas senyum Luhan dengan cara yang sama. “Aku mendengar perdebatan Ji Won dan langsung datang ke tempat ini. Oh ya, saat aku berada di kerajaan, Jong Suk oppa mengatakan sesuatu tentang seorang gadis yang memiliki darah itu. Kalian sudah bertemu dengannya, kan?”

“Eoh. Namanya Park Jiyeon. Gadis itu adalah teman sekamarku yang hampir saja mati di tangan vampir berengsek ini.” Ji Won menendang tubuh Yong Min yang telah membatu dan segera hancur terkena sinar matahari.

“Jongsuk oppa mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi di sekitar kalian. Untuk itu, aku datang kemari.” Sulli duduk di sebuah ayunan dan mengayuhnya lirih. “Aku curiga kalau dia adalah anak buah Leo.”

Ji Won dan Luhan saling pandang. “Leo?” ucap mereka bersamaan dengan dahi berkerut.

Sulli menatap keduanya dengan tenang. Gadis vampir terkuat itu selalu dapat mengontrol emosinya dengan baik dan bertindak sesuai kemauannya. Dia dikenal sebagai vampir berdarah paling dingin yang selalu membunuh musuhnya tanpa basa-basi. “Leo Jung akan datang ke Korea untuk mengambil gadis bernama Park Jiyeon itu.”

“Apa dia berencana ingin menjadi manusia?” tanya Ji Won penasaran.

Sulli menggeleng pelan. “Bukan itu tujuan Leo datang ke Korea. Menurut mata-mata yang dikirim Jongsuk oppa, Leo menginginkan darah Jiyeon untuk menyusun sebuah kekuatan. Kalian tahu apa yang aku maksud?”

“Anhi,” jawab Ji Won terlalu jujur.

“Yaak! Kenapa kau menjawabnya seperti itu? Kau terlalu jujur, Ji Won-a.”

Ji Won mendelik kesal pada Luhan yang selalu bicara seenak hatinya.

Sulli beranjak dari ayunan dan berdiri di depan ayunan itu. “Salah satu anak buah Leo sudah berhasil merenggang nyawa di tanganku. Ditambah satu lagi di sini.”

“Apa maksudmu? Apakah ada orang lain lagi yang dengan bodohnya menyerahkan diri pada Leo?”

“Tentu saja. Lee Taemin adalah vampir licik yang akan mencari cara untuk memenuhi semua keinginannya. Sayangnya, usaha laki-laki tampa itu hatmrus berhenti malam itu juga.”

Ji Won mengambil alih ayunan yang baru saja digunakan oleh Sulli. “Apakah aku harus selalu memaksa otakku untuk mencerna kata-katamu yang membuatku bingung, eoh? Katakan siapa vampir itu!”

“Kau pasti ingat siapa yang menyebabkan dirimu berobat ke Paris.”

“Mwo? Lee Taemin?” Ji Won ingin memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.

Salah satu sudut bibir Sulli tertarik membentuk senyum menyeringai.

“Kau benar-benar membunuhnya? Wow, daebak!”

“Aku tidak pernah ragu membunuh vampir ataupun manusia.” Kata-kata Ji Won membuat bulu kuduk merinding.

“Kau membuatku merinding,” kata Ji Won.

Cekleek!
“Ji Won-a!” panggil Jiyeon untuk menghilaagkan rasa kagetnya akibat mendengar bunyi knop pintu diputar secara tiba-tiba.

Ji Won hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Tatapannya tertuju pada Irene yang masih terbaring lemah di atas ranjang. “Dia belum sadar?”

“Irene sudah sadar. Keadaannya mulai membaik,” jawab Jiyeon dengan raut wajah khawatir.

“Yaak! Neo wae gurae?” selidik Ji Won yang dapat melihat jelas ekspresi Jiyeon bukanlah ekspresi kebahagiaan. “Irene sudah baikan, kan? Lalu ada apa denganmu?”

Jiyeon yang menundukkan kepalanya kini menatap Ji Won lekat-lekat. “Ji Won-a….”

“Eoh, wae?”

Dahi Jiyeon berkerut. Ia ragu untuk mengucapkan sepatah kata pada Ji Won. “Ji Won-a….”

“Yaak! Katakan saja apapun yang ingin kau katakan!” Ji Won kesal pada Jiyeon yang selalu berbasa-basi dalam segala hal.

“Kau tahu di mana Myungsoo oppa?” tanya Jiyeon setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk bertanya pada gadis vampir bermarga Kim itu.

“Mwo? Ah, molla. Sungguh, aku pun tidak yakin dia ada di mana.” Ji Won mengerutkan keningnya dan menatap kosong pada pintu kamar. Ia mengingat di mana Myungsoo berada. Bukankah Woo Bin pernah mengatakan padanya, kenapa sekarang malah terlupakan. “Mian, aku benar-benar tidak tahu. Setelah kejadian itu, aku dibawa ke Perancis oleh Woo Bin oppa.”

Jiyeon terduduk lesu. Setiap hari dirinya memikirkan laki-laki yang telah bersamanya sejak lama. Hidupnya terasa hampa tanpa sepatah kata sapaan dari Kim Myungsoo.

“Kau… merasa kesepian?” tebak Ji Won yang memiliki keahlian membaca ekspresi wajah seseorang secara akurat.

Jiyeon hanya mengangguk pelan. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan Ji Won dengan kata-kata. Tanpa disadarinya, cairan bening terasa hangat mengalir menyusuri lembutnya kulit wajah Jiyeon.

“Jiyeon-a, wae gurae? Uljima! Dia akan baik-baik saja. Kau tahu? Kim Myungsoo adalah vampir terkuat. Dia memiliki banyak kekuatan. Jangan khawatir. Dia pasti akan kembali.” Sebagai teman, Ji Won berusaha menenangkan hati Jiyeon meski sebenarnya hatinya sendiri merasakan tusukan kecil entah di bagian yang mana.

“Apa saja yang kau tahu tentang Myungsoo oppa?”

Deg!
Ji Won tercengang mendnegar pertanyaan Jiyeon yang sangat tak disangka keluar begitu saja dari mulut manis gadis cantik itu.

“Nde? Ah, keunyang….” Ji Won menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana dia bisa menjelaskan kepada Jiyeon kalau sebenarnya dirinya dan Kim Myungsoo pernah terlibat dalam hubungan asmara. “Aku sudah mengenalnya sejak lama, bahkan sebelum kau mengenalnya.”

“Apakah kau tahu alasannya membohongiku?” tanya Jiyeon lagi.

“Mwo?” Kali ini Ji Won benar-benar mati kutu. Apa yang akan dia katakan untuk menjawab pertanyaan itu?

Jiyeon memegang bahu Ji Won dan menatapnya lekat. “Katakan padaku, Ji Won-a. Jebal…” pinta Jiyeon.

“Aku yang akan mencari Kim Myungsoo.”

Jiyeon dan Ji Won menoleh ke arah pintu kamar mereka. Luhan berdiri tepat di depan pintu dengan kedua kaki membentuk huruf A.

“Oppa…” lirih Ji Won. “Kau tahu di mana dia berada?”

“Ajikdo. Aku yakin bisa menemukannya,” jawab Luhan dengan kedua bola mata menatap Jiyeon yang tertunduk lesu.

Ji Won mendesah kasar. “Tak ada seseorang yang mengetahui keberadaan Myungsoo oppa. Ini merupakan pertanda buruk.”

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon yang tak tahu ada apa di sekelilingnya.

Luhan mengalihkan pandangannya dari Jiyeon ke arah Ji Won. Menyadari bahwa laki-laki tampan di depannya tengah menatapnya, Ji Won memutar bola mata malas. Dia menyadari kesalahan yang baru saja dilakukannya, yaitu telah memberitahukan sesuatu tanpa sengaja.

“Gurae, aku akan bertanggung jawab menjelaskannya padamu, Jiyeon-a.” Ji Won membenahi posisi berdirinya. Dengan kedua lengan dilipat di depan dada, gadis itu memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada Jiyeon. Ji Won tahu persis bahwa dirinya sangat berbeda dari Jiyeon.
Jiyeon mengangkat kedua alisnya, pertanda bahwa dirinya meminta Ji Won segera menjelaskan apa yang ingin dijelaskan. “Lanjutkan saja.”

Sebelum memulai menjelaskan, Ji Won melirik Luhan yang masih menatapnya. Mungkin laki-laki itu khawatir bahwa Ji Won tidak akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. “Kim Myungsoo sedang menjalani perawatan entah di mana itu. Desas desus tentangnya… hmm… dia sedang bersama kakaknya, Kim Taehee yang dikabarkan telah meninggal puluhan tahun yang lalu.”

“Mwo? Lalu siapa yang….”

“Bukan. Dia bukan Kim Myungsoo,” sela Ji Won tanpa mengijinkan Jiyeon melanjutkan kalimatnya. Ia khawatir jika Jiyeon melanjutkan kalimatnya maka gadis itu akan salah paham padanya. “Dia hanyalah seseorang yang menyamar sebagai Myungsoo oppa karena ingin memanfaatkan situasi di mana tak ada seorang pun yang mengetahui di mana Myungsoo oppa berada. Vampir yang menyamar tadi… adalah salah satu anak buah musuh raja kami. Dia merupakan rekan dari Lee Taemin. Kau ingat, kan? Taemin pernah hampir membunuhmu. Bahkan gegara vampir brengsek itu, Myungsoo oppa harus menjalani perawatan. Jiyeon-a, kau mengerti apa yang baru saja ku jelaskan padamu?”

“Eoh. Keunde, kenapa dia ingin memanfaatkan ketiadaan Myungsoo oppa dengan mendekatiku?”

Ekspresi wajah Ji Won berubah serius. “Karena dia menginginkan darahmu.”

“Mwo?” Jiyeon terkejut setengah mati. Seseorang rela mati untuk mendapatkan darahnya. “Memangnya ada apa dengan darahku?”

“Darahmu memang bukanlah darah suci tetapi….”

Jiyeon memegang kedua bahu Ji Won yang terasa dingin seperti bongkahan es. “Maksudmu apa? Tetapi apa? Jelaskan semua padaku agar aku tahu siapa yang ada di pihakku.”

“Tapi darahmu bisa menyembuhkan seseorang dari kehidupan kelam.”

Jiyeon mengerutkan keningnya.

“Darahmu bisa menyembuhkan seorang vampir menjadi manusia,” tambah Luhan.

“Mwo? Gila! Ini benar-benar gila. Sepertinya aku sudah terlalu lama tertidur.”

Ji Won memegang tangan Jiyeon hingga ia dapat merasakan betapa hangat tangan gadis bermarga Park itu. Kehangatan seorang manusia yang sangat diinginkannya. “Kau sedang tersadar, Jiyeon-a. Ini bukan mimpi atau lamunanmu. Kau benar-benar akan mengalami hal aneh.”

“Tapi kenapa harus aku? Apa salahku?”

“Entahlah. Mungkin itu adalah takdir. Kau percaya takdir?” Luhan angkat bicara lagi.

Jiyeon mengangguk pelan.

Seorang laki-laki muda dan seorang perempuan yang berusia lebih tua darinya sedang berdiri di depan gerbang kerajaan vampir. Tak ada aktivitas seperti hari-hari biasa yang nampak di dalam istana itu.

“Sudah ku duga akan begini jadinya….”

Laki-laki bermata elang itu menoleh. “Apa maksud noona?”

“Istana ini sepi saat ada sesuatu yang genting sedang terjadi.” Perempuan yang tak lain adalah Kim Taehee sedikit membuat kerutan di dahinya. “Yah, para vampir tengah waspada terhadap serangan Junsu.”

“Jinjjayo? Junsu akan menyerang kemari?”

“Eoh, Myungsoo-a. Dia akan membunuh siapapun yang mengahalanginya untuk menjadi penguasa di tempat ini.

“Andwae!” seru Myungsoo dalam hati.

“Kau tahu siapa yang menjadi sasarannya kali ini?”

Myungsoo menggeleng.

“Darah Jiyeon. Mereka ingin meminum darah Jiyeon agar dapat mengembalikan hidup seperti manusia normal.” Taehee curiga kalau  “Jangan mengatakan apapun, Noona. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

Taehee melirik Myungsoo diiringi simpul senyuman khas miliknya. “Kau menyukai gadis itu?”

Deg!

Myungsoo sedikit terkejut. Kakaknya itu selalu membuatnya terkejut. Beruntung dia tidak memiliki penyakit jantung seperti yang dialami oleh manusia. “Jangan membbicarakan hal yang tidak penting!”

“Jangan mengalihkan perhatian!” sahut Taehee yang merasa sangat puas menggoda adik laki-lakinya.

Myungsoo mendengus kesal.

Tbc

Advertisements

One thought on “The Night Castle [Chapter 4]: Who Are You?

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s