하늘에 계시는 하느님 “The King of Heaven” [Chapter – 3]

THE KING OF HEAVEN 1

1 | 2 |

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Wu Yi Fan | Choi Jinri
Co. Starring:
Kim Jongin | Kim Jaejoong | Kim Ji Won | Lee Ahreum

Bae Soo Ji | Kwon Yuri | Zhang Yixing |

Ham Eunjung | Kim Hyuna
Genre:
Fantasy | Romance | AU | Drama
Length:
Multichapter
Rating:
PG – 13

 

Jiyeon dan Myungsoo beserta kuda yang mereka naiki telah berjalan semakin jauh dari istana megah milik kerajaan Hanja. Sementara itu, Kim Ji Won berlari menyusul Jiyeon ke tempat perawatan kuda untuk mengambil kuda miliknya dan turut serta menangkap perampok bersama Myungsoo. Langkah Ji Won semakin cepat namun tak lama kemudian, ia mengurangi frekuensi ayunan kaki jenjangnya. Dengan nafasnya yang masih terengah-engah karena berusaha berlari secepat mungkin, Ji Won telah menginjakkan kaki di tempat perawatan kuda. “Sepi?” lirihnya sambil celingukan kanan-kiri mencari sosok Jiyeon atau Myungsoo.

“Di mana Park Jiyeon? Gadis itu berlari sangat cepat.” Ji Won mengusap peluh yang menetes di pelipis kanannya. Ia menengok kanan-kiri-belakang untuk kedua kalinya namun tak ada siapapun di tempat itu. Tempat perawatan kuda tampak sepi karena sebagian besar kuda-kuda yang ada di tempat itu telah digunakan berpatroli oleh pasukan Kim Myungsoo. Penjaga tempat itu pun tak menampakkan batang hidungnya sehingga Ji Won menjadi kelabakan mencari Jiyeon dan Myungsoo. “Kenapa sepi? Apakah aku ditinggal? Aku benar-benar ditinggal?” tanya Ji Won entah pada siapa pertanyaan itu ia tujukan. “Kim Myungsoo!” panggilnya saat memasuki tempat perawatan kuda di mana kuda miliknya tak ada di kandang.

Ji Won terkejut melihat beberapa kandang kuda yang telah kosong. “Aku ditinggal oleh Myungsoo. Yaaak! Kim Myungsoo! Kau benar-benar bukan kakak yang berguna!” amuk Ji Won dalam kekecewaan yang berat. “Beraninya dia membohongiku, mengambil kudaku, dan mengajak Jiyeon berpatroli,” umpatnya dalam perjalanan kembali ke kamarnya. Ekspresi kekesalannya tak dapat ia sembunyikan dari pandangan seseorang.

“Kim Ji Won!”

Sontak Ji Won pun menoleh dalam diam. Ia menatap kedua manik mata milik kakak tirinya, Yi Fan yang tak sengaja bertemu dengannya di depan istana putri. Ji Won menarik nafas dan menghembuskannya sesuka hati karena kekesalannya pada Myungsoo masih terasa hangat di hati dan pikirannya. “Ada apa?” tanya Ji Won acuh. Gadis itu sedikit terkejut mendengar Yi Fan memanggil namanya lengkap dengan embel-embel marga ‘Kim’, sama seperti dirinya memanggil Myungsoo.

Yi Fan menarik ujung bibir sebelah kanan lalu mendekati Ji Won yang berdiri mematung di bawah pohon sakura. “Ada apa? Kenapa malam-malam seperti ini kau berkeluyuran dengan nafas terengah-engah?

“Kakak benar-benar ingin tahu?”

Yi Fan mengangguk. “Eoh, ada apa?”

“Baiklah, aku ceritakan singkat saja. Aku kedal pada putra sulung ayahanda yang bernama Kim Myungsoo.” Mendadak Ji Won terdiam. Ada satu kata yang tak pantas ia ucapkan pada Yi Fan.

“Kenapa lagi, eoh?”
Ji Won menautkan kedua alisnya. “Maaf, maafkan aku. Hah! Mulutku selalu keceplosan. Maksudku, Kim Myungsoo putra kedua ayahanda Baginda Raja.”

Yi Fan tersenyum lagi. “Aku rasa itu tidak penting.”

Ji Won terbelalak. “Tidak penting?”

“Eoh, kenapa?”

“Tidak ada apa-apa” jawab Ji Won ragu. “Aku… ingin tidur.”

Hentakan kaki beberapa kuda terdengar jelas di pinggir hutan yang pekat. Hutan itu dipenuhi oleh pohon-pohon berusia puluhan tahun yang tingginya bisa mencapai 15 meter. Myungsoo dan pasukannya berhenti di pinggir hutan untuk mengatur strategi patroli. Saat mereka berpatroli beberapa jam yang lalu, ada sekompok perampok yang berusaha memasuki wilayah permukiman penduduk. Salah satunya berhasil ditangkap oleh anak buah Myungsoo setelah perampok itu menyerang Jiyeon.

12 orang yang ikut berpatroli harus berpencar agar dapat mengepung para perampok yang berusaha kabur. Penyebaran pasukan disesuaikan dengan jumlah arah mata angin yaitu utara, barat, timur, dan selatan. 3 orang akan berpatroli di satu arah tersebut.

“Park Jiyeon, jika terjadi sesuatu, larilah secepat mungkin dan jangan menoleh ke belakang. Berlarilah menuruti cahaya yang dapat kau lihat,” kata Myungsoo pada Jiyeon yang duduk di depannya.

“Eoh, aku bisa melakukannya,” sahut Jiyeon dengan entengnya. “Aku adalah aktris yang menguasai wushu dan taekwondo. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”

Myungsoo tersenyum dingin. “Lalu kenapa saat diserang perampok tadi kau tidak menghindar atau melawan?”

“Itu karena aku terkejut dengan suasana gelap di hutan. Ah, percuma aku ceritakan padamu. Tadi saat kau menemukanku, seharusnya aku sudah tidur nyenyak di atas ranjangku. Aku bukanlah orang yang berasal dari zaman ini. Duniaku lebih indah daripada duniamu.”

“Sudahlah, apapun ceritamu, aku tidak akan percaya begitu saja.”

Jiyeon kesal. “Kau perlu bukti? Baju yang aku kenakan tadi adalah buktinya. Maksudku sebelum aku menggantinya dengan hanbok ini.” Ditatapnya hanbok yang ia kenakan dengan kesal. “Jika kau perlu bukti, ayo kita kembali ke tempat saat aku diserang oleh perampok tadi. Aku yakin di sana lah tempat berpindah waktu.”

“Baiklah. Kita ke sana sekarang.” Myungsoo memacu kudanya menuju ke tengah hutan yang sangat gelap dan pekat bahkan sinar bulan tak mampu menembus hutan tersebut untuk sekedar berbagi cahaya.

Jiyeon merasa sedikit merinding karena suasana sunyi, senyap, gelap, dan dingin. Semakin masuk ke dalam hutan maka semakin dingin pula yang dirasakan kulit Jiyeon di balik kain hanbok yang tebal.

“Ada masalah?” tanya Myungsoo yang melihat Jiyeon sedikit menggigil akibat terpaan angin malam yang dingin.

“Tidak ada,” jawab Jiyeon yang tidak ingin Myungsoo tahu kalau dirinya sedang menggigil. Kedua telapak tangannya terasa dingin seperti baru saja memegang es.

Ting ting ting!
Terdengar suara dua pedang sedang beradu. Myungsoo menoleh ke arah belakang. Seorang prajurit tengah bertarung dengan seseorang berpenampilan mencurigakan yang diduga sebagai perampok.

Hyak!
Myungsoo memacu kecepatan lari sang kuda jantan milik adiknya.

“Pangeran, dua orang lari ke selatan!” seru seorang prajurit yang tiba-tiba datang dengan membawa seorang tahanan berpakaian gelap. Siapa lagi kalau bukan perampok yang meresahkan warga.

Myungsoo melihat tubuh perampok yang terikat tangan dan kakinya tergeletak di atas punggung kuda yang ditunggangi oleh prajurit itu. “Kerja yang bagus!” puji Myungsoo.

Tak lama kemudian, pangeran Kerajaan Hanja nan tampan mengejar dua orang perampok yang lari ke arah selatan. Myungsoo semakin keras memacu kuda milik Ji Won. Kuda itu pun semakin cepat berlari.

Dengan keadaan menggigil, Jiyeon berusaha bertahan untuk tidak membuat Myungsoo cemas. Ia tahu bahwasanya saat ini pangeran Kim itu tengah serius mengejar dan menangkap perampok.

“Berhenti!” teriak Myungsoo seraya mengacungkan sebilah pedang pada seseorang yang berkuda tepat di depannya. Karena tak mendapat respon, akhirnya Myungsoo membidikkan pedang itu ke arah perampok yang berusaha melarikan diri.

Sriiing!!
Bidikan Myungsoo meleset. Dia segera mengambil pedang itu yang tertancap pada sebuah poho besar. “Tidak mungkin. Berhenti di sana atau aku bunuh kau!” teriaknya lagi namun tetap tak direspon. Perampok itu malah masuk ke dalam tenga hutan yang amat lebat, ditumbuhi pepohonan tinggi dan rumput ilalang yang tinggi.

“Haruskah kita mengejarnya sampai ke tempat ini? Myungsoo-ssi, bukankah tengah hutan malah lebih berbahaya?” Jiyeon semakin menggigil diserang dinginnya angin malam di tengah hutan lebat. “Aakh!” pekik Jiyeon saat hanbok yang ia kenakan tersangkut ranting pohon rindang dan membuat kain berkualitas super itu robek.

“Ada apa?” Myungsoo menatap Jiyeon yang semakin menggigil dan ketakutan.

“Tak bisakah kita kembali saja?” lirih Jiyeon dengan kepala tertunduk.

Myungsoo masih menatap Jiyeon yang duduk di depannya. “Tidak bisa.”

“Aaakh!!” jerit Jiyeon dengan suara melengking.

Bruuuukkk!!

Cahaya lampu yang terang benderang di sebuah balkon apartemen mewah milik seorang aktris telah sukses menyilaukan mata milik kedua insan yang terjebak dalam perputaran waktu.

Jiyeon terbaring di atas lantai balkon dan Myungsoo memeluknya dari belakang. Keduanya tak sadarkan diri setelah melalui perjalanan waktu yang pasti akan membuat keduanya bingung.

Beberapa detik kemudian, Jiyeon menyadari ada sorot cahaya yang menyilaukan matanya. Gadis yang memiliki postur tubuh tinggi itu perlahan membuka kedua matanya yang terpejam. “A, apa ini?” Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya dan berharap dia tidak sedang bermimpi. Menurutnya, mimpi indah hanya membuatnya putus harapan dan kecewa. Karena sebab itulah Jiyeon selalu ingin bangun  dari tidurnya di tengah malam. Selain itu, karena mimpi lah yang membawanya ke dunia aneh di mana ia bertemu dengan laki-laki yang kini sedang memeluknya dari belakang.

Tak hanya Jiyeon yang berusaha menyesuaikan intensitas cahaya dengan matanya. Kim Myungsoo, putra seorang raja dari kerajaan yang berdiri ribuan tahun yang lalu terlalu kaget menyadari tempat keberadaannya saat ini. “D, di manakah ini?”

Jiyeon telah berdiri tegak di depan pintu, tepat di depan Myungsoo yang tak berdaya menegakkan kedua kakinya. Ia membelalakkan kedua bola mata indahnya menatap Myungsoo dan menyadari kalau pangeran kerajaan kuno itu masuk ke dalam mesin waktu bersamanya.

“Katakan! Tempat apa ini? Kenapa banyak sekali cahaya di malam hari?” Myungsoo nampak bingung melihat cahaya terang dari lampu-lampu yang terpasang di dalam apartemen Jiyeon.

Tak peduli tentang pendapat Myungsoo mengenai apartemennya, Jiyeon meluncur mendekati Myungsoo dan bertatap mata dengannya. “Terimakasih  aku benar-benar berterimakasih padamu, Myungsoo-ssi.”

Myungsoo mengangkat kedua alis tebalnya. “Apa maksudmu?”

Jiyeon tersenyum lebar dan tak kunjung mengalihkan tatapannya dari sosok tampan yang berdiri di depannya. “Terimakasih karena kau telah mengantarku kembali ke zamanku. Tolong jangan terkejut. Sekarang adalah hari Senin tanggal 22 Juni 2015 Masehi.”

“Apa? Kau pasti menipuku!” Myungsoo tak mempedulikan seberapa tingginya gedung yang ia pijak. “Ooh…” lirihnya saat melihat ke bawah, ada banyak kendaraan berjalan bagaikan mobil mainan, lampu berkerlap-kerlip dan banyak orang berjalan di trotoar. Myungsoo berlari ke dalam kamar Jiyeon dengan menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan.

Jiyeon terkikik geli. Ekspresi Myungsoo yang takut ketinggian membuatnya sejenak melupakan apa yang seharusnya ia lakukan setelah kembali ke tahun 2015.

Kriiiing!!
“Siapa yang menelepon malam-malam begini? Sungguh tidak sopan!” Dengan kasar, Jiyeon mengambil ponsel keluaran brand Korsel terbaru. Dilihatnya nama yang tertera jelas di layar ponselnya. KIM JONGIN.

Tit!
“Tidakkah kau lihat jam berapa sekarang, eoh? Aku tutup!” Jiyeon berbicara agak keras hingga berhasil mengalihkan perhatian Myungsoo. Laki-laki itu menggelengkan kepala pelan, heran mendengar suara lantang dari seorang gadis yang menurutnya tak tahu sopan santun.

“Tunggu! Jiyeon-a…” Terdengar suara Jongin yang belum menghadirkan niat memutus sambungan telepon itu.

“Apa lagi? Kau mau bilang kalau Hyuna adalah belahan jiwamu, kekasih hatimu, pujaanmu, separuh nyawamu atau yang lain? Beraninya kau meneleponku setelah melakukan apa yang membuatku sangat sakit hati. Kau tahu betapa sakit rasanya hingga aku tak sanggup bernafas. Kau benar-benar berengsek, Kim Jongin!” umpat Jiyeon menahan emosi yang akan meledak jika ia terus mendengar suara kekasihnya yang kurang ajar.

Klik!
Jiyeon memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia sama sekali tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh Jongin. Untuk saat ini, menghindar dari laki-laki itu adalah cara terbaik untuk meredam emosi dan menenangkan hatinya.

“Berengsek!” umpat Jiyeon lirih.

“Bagaimana bisa seorang gadis berbicara kasar seperti itu?” Tiba-tiba suara Myungsoo merusak gendang telinga Jiyeon yang tidak ingin mendengar sesuatu yang membuatnya kesal.

“Tidakkah kau lihat kalau aku sedang kesal, eoh? Siapapun kau, dari manapun dirimu berasal, aku tidak peduli sama sekali untuk bicara kasar juga padamu. Seharusnya kau menutup mulutmu saat sedang melihat orang lain marah.”

“Pantas saja tak ada orang yang dekat denganmu.”

Jiyeon membulatkan bola matany. “Apa? Bicara apa kau? Seharusnya kau tidak mengatakan apapun ketika seseorang sedang marah. Bagaimana jika aku yang melakukan itu padamu? Kau pasti akan kesal, kan?”

“Baiklah. Sekarang katakan cara untuk kembali ke kehidupanku.” Myungsoo mengeluarkan tatapan dinginnya pada Jiyeon yang masih mengenakan hanbok.

“Kau pikir aku tahu caranya? Jika aku tahu cara kembali dari masa lalu ke masa sekarang, aku pasti sudah berada di tempat ini sejak tadi. Bagaimana bisa ada seorang pangeran yang membuat orang lain kesal? Malangnya kerajaan Hanja….”

Myungsoo melangkah beberapa langkah mendekati Jiyeon. “Apa katamu?”

“Lupakan! Aku tidak ingin berdebat denganmu. Tak ada gunanya. Lagipula kau adalah orang asing yang secara kebetulan menolongku. Tunggu di sini!” Jiyeon berjalan menuju kamar mandinya yang berada di dalam kamar tidur.

Beberapa menit kemudian
Tap tap tap!
Suara alas kaki setengah diseret terdengar semakin nyaring melalui indera pendengaran Myungsoo.

“Kau akan kembali ke tempatmu, kan? Bawa ini!” Jiyeon menyerahkan hanbok yang ia kenakan tadi kepada Myungsoo. “Sampaikan pada Ji Won dan dayang yang menyiapkannya untukku.”

Myungsoo memandang aneh pada seperangkat hanbok yang telah dikemas dalam sebuah kotak oleh Jiyeon. “Kau harus mencucinya dulu baru bisa mengembalikannya.

Jiyeon mengerutkan keningnya dan menanggapi ucapan Myungsoo dengan serius. “Baiklah. Tunggu di sini. Aku akan segera kembali membawakan hanbok ini dalam keadaan bersih.” Dengan terpaksa, Jiyeon membalikkan badannya dan mengambil dompetnya. Gadia itu hendakembawa hanbok itu ke laundry terdekat dari apartemennya.

“Tunggu!”

Satu kata diucapkan dari mulut Kim Myungsoo dan membuat Jiyeon menghentikan langkahnya. Ia memutar badan.

“Apa lagi?” tanya Jiyeon kesal.

“Tidak usah dikembalikan. Ambil saja. Ji Won dan dayang tak akan membutuhkannya.”

Jiyeon menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Rupanya Myungsoo ingin mempermainkannya. Jiyeon berpikir apakah dirinya begitu rendah di hadapan pria? Kenapa tak ada seorang pria pun yang menyukainya. Nasibnya begitu miris.

“Kenapa diam?”

“Terimaksih,” ucap Jiyeon sekilas dengan ekspresi datarnya. “Aku….”

Kriiing!
Jiyeon melihat nama seseorang di layar ponselnua. Kim Jongin lagi.

“Katakan inti dari kata-katamu!” ketus Jiyeon.

“Kita putus! Sekarang benar-benar putus.”

Bahu Jiyeon nampak naik turun dengan frekuensi tinggi. Keduaa matanya terpejam sesaat. Nafasnya benar-benar sesak.

Bruuuk!
Kotak hanbok yang dipegangnya jatuh begitu saja dari tangan Jiyeon. Kata ‘putus’ telah membuatnya tak berdaya. Jongin benar-benar memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

Jiyeon menahan airmata yang ingin menyeruak keluar dari kedua ujung matanya.

Klik!
Telepon terputus. Jiyeon terduduk lemas di atas lantai. Sementara itu, Myungsoo bertanya-tanya, apa yang terjadi pada gadis kasar seperti Jiyeon? Wajahnya terlihat memerah dan tak ada suara.

“Jiyeon-ssi….”

Jiyeon tak mengindahkan keberadaannya. Dia tetap menunduk sedih. Waktu berjalan pelan. Setelah beberapa menit menunduk lesu, Jiyeon mengeluarkan airmatanya namun sama sekali tak ditunjukkan pada Myungsoo.

“Jiyeon-ssi, apakah terjadi sesuatu yang buruk?”

Pelan tapi pasti, Jiyeon mengangkat dagunya dan menatap Myungsoo yang berdiri di epannya. Tangisnya semakin terdengar jelas.

Deg!
Baru kali ini Myungsoo melihat gadis selain Ji Won menangis di depannya. “Jiyeon-ssi….”

“Pergilah!” pinta Jiyeon dengan suara lirih.

Myungsoo menjadi serba salah setelah Jiyeon memintanya untuk pergi. Tunggu, kata ‘pergi’ membuat Myungsoo bertanya-tanya pergi ke mana. “Kau tahu bahwa aku baru saja menginjakkan kaki di dunia aneh seperti ini. Sekarang kau memintaku untuk pergi? Lalu… kenapa kau menangis?”

“Myungsoo-ssi, jadilah seorang pria yang bertanggung jawab dan tidak pernah mempermainkan hati seorang wanita.”

“Apa maksudmu?” tanya Myungsoo bingung dengan arah pembicaraan Jiyeon.

Jiyeon mengusap airmata yang membasahi sebagian besar bagian wajah cantiknya. “Aku… baru saja dibuang oleh kekasihku. Kau tahu bagaimana rasanya? Sakit, sakit dan sakit. Terlebih kekasihku telah berselingkuh dengan orang yang baru-baru ini dekat denganku.”

“Maafkan aku, Jiyeon-ssi. Kau memintaku untuk pergi tapi… aku harus pergi ke mana?”

“Sudahlah, tinggal saja di sini sampai kau menemukan cara untuk kembali ke masa lalu atau… kau bisa kembali dengan sendirinya seperti tadi.”

Myungsoo menyesal telah mengajak Jiyeon berpatroli menangkap perampok. Dia tak pernah berpikir sama sekali bisa masuk ke dunia asing yang tak dikenalnya. “Baiklah, aku akan tinggal di sini sampai aku kembali ke kerajaan Hanja.”

Keesokan harinya.
Jika di daerah pegunungan terdapat banyak burung dengan kicauannya yang indah, hal itu tak akan ditemukan di kota super sibuk seperti Seoul. Ya, meski matahari telah menampakkan senyum hangatnya, hanya suara bising lah yang dapat didengar melalui indera pendengaran.

Pukul 8 pagi, Myungsoo duduk bersandar pada sebuah sofa bermotif garis-garis milik Jiyeon yang terletak di ruang tamu. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu. Dengan masih mengenakan baju kebesarannya sebagai seorang pangeran, Myungsoo berkali-kali memikirkan cara agar dia bisa kembali ke kerajaan Hanja. Apa yang akan terjadi jika keluarga istana tidak menemukan keberadaannya? Ji Won pasti sudah mengomel dan membuat telinganya berdengung.

“Myungsoo-ssi!” panggil Jiyeon lirih. Gadis itu telah rapi dengan sebuah dress mini berwarna biru muda yang panjangnya di separuh paha.

Myungsoo mendongakkan kepalanya agar dapat melihat sosok Jiyeon yang baru saja memanggil namanya.

Deg!
Baju yang dikenakan Jiyeon membuat kedua matanya silau. Bagaimana tidak? Seorang pangeran dari kerajaan kuno tak pernah sekalipun melihat seorang gadis berpakaian minim seperti yang dikenakan oleh Jiyeon saat ini. Myungsoo mengalihkan pandangannya setelah beberapa detik lalu dia hampir terpesona melihat sosok Jiyeon yang menurutnya sangat cantik.

“Kenapa?” tanya Jiyeon menyadari ada sesuatu yang aneh pada Myungsoo. Dia memeriksa baju dresnya, barangkali ada sesuatu yang salah atau mengganggu pandangan.

“Tidak apa-apa,” jawab Myungsoo dengan suara parau.

Jiyeon menautkan kedua alisnya. “Baiklah, jika tidak apa-apa, mari kita sarapan. Kau pasti sudah lapar.”

Myungsoo mengiyakan ajakan Jiyeon untuk sarapan mengisi ruang kosong di dalam lambungnya dengan beberapa jenis makanan lezat hasil masakan Park Jiyeon.
“Kau yang memasak semuanya?” tanya Myungsoo kagum melihat 5 jenis masakan yang terhidang di atas meja makan berbentuk segi empat itu.

“Eoh.”

“Kau jawab apa tadi?”

“Eoh. Memangnya kenapa?”

Kedua manik mata Myungsoo menyipit dan seakan mengintimidasi Jiyeon dari dekat.

“Apa-apaan ini?” Jiyeon tak dapat menatap balik kedua mata elang yang terpajang tepat di depan matanya. “Oh iya, aku akan keluar sebentar. Kau… bisa menunggu di sini.”

“Kau ingin meninggalkan tanggung jawabmu?”

Jiyeon memutar otaknya untuk dapat memahami pertanyaan Myungsoo. “Kenapa aku harus tanggung jawab? Memangnya apa yang aku perbuat? Bukankah aku sudah bersikap baik menerimamu tinggal di sini untuk sementara? Pangeran Kim, aku sudah mengikuti aturan di kerajaanmu jadi sekarang kau harus mengikuti aturanku di tempat ini.”

Myungsoo mendesah kasar, membuang karbondioksida yang merupakan hasil dari proses pernapasannya. “Baiklah.”

“Aku akan mengunci pintunya. Jika kau mendengar sesuatu dari luar, jangan pernah mencoba untuk membuka pintunya. Namun jika kau memang membuka pintunya… kau tidak akan bisa masuk lagi sebelum aku datang. Mengerti, Pangeran?”

“Kau pikir aku ini anak kecil. Sudahlah, pergi sana. Tingkahmu semakin lama semakin mirip Ji Won, menyebalkan.”

Jiyeon mendengus kesal. Baru kali ini dia disamakan dengan seorang putri. Ya, meskipun Ji Won lebih cantik darinya, setidaknya mereka memiliki sikap yang serupa. Memikirkan hal itu membuat Jiyeon terkikik geli saat akan memutar knop pintunya

Cekleeek!
“Jiyeon-a!”
“Aaaakh!! Yaak! Kau gila, eoh? Aku hampir saja mati berdiri karena dirimu!” maki Jiyeon pada managernya yang merupakan sahabatnya sendiri. “Kau pasti memang sudah gila,” gerutu Jiyeon sambil merapikan bajunya. “Minggir!”

“Yaak, ada apa ini? Kenapa kau mengganti sandinya?” protes Ahreum. “Aku sudah hafal sandi yang lama. Kenapa kau menggantinya lagi?” Manajer Lee Ahreum berusaha menahan tangan Jiyeon agar tidaak mengganti sandi pintu rumahnya.

“Akhir-akhir ini aku curiga ada seseorang yang menguntitku. Entahlah, mungkin sasaeng atau semacamnya. Yang pasti aku tidak ingin ada seseorang yang menguntit dan mengganggu ketenangan hidupku.”

Ahreum melepaskan tangan Jiyeon. “Kalau begitu, aku akan ikut denganmu setelah itu kita kembali ke sini!”

Jiyeon melirik Ahreum dalam perjalanannya menuju lift yang terletak tidak jauh dari apartemennya. “Kau… ingin tetap ke rumahku? Kenapa?”

“Yaak! Jiyeon-a, akhir-akhir ini banyak kabar miring tentangmu. Para netizen pun telah mengatakan bahwa kau dan Jongin, ah maksudku Kai, hmmm… kalian telah berakhir dengan tidak indah.”

Tap!
Sepatu high-heels milik Jiyeon mengakhiri bunyi berisiknya dan tak lagi dihentakkan di atas lantai apartemen yang dingin karena saat ini hujan mengguyur wilayah utara kota Seoul.

“Tolong jangan membahas hal itu di sini, Ahreum-a. Jika seseorang mendengarnya, aku akan jatuh tersungkir dan mendapat ribuan malu di wajahku. Kau mengerti?” Ekspresi wajah Jiyeon nampak serius.

Ahreum mengangguk pelan. Dia akan mengiyakan segala keinginan Jiyeon karena Jiyeon lah yang telah menolongnya hingga mendapat pekerjaan. “Baiklah, kita bicarakan nanti saja. Ngomong-ngomong, kau ingin pergi ke mana?”

Jiyeon menoleh ke arah Ahreum di sebelah kirinya. “Beli beberapa baju. Kau mau ikut? Atau… mau menungguku di depan pintu?”

“Yaak! Tega sekali menyuruhku menunggu, di depan pintu? Tentu saja aku ikut.”

“Haha… Lee Ahreum selalu bersemangat jika diajak belanja. Ayo cepat berangkat! Hujan itu keberuntungan.”

Dengan senyum yang mengembang menghiasi wajah cantik mereka, kedua gadis tersebut berjalan cepat menuju tempat parkir. Jiyeon harus cepat membelikan sesuatu untuk Myungsoo agar saat Ahreum bertemu dengan pria itu, tak ada sesuatu yang bisa menyebabkan Ahreum pingsan melihat pangeran dari zaman kerajaan pada masa lampau.

Jiyeon tengah berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Ia dapat mendengar bunyi rintikan hujan yang menerpa atap mobil, semakin lama semakin berkurang.+”Waah, hujannya belum reda. Hebat sekali menangis sepanjang pagi.”

“Jangan mencibir hujan. Kau yang putus dengan Jongin, malah hujan yang menangis…”

“Yaak! Jangan mencibirku! Kau bisa mendapat karma nantinya,” sahut Jiyeon yang tak terima dengan kata-kata Ahreum.

Perjalanan menuju apartemen tidak lah memakan waktu lama bagi Jiyeon dan Ahreum. Jarak antara dua gedung hanya sekitar 7 kilometer ditambah lagi kondisi jalan yang tidak macet seperti hari biasanya. Setelah menempuh perjalanan dari swalayan selama 15 menit dengan kendaraan mobil mewah milik Jiyeon, keduanya dapat menginjakkan kaki di lantai apartemen dengan selamat.

“Waah, It’s amazing!” seru Ahreum secara tiba-tiba.

Jiyeon mengangkat kedua alisnya. Lagi-lagi dia hatus menyaksikan kegilaan manajer cantiknya itu. “Bu Manager, ada apa dengan syarafmu?”

Ahreum melirik Jiyeon tajam. “Yaak! Maksudmu apa? Aku hanya memuji kota Seoul yang terbebas dari kemacetan hari ini. Kau pikir aku kena penyakit syaraf, eoh? Aish, Park Jiyeon! Kau harus bersikap lebih sopan pada manajermu!”

Jiyeon memamerkan deretan gigi putihnya pada Ahreum sebagai suatu respon kalau dia ingin tertawa namun ditahannya. Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ahreum dapat membuatnya melupakan masalah terberat sekalipun.

“Jiyeon-a!”

Jiyeon berhenti memamerkan deretan giginya pada Ahreum. Dia memutar badannya ke belakang, mencari tau siapa yang telah memanggil namanya karena suara itu tidak asing baginya.

“Kim Jongin!” seru Ahreum terkejut melihat sosok Jongin yang berdiri dengan wajah super serius. Baru kali ini Jiyeon dan Ahreum melihat ekspresi langka yang ditunjukkan oleh Jongin.

“Apakah kita saling mengenal?” Jiyeon mencoba bersikap sinis dan dingin pada mantan kekasihnya yang tidak tahu diri itu.

“Jangan bercanda! Aku sedang serius.” Jongin memusatkan perhatiannya pada sosok Jiyeon yang berdiri mematung di depan mobilnya.

Jiyeon menarik nafas dalam-dalam. “Ya Tuhan,  kau pikir aku sedang bercanda? Setelah kau pergi dengan seenak hatimu, aku memutuskan untuk tidak akan bertemu denganmu dan tidak pernah menganggapmu sebagai kekasih, teman, atau yang lainnya. Dengan kata lain, aku anggap kita tidak saling mengenal. Tolong jangan halangi jalanku. Ini apartemenku. Gedung ini dibangun oleh mendiang kakekku. Jika kau bisa berpikir secara jernih, seharusnya rasa malu yang begitu besar menutupi wajah tampanmu itu.”

Jongin menarik salah satu sudut bibirnya. “Kau begitu frustasi dan patah hati. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu.”

“Cih! Jangan merasa sok peduli! Pergilah! Jangan pernah kembali ke tempat ini! Kau adalah makhluk Tuhan yang paling hina.”

Tap tap tap!
Kim Jongin maju beberapa langkah dan mendekati Jiyeon. “Kau bilang apa?”

“Telingamu masih berfungsi dengan baik, kan?”

“Jika ku dengar satu kata hina dari mulutmu lagi, akan aku hancurkan karirmu. Aah, bukan hanya itu. Aku akan menghancurkan hidupmu.”

Jiyeon mendelik kesal. Dia sama sekali tidak menyangkan kalau ternyata Jongin merupakan orang yang kurang ajar, berengsek, jahat dan tidak ada suatu kebaikan yang mengikuti sosok Jongin itu. “Katakan apa tujuanmu datang ke sini?”

“Aku ingin menjelaskan segala sesuatu yang terkait dengan hubugan kita.”

“Bukankah kita tidak mempunyai hubungan apa-apa? Jadi, menurutku tak ada yang perlu kau jelaskan. Ah, hampir lupa. Aku yang akan menjelaskan segala sesuatu pada publik. Puas? Aku yang menanggung biayanya. Kau… urusi saja kekasihmu yang manja itu.” Jiyeon berjalan angkuh di depan Jongin. Dia ingin terlihat baik-baik sama di depan pria yang telah menggoreskan luka di hatinya. “Ahreum-a, kau sudah mendengarnya sendiri, kan? Lakukan apa yang harus kau lakukan secepatnya!”

“Baiklah. Aku akan mengurus semuanya. Kalian berdua tenang saja,” ujar Ahreum.

Jiyeon tak sanggup melihat wajah Jongin terlalu lama. Jika ia menahan diri melihat wajah itu maka sulit baginya untuk melupakan Jongin. Tanpa sepatah kata, Jiyeon melenggang pergi meninggalkan Ahreum dan Jongin di tempat parkir dengan menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Apakah Hyuna terlihat jauh lebih baik dari dirinya? Apakah Jongin sudah benar-benar melupakan semua janjinya? Apakah Jiyeon benar-benar terlihat buruk di mata seorang Jongin? Masih ada pertanyaan lain yang tersimpan rapi di kepala Jiyeon.

“Hash! Dasar pria brengsek! Aku tidak akan memaafkannya sampai aku reinkarnasi nanti. Benar-benar menyebalkan!” gerutu Jiyeon lirih tatkala menyusuri lorong apartemen menuju kamarnya.

Tit tit tit tit tit!
Klik!
Ceklek!

“Ya ampun!” seru Jiyeon kaget bukan kepalang saat melihat Myungsoo berdiri menatapnya tajam setajam tatapan burung hantu di malam hari. Jiyeon mengelus dada, menormalkan kerja jantungnya yang terpacu lebih cepat dan mengatur nafasnya. Dia telah melupakan sesuatu yaitu keberadaan Myungsoo di dalam apartemennya.

Myungsoo berjalan perlahan menuju sebuah sofa empuk di belakangnya. Setelah dapat mencapai sofa tersebut, pangeran Kerajaan Hanja itu duduk dengan gaya bangsawan.

“Ah, benar-benar….” Jiyeon tak heran melihat cara duduk Myungsoo yang menegakkan punggungnya dan membuat sedikit jarak diantara kedua kakinya yag terbuka. Tak lupa, dagunya terangkat dan menyunggingkan senyum yang dapat memikat wanita manapun di dunia ini kecuali Jiyeon. “Pakai ini! Sebentar lagi manajerku akan datang ke sini. Pakailah ini jika kau tidak ingin menjadi bahan tertawaannya!”

Myungsoo menautkan kedua alis tebalnya. “Apa maksudmu?”

Jiyeon berusaha sabar menghadapi putra Raja Kim Jaejoong yang sejujurnya sabgat menyebalkan bagi Jiyeon dan mungkin juga Kim Ji Won.

“Bukankah sudah ku katakan bahwa kau harus mengikuti aturan yang ku buat sebagaimana aku yang telah mengikuti aturan di kerajaanmu dengan memakai hanbok? Pakailah ini. Jika kau tidak mau, kembalilah ke istanamu.”

Sang Pangeran Myungsoo mendengus kesal. Baru kali ini ada orang yang berani berbicara kasar padanya. “Baiklah. Aku akan memakainya.” Dengan terpaksa, pangeran Kim pun menerima pakaian yang diberikan oleh Jiyeon.

Jiyeon tersenyum puas. Dia dapat memaksa Myungsoo untuk mengikuti semua aturannya, menuruti semua permintaannya. “Baguslah. Kau bisa mengganti pakaianmu di kamar mandi. Di sana!” Jiyeon menunjukkan sebuah ruangan yang terletak tepat di samping dapur mininya.

Tanpa banyak bicara, Myungsoo melangkahkan kakinya menuju ruang yang ditunjukkan oleh Jiyeon.

Kerajaan Hanja.
Seorang gadis berpakaian hanbok mahal, sedang menikmati cerahnya cuaca hari ini di teras istana putri. Kim Ji Won memandang langit biru yang luas dengan dihangati oleh sinar matahari.

“Uwaah, benar-benar hangat. Cuaca akhir-akhir ini tidak menentu. Kadang hujan, kadang cerah seperti ini.” Saat sedang mengingat waktu hujan, tiba-tiba Ji Won teringat seseorang yang menyebalkan. “Apakah kakakku yang super menyebalkan sudah kembali ke istana?” lirih Ji Won. “Aku harus melihatnya.”

“Maaf Tuan Putri.” Seorang dayang datang ke hadapan Ji Won dan ingin menyampaikan sesuatu pada putri raja Kim tersebut.

“Ada apa?” tanya Ji Won.

“Putri Raja Choi Siwon telah sampai di sini beberapa saat yang lalu, Tuan Putri.”

Ji Won mengerutkan dahinya. “Putri Raja Coi Siwon?”

“Ya, namanya Putri Choi Jinri.”

“Aakh, iya. Aku lupa. Baiklah, kita ke sana sekarang. Aku harus memberi salam pada gadis itu. Tunggu! Kak Yi Fan sudah mengetahui kedatangan calon istrinya?”

Dayang itu mengangguk mantab. “Ya, Tuan Putri. Pangeran Yi Fan sudah berada di ruang perjamuan sebelum Putri Choi tiba di sini.”

“Benar, itu yang seharusnya dia lakukan. Sepertinya kakakku yang satu itu sangat senang menerima perjodohannya dengan Putri Choi. Ah iya, Kim Myungsoo… di mana dia?”

Dayang mengangkat kedua alisnya mendengar Ji Won memanggil nama Myungsoo tanpa embel-embel apapun.

“Tenang saja. Kalau tak ada siapa-siapa, aku terbiasa memanggilnya seperti itu. Jangan dilaporkan ke ayahanda. Aku bisa terkena hukuman.”

“Baik, Tuan Putri. Mari kita pergi ke tempat perjamuan Putri Choi.”

Ji Won pun menuruti ajakan sang dayang untuk pergi ke tempat perjamuan tamu istimewa bagi Kerajaan Hanja. Bagaimana tidak istimewa? Tamu istimewa itu adalah Putri Choi Jinri dari kerajaan sebelah yang akan dijodohkan dengan Wu Yi Fan. Beberapa orang putri kerajaan yang ingin menjadi pendamping seorang Yi Fan, hanya Jinri lah yang diterima oleh Yi Fan. Mayoritas putri yang ingin menikah dengan pria jangkung itu adalah putri dari kerajaan Cina. Namun Yi Fan memilih putri dari kerajaan semenanjung Korea.

Tap tap tap!

Kim Ji Won telah tiba di tempat perjamuan bersama beberapa orang dayang pribadinya. Setelah melewati pintu masuk, Ji Won langsung menangkap sosok Jinri dengan tatapan mata indahnya.

“Ji Won-a, kau datang…” ucap Yi Fan senang karena adik perempuannya bersedia menyambut kedatangan calon istrinya.

“Tentu saja. Aku menyambut kedatangan Putri Choi dengan senang hati. Selamat datang di istana kami,” ucap Ji Won diiringi dengan membungkukkan badannya pada Jinri yang berdiri di samping Yi Fan.

“Terimakasih, Putri Kim,” ucap Jinri.

TBC

Advertisements

6 thoughts on “하늘에 계시는 하느님 “The King of Heaven” [Chapter – 3]

  1. Sekarang mreka tukeran si myung skarang yg k zaman x jiyi ……q gak nyangka klo kris bkln d jodohin ma jinri…… trus gmna cara myung kmbali k zaman x ….next ya

    Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s