Lost in Bali [Chapter 3]

LIB

Search the previous story HERE

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
PG-13

Check it out!

Hwayoung yang baru datang dari Jakarta sama sekali belum tahu kalau Jiyeon ketinggalan pesawat. Dengan polosnya, Hwayoung nyerocos membahas Jiyeon. “Jiyeon-ssi, kau tidak jadi pulang ke Korea? Kenapa? Apa hanya aku yang baru tahu?” Hwayoung menyeret sebuah kursi di bawah meja kemudian mendudukinya.
Luhan yang tadi saling pandang dengan Lay malah menyuruh Lay menjelaskan kepada yeojachingunya itu.
“Dia ketinggalan pesawat,” sahut Myungsoo. Sontak semua mata tertuju padanya kecuali sepasang mata indah milik Jiyeon.
“Ne. Aku ketinggalan pesawat saat sedang mencari ponselku yang tertinggal di toilet. Mungkin ini sudah nasibku.” Jiyeon telah menyelesaikan ritual mengisi perut.
Hwayoung membelalakkan matanya. “Kok bisa?”
“Ceritanya panjang. Kau ini banyak tanya,” sela Lay yang tak ingin lagi mendengar yeojanya itu mengoceh.
Myungsoo meninggalkan ruang makan, begitu juga dengan Lay dan Hwayoung. Tinggal Jiyeon dan Luhan di tempat itu.
“Luhan-ssi, gomawoyo. Kau selalu baik padaku.”
“Ah, tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu.”
“Luhan-ssi, apa di sekitar sini ada lowongan kerja?”
“Aku rasa ada kok. Nanti kalau sepulang kerja akan aku usahakan mencari lowongan untukmu. Oh ya, bagaimana jika kau memanggilku tidak seformal itu? Jika kau lebih muda dariku kau bisa memanggilku oppa. Jika kita sebaya atau kau lebih tua, kau bisa memanggilku Luhan saja.”
“Jongmal? Ne, saat ini aku semester akhir program diploma. Aku lebih tua atau lebih muda?” tanya Jiyeon ragu-ragu.
“Kau lebih muda dariku. Waaah, ada satu orang lagi yang memanggilku oppa. Haha… Berasa paling tua…”
Jiyeon tertawa mendengar kata-kata Luhan yang terakhir. “Oh ya Jiyeon-a, bahan persediaan sudah menipis. Apa kau bersedia berbelanja?”
“Aku mau. Tapi aku tidak tahu manapun di sini. Takutnya malah merepotkan lagi karena nyasar.”
“Oh itu… Gurae, Myungsoo akan menemanimu. Eotte?”
Jiyeon membelalakkan kedua matanya. Myungsoo? Namja itu? Jiyeon takut bakalan ada kejadian aneh dan sial lagi jika bersama Myungsoo. Tapi dia tidak mungkin menolak permintaan Luhan yang sudah terlalu baik padanya. Akhirnya Jiyeon mengiyakan tawaran Luhan.

Jam menunjukkan pukul 1 siang. Myungsoo dengan santainya.tiduran di atas sofa panjang dan menatap layar tv. Kadang ia tertawa sendiri melihat acara tv luar negeri. Jiyeon yang melewati ruangan itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Memperhatikan namja yang menurutnya aneh. Ternyata benar, aneh. Tertawa sendiri, bicara sendiri. Jiyeon melihat arlojinya.
“Omo! Sudah siang!” seru Jiyeon yang tanpa disadarinya, Myungsoo mengarahkan pandangannya ke arah Jiyeon yang berdiri tidak jauh dari sofa yang ditidurinya.
“Yaak, jangan berisik.” Jiyeon yang mendengar kata-kata Myungsoo barusan malah mendekati namja itu dan duduk di sofa yang satunya.
“Myungsoo-ssi, Luhan oppa bilang tadi kau harus menemaniku belanja.”
Myungsoo terlonjak kaget. Bukan karena Jiyeon mengatakan kalau dia harus mengantarnya belanja. Tapi karena Jiyeon memanggil Luhan dengan embel-embel ‘oppa’.
“Oppa? Kau panggil hyung tadi apa?”
“Oppa. Wae? Kau tidak suka? Apa kau juga mau ku panggil oppa?”
Myungsoo memalingkan wajahnya. “Jangan harap aku mau kau panggil ‘oppa’. Terlalu menggelikan di telinga.”
“Sudahlah, ayo cepatlah bersiap. Hari sudah semakin siang dan di sini panas sekali.”
Myungsoo tak menggubris ucapan Jiyeon. Ia masih asyik dengan kegiatannya menonton tv. Jiyeon kesal. Ingin rasanya dia menendang namja itu atau memukul dan membuangnya ke tengah laut. Tiba-tiba Myungsoo beranjak dari sofa yang mungkin sudah tidak betah diduduki olehnya. Jiyeon hanya memandangnya aneh.
“Wae? Katamu kita harus segera berangkat. Kajja!”
….
Myungsoo dan Jiyeon memasuki supermarket yang berjarak 5km dari villa milik Luhan. Myungsoo memimpin dengan berjalan di depan sedangkan Jiyeon hanya mengekor di belakangnya. Jiyeon melihat-lihat sekelilingnya. Ternyata supermarket ini sama ramainya dengan yang ada di Seoul. Bedanya, supermarket di Seoul lebih besar. Myungsoo berhenti di depan rak minyak goreng. Ia bingung memilih minyak goreng. Akhirnya dapat satu.
Saat ingin meletakkan minyaknya di atas troli, Myungsoo ingat kalau mereka belum mengambil troli dorongnya.
“Pegang ini. Aku mau ambil troli dulu. Kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana.” Myungsoo meyerahkan minyak goreng yang dipeluknya kepada Jiyeon.
“Memangnya aku anak kecil?” protes Jiyeon.
“Kau kan baru pertama kali ke sini. Kalau kau hilang atau nyasar lagi, aku juga yang akan repot,” kata Myungsoo sewot. Jiyeon bertambah kesal.
Kenapa Luhan tidak menyuruh Lay yang menemaninya belanja. Lay kan orangnya baik, tidak seperti Myungsoo yang aneh itu. Myungsoo kembali dengan troli dorongnya. Jiyeon bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana Myungsoo bisa secepat itu.menghafal segala yang ada di sini? Myungsoo seperti peduduk asli yang sudah tahu segalanya.

Troli mereka sudah hampir penuh. Myungsoo mendorongnya menuju rak kue dan snack. Jiyeon mengerutkan kening. Bukankah mereka hanya akan membeli barang-barang yang menjadi kebutuhan utama? Snack.tidak penting, pikir Jiyeon.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon.
Myungsoo menoleh sedikit. Dia hanya melirik Jiyeon. “Apa kau tidak tahu? Aku sedang memilih snack yang enak.”
“Snack? Yaak, Kim Myungsoo, sampai kapan kau jadi namja aneh begini. Luhan oppa bilang kita cuma belanja kebutuhan sehari-hari tapi kau malah membeli makanan tak sehat dan membuang uang.”
Myungsoo kesal mendengar kata-kata Jiyeon. Ia membalikkan badan. Menatap dingin yeoja yang berdiri tepat di depannya.
“Kali ini giliranku membiayai kebutuhan selama dua minggu.”
“Mworago?” Jiyeon tidak mengerti.
“Pabbo yeoja…” ucap Myungsoo lirih. Mata Jiyeon melotot. “Kami ber… Berapa ya? Kami berdua, aku dan hyung belanja bergiliran. Dua minggu sekali kami bergantian membiayai kebutuhan sehari-hari. Ara?”
Jiyeon baru tahu ternyata Myungsoo dan Luhan cukup kompak. Mereka mau bergantian membiayai kebutuhan mereka sehari-hari. Kini tak hanya dua namja itu yang tinggal dalam satu villa. Tapi dirinya juga tinggal di sana. Hwayoung juga akan tinggal di villa itu. Jadi, mereka berempat harus bergantian mengeluarkan biaya hidup. Tapi masalahnya Jiyeon belum memiliki pekerjaan. Hari ini Luhan akan mencoba mencari info lowongan kerja di beberapa tempat. Semoga hasilnya sesuai harapan.
“Yaak!” seru Myungsoo membuyarkan lamunan Jiyeon. “Kau mau pulang apa tidak? Semua barang yang kita butuhkan tinggal dibawa ke kasir. Kalau kau mau di sini terus maka aku tidak keberatan.” Myungsoo mengayunkan langkahnya perlahan menuju kasir. Jiyeon mengikutinya di belakang.
Acara belanja hari ini cukup melelahkan bagi Myungsoo karena dia harus memilih barang-barang yang akan dibeli apalagi dia jug harus mendorong trolinya sendirian. Sebenarnya Jiyeon ingin membantu memilih beberapa barang. Namun Myungsoo melarangnya karena takut kalau Jiyeon malah membeli barang yang tidak dibutuhkan.

Di bawah terik matahari yang terasa panas di ubun-ubun, Myungsoo dan Jiyeon berjalan kaki membawa barang-barang belanjaan mereka. Sebenarnya mereka telag naik taxi, namun lagi-lagi nasib malang mengikutu mereka. Taxi yang membawa Myungsoo dan Jiyeon dalam perjalanan sejauh 4 km lebih kini harus masuk bengkel karena mogok. Myungsoo dan Jiyeon terpaksa harus berjalan kaki kurang lebih sejauh 1km dengan belanjaan yang banyak. Tentu Myungsoo tidak sanggup membawa semua barang itu. Dia meminta Jiyeon membawa barang-barang yang ringan. Ternyata Jiyeon juga sanggup membawa barang-barang yang berat karena fisik yeoja itu kuat. Sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo, Jiyeon mudah mengangkat barang yang sangat berat untuk ukuran yeoja.
Setelah berjalan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di villa. Pintu villa tidak dikunci. Pasti ada seseorang di dalam.
“Kalian berdua baru belanja?” tanya Lay yang sedang menikmati jus alpukat dingin. Dia baru saja membuatnya sendiri.
Myungsoo melihat jus yang dipegang oleh Lay, dia pun langsung mendekati Lay. “Hyung, bolehkah aku meminta sedikiit saja.”
Lay dan Jiyeon bengong. Bisa-bisanya Myungsoo minta jus milik Lay. Lay pun memberikan segelas jus itu untuk Myungsoo.
Kemudian Lay membantu Jiyeon membawa barang-barang belanjaan ke ruang makan. Mereka meletakkannya di atas meja makan yang tentu saja tidak jauh dari dapur.
Kriiiing…
Ponsel Lay berbunyi. Dilihatnya layar ponsel itu. Rupanya Luhan yang memanggil. “Yoboseo hyung. Wae?”
“Yaak, Lay-a, malam ini orangtuaku akan sampai di rumah.”
“Mwo?” Lay kaget. Jiyeon memandangnya aneh, ada apa gerangan?
“Apa ada yang gawat?” tanya Jiyeon.
Lay menggeleng.
“Yaak, dengarkan dulu. Orangtuaku akan pulang malam ini. Mereka meminta kita memasakkan makanan Jawa kesukaan mereka.”
“Aneh sekali… Kenapa orangtuamu menyulitkan kita seperti itu hyung? Keurom, eotteohkeyo?”
“Aku juga tidak tahu. Apa Hwayoung ada di sana?”
“Eoh. Wae? Apa kau memintanya untuk menyiapkan makanan itu? Oh itu ide buruk. Percuma hyung. Ia tidak bisa memasak.”
“Keunde, siapa lagi yang bisa membantu? Myungsoo?”
Lay seperti ingin muntah mendrngar nama yang disebutkan oleh Luhan barusan. “Bagaimana kalo Jiyeon?”
“Jiyeon? Apa dia bisa? Ya sudahlah, kau atur sendiri. Aku pulang jam 4, nanti akan langsng menjemput appa dan eomma di bandara. Oh ya, jika bahan-bahan yang diperlukan tidak ada persediaannya di rumah, kalian bisa pergi ke pasar tradisional.”
“Eoh, araseo, araseo.” Lay mematikan sambungan teleponnya. Myungsoo mencuci gelas bekas jus alpukat rampasannya, ia mendengar sedikit percakapan antara Lay dan Luhan. “Luhan hyung menghubungimu?” tanyanya yang baru saja meletakkan gelas di rak piring.
“Eoh.” Lay terdiam. “Mana Hwayoung?”
“Aku di sini.” Hwayoung berdiri di belakang Jiyeon. Sedangkan Myungsoo berdiri dekat rak piring yang berhadapan langsung dengan Jiyeon.
“Dengarkan semuanya. Malam ini, orangtua Luhan datang dari luar negeri. Mereka ingin merasakan masakan khas Jawa yang dimasak langsung di sini.” Lay mengakhiri pengumumannya.
“Mworago?” Hwayoung syok.
“Aneh sekali…” gumam Jiyeon.
Myungsoo bersikap cuek. Dia sudah hafal kebiasaan paman dan bibinya ketika baru saja tiba di rumah. “Ahjumma dan ahjussi menyebalkan sekali. Kenapa tidak sekalian meminta kita membersihkan genteng?” timpal Myungsoo yang langsungg mendapat signal dari Jiyeon untuk segera menutup mulutnya. Myungsoo mendengus kesal.
“Masalahnya siapa yang bisa memasak makanan Jawa? Kalau makan sih aku bisa,” kata Lay.
“Serahkan padaku.” Myungsoo angkat bicara. Kali ini sikapnya memang baik dan gentle, tapi bukan sikapnya yang diutamakan melainkan implikasi dari sikapnya.
“Mwo?” ketiga orang yang lain membelalakkan mata.
“Andwae!” seru Jiyeon. Ia tidak ingin melihat kekacauan lain yang ditimbulkan oleh Myungsoo.
“Yaak, apa maksudmu? Kau meremehkanku?” tanya Myunhsoo pada Jiyeon.
“Eoh, aku meremehkanmu. Wae?” ejek Jiyeon.
“Oppa, sebaiknya yang pergi ke pasar tradisional adalah orang yang bisa bahasa Indonesia dan mengerti bahan yang diperlukan,” usul Hwayoung yang mulai bicara setelah beberapa saat tadi hanya diam.
Semuanya setuju dengan usulan Hwayoung. Maka dari itu Lay dan Jiyeon yang berangkat ke pasar tradisional.
“Baguslah aku tidak terpilih. Aku ingin istirahat saja.” Myungsoo beranjak ke kamarnya di lantai dua.

Sepulang dari pasar tradisional, Lay dan Jiyeon mengeluarkan bahan-bahan yang mereka beli tadi lalu mengeceknya di list yang sudah dibuat Jiyeon. Ya, Jiyeon yang akan menjadi koki utama karena dia bisa masak beberapa makanan Indonesia terutama masakan Jawa.
Hari sudah petang. Sebagian bahan yang diperlukan untuk memasak telah disiapkan oleh Jiyeon dan Lay. Lay sedikit tahu tentang bumbu masakan Indonesia karena dari kecil namja itu tinggal di Indonesia.
Tap tap tap…
Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar dari arah pintu utama. Luhan membawakan barang-barang orangtuanya.
Di depan sepi tidak ada yang menyambut mereka karena semuanya berkumpul di dapur kecuali Myungsoo yang sbuk dengan kegiatannya di kamar.

Tuan dan Nyonya Xi memasuki ruang tengah villa milik mereka, terdengar suara candaan di dapur. Rupanya Jiyeon, Lay dan Hwayoung sedang sibuk menyiapkan alat dan bahan untuk acara mereka nanti. Luhan masuk ke dapur, memanggil mereka bertiga untuk menyambut kedua orangtuanya. Lay, orang yang pertama kali bersemangat menyambut orangtua Luhan. Disusul Hwayoung lalu Jiyeon.

“Annyeonghaseo ahjussi dan ahjumma. Welcome home…” Lay memasang senyum paling indah yang dimilikinya. Begitu juga dengan Hwayoung, ia senang bertemu dengan tuan dan nyonya Xi yang terkenal dengan kebaikan hati mereka, sama seperti puteranya.

Jiyeon membelalakkan matanya ketika pertama kali melihat tuan dan nyonya Xi. Ia tidak menyangka akan bertemu mereka di villa itu.

Jiyeon terkejut melihat orangtua Luhan yang baru datang dari China. Begitu juga dengan orangtua Luhan. Mereka tidak menyangka bisa bertemu dengan yeoja muda itu di villa milik mereka.
Luhan bingung lalu bertanya,”Ada apa ini? Kenapa appa dan eomma kaget melihat Jiyeon?”
Jiyeon hanya diam, membiarkan orangtua Luhan yang menjawabnya.

“Dia adalah yeoja yang membawa kesuksesan proyek terbesar di perusahaan kita, Luhanie…” jelas eomma Luhan dengan ekspresi senang.

Flashback.
Malam itu seperti biasanya, Jiyeon melakukan pekerjaannya di sebuah cafe yang tidak jauh dari pusat keramaian kota Seoul. Cafe itu bukan sembarang cafe. Semua kalangan baik kaum muda maupun kaum tua senang menghabiskan waktu mereka di cafe itu. Apalagi malam ini. Malam dimana Jiyeon menyanyikan lagu-lagu melow yang bisa menenangkan hati.
Dari arah pintu masuk cafe, terlihat beberapa orang sedang mencari tempat duduk. Kemudian salah satu pelayan menghampiri mereka. Ya, kumpulan orang-orang bisnis itu sedang ingin membahas proyek mereka di dalam cafe tempat Jiyeon bekerja. Setelah memesan beberaa jenis minuman non-alkohol, mereka mulai membahas proyek itu. Salah satu namja yang usianya sekitar 50 tahun, tampak kecewa dan menggelengkan kepalanya. Kemudian salah satu yeoja meminta Jiyeon menyanyikan lagu melow yang dia inginkan. Jiyeon tidak tahu lagu apa yang dimaksud yeoja itu. Tentu saja, karena lagu yang ia minta bukanlah lagu zaman sekarang, melainkan lagu lama, lebih tepatnya lagu 15 tahun yang lalu. Untuk menebus kesalahannya karena tidak mengenal lagu yang diinginkan yeoja customer itu, Jiyeon menyanyikan sebuah lagu melow Little by Little (Ost. Jungle Fish). Awalnya beberapa orang tidak menyukai lagu itu. Namun dengan suara Jiyeon yang khas dan sangat cocok menyanyikan lagu melow, semua pelanggan menyukainya, termasuk beberapa orang yang sedang membahas bisnis di cafe itu.
Yeoja yang request lagu pada Jiyeon tadi bertepuk tangan paling keras setelah Jiyeon menyelesaikan lagunya dengan indah. Yeoja yang notabennya adalah CEO perusahaan ternama di Taiwan itu sangat menyukai lagu dan suara Jiyeon. Ia berulang kali memuji Jiyeon bahkan mendatangi Jiyeon untuk berfoto selca bersama. Jiyeon bersedia menyenangkan hati pelanggan cafe itu. Akhirnya ia pun berkenalan dan sempar mengobrol dengan beberapa orang pengusaha tadi. Setelah melihat penampilan Jiyeon dan mendengar lagu yang dibawakan yeoja itu, sang Ibu CEO mau menandatangani kontrak dengan perusahaan keluarga Xi.
“Kalian harus berterimakasih pada yeoja ini,” ucap Ibu CEO itu yang tak henti-hentinya memuji Jiyeon.
Baru kali ini ada pengusaha ternama yang memuji kemampuan Jiyeon dalam olah vokal. Jiyeon merasa sangat senang.

“Gamsahamnida, berkau kau, CEO mau menandatangani proyek ini.” Seorang namja yang mirip sekali dengan Luhan menjabat tangan Jiyeon sebagai tanda terimakasih.

“Siapa namamu, nak?” tanya Ibu CEO.

“Park Jiyeon imnida…”

“Semoga hari-harimu menyenangkan, Park Jiyeon,” kata Ibu CEO itu.

“Gamsahamnida,” ucap Jiyeon.

Flashback end

“Senang bertemu denganmu, Park Jiyeon,” kata nyonya Xi dengan senyum sumringahnya.

“Nado, nyonya Xi,” balas Jiyeon. Ia tidak menyangka bahwa yeoja dan namja paruh baya yang pernah bertemu dengannya di kafe ternyata adalah orangtua Luhan. Pantas saja Luhan berhati malaikat, orangtuanya saja berhati emas. “Silahkan beristirahat nyonya dan tuan Xi…” ucap Jiyeon. Sejurus kemudian Jiyeon pergi ke dapur disusul Hwayoung. Mereka akan menyiapkan alat dan bahan untuk membuat makanan khas Indonesia. Karena yang paling tahu tentang makanan Indonesia adalah Jiyeon, maka Jiyeon lah yang mendominasi peran di dapur.

Semua bahan mentah telah disiapkan dalam tahap kedua, sebelum bahan-bahan itu dimasak sampai matang, Luhan memanggil kedua orangtuanya untuk memasak bersama lalu makan malam bersama.

Di atas meja sudah terhidang beberapa jenis makanan Indonesia. Koki utama malam ini adalah Jiyeon. Lagi – lagi Jiyeon mendapat pujian dari orangtua Luhan. Hal itu membuat Hwayoung merasa iri karena Jiyeon selalu mendapat perhatian dari banyak orang, padahal dia adalah orang baru. Semua orang yang ada di villa itu duduk mengelilingi meja makan yang berbentuk segi panjang dengan urutan, di salah satu sisi ada nyonya Xi, Luhan dan Jiyeon. Di sisi lainnya ada Lay, Hwayoung, dan Myungsoo. Tuan Xi duduk di ujung meja, menghadap meja yang di kanan-kirinya ada orang-orang yang duduk menikmati hidangan yang ada.

Saat sedang menikmati makanannya, Lay merasa perutnya mulas. Ia tidak dapat menahannya. Dalam hitungan detik, Lay sudah berada di dalam kamar mandi di lantai dasar. Semua yang duduk di sekitar meja makan itu heran melihat Lay yang terlalu berlebihan. Mungkin kondisi perutnya sedang tidak fit.

“Aigoo, Lay benar-benar aneh…” lirih Myungsoo. “Bukankah ini enak? Kenapa perutnya tiba-tiba mulas?”

Jiyeon tersenyum senang. Tanpa disadari, Myungsoo memuji masakan Jiyeon. Mungkin namja itu belum sadar kalau ucapannya tadi telah menyenangkan hati Jiyeon. Luhan menahan tawa mendengar kata-kata Myungsoo.

“Yaak, kalian berdua kenapa tersenyum begitu?” tanya Myungsoo kesal karena melihat Jiyeon dan Luhan yang tersenyum setelah mendengar kata-kata darinya tadi.

“Anhi,” jawab Jiyeon dan Luhan serempak.

Myungsoo melirik tajam pada kedua orang itu. Jiyeon pura-pura tidak melihat Myungsoo.

“Ah, air putihnya habis…” Nyonya Xi ingin berdiri mengambil air minum yang telah habis.

“Chakkaman, nyonya Xi. Biar aku saja yang mengambilnya.” Jiyeon mengambil wadah air dari tangan nyonya Xi lalu ia beranjak ke dapur. Pandangan Myungsoo mengekor ke arah Jiyeon.

Jiyeon baru saja mengisi wadah air minum itu dan segera memberikannya pada nyonya Xi di ruang makan.

Prang!! Tiba-tiba sebuah mangkuk yang berisi rawon jatuh tersenggol Jiyeon yang baru saja melintas di dekat mangkuk itu.

“Omo!” Jiyeon meletakkan wadah air itu lalu membersihkan celananya yang terkena noda rawon. “Eottohke? Pabbo!” Jiyeon menepuk jidadnya karena kebodohannya. Rawon yang sudah susah payah dibuat, malah tumpah di lantai dengan sia-sia.

“Waegurae?” Luhan menengok ke dapur. Takut terjadi apa-apa pada Jiyeon.

Jiyeon mendongak,”Ah, mianhae, oppa.”

Luhan melihat rawon yang tumpah dan mengotori lantai dapur yang berwarna putih itu. “Gwaenchana?” tanyanya pada Jiyeon yang masih belum selesai membersihkan pakaiannya.

“Gwaenchanayo…”

“Sebaiknya kau ganti pakaian dulu. Biar aku yang membawa airnya.”

“Nde. Mian oppa. Aku tidak sengaja.”

“Tidak apa-apa, cepatlah ganti pakaianmu.”

Jiyeon menuruti kata-kata Luhan. Ia naik ke lantai dua, menuju kamar mandi untuk membersihkan noda rawon itu lalu berganti pakaian.

Pintu kamar mandi tertutup. Jiyeon menguping di depan pintu kamar mandi, apakah di dalam ada orang atau tidak.

Tok tok!

“Nuguya?” tanya Jiyeon.

“Chakkaman. Sebentar lagi.” Terdengar suara Myungsoo dari dalam kamar mandi.

“Kim Myungsoo?” gumam Jiyeon. “Yaak! Palliwa! Palli!”

Cekleeek…

“Yaak, jika ada orang di dalam kamar mandi jangan disuruh cepat-cepat. Untung saja aku sudah selesai.” Myungsoo melangkah keluar dari depan pintu kamar mandi. Ia melihat pakaian Jiyeon yang kotor. “Igeo, waeyo?” Myungsoo menunjuk noda di pakaian Jiyeon, bertanya apa yang telah terjadi.

“Aku menumpahkan rawon di dapur.”

“Mwo? Kau menumpahkannya? Habis?”

“Yaak, aku tidak sengaja. Mana mungkin aku menumpahkannya dengan sengaja? Michyeoseo? Minggir!” Jiyeon menerobos masuk ke dalam kamar mandi.

Myungsoo tidak melanjutkan makan malamnya. Dia memilih minum jus segar yang ia buat sebelumnya. Meski rasanya tidak seenak jus di restoran, dengan dahaga tingkat tinggi, Myungsoo mampu menghabiskan dua gelas jus dalam ukuran jumbo.

“Waaah, segar sekali…” Myungsoo menoleh kanan-kiri. Ia ingin membuat jus lagi.

Bruukk!!

Myungsoo kaget. Terdengar suara sesuatu jatuh dari arah kamar mandi. Myungsoo yang sedang berada tidak jauh dari kamar mandi segera meluncur menuju sumber suara. Pintu kamar mandi tidak ditutup rapat. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi.

“Omo!” seru Myungsoo yang terkejut melihat Jiyeon basah kuyup, terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin. “Waegurae?” Ia melihat Jiyeon meringis kesakitan.

“Aku terpeleset kemudian tak snegaja menekan kran air.”

Myungsoo mendesah. Ia sungguh lelah melihat kebodohan Jiyeon. anhi, lebih tepatnya kecerobohan Jiyeon yang memperlihatkan kebodohannya. Ia mengambil handuk kering yang tersedia di kamar mandi lalu memberikannya pada Jiyeon. “Ireona!”

Jiyeon menerima handuk itu dari Myungsoo lalu mengeringkan tubuhnya yang sudah berganti pakaian tapi malah tersiram air. Jiyeon berusaha berdiri, tapi kaki kanannya terkilir.

“Auw…”

“Wae?” tanya Myungsoo.

“Appo…”

“Kakimu kenapa?” tanya Myungsoo. Tanpa aba-aba, namja itu memijat kaki kanan Jiyeon.

“Yaaak! Sakit sekali. Pelan-pelan saja.”

“Letakkan handuk itu di atas tubuhmu.” Myungsoo mengangkat tubuh Jiyeon keluar dari kamar mandi.

“Kalian kenapa?” tanya Hwayoung yang baru saja selesai makan malam. Ia berpikir yang tidak-tidak tentang Myungsoo dan Jiyeon.

Myungsoo tidak menggubris pertanyaan Hwayoung. Ia tetap fokus membawa Jiyeon ke kamarnya. Hwayoung yang mulai iri pada Jiyeon, semakin gelap hatinya. Saat ini mungkin bisa dikatakan bahwa Hwayoung tidak suka pada Jiyeon. Tatapan membunuh ia luncurkan pada Jiyeon yang kini telah memasuki kamarnya.

“Semua orang terpikat olehnya,” gumam Hwayoung.

“Gomawoyo…” ucap Jiyeon saat Myungsoo merebahkannya di atas ranjang.

“Tidak bisakah kau lebih berhati-hati? Kecerobohanmu itu sangat mengganggu orang lain.” Myungsoo mengatur nafasnya. Ia duduk di samping Jiyeon, di tepi ranjang.

“Yaaak! Kalau kau tidak ikhlas, kenapa menolongku?” Jiyeon sedikit kesal pada Myungsoo. Tapi dalam hati, yeoja itu bersyukur untung ada Myungsoo yang mau menolongnya. Chakkaman. Bagaimana dnegna Hwayoung? Dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Myungsoo. Ini tidak bisa dibiarkan. “Kim Myungsoo…” panggil Jiyeon.

Myungsoo masih di depan pintu kamar Jiyeon. tiba-tiba yeoja itu memanggilnya. Myungsoo membalikkan badan. “Wae?”

“Bagaimana dengan Hwayoung? Dia pasti berpikir yang macam-macam tentang kita.”

“Biarkan saja,” jawab Myungsoo enteng. Namja itu memang cuek tak tak peduli pada apapun atau siapapun. Selama ia tidak menyakiti seseorang, Myungsoo tidak khawatir pada apapun.

Keesokan harinya, Jiyeon memaksa kakinya untuk bergerak. Alhasil, ia bisa berjalan meski harus tertatih-tatih. Kenapa nasib buruk menghampirinya lagi? Bukankah kakinya pernah cidera saat di Bali beberapa waktu yang lalu. Sekarang hal itu malah terulang lagi. Jiyeon hanya bisa mendesah pelan, meratapi nasib buruk yang selalu menghampirinya.

“Kau mau ini?” tanya Myungsoo pada Jiyeon yang tengah duduk melamun di depan tv. “Yaak, kau itu nonton tv atau melamun? Kalau kau melamun, matikan saja tv-nya.” Myungsoo duduk di samping Jiyeon sambil menikmati coklat yang dibelinya waktu berbelanja bersama Jiyeon.

Jiyeon mengambil coklat yang diberikan oleh Myungsoo. Tumben namja itu baik padanya, batin Jiyeon. Ia menatap Myungsoo lekat-lekat. Myungsoo yang menyadari tatapan Jiyeon, tak berani menatap balik yeoja yang duduk di sampingnya.

“Yaaak, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku menyebalkan lagi? Bukankah aku sudah berbaik hati padamu?” tanya Myungsoo yang berceloteh ria. Jiyeon masih diam tak menjawab. Ia tetap menatap Myungsoo lekat-lekat.

“Oppa!” seru Hwayoung. Myungsoo dan Jiyoen menoleh. “Ayo pergi jalan-jalan denganku!” ajak Hwayoung yang merasa kesepian karena Lay sedang sibuk bekerja.

“Shireo!” jawab Myungsoo sangat singkat. Ia menolak ajakan Hwayoung karena yeoja itu pasti akan bermanja ria padanya.

“Waeyo? Apa karena ada Jiyeon?” tanya Hwayoung sedikit menusuk perasaan Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan kening, merasa namanya dibawa-bawa oleh yeoja yang seumuran dengannya. Jiyeon mulai curiga pada Hwayoung karena tatapannya persis tatapan orang yang tidak suka.

“Aku benar, kan?” tanya Hwayoung lagi.

Myungsoo melirik Jiyeon yang tertunduk, entah ada apa dengan yeoja itu. “Gurae. Kau mau kemana?” tanya Myungsoo yang kini menerima ajakan Hwayoung.

Yeoja itu senang bukan kepalang. Jarang-jarang Myungsoo mau diajak keluar. Myungsoo dan Hwayoung meninggalkan Jiyeon yang masih berkutat pada coklat pemberian Myungsoo tadi.

Hari ini seharusnya Jiyeon mulai bekerja. Tapi apa boleh buat, kakinya masih terasa cenut-cenut. Ia menolak diperiksakan ke dokter atau ke rumah sakit. Jiyeon merasa hal itu sangat sia-sia karena yang terluka kan hanya kakinya.

Jiyeon pov.

Aku bosan di sini sendirian. Luhan oppa pergi kerja. Tuan dan nyonya Xi pergi jalan-jalan ke Sanur. Myungsoo dan Hwayoung juga pergi. Aku juga ingin pergi. Tapi bagaimana aku bisa berjalan normal? Dengan kondisiku yang seperti ini, mana mungkin aku bisa pergi jalan-jalan. Seharusnya hari ini aku sudah mulai bekerja. Aku sungkan sekali pada Luhan oppa. Ia sudah mencarikan pekerjaan untukku. Bahkan Hwayoung iri dengan perlakuan Luhan oppa padaku. Semua orang baik padaku, untuk saat ini. aku tidak tahu apakah suatu saat keadaan akan berbalik? Sebelum itu semua terjadi, aku harus kembali ke Korea. Hanya perlu uang 5 juta lebih sedikit untuk bisa memesan tiket pesawat ke Korea.

Tiba-tiba aku ingat Chorong eonni. Aku sangat merindukan eonni. Dimana eonni? Apa yang sedang eonni lakukan? Aku benar-benar ingin pulang.

“Jiyeon-a, waegurae?”

Aku tersentak kaget. Suara itu, bukankah itu suara Lay oppa? Kenapa dia ada di sini? “Ah, anhi oppa. Kau sudah pulang?”

“Ajik. Aku ke sini untuk mengambil tasku yang ketinggalan di kamar Luhan hyung. Kau kenapa? Apa kau menangis?” tanya Lay khawatir.

“A, anhiyo… aku hanya rindu sekali pada eonniku.”

“Bersabarlah… Ah, kalau kau ingin kembali ke Korea, aku bisa memesankan tiket untukmu. Gratis.”

“Tidak usah oppa. Aku akan mengumpulkan uang sendiri.” Aku menolak tawaran Lay oppa. Tentu saja, karena aku tidak ingin Hwayoung benar-benar membenciku. Tapi kenapa yeoja itu berubah dingin padaku?

“Mau ikut denganku?” tanya Lay oppa. Aku bingung. Maksudnya ikut kemana?

“Eodi?” tanyaku.

“Tempat pembuatan souvenir. Kau ingin melihat proses pembuatan souvenir?”

Aku ingin sekali pergi dengan Lay oppa. Tapi bagaimana bila nanti Hwayoung melihat kami?

“Oppa, sebenarnya aku ingin sekali ikut. Tapi bagaimana jika Hwayoung melihat kita lalu ia salah paham? Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Tidak usah khawatir…”

Akhirnya aku ikut dengan Lay oppa ke pusat pembuatan souvenir. Di sana banyak pekerja yang sudah sangat mahir dalam berkreasi. Aku benar-benar takjub melihat mereka, apalagi hasil karya mereka yang benar-benar daebak. Aku belum pernah melihat proses pembuatan souvenir secara langsung seperti ini. ini benr-benar luar biasa. Mereka sangat kreatif. Aku suka botol yang di dalamnya ada miniatur perahu dan kapal laut. Bagus sekali. Bagaimana cara membuatnya ya?

Jiyeon pov end.

“Yaak, sedang apa kau di sini?” Seseorang menepuk pundak Jiyeon agak keras sehingga Jiyeon terlonjak kaget. Ia menoleh.

“Hwayoung-a…” lirih Jiyeon kaget melihat Hwayoung ada di tempat itu.

“Kau ke sini dengan Lay oppa?” tanya Hwayoung lagi. Nada bicaranya pada Jiyeon begitu sinis.

“Eoh.” Jiyeon mengangguk pelan.

“Berani-beraninya kau pergi dengan Lay oppa. Apa kau juga ingin merayu namjachinguku? Apa Luhan oppa dan Myungsoo oppa tidak cukup untukmu sampai kau juga merayu Lay oppa?”

Dek! Kata-kata Hwayoung sangat menusuk hati yang paling dalam. Nafas Jiyeon terasa sesak. Jantungnya berdetak tak karuan. “A, apa maksudmu?”

“Yaak! Nappeun yeoja! Kau sudah merayu Luhan oppa dan Myungsoo oppa. Kau sudah menarik perhatian pada siapa saja. Tapi tak akan ku biarkan kau merayu Lay oppa.”

“Hwayoung-a, apa maksud kata-katamu itu?”

“Kau masih tidak mengerti? Kau itu sungguh memalukan. Aku kira kau yeoja baik-baik. tapi ternyata kau menyembunyikan dirimu yang sebenarnya di balik topengmu yang manis itu.”

“Kenapa kau menuduhku seperti itu? Apa salahku padamu? Katakan apa yang telah ku perbuat sehingga kau mengatakan kata-kata itu padaku?” tanya Jiyeon. Ia tidak dapat menahan airmatanya lagi. Ia memang baru mengenal mereka semua. Tapi itu tidak berarti bahwa ia merayu para namja untuk mendapat perhatian dan belas kasihan. Jiyeon masih punya harga diri.

Hwayoung terdiam. Ia berusaha menstabilkan emosinya. “Keurom, kembalilah ke Korea atau pergi dari kehidupan kami. Aku tidak akan merasa tenang jika kau masih bersama kami.”

Jlegeeerr!! Jiyeon tidak menyangka Hwayoung akan berubah sikap seperti itu. Yeoja itu sebenarnya baik tapi mungkin dia salah paham pada Jiyeon. kata-kata yang baru saja ia dengar, apakah itu artinya ia diusir dari kehidupan Luhan, Myungsoo, Lay dan Hwayoung? Tapi apa yang sudah ia perbuat? Apakah salah jika semua orang baik padanya?

“Hwayoung-a, biarkan aku tetap bersama kalian sampai aku bisa mengumpulkan uang untuk kembali ke Korea. Aku sama sekali tidak memiliki uang untuk kembali ke sana. Lihat, dompetku kosong tak ada selembar uang pun.” Jiyeon menunjukkan dompetnya yang kosong pada Hwayoung. Uang yang tersisa di dompetnya sudah habis ia gunakan untuk membeli kebutuhan tambahan yang diperlukan oleh seluruh penghuni villa. Jiyeon tidak ingin menjadi beban untuk siapapun, jadi dia juga memberikan uangnya untuk memenuhi kebutuhan bersama.

“Igeo.” Hwayoung melempar sejumlah uang ratusan ribu rupiah kepada Jiyeon. “Sekarang kau bisa kembali ke Korea. Cepat pesan tiketmu agar secepatnya kau bisa enyah dari kehidupan kami.”

Jiyeon menahan tangisnya. Hatinya sangat terluka. Bagaimana bisa Hwayoung mengatakan itu padanya?

“Kau tidak mau? Itu artinya kau benar-benar tidak mau pergi dari kehidupan kami.”

“Cukup! Hentikan kata-katamu itu atau aku akan menamparmu!” Jiyeon marah pada Hwayoung. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh yeoja itu. “Kau tidak perlu mengusirku seperti itu. Aku akan pergi sekarang juga.” Jiyeon meninggalkan Hwayoung, meninggalkan pusat pembuatan souvenir itu dengan langkah yang tertatih-tatih.

Myungsoo yang sedang asyik melihat orang memahat kayu untuk membuat patung di halaman depan, tak sengaja melihat Jiyeon yang baru saja keluar dari tempat itu.

“Jiyeon? Sepertinya memang Jiyeon. Tapi apa dia benar-benar Jiyeon? Kalau iya, dia mau pergi kemana?” Myungsoo ingin mengejar yeoja yang ia kira adalah Jiyeon tapi ia ragu. Kalau bukan Jiyeon, ia pasti akan kena malu lagi.

Di dalam tempat pembuatan souvenir itu, Lay mencari keberadaan Jiyeon tapi ia malah bertemu dengan Hwayoung.

“Chagi, apa kau lihat Jiyeon?”

“Anhi. Wae? Apa kau mengajaknya ke sini?”

“Eoh, dia kesepian di villa sendirian. Jadi aku mengajaknya ke sini untuk menghiburnya,” kata Lay dengan jujur. Lay adalah salah satu orang yang menanamkan modalnya untuk mendirikan pusat pembuatan souvenir itu. Jadi, sewaktu-waktu ia bisa dtang dan pergi ke tempat itu.

Tbc.

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s