Like Fortune Goddess [Chapter 4]

LIKE AMOORE GODDEST

Teaser | 1 | 2 | 3 

Main cast:
Im Yoona | Choi Siwon | Lee Donghae
Other cast:
Lee Qri | Ham Eunjung | Leo Jung | Nickhun | Tiffany
Genre:
Romance | Fantasy | AU | Commedy

Length:
Multichapter

Rating:
PG-13

Sorry typos

“Kau tidak bohong, kan?” tanya Donghae pada Yoona.

Mendapat pertanyaan aneh seperti itu membuat Yoona mengangkat kedua alisnya. “Bohong tentang apa?”

Donghae mendesah kesal karena Yoona tak menangkap maksud dari pertanyaannya. “Maksudku ruangan ini. Jujur saja, aku merasa agak berlebihan dengan ruangan ini.”

“Apa maksudmu? Bukankah desain interior ruangan ini sudah bagus?” Yoona menanggapi pernyataan Donghae dengan serius.

“Justru karena itulah aku merasa tidak enak pada pejabat perusahaan yang lain. Jabatanku di sini lebih rendah dari seorang direktur. Tapi fasilitasyang aku terima malah lebih dari fasilitas para direktur hanya karena aku adalah teman Siwon sejak kecil.”

“Benarkah?” tanya Yoona sedikit kaget.

Donghae mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya. “Siwon pun hanya seorang direktur.”

“Direktur? Tapi kenapa tadi ada yang memanggilnya CEO?”

“Dia adalah calon CEO perusahaan ini. Mungkin para karyawan sedang berlatih memanggilnya CEO Choi.”

Yoona terkikik geli. Kenapa ada hal konyol yang dilakukan oleh karyawan di perusahaan yang katanya terkenal itu.

Beralih ke Siwon yang tengah menghadapi kedua tamu wanita. Dua orang wanita itu tersenyum manis padanya hingga membuat dirinya salah tingkah.

“Silahkan duduk!”
Kedua wanita itu pun menjejalkan bokongnya di atas kursi sofa buatan Eropa yang ada di ruangan Siwon.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Siwon dengan gaya direktur.

Sang wanita paruh baya tersenyum kemudian disusul oleh wanita muda.

“Perkenalkan! Saya Park Soo Jin, istri dari tuan Im dan ini putri angkat kami.” Wanita paruh baya itu mengenalkan diri pada Siwon.

Siwon membelalakkan kedua matanya tatkala melihat sosok wanita muda yang duduk di sebelah nyonya Im. Dia baru ingat kalau ternyata wanita itu adalah….

“Saya Tiffany Hwang. Karena saya diangkat sebagai anak oleh keluarga Im, maka nama marga saya berganti menjadi Im. Senang bertemu dengan Anda, Direktur Choi.” Tiffany tersenyum, merasa berada di puncak kesenangan karena tak lama lagi tujuannya akan tercapai.

Nama marga Hwang diperoleh Tiffany bukan karena ada hubungan keluarga dengan seseorang. Dia memilih nama itu karena terdengar cocok dengan nama Tiffany. Ya, sebagai salah satu kaki tangan Dewi Fortuna, Tiffany sama sekali tidak mengingat nama aslinya sebelum meninggal. Hal itulah yang juga terjadi pada Yoona. Sebagian besar anak buah Dewi Fortuna hanya mengingat nama aslinya tanpa marga keluarga mereka.

“Ooh, jadi Tiffany-ssi adalah putri angkat nyonya Im. Waah, selamat! Saya ikut senang mendengarnya. Oh ya, ada keperluan apa keluarga Im datang kemari?” tanya Siwon sebelum membenahi posisi duduknya.

“Bukan urusan yang penting,” jawab nyonya Im dengan senyumannya. “Oh ya, ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Mumpung masih berada di sini, kami mengundang keluarga Choi untuk makan malam di rumah kami.

“Benarkah? Oh baiklah, aku akan menyampaikan kabar ini pada  ayah dan ibuku. Mereka pasti senang.”

“Terimakasih,” ucap nyonya Im senang.

Siwon merasakan ada sesuatu yang salah dengan kepalanya. Pandangan matanya semakin kabur sehingga ia harus memegang kepalanya menggunakan kedua tangan.

“Siwon-ssi, apa yang terjadi?” tanya Tiffany khawatir melihat Siwon yang nampak kesakitan di bagian kepalanya.

“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Siwon merasakan ada beberapa keping ingatan yang menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Ingatan tentang masa lalunya yang hilang. “Aargh! Kenapa ini harus terjadi lagi?”

“Ada apa denganmu, Siwon-ssi? Aku panggilkan ambulance, ya?” tawar Tiffany. Dia ingin sekali menolong Siwon entah bagaimanapun caranya.

Siwon mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk menormalkan pandangannya. Dia bisa bernafas lega karena keadaannya berangsur-angsur normal kembali.

Nyonya Im dan Tiffany juga lega melihat Siwon berhenti merintih kesakitan dan melepaskan tangannya dari kepala. “Kau baik-baik saja?” tanya nyonya Im.

“Ne, terimakasih sudah mencemaskanku. Aku baik-baik saja. Mungkin sakit kepala yang tadi akibat kurang istirahat dan terlalu lelah,” jawab Siwon sebisanya.

“Baiklah, lebih baik kau istirahat. Kalau begitu, kami pamit pulang. Semoga kau baik-baik saja, Nak.”

Deg!
Siwon tak menyangka kalau nyonya Im memanggilnya dengan sebutan ‘Nak’. Dia pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan yang sama namun tak ada ingatan apapun tentang orang yang memanggilnya seperti itu di masa lalu. “Terimakasih, nyonya Im dan Tiffany-ssi. Jangan sungkan-sungkan untuk mampir ke tempat ini.” Senyum seorang Siwon menghiasi wajah tampannya.

Nyonya Im dan Tiffany undur diri. Mereka sungkan melihat Siwon yang kesakitan seperti tadi. Siwon sendiri juga tidak menyangka kalau kepalanya akan merasakan sakit seperti beberapa tahun yang lalu.

Yoona masih berada di dalam ruangan Donghae. Sedangkan laki-laki tampan sang pemilik ruangan itu malah meninggalkan dirinya karena harus menghadiri rapat dadakan.

“Benda apa ini? Donghae oppa tidak memberikan penjelasan padaku bagaimana cara menggunakan bemda ini.” Yoona berpikir keras menemukan cara mengoperasikan benda yang kini ada di depan matanya. Berulang kali Yoona menekan tombol-tombol huruf yang ada pada keyboard namun benda itu tak menyala juga.

“Yaak! Seharusnya dia memberitahukan cara mengopersikannya. Kalau begini, bagaimana aku bisa membantunya? Dasar aneh! Menyuruhku mengetik ini, tapi dia sama sekali tidak memberikan penjelasan tentang benda ini.” Benda yang dimaksud oleh Yoona adalah laptop. Dia hanya mengamati laptop milik Donghae dengan seksama. Baru kali ini indera penglihatannya menangkap sebuah benda yang membuatnya tertarik. Namun di sisi lain, Yoona bosan dan jengah duduk di atas kursi empuk itu.

“Ya sudahlah, aku tidak bisa mengoperasikannya. Jadi, dia tidak bisa menyalahkanku. Bosan sekali di ruangan ini. Desain interiornya bagus tapi membosankan.”
Yoona berdiri dan hendak melangkahkan kakinya keluar dari lingkup meja kerja Donghae.

Cekleekk!
Yoona tersontak kaget mendengar pintu dibuka dan tiba-tiba muncul sesosok laki-laki dengan pakaian yang tak asing di mata Yoona. “Siwon-ssi, kau kah itu?”

Siwon memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit sembari melangkahkan kaki jenjangnya mendekati meja kerja Donghae.

Yoona menatap Siwon tanpa berkedip. “K, kau tidak apa-apa?” Yoona bertanya dengan nada cemas khas dirinya sendiri.

“Entahlah. Kepalaku sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.”

“Duduklah di kursi itu saja,” tunjuk Yoona pada deretan kursi sofa kelas tinggi.

Tanpa komentar maupun pertanyaan, Siwon menuruti kata-kata Yoona dan duduk di atas sofa itu.

“Kau pasti lelah. Aku ambilkan minum untukmu.” Yoona mengangkat kaki kanannya dan ingin melangkah untuk mengambilkan air minum.

Tap!
Tiba-tiba tangan Siwon menahan langkah kakinya dengan memegang tangannya.

“Siwon-ssi, ada apa?” tanya Yoona bingung.

“Tidak usah. Aku tidak apa-apa,” jawab Siwon dengan suara normal. Sakit kepala yang ia rasakan telah hilang.

Yoona bertanya lagi,”Kau baik-baik saja?”

Siwon mengangguk mantab.

“Waaah syukurlah kalau begitu. Hmmm, tolong ajari aku mengoperasikan benda itu.” Yoona menunjuk ke arah meja kerja Donghae. Di atas meja itu terdapat beberapa lembar berkas dan laptop milik si empunya ruangan.

“Maksudmu laptop?” tanya Siwon untuk meyakinkan kalau dia tidak salah paham.

“Eoh. Ajari aku menggunakan benda itu. Donghae oppa memintaku mengetik beberapa laporan karena dia diajak rapat oleh… ah, siapa tadi? Aku lupa. Pokoknya tadi dia rapat mendadak lalu memintaku mengetik menggunakan benda ini. Aku tak tahu bagaimana caranya. Bisakah kau ajari aku?” tanya Yoona dengan sopan. Dia takut salah bicara hingga membuat Siwon marah atau kesal padanya. Ya, gadis ini terlalu baik dan sopan pada siapapun termasuk orang-orang yang sudah dekat dengannya.

“Baiklah, aku akan mengajarimu dengan senang hati. Kita duduk di sofa saja.” Dengan semangat, Siwon mengambil laptop di atas meja kerja Donghae kemudian meletakkannya di atas meja kecil di depan sofa.

Yoona mengambil berkas-berkas laporan yang harus ia selesaikan pengetikannya.

Keduanya telah duduk berdampingan di atas sofa empuk di sudut ruangan milik Donghae. Yoona begitu antusias belajar mengoperasikan laptop yang kelihatannya memiliki daya pikat.

“Cara pengoperasiannya sangat mudah. Tapi sebelumnya kau harus menghidupkan laptopnya dengan menekan tombol on/off seperti ini. Setiap laptop memiliki letak tombol yang berbeda-beda.” Siwon menekan tombol on/off pada laptop itu.

Jeeeng!!
Laptop menyala. Yoona menatap layar laptop itu tanpa berkedip. ‘Waaah keren!’ batinnya. Siwon pun mulai memberikan instruksi pada Yoona untuk mencoba mengoperasikan benda berbentuk kotak itu. Tentu saja Yoona dengan semangat yang membara segera melakukannya. Dia sangat ingin tahu bagaimana cara mengoperasikan laptop itu. Kalau dirinya sudah menguasai semua cara untuk mengoperasikannya, pasti kelihatan keren, pikirnya.

Siwon menaham tawa melihat tingkah lucu Yoona yang menurutnya sedikit aneh. Kebanyakan orang sudah pandai mengoperasikan laptop. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Yoona. Gadis cantik itu malah baru melihat laptop dan kagum saat laptop menyala.

Tak terasa satu jam telah berlalu. Yoona telah menguasai sebagian besar cara mengetik dokumen. Dia benar-benar merasa senang dan puas hari ini. Tak ada ruginya Donghae memintanya mengetik laporan-laporan itu.

“Aku akan membawanya pulang dan mengetiknya di rumah,” kata Yoona yang berhasil membuat Siwon tercengang.

“Membawanya pulang? Aigoo, kenap kau senang sekali mengerjakan laporan itu? Aish! Donghae hyung benar-benar pandai memanfaatkan orang lain.”

Yoona melirik Siwon. “Aku senang melakukannya dan ingin menyampaikan terimakasih pada Donghae oppa karena sudah memintaku mengetikkan laporannya.”

Siwon mengangkat kedua alisnya. “Gadis yang polos,” lirih Siwon.

“Kau bilang apa tadi?”

“Aku bilang, ayo kita makan siang. Sekarang sudah waktunya makan siang. Aku akan mentraktirmu.”

Sepasang mata indah milik Yoona berbinar-binar. “Benarkah? Lalu bagaimana dengan Donghae oppa? Dia masih rapat, kan?”

Siwon mendesah kasar. Donghae lagi, batinnya. “Donghae hyung punya kaki dan tangan. Jadi, dia bisa membeli makanan untuk dirinya sendiri. Kau tidak perlu mencemaskannya.”

“Benar juga. Tapi bukankah tadi kita sudah sepakat akan makan bersama?”

Siwon mengusap dahinya. Ia berusaha bersabar lagi menghadapi Yoona yang kelewat polos itu. “Baiklah, kita tunggu Donghae hyung.”

Seraya menunggu Donghae, Yoona mencari kesibukan agar tidak bosan berada dalam sebuah penantian. Dilihatnya sebuah surat kabar yang diletakkan begitu saja oleh Donghae tadi pagi. Yoona tertarik membaca sebuah tulisan berita tentang pembukaan Mall baru di kawasan Busan. Surat kabar itu segera diraihnya kemudian dibaca dengan seksama.

“Wooow daebak!” seru Yoona yang telah sukses membuat Siwon mengalihkan pandangan mata ke arahnya.

“Berlebihan,” gumam Siwon.

Yoona dapat mendengar suara Siwon yang terkesan mengejek dirinya namun karena sedang asyik membaca berita peresmian Mall baru, Yoona berpura-pura tak mendengarnya dan ingin melupakan kata itu.

“Siwon-ssi, kau tahu di mana letak kota Busan?” tanya Yoona memecah keheningan di dalam ruang kerja Donghae.

“Di bagian utara semenanjung Korea,” jawab Siwon. “Ada apa? Kau punya teman di sana?” Siwon berusaha menanggapi pertanyaan Yoona lebih jauh agar gadis itubisa berpikir.

“Anhi. Aku tidak punya seorang teman pun. Hanya kalian yang mau menganggapku sebagai teman dan keluarga.”

“Kata-katamu sungguh luar biasa dan mengharukan. Tapi apakah itu benar?”

Yoona mengangguk mantab sekali dengan menunjukkan ekspresi sedihnya. Yoona bertanya-tanya dalam hatinya, apanya yang luar biasa dan mengharukan? Sehrusnya bukan seperti itu karena lebih tepatnya kata-katanya menyedihkan. Dia menggelengkan kepala setelah menyadari kalau pria bernama Choi Siwon itu agak aneh.

Cekleeek!
Orang yang ditunggu oleh Yoona dan Siwon akhirnya datang. Bukannya menunjukkan ekspresi kebahagiaan karena jam makan siang sudah tiba, eh Donghae malah menunjukkan raut wajah sedih. Wajah tampan itu tampak seperti baju kusut yang belum disetrika.

“Ada yang salah, Hyung?” tanya Siwon untuk memastikan bahwa Donghae baik-baik saja.

Lee Donghae duduk di samping Siwon dan langsung menyandarkan bahunya pada sandaran kursi lalu mengusap wajahnya. Ikatan dasi telah ia longgarkan. Sekarang ia bisa bernafas lega dan melepas penat yang mengkungkung kepalanya.

Melihat keadaan Donghae yang seperti itu, Yoona dan Siwon tak berani bertanya lagi. Mereka memilih untuk diam saja. Satu kata yang tidak mengenakkan pasti akan membuat Donghae marah.

5 menit berlalu begitu saja. Siwon dan Yoona sudah menahan lapar sejak tadi. Mereka menunggu Donghae mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Pada saat itulah salah satu dari mereka akan mengusulkan makan siang.

“Ayo makan siang!” ajak Donghae secara tiba-tiba.

Seketika itu, raut wajah Siwon dan Yoona berseri-seri karena mereka sudah menantikan kesempatan ini.

“Ayo! Aku yang traktir, Hyung.” Siwon berdiri dari duduknya sehingga Yoona harus mengangkat kepalanya untuk dapat melihat wajah Siwon saat pria itu berbicara.

“Kau yakin?” tanya Yoona.

Siwon langsung mengedipkan mata kirinya pada Yoona agar gadis itu bisa menutup mulutnya dan tak mengatakan apapun lagi selama mood Donghae belum membaik.

Yoona menutup mulut menggunakan tangan kanannya. Hal itu berhasil membuat Siwon menahan tawa hingga merasakan sesuatu yang harus dikeluarkan di toilet.

“Tunggu, Hyung! Aku ke toilet dulu.” Siwon berlari ke toilet secepat kilat.

Donghae dan Yoona berada pada suasana canggung. Yoona hanya mampu berkedip saat dirinya harus melihat Donghae menutup matanya dan menikmati waktu istirahatnya.

“Aku sudah menyelesaikan apa yang oppa tugaskan tadi,” kata Yoona dengan nada senang.

Donghae menoleh ke arah Yoona dan menarik ujung bibirnya sebelah kanan hingga membentuk senyuman tipis. “Baguslah! Bagaimana kau bisa menggunakan alat itu?” Donghae menunjuk ke arah laptop yang diletakkan di atas meja kerjanya oleh Yoona.

“Aku belajar dari Siwon oppa.”

“Mwo?”

“Memangnya kenapa? Saat aku kesulitan menghidupkannya, tiba-tiba Siwon oppa datang.”

“Ya sudah. Aku kira dia menggigitmu.”

Yoona mengira Donghae depresi setelah rapat tadi. Pikirannya pasti sedang kacau sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya ngelantur dan tak jelas maksdunya.

Tap tap tap!
“Ayo kita berangkat!” seru Siwon yang sudah berdiri pasang body di depan Yoona dan Donghae.

Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, Siwon, Yoona dan Donghae tiba di sebuah restoran Jepang. Rencana awal mereka telah gagal dan alternatifnya adalah restoran Jepang. Donghae dan Yoona tidak berkomentar sama sekali atas ide Siwon yang mengajak mereka makan di restoran Jepang. Menurut Donghae, makanan Jepang banyak yang enak. Jadi, tidak masalah kalau mereka makan di sana. Sedangkan Yoona, gadis itu berdiam diri karena dia belum pernah makan di restoran mana pun. Apalagi makanan jenis sashimi atau sushi.

Makanan yang mereka pesan akhirnya diantar oleh seorang pelayan wanita berambut panjang dan berpenampilan menarik. Melihat pelayam itu melayani pelanggan dengan ramah, Siwon mempunyai suatu ide gila.

“Hyung, pelayan ini boleh juga. Apakah kau tidak tertarik padanya?” bisik Siwon pada Donghae yang sibuk menata letak piring untuk makanan-makanan yang baru saja diantar.

“Kai ingin aku lempar dengan piring ini?” Donghae kesal pada Siwon dan menunjukkan piring berisi sushi yang siap dilempar ke arah Siwon.

“Hehehe… aku hanya bercanda,Hyung. Kalau kau membuang-buang makanan, aku tidak akan mentraktirmu lagi,” ancam Siwon dengan evil-smile nya.

Donghae tak menanggapi ancaman konyol Siwon yang baru saja memenuhi ruang dengarnya. Setelah dibantu oleh Yoona dalam menata letak piring-piring itu, akhirnya Donghae bisa segera menikmati makanannya.

“Cepat makanlah! Jangan bicara terus-menerus. Biarkan telingaku istirahat sejenak. Apakah kau pikir telingaku tidak bosan mendengar suaramu? Aah, seperti lnya aku harus perginke dokter THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan),” sindir Donghae pada Siwon yang sepertinya tidak mempan sama sekali.

“Waaah, ayo makan!” seru Yoona yang berhasil mengundang perhatian para pengunjung lain.

Siwon menyadari bahwa beberapa pasang mata tertuju ke arah meja mereka. Dia tersenyum dan mengangguk menatap orang-orang yang melihatnya, mengisyaratkan permintaan maafnya karena sudah membuat kegaduhan di tempat itu.

Donghae melihat Yoona yang berhenti memainkan sumpitnya. “Kenapa? Kau tidak suka?”

Ekspresi wajah Yoona tampak bingung. “Apakah ini sudah bisa dimakan?” tanya Yoona.

“Eoh,” jawab Siwon singkat.

“Kenapa masih mentah begini?” tanya Yoona lagi sambil membolak-balikkan makanannya menggunakan sumpit.

Donghae mendesah pelan. “Memang seperti ini yang namanya sushi. Cobalah! Nanti kau akan menyukainya.” Donghae meminta Yoona untuk menikmati makanan itu tanpa berkomentar. Ia yakin bahwa setelah makan sushi, Yoona pasti akan menikmati dan menyukai makanan itu.

Yoona tersenyum. “Hmmm lumayan enak.”

Siwon dan Donghae ikut tersenyum.

Jam dinding di ruangan Siwon menunjukkan pukul 7 malam. Semua pekerjaannya yang harus diselesaikan hari ini telah tertumpuk di meja kerjanya.

“Hah! Sudah selesai. Ooh, akhirnya aku bisa pulang. Oh ya, apakah Donghae hyung sudah pulang?” Siwon bersiap beranjak dari kursi kerjanya. Saat hendak berdiri, ia mendengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.

“Masuk saja!” teriak Siwon dari dalam ruangan.

Cekleek!
Pintu terbuka pelan-pelan. Nampaklah sosok gadis yang ia kenal sedang mengintip ke dalam ruangannya.

“Yaak! Masuk saja! Kenapa kau mengintip begitu?” Suara Siwon menggema memenuhi ruangannya.

Yoona tersentak kaget mendengar suara Siwon. Ia tidak menyangka kalau Siwon akan mengetahui kalau dirinya lah yang mengetuk pintu tadi.

“Ada apa?” tanya Siwon.

Tubuh Yoona tak lagi menempel pada pintu. Dia masuk ke dalam ruangan mewah yang cukup luas dan desain interior kelas dunia. Butuh waktu 1 menit bagi Yoona untuk menikmati keindahan ruangan itu secara sekilas. Tak lama kemudian, bibir tipisnya tersungging membentuk senyuman manis khas dirinya.

“Aku datang ke sini karena disuruh Donghae oppa. Dia akan lembur untuk menyelesaikan kerjaannya setelah rapat tadi. Jadi, dia menyuruhku ke sini dan memintamu untuk mengantarmu pulang. Ah, memalukan sekali.” Yoona menundukkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Siwon menahan tawanya. “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Keburu malam, kan tidak enak dengan Qri nuna.” Siwon memakai jasnya dan menggerakkan kakinya beberapa langkah mendekati Yoona. Yoona pun membalikkan badannya menghadap pintu dan melangkah keluar.

Yoona dan Siwon telah menempuh jarak beberapa kilometer dari kantor perusahaan milik keluarga Choi. Siwon memutar lagu kesayanganny di dalam mobil. Lagu yang dilantunkan oleh K Will dengan judul Love is Crying itu mampu menenangkan pikirannya. Ia begitu konsentrasi memegang kendali mobilnya. Saat dia menolehkan kepalanya ke samping kanan, betapa terkejutnya melihat pemandangan di sana.

“Yaak! Yoona-a, kenapa kau menangis?” tanya Siwon khawatir. Ia tidak merasa telah menyakiti siapapun apalagi Yoona. Tapi kenapa gadis itu menangis di dalam mobilnya?

“Aku ikut sedih mendengar lagu itu. Benar-benar menyentuh hati,” jawab Yoona seraya mengusap airmata yang membasahi wajah cantiknya.

Siwon dapat bernafas lega karena penyebab Yoona menangis bukanlah dirinya melainkan lagu yang ia putar. Gadis itu sangat lembut dan memiliki perhatian pada orang lain. “Kalau begitu aku akan mematikannya.”

“Jangan! Tidak usah. Biarkan saja begitu. Kalau perlu, putarlah berulang kali. Aku sangat menyukainya.” Yoona mencegah Siwon yang ingin mematikan pemutar lagu.

Deg!
Entah kenapa, Siwon merasakan debaran di dadanya semakin lama semakin kencang. Ada apa ini? pikirnya bingung. Ia tersenyum tipis mengingat kata-kata Yoona yang menyatakan bahwa gadis itu menyukai lagu K Will. Sama seperti dirinya yang sangat menyukai lagu itu. Meskipun lagu itu tergolong lagu sedih, Siwon tetap menyukainya karena sangat menyentuh hati. Pertama kali dia mendengar lagu itu, airmatanya juga tak berhenti mengalir. Dia terlalu menghayati isi lagu itu.

Ckiiitt!!
Siwo menginjak rem mobilnya di tempat parkir sebuah mall besar di kota Seoul.

“Turunlah! Kita mampir ke mall dulu.”

“Untuk apa?”

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Kau tidak akan kecewa.” Siwon menarik lengan Yoona dari luar dengan pelan.

Mau tidak mau, Yoona pun menuruti Siwon dan berjalan di samping laki-laki super keren dan tampan itu.

“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Yoona yang berusaha mengimbangi langkah panjang seorang Siwon.

Siwon tak menjawab tetapi dia malah tersenyum senang seakan baru saja memenangkan lotre bernilai milyaran won.

“Ttaraaa!!” seru Siwon saat berdiri di depan sebuah butik wanita yang dipenuhindengan koleksi baju wanita modern seoeri tas, sepatu, baju-baju bernilai jutaan won.

“Waaah banyak sekali baju, sepatu dan semuanya?” Yoona membelalakkan kedua bola matanya ketika inderanya menangkap berbagai macam warna dan jenis baju, sepatu dan segala yang dibutuhkan oleh wanita.

Siwon menuntun Yoona menuju deretan kemeja wanita model terbaru. Harga baju-baju itu sangat mahal karena kain yang digunakan sebagai bahannya berasal dari kain impor. Desain yang sangat unik, menarik dan menggoda mata jika dilihat. “Pilihlah mana yang kau suka.”

“Aku? Kau memintaku memilih salah satu?”
“Tidak hanya satu. Pilihlah beberapa yang kau suka. Setelah itu cob pakailah di ruang ganti.”

Yoona mengangguk senang. Ia memilih beberapa kemeja kerja dan blazer. Setelah itu dicobanya satu per satu apa yang telah dia pilih. Setelah mencoba satu stel pakaian, Yoona menunjukkannya pada Siwon. Semua baju yang dipilih Yoona kelihatan cocok dikenakan gadis cantik itu. Siwon pun dibuat terperangah melihat penampilan Yoona yang berbeda jauh dari biasanya. Dia tampak cantik.

Acara memilih baju telah selesai. Sekarang saatnya Yoona memilih sepatu sesuai dengan kesukaannya. Dia mencoba sepatu yang dipilih satu per satu. Yoona takut mengenakan sepatu high-heel 15cm. Namun Siwon tetap membujukmya untuk mencoba sepatu cantik itu. Akhirnya Yoona pun menurut. Dia mencoba septu itu dan digunakan untuk berjalan beberapa langkah. Baru berjalan dua langkah, kakinya goyah dan terjatuh. Beruntung Siwon menangkap tubuhnya sehingga tubuh mereka berdua benar-benar berdekatan dan tak ada jarak yang memisahkannya.

Jantung Yoona maupun Siwon berdetak lebih cepat. Jarak sedekat ini mampu membuat Siwon semakin kagum melihat wajah kecantikan Yoona yang terpampang jelas di depan matanya. Wajah mereka sangat dekat hingga Siwon dapat merasakan hembusan nafas Yoona, begitu pula sebaliknya. Tangan kekar milik Siwon telah melingkar erat di pinggang ramping Yoona sehingga tubuh Yoona tidak mungkin bisa terjatuh ke lantai.

“M, mianhae…” ucap Yoona lirih.

Keduanya tersadar. Siwon segera melepaskan tubuh Yoona. Yoona pun menyeimbangkan posisinya agar tidak terjatuh lagi. Dia merapikan pakaiannya agar tidak kelihatan lusuh.

“Gomawo, Oppa.”

Deg!
Jantung Siwon seakan berhenti berdetak saat mendengar kata ‘oppa’ yang diucapkan oleh Yoona. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yoona bersedia memanggilnya dengan sebutan itu.

“Kenapa? Apakah aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’? Bukannya tadi kau memintaku melakukannya, sama seperti yang ku lakukan pada Donghae oppa.”

Siwon agak kecewa karena ternyata Yoona memanggilnya ‘oppa’ agar sama dengan Donghae. “Tidak apa-apa. Aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, aku belum pernah dipanggil oppa sejak usia remaja. Maklum, aku anak tunggal dan tidak banyak memiliki teman wanita yang lebih muda. Kebanyakan teman wanitaku lebih tua dari usiaku.”

Yoona tersenyum geli mendengar pengakuan Siwon. “Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu ‘oppa’. Gomawo sudah membelikanku barang-barang ini. Aku senang sekali.”

“Eoh, cheonma. Oh ya, kau bisa memulai training-mu besok lusa. Kau harus melalui masa training agar kelak bisa bekerja dengan profesional.”

“Baiklah, aku bersedia. Gomawo sekali lagi.”

Sesampainya di rumah, Yoona membuka semua barang yang dibelikan oleh Siwon. Dia mengenmabngkan senyum tanpa henti saat melihat baju, sepatu, tas, dan aksesoris mahal itu. Ketika sedang melihat barang mahal itu, tiba-tiba Yoona teringat peristiwa yang mendebarkan jantungnya. Yokna meraba jantungnya. Debaran itu masih ada. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dan hawa panas menyerangnya padahal malam ini salju turun sehingga terasa sangat dingin.

“Ada apa denganku?” lirihnya sambil terus meraba jantungnya.

TBC

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s