Lost in Bali [Chapter 2]

LIB

Search the previous story HERE

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating: PG-13

Length: Multichapter

Mian for typos, leave comment, and don’t plagiat

Bruuukk!!
Jiyeon bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar dari rumah makan. Ia terjatuh, kakinya terkilir, tasnya juga terjatuh tapi untungnya barang-barang di dalam tasnya tidak jatuh berserakan di lantai. Jiyeon meringis menahan kakinya yang terkilir. Seorang yroja yang tidak sengaja menabraknya berusaha berdiri. Seorang namja membantu Jiyeon berdiri, Jiyron pun segera mengambil tasnya yang terlepas dari tangannya. Untung saja isi tasnya tidak berserakan di lantai.
“Mianhaeyo… Gwaenchana?” tanya yeoja yang tak sengaja menabrak Jiyeon.
“Gwaenchanayo…” ucap Jiyeon sambil membersihkan sekaligus merapikan bajunya. Jiyeon melihat yeoja yang berdiri di depannya. ‘Sepertinya yeoja ini tidak asing di penglihatanku,’ batin Jiyeon.
“Mianhae… Aku sungguh tak sengaja.” Yeoja itu mengulang kata maaf lagi pada Jiyeon. Jiyeon malah merasa sungkan dan tak enak hati. Ia tidak apa-apa, kaki kirinya hanya sedikit terkilir. “Jeogi, apa kau dati Korea?” tanya yeoja itu.
“Ah, ne. Aku dari Korea Selatan,” jawab Jiyeon.
“Nado. Joneun Ryu Hwayoung imnida. Ini namjachinguku, Lay Yixing.” Yeoja bernama Hwayoung itupun mengenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan pada Jiyeon.
“Nan Park Jiyeon.” Jiyeon tersenyum dan menjabat tangan Hwayoung. Senang rasanya bertemu dengan orang Korea di negara lain. “Senang bertemu denganmu, Hwayoung-ssi dan Lay-ssi.”
“Nado, Jiyeon-ssi. Aku sungguh minta maaf atas kejadian ini.” Hwayoung terus saja meminta maaf. “Gurae, kami duluan, Jiyeon-ssi. Anyeong…”
“Ne, annyeong.”
Hwayoung dan Lay beranjak pergi dari rumah makan itu. Sedangkan Jiyeon, dengan sedikit tertatih, dia menghampiri meja terdekat lalu memesan makanan.

Jiyeon pov.
Bukan sekali ini aku makan makanan Indonesia. Di Korea aku juga tidak jarang makan di restoran Indonesia. Restoran di sana mendatangkan bumbu khusus dari Indonesia, istilahnya impor. Aku akui, masakan Indonesia memang super lezat dan mantab. Bumbunya sangat terasa. Lidahku sudah terbiasa dengan masakan Indonesia. Bahkan Chorong eonni bisa masak makanan Indonesia. Ya, walaupun cuma tiga jenis makanan, soto ayam, nasi goreng dan gado-gado. Meski sederhana tapi menurutku sangat enak. Di rumah makan ini aku memesan sate kambing dan apa ini? Jamu? Jamu beras kencur? Ah aku pesan ini saja. Tapi ku ingin dikasih es. Aku belum pernah minum jamu. Kalau sate, di Korea ada. Tentunya di rumah makan Indonesia. Harganya lebih mahal dari masakan asli Korea. Tapi harganya di sini malah jauh lebih murah. 3x lipat lebih murah. Waah aku bisa betah di sini.

Akhirnya perutku sudah kenyang. Apa sebaiknya aku kembali ke hotel ya? Tiiing… Ah, ponselku berbunyi. Pesan dari Jieun.
From: L. J
Jiyeon-a, jam berapa kau pulang? Ayo ke Bedugul. Chorong eonni sedang keluar dengan Siwan oppa.

Jiyeon menghela nafas. Mwo? Bedugul? Tempat apa lagi itu? Kenapa Jieun tidak minta Luhan untuk menemaninya? Kan Luhan tour guide mereka.

To: L. J
Yaak, Lee Jieun, kenapa kau tidak minta Luhan-ssi untuk menemanimu kr sana? Aku masih dalam perjalanan. Tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Kaau begitu kau tunggu saja di hotel.

From: L. J
Eoh, araseo. Kalau kau sudah dekat dengan hotel, hubungi aku. Aku akan menunggumu di depan hotel.

Aissh, di luar panas sekali. Aku ingin jalan kaki saja, tapi matahari tersenyum sangat indah di atas kepalaku. Tidak jadi, aku naik taksi saja. Kebetulan ada taksi lewat. Aku langsung menyetopnya. Di dalam taksi barulah terasa dingin. Aku meminta sopir menurunkan suhu AC nya sampai batas minimal. Kedua mataku dimanjakan oleh pemandangan di kanan dan kiri jalan raya. Ramai sekali. Dimana-mana bayak orang berjualan beraneka macam barang, terutama sovenir.
Sebentar lagi sampai di depan hotel. Akupun bersiap turun. Taksi berhenti, aku bayar biayanya, pintu taksi sudah kubuka, kakiku siap keluar lebih dulu.
Bruukk!
“Omo!” seruku.
“Jalan pak,” seru namja yang baru saja mendorongku masuk lagi ke dalam taksi. Dia seenaknya saja mendorongku. Aku kan mau turun. Kenapa dia malah mendorongku kembali ke posisi semula.
“Yaak,” teriakku tepat di depan telinga namja itu. Namja itu pun menoleh ke arahku. Mataku membulat sempurna. “Omo! Namja itu lagi… Hiish kurang ajar.”
“Yaak Park Jiyeon!” teriak Jieun yang berlari memburu taksi yang aku tumpangi bersama namja ini.
“Aigoo, aku harus turun Jieun sudah menungguku lama di sana,” gumamku. “Tolong hentikan taksi ini. Aku mau turun.” Aku menepuk-nepuk jok si sopir.
“Neo michyeoseo? Aku dikejar orang gay itu. Kenapa kau malah ingin berhenti di sini? Terus jalan pak.” Namja itu ingin berdebat denganku.
“Yaak, aku tidak ada urusan denganmu dan orang gay itu. Salahmu sendiri kenapa kau naik taksi ini. Harusnya kau menungguku turun dari taksi ini jika kau mau kabur bukannya malah mendorongku masuk ke dalam taksi. Aku tidak jadi turun. Haish, kasihan Jieun. Gara-gara namja ini, batal ke Bedugul.” Aku benar-benar kesal pada namja itu. Kulirik dia. Di bajunya ada nametag. Hmm aku penasaran, siapa nama namja ini. Kim Myungsoo? Nama yang lumayan bagus untuk orang yang menyebalkan seperti dia.
Jiyeon pov end.

Jiyeon terpaksa menuruti kemauan Myungsoo. Tapi pikirannya masih tertuju pada Jieun. Kriiing… Ada panggilan dari Jieun.
“Eoh, Jieun-a, mianhae. Jongmal mianhae. Kau lihat sendiri kan tadi saat aku mau turun dari taksi tiba-tiba seorang namja mendorongku kembali ke dalam taksi dan menerobos masuk. Aku tidak tahu ada dimana. Eottohke?”
Myungsoo melirik Jiyeon yang sedang berbicara dengan Jieun lewat ponselnya.
Ada perasaan sedikit bersalah di hati Myungsoo. Tapi apa boleh buat. Orang gay tadi mengejarnya sehingga ia terpaksa menerobos masuk ke dalam taksi yang masih ditumpangi oleh yeoja yang duduk di sampingnya.

Taksi berhenti di depan sebuah villa mewah milik Luhan. Villa itu nampak sepi. Jiyeon bingung harus kemana. Dia ingin kembali ke hotel naik taksi itu namun Myungsoo menarik lengannya. Mengajaknya masuk ke dalam vila. Jiyeon memberontak. Dia sama sekali tak mengenal namja yang mungkin namanya Kim Myungsoo.
“Yaak, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku. Aku mau kembali ke hotel.” Jiyeon terus berontak namun Myungsoo tetap menarik lengannya, Jiyeon pun terpaksa menuruti kemauan Myungsoo. Jika tidak, tangannya pasti sudah lepas dari tubuhnya.
“Aku tidak akan menyakitimu. Kau duduk saja disitu.” Myungsoo menunjukkan deretan sofa warna cream pada Jiyeon danenyuruh yeoja itu duduk di sana. Kali ini Jiyeon menurut lagi.
Tak lama kemudian muncullah seorang yeoja dan dua orang namja dari pintu utama villa. Jiyeon terkejut karena ketiga orang itu adalah orang yang ia kenal. Semua yang berdiri di sana membelalakkan mata. Luhan, Hwayoung dan Lay baru saja tiba di villa. Sore ini, Myungsoo akan mengumumkan sesuatu. Maka dari itu, Hwayoung dan Lay datang lebih awal.
“Jiyeon-ssi, bagaimana kau bisa di sini?” tanya Luhan yang mendekati Jiyeon.
“Aku ke sini karena…”
“Aku yang membawanya ke sini.” Myungsoo menyela kata-kata Jiyeon.
“Jinjja?” tanya Luhan tidak percaya.
Jiyeon mengangguk pelan.
“Aku ingin mengumumkan sesuatu. Hyung, dugaanmu salah.”
Luhan mengerutkan kening, bingung. “Dugaan apa?” tanya Luhan. Hwayoung, Lay dan Jiyeon juga penasaran.
“Dugaanmu bahwa aku belum memiliki yeojachingu. Kau mengejekku pria yang kaku dan tidak laku. Sekarang aku umumkan pada kalian semua. Pasang telinga baik-baik.” Myungsoo memegang tangan Jiyeon. Yeoja itu tersentak kaget dan ingin melepaskan genggaman tangan Myungsoo namun tak berhasil.
“Dia adalah yeojachinguku,” ucap Myungsoo dengan sangat fasih dan jelas.
“Mwo?” Empat orang yang berada di sana membuka mulutnya serempak mengucapkan kata itu.
“Oppa, apa kau bercanda?” tanya Hwayoung.
“Kau pasti bercanda. Yaak, Myungsoo-a, sudahlah jangan bercanda,” timpal Lay.
“Siapa yang bercanda? Aku serius. Mulai hari ini dia resmi jadi yeojaku.”
Jiyeon bingung. Bagaimana bisa namja itu dengan seenak mulutnya mengatakan kalau mereka berpacaran? Gila. Ini benar-benar gila.
“Jeogi, aku akan kembali ke hotel. Terimakasih semuanya, an…”
“Kau mau kembali secepat itu?” tanya Myungsoo bersandiwara. Jiyeon menatapnya super tajam seperti ingin memakan namja bernama Kim Myungsoo itu.
“Jiyeon-ssi, jangan buru-buru. Tinggallah sebentar saja. Kami akan membuat pesta kecil-kecilan untuk.merayakan hari jadi kalian.
“Tidak perlu. Temanku sudah me…”
“Kau dengar kata Lay? Tinggallah sebentar chagi.” Lagi-lagi Myungsoo memotong pembicaraan Jiyeon. Chagi? Rasanya Jiyeon ingin muntah mendengar Myungsoo memanggilnya dengan sebutan itu.
“Mian, besok temanku akan ke Jogja. Jadi, aku harus menemaninya pergi kemanapun dia mau,” terang Jiyron agar dia bisa secepatnya keluar dari villa itu.
“Teman? Lee Jieun?” tebak Luhan.
“Ah, ne. Jieun akan melakukan penelitian di sana. Jadi besok dia alan berangkat ke Jogja. Tadi dia memintaku menemaninya pergi ke Bedugul tapi gara-gara seorang namja, rencananya gagal.” Jiyeon melirik Myungsoo dengan lirikan membunuh. Myungsoo menyipitkan matanya.
Setidaknya kali ini Myungsoo berhasil membuat Luhan percaya bahwa dia sudah punya yeojachingu. Kini tidak ada alasan lagi Luhan mengejeknya sebagai namja yang tidak laku. Justru Luhan lah yang belum memiliki yeojachingu. Meski hanya berpura-pura, Myungsoo merasa menang dari Luhan.

Jiyeon diantar kembali ke hotel oleh Luhan. Namja itu masih memiliki tanggungjawab sebagai tour guide karena Siwan menyewa jasanya selama sebulan penuh. Jadi selama itulah Luhan akan menemani Jiyeon, Chorong dan Siwan. Sedangkan Jieun, dia harus berangkat ke Jogja untuk.menyelesaikan penelitiannya. Jiyeon merasa kehilangan Jieun karena tidak bisa bersama-sama di Bali. Mereka sudah seperti keluarga, anhi, lebih tepatnya mereka seperti saudara kembar.
Selama sebulan di Bali, Jiyeon memanfaatkan waktunya untuk menyelesaikan penelitiannya. Dia bahkan dibantu oleh Chorong dan Siwan dalam menyelesaikan laporan penelitian itu. Chorong selalu memberikan semanga kepada dongsaengnya untuk segera menyelesaikan laporannya. Jiyeon pun semakin semangat apalagi jika ia mengingat namja bernama Kim Myungsoo yang mengaku-ngaku sebagai namjachingunya. Jiyeon semakin semangat menyelesaikan laporannya agar segera kembali ke Korea dan tidak bertemu lagi dengan Myungsoo. Dia sudah tidak ingin terlibat masalah dengan namja itu. Tapi kini, dia malah menjadi yeojachinu versi imitasi. Jiyeon benar-benar dibuat pusing oleh Myungsoo.

“Waah, sudah 90% selesai. Tak terasa juga waktu berputar begitu cepat. Sudah lebih dari tiga minggu kita di sini. Begitu laporanku selesai, kita kembali ke Korea, eonni. Aku senang sekali.” Jiyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar VIP nya.
Kriiing…
“Jieun-a, akhirnya kau meneleponku. Laporanku hampir selesai. Eonni dan oppa membantuku menyelesaikannya. Empat hari lagi kami akan kembali ke Korea. Aku senang sekali.”
“Laporanku masih 50%. Mungkin aku akan tinggal lebih lama di sini. Apa kau tidak ingin menemaniku di sini?” tanya Jieun.
“Mian Jieun-a. Langgananku dan Chorong eonni mencari kami berdua. Kami memiliki tanggungjawab sebagai tenaga penjual jasa. Kau kan tahu itu. Mian… Oh iya, ah aku hampir lupa. Yaak, Jieun-a, aku ingin cerita padamu. Tapi sebelumnya apa kau mau percaya padaku?”
“Hiiish pabbo. Kau saja belum cerita. Bagaimana aku bisa percaya?”
“Oh iya, tapi setidaknya kau harus janji padaku bahwa kau akan percya ceritaku nanti.”
“Eoh. Palli!”
Jiyeon menceritakan hal-hal gila yang dialaminya bersama Myungsoo. Jieun tertawa terbahak-bahak di ujung telepon. Jiyeon mengerucutkan bibirnya.
“Yaak, kenapa kau malah tertawa? Apanya yang lucu?”
“Sepertinya sumpahmu nanti jadi kenyataan, Jiyeon-a.” Jieun melanjutkan tawanya.
“Semuanya akan segera berakhir.karena sebentar lagi aku kembali ke Korea. Hahaha… Senangnya…” Jiyeon menghibur dirinya dengan tertawa sendiri.

Malam ini Myungsoo masih menjalankan tugasnya sebagai tour guide. Dia telah melewati masa pelatihan dengan baik makanya dam waktu dua minggu pelatihan, ia.sudah dipercaya menjadi tenaga tour guide yang baru.
Saat hendak memasuki hotel Nusa Dua, dia melihat yeoja yang amat dikenalnya. Park Jiyeon sedang menikmati udara malam di depan hotel. Ia berjalan menjauh dari hotel. Myungsoo penasaran, akhirnya dia membuntuti Jiyeon.
Sedangkan Jiyeon, ia melihat sosok Luhan sedang duduk sendiri di kafe terbuka di dekat hotel. Jiyeon mengamati aktifitas Luhan dengan gelasnya. Tampan juga, batin Jiyeon.
“Luhan-ssi…” panggil Jiyeon lirih. Ia sudah berdiri di depan meja Luhan.
“Eoh, Jiyeon-ssi. Duduklah!” Luhan mempersilahkan Jiyeon dudum di kursi yang masih kosong.”
“Kau sedang apa di sini, Luhan-ssi?”
“Ah, aku hanya refreshing. Kau sendiri sedang apa di sini?” tanya Luhan balik.
“Aku tadi keluar untuk jalan-jalan sebentar. Saat lewat depan kafe ini, aku melihatmu sedang duduk sendiri di sini. Jadi, aku memutuskan untuk menghampirimu, Luhan-ssi.”
Jiyeon dan Luhan berbincang-bincang kafe yang terletak tidak jauh dari Nusa Dua hotel. Myungsoo menyaksikan dua orang itu dari kejauhan.
Luhan masih belum tahu bahwa sebenarnya Jiyeon dan Myungsoo hanya berpura-pura pacaran. Dia memperlakukan Jiyeon seperti adiknya sendiri karena memang menurutnya, yeoja itu pantas mendapat perlakuan demikian. Jiyeon mengatakan bahwa ia, Chorong dan Siwan berterimakasih pada Luhan yang telah menjadi tour guide nya selama di Bali. Dalam waktu tiga hari mereka akan kembali ke Korea. Karena tepat di akhir bulan, mereka harus sudah sampai di Korea. Banyak kerjaan yang menanti mereka di sana. Luhan hanya tersenyum tipis. Ia juga merasakan pergantian waktu yang begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia menjemput rombongan Jiyeon. Tapi ternyata waktu sudah berjalan melewati banyak hari.
“Aku senang tinggal di sini. Tapi aku lebih senang tinggal di Seoul. Meskipun negara lain lebih indah dari negara kita, negara asal lebih menyenangkan dari negara manapun.
“Mungkin itu yang disebut nasionalisme,” kata Luhan.
“Eoh, ne.” Jiyeon memamerkan senyum manisnya. Menurutnya, Luhan jauh lebih hangat dibanding Myungsoo.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?”
Pertanyaan Luhan membuat Jiyeon harus memutar otaknya lebih giat untuk mencari jawaban yang tepat. Apa ini saatnya untuk berterus terang? Toh, dia kan sebentar lagi kembali ke Korea.
“Sebenarnya aku dan Myungsoo-ssi tidak pernah memiliki hubungan spesial. Bahkan kami baru saja saling kenal. Dia hanya berpura-pura.”
“Mwo?” Luhan terkejut mendengar pengakuan dari Jiyeon.

Jiyeon kembali ke hotel. Dalam perjalanan, dia teringat saat-saat bersama Myungsoo yang selalu membawa kesialan untuknya. Tapi di sisi lain, Jiyeon senang bisa mengalami semua hal konyol itu hingga membuatnya senyum-senyum sendiri. Di pintu masuk hotel, Jiyeon berhenti sejenak. Memandang hotel mewah di depannya. Ia tersenyum lagi. Tak terasa, ia harus meninggalkan hotel itu.
“Apa kau tidak ingin mengucapkan salam perpisahan padaku?” Myungsoo berdiri di belakang Jiyeon.
Jiyeon membalikkan badan. Ia sama sekali tak menyangka Myungsoo akan menemuinya.
“Eoh, aku pikir kau tidak mau bertemu denganku. Mari bicara sebentar,” ajak Jiyeon.
Myungsoo dan Jiyeon duduk di.kursi sofa di lobi depan hotel.
“Gomawo sudah membantuku berpura-pura menjadi yeojachinguku.”
Jiyeon tersenyum tipis. “Gomawo juga kau telah memberikan kenangan konyol untukku. Kau yang memulai sandiwara itu. Maka aku yang akan mengakhirinya.” Jiyeon mengulurkan tangan mengajak Myungsoo berjabat tangan. Myungsoo pun menerima uluran tangan Jiyeon.
“Gurae, sandiwara kita telah berakhir. Gomawo.” Myungsoo tersenyum. Baru kali ini Jiyeon melihat senyum namja itu.

Hari ini, Jiyeon, Chorong dan Siwan kembali ke Korea. Mereka masih menunggu keberangkatan beberapa menit lagi. Barang-barang sudah dicek. Pesawat yang akan membawa mereka ke Korea baru saja mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai. Sebelum berangkat, Jiyeon merasa ingin buang air kecil. Ia pun segera mencari eonninya yang duduk tidak jauh darinya.
“Yaak, kau mau kemana?” tanya Chorong.
“Eonni, titip tas dulu. Aku ingin ke toilet sebentar saja.”
“Tapi sebentar lagi kita berangkat.”
“Sebentar saja eonni. Aku sudah tidak kuat.” Jiyeon berlari mencari toilet terdekat. Ketemu. Saat di dalam toilet, ia mendengar pemberitahuan bahwa pesawat menuju Korea akan lepas landas dalam waktu lima menit. Sebagian penumpang sudah berada di pesawat. Namun Chorong dan Siwan masih menunggu Jiyeon yang sibuk di toilet. Acara di toilet sudah selesai. Jiyeon kembali menemui Chorong. Tiba-tiba ia teringat ponselnya tertinggal di toilet. Jiyeon ingin kembali ke toilet untuk mengambil ponselnya namun Chorong melarangnya. Jiyeon bersikeras mau mencari ponselnya. Di dalam ponsel itu ada beberapa softfile berkas penting. Jadi ponselnya harus ketemu.
“Eonni duluan saja. Tolong bawa barang-baragku juga. Nanti aku menyusul di pesawat.”
Jiyeon hanya membawa dompetnya berlari menuju toilet. Ponselnya tidak ada. Jiyeon sudah mencarinya di setiap sudut tapi hasilnya nihil. Terdengar lagi pemberitahuan bahwa pesawat menuju Korea sedang lepas landas. Jiyeon berlari sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya.
“Eonniiiii! Eonnniii!” teriak Jiyeon memandang sedih pesawat yang baru saja tinggal landas. “Eonnii!” Jiyeon berteriak memanggil eonninya sampai suaranya parau. Tak pernah terbayangkan. Kini dia tertinggal di bandara hanya membawa sebuah dompet yang berisi uang Won. Jiyeon terduduk lemas. Ia tak tahu harus.bagaimana. Airmatanya meleleh.
“Eonni… Chorong eonni…” lirihnya.
Seorang namja mendekatinya. Mengulurkan tangan padanya,”Ireona. Percuma kau menangis.”

Di dalam pesawat, Chorong merasa ada sesuatu yang kurang. Dia belum menyadari kalau dongsaengnya tertinggal di bandara. Siwan berkali-kali menebak apa yang tertinggal.namun belum ada jawaban yang dibenarkan oleh yeojachingunya itu.
“Apa kau yakin ada yang tertinggal?” tanya Siwan memastikan bahwa Chorong benar-benar mengingatnya.
“Aku merasa ada yang kurang tapi apa ya?” Chorong sendiri juga bingung. Tiba-tiba bibirnya membentuk huruf O. “Jiyeon. Jiyeonie eodi?” Chorong membungkuk di depan kursinya, mengamati sekeliling, mencari Jiyeon. Hasilnya nihil. “Eopso…” lirih Chorong yang kembali ke tempat duduknya.
“Apa kau yakin tidak ada?” Siwan malah berdiri kemudian berjalan mondar mandir melihat pelara penumpang satu persatu. Benar. Jiyeon tidak ada. Apa dia tertinggal di bandara? Ah, tidak mungkin. Siwan menggelengkan kepalanya sendiri. Meyakinkan diri bahwa tidak mungkin Jiyeon masih di bandara. Pasti dia ada di suatu tempat di pesawat ini.
Siwan kembali ke tempat duduknya. Ia sedikit khawatir jika dugaannya.benar, bukankah ini akan menjadi sumber kegalauan bagi Chorong karena Jiyeon adalah segalanya bagi yeoja itu.
“Eopso…” lirih Siwan, menjawab rasa penasaran Chorong.
Chorong menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya hingga wajah cantik itu tertutup tanpa celah.

Setelah menyadari apa yang telah terjadi di bandara, Jiyeon terduduk lemas. Bagaimana mungkin dia bisa tertinggal di Indonesia. Jiyeon pasti akan sangat merindukan Chorong. Airmatanya meleleh seperti es krim yang terkena panas.
Seorang namja datang mendekati Jiyeon yang duduk lesu di atas lantai. Bahkan yeoja itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sana. Namja itu mengulurkan tangan pada Jiyeon.
“Ireona. Percuma kau menangis. Eonnimu tidak akan mendengar tangisanmu.”
Jiyeon mendongak, ternyata Lay. Menurut Jiyeon, namja itu sama baiknya dengan Luhan. Jiyeon meraih tangan Lay dan berdiri tegak lalu mengusap airmatanya yang membasahi pipinya.
Lay menatap iba pada Jiyeon. Bagaimana mungkin seorang yeoja bisa bertahan di negeri asing hanya dengan sebuah dompet. Untuk itu, Lay mengajak Jiyeon pergi ke suatu tempat.
Di dalam perjalanan, Jiyeon masih terlihat sedih. Dia ingin menghubungi Jieun, tapi dia tidak hafal nomor ponsel Jieun. Sekarang dia hanya bisa pasrah. Entah apa yang akan terjadi padanya, Jiyeon tak peduli.
Lay yang sedang konsentrasi mengemudikan mobilnya, sesekali melirik ke arah Jiyeon. Dia menduga-duga, yeoja ini sedang mengantuk atau masih sedih…
Mobil Lay melaju cepat. Pikirannya tertuju pada satu hal, membawa Jiyeon ke tempat Luhan. Ya, hanya di tempat Luhan lah tempat teraman menurutnya. Dia tidak mungkin membawa Jiyeon ke rumahnya karena dia menumpang tinggal di rumah bibinya yang merupakan orang Indonesia keturunan Cina.
Ckiiitt…
Mobil berwarna merah yang membawa dua orang penumpang itu berhenti di depan sebuah vila mewah. Jiyeon masih belum sadar bahwa kini dirinya berada di tempat Luhan. Lay mengajak Jiyeon masuk ke dalam vila. Tak perlu mengetuk pintu, Lay langsung menerobos masuk ke dalam vila, Jiyeon hanya mengekor di belakang Lay. Tanpa basa basi, Lay membawa Jiyeon ke ruang keluarga. Ternyata di sana ada Luhan yang sedang menikmati secangkir White Coffe dan menyaksikan siaran televisi malam itu. Kedatangan Lay mengagetkan Luhan, apalagi di belakangnya ada Jiyeon.
“Lay, ke, kenapa kau membawa Jiyeon-ssi? Ada apa?” tanya Luhan yang sedang bingung. “Ah, Jiyeon-ssi, bukankah hari ini kau kembali ke Korea?”
Jiyeon tertunduk lesu. Kedua tangannya memegang dompetnya erat-erat. Lay yang sadar akan keadaan itu segera angkat bicara.
“Hyung, Jiyeon-ssi tertinggal di bandara. Pesawat yang seharusnya membawanya kembali ke Korea sudah lepas landas saat dia baru saja keluar dari toilet.”
Jiyeon mengangkat kepalanya, mengerutkan keningnya. Bagaimana Lay bisa tahu? tanyanya dalam hati.
“Eoh, gurae, ceritanya nanti saja. Lebih baik aku antar Jiyeon-ssi ke kamar dulu. Masih ada tiga kamar kosong.” Luhan mengayunkan langkahnya menuju tangga kayu miliknya, diikuti Jiyeon di belakang dengan langkah ragu-ragu.
Setelah melewati anak tangga terakhir, Luhan berjalan menuju kamar yang terletak di sebelah kanan tangga. Dia membuka knop pintu dan menyalakan lampu kamar itu. Jiyeon berdiri di depan pintu.
Luhan yang baik hati, sangat memahami perasaan Jiyeon. Ia ridak ingin bertanya lebih banyak pada yeoja itu.
“Jiyeon-ssi, masuklah. Untuk sementara kau bisa tinggal di sini. Ini kamarmu dan itu…” Luhan menunjuk pintu kamar yang berada tepat di samping kamar Jiyeon, namun kata-katanya terpotong oleh kemunculan sosok namja yang tidak.lain adalah Myungsoo. “Itu kamar Myungsoo.”
Telinga Myungsoo yang tajam mendengar Luhan menyebut namanya. Dia pun menghampiri Luhan dan Jiyeon yang masih berdiri di depan pintu. Myungsoo memperhatikan yeoja yang membelakanginya dengan seksama. “Hyung, apa kau menyewakan kamarmu? Siapa yeoja ini?” tanya Myungsoo lirih.
“Dia Park Jiyeon.”
“Nde? Mwo, mwoya?” Myungsoo sangat terkejut mendengar jawaban Luhan. Ia pun segera melihat wajah yeoja itu. Benar, dia Park Jiyeon. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia kembali ke Korea?
“Ceritanya panjang, kau itu selalu LOLA (Loading Lama).” Luhan melangkah masuk ke dalan kamar yang akan ditempati Jiyeon kemudian mempersilahkan Jiyeon masuk. “Masuklah, Jiyeon-ssi. Istirahatlah.”
Myungsoo memperhatikan kedua orang di depannya dengan cuek.

Myungsoo pov
Aneh, kenapa Jiyeon bisa ada di sini? Apa Luhan hyung sengaja membawanya ke sini? Tapi untuk apa? Aah, molla. Aku ingin membuat kopi juga seperti Luhan hyung. Kopi Indonesia benar-benar nikmat, tentu saja menurut penilaian lidahku. Hehe…
Baru saja turun dari tangga, mataku menangkap sosok namja yang duduk di meja makan yang kelihatan dari sini. Aku mendekatinya. Oh ternyata Lay. Untuk apa Lay kemari? Kenapa hari ini banyak kejadian aneh?
“Myungsoo-a…” panggil Lay.
“Eoh,” jawab Myungsoo. Keduanya tengah duduk di kursi yang mengelilingi meja makan. “Tumben jam segini kau kemari. Mana Hwayoung?” tanya Myungsoo.
“Hwayoung baru saja berangkat ke Jakarta. Adiknya baru sampai dari Korea.”
“Dari Korea? Banyak sekali orang Korea yang datang ke sini,” gumamku. “Keurom, ada perlu apa kau kemari?” tanyaku lagi. Namja itu memang termasuk namja yang paling sering bertanya. Bahkan saat kuliah dulu, aku sering menanyakan hal-hal konyol pada dosenku sehingga beberapa dosenku akrab denganku karena hal itu.
Akhirnya Lay menceritakan perihal Jiyeon yang tidak sengaja tertinggal di bandara.
“Bagaimana kau tahu kalau dia baru keluar dari toilet?” tanyaku cerewet.
“Aku dan Hwayoung tidak sengaja lewat depan toilet. Tiba-tiba seorang yeoja keluar dari toilet, berlari sekuat tenaga untuk mengejar pesawat yang sedang lepas landas meskipun pesawat itu tidak mungkin berhenti karena teriakannya. Pesawat Hwayoung lepas landas setelah pesawat itu. Jadi aku berpisah dengannya di ruang tunggu. Saat itu aku mendengar suara yeoja memanggil eonninya. Aku putuskan untuk melihatnya, ternyata Jiyeon memanggil eonninya yang sudah dibawa pesawat tadi.” Lay berhenti bercerita. Aku serius mendengarkan cerita itu.
“Keurom, apa dia juga akan tinggal.di sini?” tanyaku lagi.
“Aku membawanya ke sini karena menurutku tempat ini aman baginya. Selain itu, kemarin Luhan kan tour guide’nya Jiyeon. Jadi aku rasa Luhan juga tidak keberatan jika Jiyeon ikut tinggal di sini.”
“Mwo? Di satu villa ada dua orang namja dan satu yeoja? Apa kau tidak berpikir itu mustahil?” Aku sedikit menaikkan nada suaranya.
“Aku akan meminta Hwayoung tinggal di sini.” Luhan muncul dengan segelas air putih di tangannya.
“Hyung, Hwayoung sedang ada di Jakarta. Bagaimana mungkin kau bisa memintanya tinggal di sini?” tanyaku spontan seakan tidak senang jika Jiyeon tinggal di vila ini.
“Kenapa kau bersikap seperti itu, Myungsoo-a? Bukankah dia sangat dekat denganmu? Seharusnya kau senang jika dia tinggal di sini.”
Aku terdiam, teringat sesuatu.
Myungsoo pov end

Flashback.
Beberapa hari setelah keberangkatan Jieun ke Jogja, Jiyeon dan Myungsoo janjian bertemu di Sanur.
“Kim Myungsoo, apa ini perlakuanmu terhadap orang yang baru saja kau kenal?” tanya Jiyeon yang berdiri di belakang Myungsoo. Sedangkan namja itu malah asyik menikmati pemandangan malam di Sanur.
Tak ada suara dari Myungsoo. Jiyeon sangat menantikan jawaban dari Myungsoo.
“Bukannya kau sudah tahu kenapa aku menjadikanmu yeojachingu palsuku?” Akhirnya Myungsoo buka suara.
“Kau bisa meminta yeoja lain, tapi kenapa harus aku? Kau tahu!? Setelah kau memberitahu mereka tentang ide gilamu itu, aku dan Luhan-ssi merasa sangat canggung karena menurutnya aku adalah yeoja mu.”
“Oo jadi kau menyukai Luhan hyung? Sebagai namjachingumu, apa yang harus aku lakukan? Cemburu?” Myungsoo membalikkan badannya, kini ia berhadap-hadapan dengan Jiyeon.
Jiyeon bingung menjawab pertanyaan Myungsoo. Apa yang dikatakan Myungsoo tidak benar. Percuma saja bicara dengan namja itu, batinnya. “Berhentilah bercanda. Aku tidak ingib bicara denganmu lagi sebelum kau memberitahu mereka kalau kita hanya pura-pura.”
“Aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu. Tapi aku harap kita bisa mengakhiri semuanya dan berjabat tangan sebelum kau kembali ke Korea. Jangan salah paham dulu. Itu ku lakukan karena aku tidak ingin punya musuh dimanapun.”
Jiyeon tidak menyangka bahwa Myungsoo akan bicara seperti itu. “Gurae. Terserah padamu. Aku tidak peduli.” Jiyeon melangkah pergi. Sebenarnya Jiyeon tidak merasa sakit hati mendengar ucapan Myungsoo.
Flashback end

“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya.” Myungsoo pergi meninggalkan Luhan dan Lay yang melihat sikap anehnya.

Jiyeon masih mengurung diri di kamar. Luhan bingung apa yang harus ia lakukan supaya Jiyeon tidak bersikap seperti itu. Maklum saja, namja tampan itu belum pernah berurusan dengan yeoja meskipun hanya perasaannya. Di villa itu habya ada Luhan dan Jiyeon. Myungsoo peegi menjalankan tugasnya sebagai tour guide di Sanur.

Tok tok tok…
Luhan mengetuk pintu kamar yang ditempati Jiyeon. Tak ada sahutan dari dalam kamar. Luhan mengetuknya lagi.
Cekleeek…
Pintu dibuka dari dalam. Jiyeon tampak lesu, pucat dan tidak bersemangat. Berbeda dengan waktu ia dan rombongannya masih utuh. Luhan merasa iba padanya.
“Jiyeon-ssi, makanlah, aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”
Jiyeon menarik simpul di kedua ujung bibirnya. “Gomawo, Luhan-ssi.”
“Aku tidak ingin menerima penolakan. Jadi kau harus mau makan.” Luhan meninggalkan Jiyeon yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
….

Di ruang makan, Jiyeon menikmati santapan khas Indonesia, soto ayam dan beberapa atribut makanan itu. Lidahnya yang sangat menyukai makanan Indonesia, membuatnya makan dengan lahap, menghabiskan porsi makanan di depannya. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum. Syukurlah Jiyeon tidak mogok makan.
“Luhan-ssi, aku ingin bertanya padamu, boleh?”
Luhan menjawabnya dengan anggukan.
“Sebenarnya, Myungsoo itu siapa? Apa dia temanmu? Saudaramu? Atau mungkin yang lain?”
“Dia saudara sepupuku dari Korea. Ayahnya adalah adik kandung ibuku. Maka dari itu marganya Kim. Sedangkan aku bermarga Xi, dari garis keturunan ayahku yang seorang warga negara China. Orangtua Myungsoo adalah pengusaha sukses. Myungsoo baru saja lulus kuliah diploma di Australia. Dia tidak ingin bekerja di perusahaan appanya karena pasti karyawannya akan mendewakan dia secara berlebihan. Makanya Myungsoo melamar kerja di Indonesia sesuai dengan kelulusannya. Aku salut pada Myungsoo yang mau mandiri tanpa bantuan orangtuanya.”
“Hyung.” Tiba-tiba terdengar suara Myungsoo.yang baru saja pulang. “Ini titipanmu.” Myungsoo meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja makan, tepatnya di depan Luhan.
“Kau sudah pulang? Cepat sekali?” Luhan membuka bungkusan yang diberikan oleh Myungsoo tadi.
“Klienku ada yang sakit. Entah itu halmoninya atau haraboji, aku kurang tahu itu. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, jadi aku putuskan pulang saja. Daripada berkeliaran di luar, berbahaya. Orang gay itu pasti akan mengejarku lagi.”
Mendengar penuturan dari Myungsoo membuat Jiyeon tersedak air putih yang ingin sedang diteguknya. Myungsoo menatapnya tajam. Jiyeon melirik Myungsoo. Dia pasti ingat kejadian beberapa waktu lalu.
“Wae?” tanya Myungsoo pada Jiyeon.
Luhan pun mengalihkan pandangan pada yeoja yang baru selesai makan yang duduk di sampingnya.
“Anhi. Aku hanya tersedak karena terburu-buru minum.” Jiyeon baru saja menemukan alasan logis dari otaknya supaya Myungsoo tidak mengira bahwa ia teringat kejadian itu.
“Hyung, aku pinjam ponselmu.”
“Untuk apa?”
“Menelepon appa. Appa dan eomma sepertinya sedang berada di Australia.”
“Lalu kenapa kau mau menelpon appamu dengan ponselku? Kau kan punya ponsel sendiri.”
“Karena kartumu lebih murah dibandibg kartuku. Aissh, begitu saja tidak mengerti.”
Jiyeon tersenyum tipis melihat Myungsoo manja terhadap Luhan. Namja itu benar-benar aneh, pikirnya. Kadang menyebalkan, kadang membuat hatinya geli.

“Oppa!” tiba-tiba terdengar suara yeoja.
“Eoh, Hwayoung-a. Kau sudah kembali?” tanya Luhan.
Hwayoung nimbrung di ruang itu bersama tiga orang lainnya. “Jiyeon-ssi, aku kira kau sudah kembali ke Korea.”
Lay yang baru datang saling pandang dengan Luhan. Apa Hwayoung belum tahu kalau Lay membawanya ke vila itu?

Tbc.

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s