The Night Castle [Chapter 3]

THE NIGHT CASTLE [CHAPTER 2]: Introduce

Chap 1 | Chap 2

Starring:

 Luhan | Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Kim Jiwon | Lee Jong Suk | Kim Woo Bin | Yuri | Irene RV | Sulli | Nickhun

Cameo Part 2:

Tao EXO, Wendy RV, Lee Donghae, Lee Taemin

Genre:

Fantasy | Romance | AU | Thriller

Rating:

PG – 13 atau PG – 15

Cerita ini hanya fiktif belaka, berasal dari imajinasi author yang terinspirasi dari film The Vampire Diaries [TVD]  dengan alur dan cast berbeda dari TVD. Author hanya pinjem beberapa istilah dari TVD.

Sorry for typos, please leave comment or like it…

Happy Reading

Chapter 3

Semua indera Taemin yang masih sangat berfungsi mampu melacak keberadaan Jiyeon yang kini tengah berada di dalam kamarnya. Namja itu tersenyum evil.

“Kau ingin membawanya?” tanya Luhan yang dapat membaca isi pikiran Taemin.

Taemin kesal pada Luhan karena telah mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. “Daebak! Kau sakti sekali Xi Luhan. Aku baru tahu kalau ternyata dirimu bisa membaca pikiran seseorang.” Taemin beretepuk tangan sedikit menyindir Luhan yang tampak marah dibuatnya.

Myungsoo mencegah Luhan agar tidak bertindak gegabah. Menghadapi vampir seperti Taemin sangat memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Untuk itu, mereka harus menahan emosi dulu.

“Kau telah membaca pikiranku. Kenapa kau masih di sini? Kau kan bisa segera berlari menyelamatkan gadis itu.” Taemin tiba-tiba menghilang.

Luhan sadar akan ucapan Taemin barusan. Dia pasti serius. “Taemin pergi menemui Jiyeon,” kata Luhan pada Myungsoo singkat lalu dia menghilang. Myungsoo pun menyusul Luhan ke dalam asrama.

Di dalam asrama, banyak yeoja yang memandang aneh pada mereka berdua. Myungsoo dan Luhan tidak peduli. Mereka tetap berlari ala manusia karena jika mereka berlari ala vampir, yeoja yang melihatnya pasti pingsan.

Tok tok tok!

“Nuguya?” tanya Irene yang ingin berganti baju namun dibatalkan karena ia berniat membuka pintu.

“Stop! Jangan buka pintunya. Dia bukan orang baik.” Jiyeon menahan lengan Irene. Irene bingung.

“Sudahlah, kau hanya berhalusinasi.” Irene melepaskan tangan Jiyeon dan membuka pintu. “Nuguya?” tanya Irene yang melihat seorang namja keren sedang berdiri mematung di depan pintu kamar yang telah ia buka.

“Aku sunbae kalian,” jawab Taemin bohong. “Aku hanya ingin datang berkunjung ke tempat kalian. Boleh aku masuk?”

“Tentu saja, silahkan.”

Saat itu Taemin bisa melangkahkan kakinya memasuki kamar Jiyeon-Irene karena Irene memperbolehkannya.

“Silahkan duduk,” ucap Irene polos.

Jiyeon terkejut melihat Taemin sudah ada di dalam kamarnya. Dia yang notabennya sudah mendapat peringatan dari Myungsoo kalau tidak boleh mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya, kini berusaha keluar dari kamarnya. Jiyeon yakin namja itu yang dimaksud oleh Myungsoo.

“Silahkan diminum,” Irene memberikan satu kaleng cola pada Taemin. Namja itu tersenyum evil. Rencananya telah berhasil. Ia melirik Jiyeon yang sedang berjalan menuju pintu hendak keluar dari kamarnya.

“Kau mau kemana Jiyeon-a?” tanya Taemin. Dia mencengkeram lengan Jiyeon hingga membekas merah di lengan yeoja itu.

Jiyeon meringis kesakitan. Irene panik. Dia belum tahu kalau Taemin adalah vampir berbahaya yang dapat mengancam nyawanya .

“Lepaskan dia!” teriak Luhan yang sudah berdiri di depan pintu. Namja itu tidak dapat melangkahkan kaki memasuki kamar Jiyeon karena penghuninya belum mengundangnya masuk.

“Jiyeon-a, apa kau mengundangnya masuk?” tanya Myungsoo yang tiba-tiba muncul di samping Luhan. Ia tampak sangat khawatir.

Jiyeon menggeleng. Ia menahan sakit di lengannya akibat cengkeraman Taemin yang belum dilepaskan.

“A, aku yang mengundangnya,” jawab Irene lirih dengan suara gagap karena sangat ketakutan.

“Irene-ssi, keluarlah dari kamarmu,” perintah Luhan. Dia sudah memiliki rencana untuk menyelamatkan dua yeoja cantik itu.

Irene ingin menuruti perintah Luhan tetapi dia tidakntega meninggalkan Jiyeon di dalam kamar dengan seorang namja aneh yang jahat. “Anhiya. Aku akan tetap di sini. Bagaimana dengan Jiyeon?”

“Keluarlah dulu,” perintah Luhan lagi.

Irene meninggalkan kamarnya. Taemin malah tersenyum lebar karena merasa menang.

“Apa kalian tahu tentang yeoja cantik ini?” Taemin masih menatap Jiyeon lekat-lekat dan mengunci lengannya agar tidak bisa melawan. Pertanyaan yang ia tuju pada dua vampir tampan itu belum mendapatkan jawaban. Tanpa menunggu jawaban dari Luhan atau Myungsoo, Taemin memberikan jawabannya. “Darah yeoja ini bisa memulihkanmu menjadi manusia lagi.”

Luhan dan Myungsoo tercengang. Mereka bahkan belum mengetahui hal ini. “Keumanhe. Kau hanya berani pada yeoja. Keluarlah dan hadapi kami.” Myungsoo tidak dapat menahan amarahnya. Dia menerobos masuk ke dalam kamar itu. Berhasil. Ternyata diam-diam Jiyeon mengundang Luhan dan Myungsoo masuk ke dalam kamarnya.

Dengan secepat kilat, Luhan memegang tangan Taemin yang ia gunakan untuk mencengkeram lengan Jiyeon. Semakin erat pegangan tangan Luhan pada tangan Taemin, semakin menyakitkan pula cengkeraman tangan Taemin pada lengan Jiyeon. Jiyeon tidak dapat menahan lagi. Airmatanya menyeruak keluar tanpa permisi. Myungsoo mengeluarkan wujud werewolf-nya. Wajah tampan itu telah dipenuhi bulu-bulu persis serigala namun bentuk tubuhnya tetaplah manusia. Dia sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berubah 100% karena di dalam asrama itu terdapat ratusan siswi SMA. Myungsoo menutup pintu kamar itu. Taemin agak ngeri melihat wujud Myungsoo saat ini. Tidak ada wajah tampan, cute, atau kebaikan yang tersirat di wajah itu. Hanya kemarahan, lensa mata berwarna kuning dan taring yang 4 kali lipat lebih tajam dari taring vampir.

Jiyeon takut ditambah ngeri melihat sosok namja tampan dan lembut yang dikenalnya beberapa tahun terakhir ini berubah menjadi Werewolf dengan taring yang menyeramkan. Wajah Myungsoo berangsur-angsur berubah seperti sedia kala karena dia menyadari kalau di sana masih ada Jiyeon yang menjadi tawanan Taemin. Sebagai jalan alternatif untuk mengalahkan Taemin, Myungsoo membaca beberapa mantera sihir yang mampu membuat Taemin terduduk lemas. Myungsoo melakukan hal itu bukan tanpa pengorbanan. Tenaganya terkuras banyak sekali karena mantera yang ia ucapkan termasuk mantera tingkat tinggi. Myungsoo mengeluarkan darah dari mulutnya.

“Jiyeon-a, cepatlah pergi dari sini!” perintah Luhan yang mengkhawatirkan keselamatan Jiyeon dan Myungsoo. “Myungsoo-a.” Luhan memegang lengan Myungsoo yang makin tak berdaya.

“Dia masih belum kalah. Cepatlah susul Jiyeon dan lindungi dia.”

Uhuukk!

Myungsoo masih mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia segera mengusap darah itu lalu mendekati Taemin. Dia ingin merubah wujudnya menjadi Werewolf seperti tadi namun kekuatannya tidak cukup untuk melakukan hal tersebut.

Taemin masih kuat berdiri. Dia bertumpu pada dinding di sampingnya kemudian siap menusukkan kayu Oak tepat di jantung Myungsoo.

“Mungkin dengan ini kau akan menghilang dalam waktu lama. Meskipun kau tidak akan mati hanya dengan kayu ini, tetapi setidaknya musuhku berkurang satu.” Taemin tersenyum evil lalu bersiap menusukkan kayu Oak berbentuk mirip pasak itu ke jantung Myungsoo agar jantung Myungsoo berhenti berdetak.

Jleebb!!

“Ji Won-a…” lirih Luhan yang baru sadar kalau Ji Won datang untuk menyelamatkan Myungsoo dari tusukan kayu mematikan bagi vampir itu.

Ji Won tertusuk kayu Oak tepat di jantungnya. Sebenarnya Taemin juga terkejut melihat Ji Won sekarat karena dia memiliki perasaan yang spesial pada yeoja itu. Cinta tidak ada gunanya, batinnya. Ia pun mengambil Daylight Necklace milik Ji Won sehingga yeoja itu akan terbakar jika terkena sinar matahari secara langsung.

Ji Won merintih kesakitan. Wajahnya sudah mulai mengering dan bertambah pucat. Luhan segera mencabut kayu itu dari tubuh Ji Won.

Jiyeon berlari sekencang mungkin. Ia hanya mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat terayun dalam pelariannya menemukan tempat yang aman. Setelah berbelok di gang yang sepi, Jiyeon menghentikan gerakan kakinya. Nafasnya tersengal-sengal. Saat hendak mengatur nafas, tiba-tiba seorang namja muncul di depannya. Wajah namja itu pucat sekali bahkan senyumnya sangat tidak bersahabat. “N, nuguya?” tanya Jiyeon yang mulai takut akan terjadi apa-apa pada dirinya.

“Annyeong… Aku Huang Zi Tao. Senang bertemu denganmu. Hmm, kau segar sekali.”

Jiyeon curiga kalau Tao adalah vampir yang sealiran dengan Taemin. “Jangan mendekat!” Jiyeon mundur satu langkah karena Tao yang berdiri di depannya telah melangkah dua kali. “Mungkinkah kau adalah orang yang dicari oleh bangsa kami?”

“Mwo? Apa maksdumu?” tanya Jiyeon. Kecurigaannya akan segera terbukti.

Tao merubah penampilannya. Kedua matanya mirip mata vampir yang dikenalnya, Luhan, Myungsoo, dan Ji Won.

“Jangan mendekat. Jebal jangan sentuh aku….” Jiyeon mundur lagi. Ia tidak berani menatap Tao yang masih berdiri menatapnya lekat-lekat.

Aaaarrgh!!!

Tubuh Jiyeon gemetar melihat Tao tersungkur di tanah. Namja itu kesakitan karena seseorang telah memantrainya.

“Neo nuguya?” tanya Tao dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokan. Ia memegang kepalanya yang terasa seperti akan pecah saat itu juga.

“Nega?” tanya yeoja itu balik. “Kau benar-benar belum mengenalku?” tanyanya lagi.

Tao menggeleng. Yeoja itu mendekati Tao dengan senyum tipis di wajah cantiknya.

“Gurae, perkenalkan, nan Kwon Yuri.”

“Kau penyihir?” tanya Tao.

“Ne, waeyo? Para vampir memanggilku The Original Witch.”

“Mwo?!” Tao mengerutkan keningnya. Tamatlah riwayatnya karena telah bertemu The Original Witch. “Aku tidak percaya. The Original Witch sudah mengakhiri masa mereka beratus-ratus tahun silam. Kau pasti berbohong.”

“Apa aku harus membuktikannya padamu?” Tatapan mata Yuri mampu melumpuhkan semua syaraf Tao.

Aaarrrghh!!

Tao menjerit kesakitan. Sakit yang ia rasakan sangatlah parah.

Jiyeon hanya bisa melihat adegan di depan matanya dengan kebingungan yang melanda. Ini benar-benar tidak masuk akal. Ada vampir dan penyihir.

“Kau sudah percaya?” Yuri mendekatkan wajahnya pada Tao. “Pergilah, aku tidak mau melihat vampir seperti dirimu lagi.”

Saat itu juga Yuri mengirim Tao kembali ke asalnya di China. Yeoja itu tersenyum puas karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Vampir mana yang tidak akan takut padanya?

“Jeogi, nuguya?” tanya Jiyeon takut-takut.

Yuri membalikkan badannya, menghadap ke arah Jiyeon yang sedari tadi memang berdiri di belakang tubuhnya. Yuri tersenyum. “Kwon Yuri. Aku sunbaemu di sekolah.”

“Mwo? Eoh, sunbae. Nan Park Jiyeon.” Jiyeon mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yuri.

“Senang bertemu denganmu, Park Jiyeon.”

“Gomawo eonni. Kau telah menyelamatkanku.” Jiyeon membalas senyum Yuri yang terkembang sejak tadi. “Omo!”

“Waeyo?” tanya Yuri penasaran.

“Myungsoo oppa. Mereka ada di asrama yeoja.”

Jiyeon mengajak Yuri untuk segera melihat apa yang terjadi di dalam kamar asramanya. Mereka berdua berlari. Tak butuh waktu lama, Jiyeon dan Yuri sampai di dalam asrama dan menuju ke kamar Jiyeon.

“Mwoya?” Jiyeon syok melihat kamarnya berantakan. Di sana hanya ada Luhan yang duduk termenung di ranjang. Jiyeon mendekati Luhan. “Luhan-ssi, waegurae? Dimana Myungsoo oppa?” Jiyeon menoleh ke segala arah dengan harapan menemukan sosok yang ia cari.

Luhan mendongakkan kepalanya. Matany terlihat normal. Wajah tampan itu sudah normal kembali. “Dia sedang dalam perjalanan ke Yunani.”

“Mwo?”

“Apa dia mengeluarkan darah dari mulutnya?” tanya Yuri yang juga mendekati Luhan. Namja itu masih dalam posisinya, duduk di tepi ranjang.

“Ne. Ngomong-ngomong, aku pernah melihatmu.”

“Eoh? Jinjjayo? Eodiseo?” tanya Yuri.

“Kau The Original Witch?”

“Ne, darimana kau tahu?”

“Aku pernah melihat masa depan The Original Witch dengan penglihatanku. Walaupun hanya samar-samar, aku tetap bisa melihat wajahmu ada dalam penglihatanku. Bangsamu memang sudah musnah. Hanya kau kan yang masih bertahan di bumi ini?”

Raut wajah Yuri berubah drastis. Ia tertunduk sedih. “Kau benar, kami memang diancam kepunahan.” Yuri duduk di samping Luhan. Jiyeon mengamati setiap gerak gerik Yuri dan ekspresi yang terpancar dari wajah cantik sunbaenya itu.

Luhan teringat kata-kata Taemin yang menyatakan bahwa darah Jiyeon dapat mengembalikan kehidupan manusia seperti dulu. Ia tidak yakin kalau darah Jiyeon benar-benar bisa seampuh itu. Luhan pun berniat menanyakannya pada Yuri. Karena hanya Yuri-lah yang dapat mengetahui segala hal yang berbau mistis.

“Yuri-ssi, kau kenal dengan Lee Taemin?” tanya Luhan memecah keheningan di dalam kamar Jiyeon.

“Ne, aku mengenalnya. Dia adalah vampir yang berbahaya. Meskipun dia termasuk The Original Vampire, watak dan sifatnya jauh berbeda dari para Original yang lain.”

“Apa maksudmu Kim Myungsoo?” tanya Jiyeon yang sudah sedikit mengerti tentang dunia vampir.

Yuri memandang ke arah Jiyeon lalu mengangguk. “Benar. Kim Myungsoo, Lee Jongsuk, Lee Taemin, Kim Taehee, dan Choi Sulli adalah The Original Vampires yang aku ketahui. Aku belum pernah bertemu dengan Original selain mereka. Bukankah raja vampir yang sekarang adalah Lee Jongsuk?”

“Gurae. Aku sangat menyukai cara kepemimpinannya. Chakkaman. Kau bilang Kim Taehee termasuk The Original?”

“Ne,” jawab Yuri sangat singkat.

“Bukankah dia sudah meninggal?” tanya Luhan penasaran.

“Luhan-ssi, aku tahu apa yang kau pikirkan. Kim Taehee pernah merebut hatimu, geutji?”

“Ah, jangan membahasnya lagi.”

Yuri tersenyum. Tebakannya benar. “Dia tidak sepenuhnya meninggal, Luhan-ssi. Aku tidak yakin jenazahnya ada dimana. Tapi sepengetahuanku, Taehee belum meninggal. Kau tahu sendiri kan kalau The Original sulit sekali meninggal. Maka dari itu, jika ada salah satu The Original berbuat onar, kalian harus bekerja keras mengalahkannya. Mungkin Lee Taemin kembali ke Yunani untuk mendapatkan pengobatan di sana, sama seperti yang dilakukan oleh Myungsoo.”

Mendengar nama Myungsoo disebut dalam percakapan dua orang di depannya, Jiyeon segera angkat bicara. “Apa yang terjadi pada Myungsoo?” tanyanya entah pada Luhan atau Yuri.

Yuri maupun Luhan mengalihkan pandangan mereka pada Jiyeon. yeoja itu kelihatan cemas. Keduanya pun mengambil kesimpulan kalau Jiyeon menyukai Myungsoo.

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya. Bisakah kalian beritahu aku?” Sorot mata Jiyeon mengharap belas kasihan dari Luhan dan Yuri. Ia berharap mereka berdua memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.

Luhan menghela nafas dalam-dalam, ia bersiap menjelaskan sesuatu pada Jiyeon. Dengan tatapan sayu, Luhan berkata,”Jiyeon-ssi. Aku tahu pasti ini sulit untuk kau terima. Secara akal sehat, dunia vampir sangat mustahil bisa exist di dunia. Mungkin dunia sihir masih ada hingga sekarang. Yang ingin aku jelaskan padamu adalah… ah, anhi. Maksudku, singkatnya, kami adalah bangsa vampir. Ribuan tahun yang lalu, seorang penyihir yang termasuk The Original Vampire melakukan pemujaan terhadap para roh yang ada di dunia ini. Semua roh dari segala penjuru dunia. Dengan pemujaan yang mereka lakukan berkali-kali, akhirnya mereka mendapatkan sesuatu yang tidka bisa dinalar dengan akal. Mereka mendapatkan mantera. Semakin bertambah tahun, semakin banyak macam-macam mantera dan jenis sihir di dunia.” Luhan berhenti sejenak. Ia melirik Yuri. Luhan takut jangan-jangan Yuri tidak berkenan dengan cerita yang ia jelaskan pada Jiyeon.

“Lanjutkan, Luhan-ssi,” sela Yuri. Ia tidak keberatan dengan cerita dari Luhan. Toh, apa yang dikatakan Luhan adalah kebenaran. Semuanya benar.

“Gurae. Mungkin sekitar seribu tahun para penyihir mengembangkan sihir mereka. Suatu hari ada dua keluarga yang bertengkar terus menerus hingga tanpa sadar mereka menghina seorang penyihir tertua di wilayah itu. Sang penyihir itu rupanya adalah penyihir terkuat di dunia sepanjang masa. Dia adalah penyihir yang mendapatkan mantera langsung dari pemujaan atau lebih dikenal dengan sebutan The Original Witch. Sang penyihir marah akibat ulah keluarga yang memiliki marga Lee. Akhirnya putera dari keluarga itu dikutuk menjadi vampir. Mereka adalah Lee Jongsuk dan Lee Taemin.”

“Mwo? Lee Taemin yang tadi kah?” tanya Jiyeon.

“Ne. Keluarga yang satunya adalah keturunan Werewolf atau lebih dikenal dengan nama Manusia Serigala. Tetua dari keluarga itu menyombongkan diri. Mereka menganggap diri mereka suci seperti Tuhan, sehingga mereka dianugerahi kelebihan sebagai Werewolf. Setelah berpuluh-puluh tahun mereka hidup berdampingan, akhirnya mereka tahu kalau gigitan taring mereka dapat membunuh vampir tapi tidak bagi vampir The Original. Hanya vampir yang diubah oleh The Original yang bisa tewas seketika setelah digigit oleh Werewolf. Karena ketamakan mereka, para penyihir bersatu, mengumpulkan kekuatan mereka untuk memberikan kutukan kepada Werewolf itu. Akhirnya, mereka mendapat kutukan sama dengan vampir tetapi kasusnya berbeda.”

“Apanya yang berbeda?” tanya Jiyeon penasaran.

“Para penyihir hanya mengutuk dua orang dari keluarga Werewolf itu. Kau tahu siapa mereka?” tanya Luhan pada Jiyeon yang berhasil membuat yeoja itu mengerutkan keningnya.

“Kim Myungsoo?” tebak Jiyeon.

“Bingo.” Luhan berdiri lalu mengayunkan kakinya mendekati botol air minum dan menuangkan air di dalam botol itu ke dalam tenggorokannya. “Dua orang dari keluarga Werewolf itu adalah Kim Taehee dan Kim Myungsoo. Myungsoo memiliki kekuatan yang lebih besar dari Taehee. Kini dia memiliki wujud vampir-werewolf dan juga sihir. Untuk selebihnya, kau bisa tanyakan langsung pada Myungsoo,” lanjutnya.

“Keurom, apa semua dari bangsa vampir menghisap darah manusia?” tanya Jiyeon untuk kesekian kalinya.

“Ne. Itu sudah takdir.”

“Takdir? Lalu untuk apa para penyihir itu mengutuk manusia menjadi vampir kalau ternyata vampir akan menyakiti dan membunuh manusia?”

“Sebenarnya maksud para penyihir memberikan kutukan itu bukan untuk memusnahkan bangsa manusia. Mereka mengutuk orang-orang seperti Myungsoo menjadi vampir agar mereka dapat mengendalikan nafsu dan tidak brutal,” jelas Yuri. Ia tidak ingin nama penyihir menjadi buruk.

“Pada awalnya kami bangsa vampir memang menghisap darah manusia sebagai makanan kami. Tetapi beberapa vampir masih memiliki sisi manusia dalam diri mereka sehingga mereka berusaha mengalihkan perhatian mereka saat lapar ke hal-hal lain. Jadi, pada saat mereka lapar, mereka tidak harus minum darah.”

Jiyeon mendengarkan penjelasan Luhan dengan seksama.

“Vampir yang masih memiliki sisi manusia dalam dirinya berusaha keras untuk tidak minum darah manusia. Mereka menggantinya dengan berbagai macam cara yang berbeda. Contohnya aku, Myungsoo dan Ji Won. Mereka berdua memilih bir atau wine untuk mengatasi rasa lapar mereka. Jadi selain bir atau wine, mereka tidak akan mau memasukkannya ke dalam mulut. Hal itu berbeda denganku, Lee Jongsuk, dan Choi Sulli. Kami memilih sayur dan air putih. Tetapi kadang kala kami juga minum wine atau bir. Jadi selain itu, kami akan menolaknya.”

“Apakah memang ada hal seperti itu?” tanya Jiyeon yang sulit mempercayai kata-kata Luhan. Entah Luhan berbohong atau tidak, Jiyeon tetap tidak tahu.

“Terserah kau mau percaya atau tidak. Sebagian besar dari kami memang masih memilih minum darah. Terkadang, aku, Myungsoo, Ji Won, Woo Bin dan vampir lainnya masih minum darah manusia. Tapi kami tidak lagi membunuh manusia. Kerajaan vampir telah membeli banyak stok darah dari berbagai penjuru dunia. Raja Lee Jongsuk mewajibkan kami untuk membayar setiap kantong darah yang kami minum. Uang hasil pembayarannya akan digunakan untuk membeli darah lagi. begitu seterusnya.”

“Gomawo, Luhan-ssi.”

Jiyeon menunggu kedatangan Irene yang diantar oleh seorang sunbae. Dia menunggu Irene dengan Yuri. Hari ini adalah hari terburuk baginya, bagi Myungsoo, dan Ji Won. Ji Won belum bisa kembali ke asrama. Dia juga belum bisa melakukan aktifitas kesehariannya seperti kemarin. Ji Won terkena tusukan kayu Oak di jantungnya. Nyawanya hampir melayang. Jika saja Woo Bin tidak segera mencabut kayu itu dari jantung Ji Won, mungkin yeoja vampir itu akan meninggal selamanya. Ji Won harus dibawa ke Perancis untuk mendapatkan pertolongan di sana.

“Eonni, apa kau juga mengenal Ji Won?” tanya Jiyeon yang sedang memeluk boneka ulat berwarna hijau tua dan berbaring di atas ranjangnya. Dua orang teman sekamarnya belum kembali. Untung saja ada Yuri yang menemaninya. Kalau tidak, Jiyeon pasti ketakutan di dalam kamar itu sendirian.

“Aku belum pernah bertemu dengannya tetapi aku sering mendengar namanya. Aku dengar nasibnya benar-benar malang. Teman-temannya tewas di tangan vampir dan sekarang dia sendiri malah menjadi vampir.”

“Mungkin itu yang menjadi alasan dirinya berbuat baik kepada manusia. Dia snagat baik meskipun orangnya dingin. Aku rasa jika kita mengenalnya lebih dalam, Ji Won tidak sedingin penampilannya.” Jiyeon berceloteh ria.

Cekleeek…

“Irene-a!” teriak Jiyeon. Ia langsung berhambur memeluk Irene yang baru datang.

“Jiyeon-a, gwaenchanayo?” Irene menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya.

“Gwanchana…” Mereka berdua berpelukan.

Jiyeon melepaskan pelukannya. Ia ingat kalau di sana ada Yuri. “Irene-a, kenalkan. Ini Kwon Yuri, sunbae kita.”

Irene berjabat tangan dengan Yuri dan mereka pun mengenalkan diri masing-masing. Untuk sementara ini, Yuri akan tinggal bersama Jiyeon dan Irene karena Ji Won belum bisa kembali ke tengah-tengah mereka.

Kerajaan Vampir di Yunani.

Istana kerajaan vampir di Yunani dua kali lebih luas dari kerajaan di Korea. Raja dari kerajaan di Yunani bukanlah seorang Original tapi dia adalah campuran Vampir-Werewolf. Jadi, siapapun pasti akan takut padanya kecuali The Originals. Kerajaan vampir di Yunani terletak di puncak sebuah gunung yang tidak akan mungkin dijangkau oleh manusia karena jalan akses menuju kastil itu dikelilingi jurang yang terjal dan snagat dalam. Bagi para vampir, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah karena mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau dengan kekuatan yang mereka miliki.

Di salah satu ruangan di dalam istana itu, Kim Myungsoo tergeletak tak berdaya. Sekujur tubuhnya pucat sekali bahkan ia tampak seperti mayat. Keheningan di dalam ruangan itu membantu memulihkan kekuatan dan menyembuhkan lukanya. Meskipun Myungsoo sangat sulit dibunuh, tetapi bukan berarti dia tidak bisa terluka. Dia bisa terluka jika sihir yang menjadi penyebabnya.

Dada bidangnya yang tanpa ditutup dengan selembar kain, terlihat naik-turun sesuai dengan irama nafasnya. Kedua matanya tertutup. Myungsoo nampak sedang menikmati masa istirahatnya di Kerajaan Yunani.

“Kau harus segera membuka mata, Myungi-a…” Seorang yeoja mengusap keringat yang keluar bercucuran dari tubuh Myungsoo. Dengan rasa kasih sayangnya, yeoja itu merawat Myungsoo. Bagaimana tidak? Myungsoo adalah dongsaengnya. Jadi, dia akan melakukan apapun untuk keselamatan sang dongsaengnya. “Aku tahu siapa yang melakukan ini, Myungi-a. Kau harus bangun dan lihat aku. Aku sudah berada di sisimu lagi.”

Sama halnya dengan Myungsoo, Ji Won juga mendapatkan pengobatan dari seorang penyihir di Perancis, tempat kelahiran Ji Won. Kim Woo Bin dengan setia menemani sang dongsaeng tercinta yang sedang berjuang mengalahkan rasa sakitnya. Tadi siang ia hampir kehilangan dongsaengnya. Ji Won nekad menolong Myungsoo. Akibatnya, dia sendiri yang saat ini sekarat.

Kriiing…

Ponsel Woo Bin berdering.

“Eoh, waeyo?” tanya Woo Bin pada seseorang yang menghubunginya lewat telepon.

“Hyung, bagaimana keadaan Ji Won?” Terdengar suara Luhan dari ujung telepon.

Woo Bin menatap sendu pada dongsaengnya yang masih tergeletak belum sadarkan diri. Tubuhnya dikelilingi lilin-lilin kecil yang menyala. “Masih belum sadar. Kenapa kau mengkhawatirkannya?”

“Yaaak, apa-apaan kau ini? aku dan Ji Won pernah menghabiskan waktu kami selama berpuluh-puluh tahun. Apa kau lupa?”

“Aku kira kau yang lupa akan hal itu. Mungkin sebentar lagi Ji Won akan sadarkan diri. Dia adalah yeoja terkuat yang pernah ada.”

“Aku percaya padamu, hyung.”

Tut. Sambungan terputus. Ternyata Luhan kehabisan pulsa.

Jiyeon sedang mengirup udara segar malam ini di atap asrama. Dia ingin melupakan kejadian tadi siang tetapi memori dalam otaknya terus saja memutarkan gambaran-gambaran itu. Jiyeon menyadari bahwa kini dirinya terlibat dalam dunia vampir, dan apa saj ayang berhubungan dengan vampir. Ia menengadahkan, melihat kerlip bintang yang jumlahny ribuan. Jiyeon emnarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Hari ini telah berhasil ia lalui dengan baik. Baik? entahlah, dia sendiri juga tidak tahu istilah atau kata apa yang tepat untuk menggambarkannya.

“Apa yang sednag kau pikirkan?” Tiba-tiba Luhan muncul dan berdiri di samping Jiyeon.

“Omo!” seru Jiyeon yang pasti tersontak kaget karena Luhan datang secara tiba-tiba.

“Mian.”

“Luhan-ssi, ah, anhiya. Tidak jadi.”

“Waeyo? Apa yang ingin kau bicarakan? Bicaralah, aku tidak akan membunuhmu. Aku tidak minum darah sebagai makanan pokok.” Luhan menengadahkan kepalanya, menikmati pemandangan malam itu yang begitu indah. Langit cerah ditaburi ribuan bintang yang berkedip tanpa lelah sedikitpun.

“Anhi, lain waktu saja aku menanyakannya padamu. Oh ya, aku pernah bertemu dengan seseorang yang memanggilku dengan sebutan ‘noona’. Baru pertama kali itu aku bertemu dengan namja aneh dan tampak lebih tua dariku. Aku kan masih muda, kenapa dia memanggilku ‘noona’?”

“Apa namja itu tinggi?” tanya Luhan yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada bintang-bintang di langit.

“Eoh, bagaimana kau tahu?”

Luhan tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada yeoja cantik yang berdiri sampingnya. “Tentu saja aku tahu. Namja itu akrab denganku.”

“Jangan katakan kalau dia juga vampir.”

“Sepertinya kau muak dengan kata vampir. Perlu kau tahu, tidak semua vampir itu jahat. Dunia vampir adalah dunia yang sama sekali tidka dapat diprediksi. Jika sekarang aku baik, suatu saat aku bisa saja menjadi jahat dengan penyebab tertentu.”

“Apa kau ingin menjadi vampir jahat?” tanya Jiyeon.

Luhan tersenyum lagi. Kali ini ia sedikit tertawa. “Tentu saja tidak. Lebih baik hidup seperti ini daripada hidup dalam dunia kelam seperti Taemin. Bisakah kau tidak memanggilku Luhan-ssi?”

Jiyeon bengong. “Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?”

“Terserah, asal jangan Luhan-ssi. Seperti majikan dan pembantu saja.”

Jiyeon terkekeh mendengar gurauan Luhan. “Gurae, aku panggil oppa eotteyo?”

“Hmmm boleh juga. Tetapi jangan panggil aku dengan sebutan appa.”

Jiyeon makin terkekeh. Ia tidak menyangka kalau Luhan punya selera humor yang lumayan tinggi.

Ji Won telah sadarkan diri. Orang yang pertama kali ia lihat adalah oppanya, Kim Woo Bin. Woo Bin sangat senang melihat Ji Won sudah sembuh dan terlihat sehat. Ia yakin bahwa yeodongsaengnya adalah yeoja yang kuat. Ternyata keyakinannya itu sudah terbukti.

“Welcome back, sister.”

Ji Won tersenyum melihat oppanya ada di sisinya. “Oppa, gomawo.” Ia memeluk Woo Bin erat-erat.

“Aku senang sekali kau telah kembali, Ji Won-a…”

“Aku juga senang telah kembali di sisi Woo Bin oppa. Bogosiposeo oppa…” Ji Won bermanja-manja ria pada Woo Bin. Siapa lagi yang akan bisa diajaknya bermanja-manja kalau bukan Woo Bin? Ji Won tidak punya namjachingu dan keluarganya pun hanya ada Woo Bin. Ada satu lagi, mantan namjachingu-nya yaitu Luhan. Tidak mungkin dia bermanja-manja pada Luhan karena dirinya dan Luhan tidak ada hubungan apa-apa.

“Kau siap kembali ke Seoul?” tanya Woo Bin yang terlalu bersemangat.

“Chakkaman, oppa. Aku ingin memperingati hari kematian para chinguku. Salah satu alasanku untuk kembali adalah chinguku. Besok adalah hari kematian mereka, oppa.”

“Gurae, terserahlah, aku akan menunggumu Ji Won-a.” Woo Bin memeluk Ji Won lagi. Ia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Sudah lama mereka tidak berpelukan layaknya saudara kandung.

tbc

Advertisements

One thought on “The Night Castle [Chapter 3]

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s