Lost in Bali [Chapter 1]

LIB

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rating:
PG-13

Happy Reading…

Terdengar gemericik air di kamar mandi. Seorang yeoja sedang menggosok gigi dengan malas di depan sebuah cermin, tentunya di dalam kamar mandi yang berukuran cukup luas dengan ukuran 3x3m. Acara rutin tiap pagi telah selesai. Sikat gigi dan pasta gigi juga sudah berada di tempat semula. Yeoja itu, Park Jiyeon berkumur membersihkan sisa-sisa pasta gigi yang masih melekat di dinding mulut, gusi, dan gigi putihnya. Kemudian dia memamerkan deretan giginya di depan cermin. Sudah bersih.
“Yaaak, Jiyeon-a! Pali!” teriak Chorong, eonni Park Jiyeon.
“Eoh, ara. Chakkaman gidaryeo, eonni,” balas Jiyeon dengan suara yang tidak kalah nyaring. Selama lebih dari 5 menit, Jiyeon baru saja selesai gosok gigi dilanjutkan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Jiyeon dan Chorong tidak memiliki bath up karena mereka sangat tidak menyukai mandi di bath up. Terlalu boros dan memakan waktu lama untuk sekedar mandi. 10 menit kemudian Jiyeon keluar dari kamar mandi dengan masih dibalut handuk berwarna pink.
“Aigoo, baru selesai?”
“Hehe… Uri sarangi eonni, jangan cepat marah. Kau akan kelihatan cepat tua. Aku akan segera berpakaian dan berias. Apa eonni sudah sarapan?” tanya Jiyeon yang masih sibuk mencari baju yang ingin dipakai hari itu.
“Ajikdo… Aku menunggumu, Dino-a. Makanya pali pali,” jawab Chorong.
“Ah, ne, araseo, araseo.”

Chorong dan Jiyeon pergi ke kampus naik bus. Jiyeon mengambil diploma jurusan pariwisata sedangkan Chorong mengambil program sarjana jurusan sastra Jepang. Jiyeon mengambil jurusan pariwisata karena dia sangat menyukai traveling. Jika tabungannya sudah cukup untuk travelling maka Jiyeon akan menggunakannya travel ke tempat yang ingin ia kunjungi. Chorong, yeoja itu terlalu cinta pada bahasa Jepang. Dia berniat untuk menjadi seorang sastrawan Jepang yang sukses.
Sampai di kampus. Jiyeon dan Chorong berjalan beriringan. Dua yeoja cantik itu selalu mencuri perhatian para namja di kampus. Sampai di tangga dekat lobi depan, Chorong berbelok arah, berpisah dengan dongsaengnya yang akan menaiki tangga yang sudah berada di depan matanya. Jiyeon berjalan sendirian dengan menikmati permen karet yang sedari tadi dikunyahnya.
“Jiyeon-a!”
Jiyeon menghentikan langkahnya saat tepat di bawah tangga. Ia mencari ke segala arah. Seperti suara sahabatnya. Tapi dimana?
“Yaaak! Apa yang kau cari?” tanya Jieun yang langsung melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon secara tiba-tiba.
“Anhi. Tadi aku mendengar suara hantu, kau tahu hantunya yeoja suaranya sama sepertimu. Apa kau juga mendengarnya?” goda Jiyeon pada Jieun yang sudah membuatnya kesal.
“Omo, tega sekali kau mengejek suaraku seperti hantu. Bahkan hantu saja menutup telinga saat mendengar jeritanku. Mereka pasti kalah. Oh ya sekarang hari apa? Han Saem akan mengumumkan tugas akhir kita pada hari rabu.”
“Hari rabu ya hari ini, pabo! Tugas akhir? Kata Siwan oppa, tugas akhir tiap angkatan untuk diploma berbeda-beda.”
Jiyeon mengerutkan kening, bingung.
Setelah berjalan menempuh koridor sepanjang 100meter, Jiyeon dan Jieun tiba di ruang kuliah. Mereka berdua hampir terlambat. Hari ini Han saem akan mengumumkan tugas akhir untuk angkatan diploma yang akan lulus tahun ini.
“Sebenarnya tugas ini tidak berat. Tingkat kesulitan tugas akhir tergantung pada lokasi yang akan kalian jadikan obyek penelitian. Lokasi yang dimaksud adalah tempat-tempat pariwisata yang memiliki nilai budaya, sejatah dan keagamaan di dunia. Terserah kalian ingin mengadakan penelitian dimana, bebas.” Han saem menjelaskan tentang detail tugas akhir untuk angkatan diploma tahun ini. Mahasiswa yang ada dalam ruangan mulai memikirkan lokasi penelitian mereka hingga suara mereka semakin lama semakin bertambah volume. Han saem meminta mahasiswa memikirkannya besok.

Jiyeon berjalan keluar kelas dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di sampingnya, Jieun malah sedang menulis wishlist nya di sebuah note kecil sambil berjalan. Ketika menuruni tangga, Jieun hampir terjatuh. Untung saja Jiyeon memegang lengannya, jika tidak, ia pasti sudah berguling-guling sampai anak tangga yang terakhir.
“Haish, gunakan mata kepalamu untuk melihat jalan yang kau lewati, bukan mata kakimu.” Jiyeon memelototi Jieun yang hampir celaka karena kecerobohannya. Mereka berjalan di koridor lantai dasar.
Jiyeon menemukan sebuah bangku kosong di taman yang tak jauh dari tempatnya saat ini. “Kajja!” Jiyeon menarik lengan Jieun agar mengikuti langkahnya menuju bangku kosong di pinggir taman, 15 meter dari tempatnya berjalan.
“Yaak, ige mwoya?” berontak Jieun. Ia berusaha melepaskan tangan Jiyeon yang menarik lengannya.
“Anjaseo! Yaak, kau mau duduk atau berdiri?” Jiyeon duduk di atas bangku yang menjadi incarannya tadi. Jieun menurut. Ia duduk di samping Jiyeon.
“Jieun-a, apa kau sudah menemukan lokasi yang tepat?”
“Ajikdo…” Jieun menggeleng cukup kencang. Jiyeon berdecak heran dengan gelengan Jieun yang seperti anak kecil. “Gurae, aku akan mencarinya di mesin ajaibku. Chaaan….” Jiyeon mengeluarkan laptopnya.
“Issh… Sejak kapan kau membawa laptop ke kampus?”
“Yaak, kau pikir aku tidak sanggup membeli laptop, eoh? Sebenarnya ini laptop milik Chorong eonni. Hahaha…” Jiyeon tertawa lepas. Dihidupkannya laptop tipis itu lalu ia mulai browsing mencari artikel tentang tempat pariwisata alam di dunia. Jiyeon menginginkan lokasi pariwisata untuk penelitiannya adalah pariwisata yang memiliki nilai budaya tinggi. Ia ingin mengangkat nilai budaya itu menjadi obyek penelitiannya. Berbeda dengan Jieun, ia ingin tempat pariwisata yang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena Jieun sangat menyukai sejarah dunia.
Bola mata Jiyeon berputar-putar menbaca artikel dan melihat ganbar yang tampil di layar laptopnya. “Huwaaaa daebak!”
“Apa kau menemukannya?” tanya Jieun penasaran.
“Aku menemukannya Jieun-a. Ada dua lokasi pariwisata yang bagus untuk kita. Aku juga menemukannya untukmu.” Jiyeon tersenyum senang, bangga karena dirinya telah membantu Jieun mencari lokasi penelitian yang tepat.
“Oh, jinjjayo?” Jieun menempel pada Jiyeon untuk bisa melihat hasil searching yang Jiyeon lakukan sedari tadi. “Eodi?”
“Indonesia…” jawab Jiyeon bersemangat.
“Indonesia? Apa tidak ada tempat lain?” Jieun merasa kurang puas dengan hasil pencarian Jiyeon.
Pletaakk!
Jiyeon memukul kepala Jieun dengan buku tipis yang menjadi alas laptopnya. “Yaak, coba lihatlah. Indonesia bahkan jauh lebih luas dari Korea. Bacalah ini! Indonesia memiliki banyak sekali suku, bahasa, pulau, tempat pariwisata yang kaya akan nilai sejarah, budaya, keindahan alam. Di sana juga banyak sekali pantai indah. Salah satunya di pantai Sanur, Kuta di Bali. Pantai di Lombok juga bagus dan sangat alami. Apa kau tidak tertarik pergi ke sana?” tanya Jiyeon gemas karena Jieun meremehkan hasil pencariannya. “Igeo. Candi Borobudur, candi prambanan, kepulauan Nias, suku Toraja, masih banyak lagi yang menyimpan nilai sejarah. Bahkan candi Borobudur masuk dalam daftar keajaiban dunia. Apa kau tidak ingin meneliti di sana?”
Jieun diam saja. Sekarang ia bahkan bingung apa yang harus ia katakan. “Banyak sekali… Daebak! Gurae, aku memilih Indonesia.” seru Jieun yang menjadi lebih bersemangat daripada Jiyeon. Jiyeon memicingkan mata, menatap tajam pada Jieun. “Waeyo?” tanya Jieun polos. Jiyeon memutar bola matanya malas. “Omo, bagaimana kita ke sana? Apa lokasinya mudah dicapai?” tanya Jieun lagi.
“Yaaakk! Lee Jieun! Bacalah sendiri. Kau terlalu banyak tanya!” seru Jiyeon kesal pada Jieun yang tak.berhenti bertanya.
“Aigoo, si Dino mengamuk…” lirih.Jieun dengan tampang tak berdosa. “Yaak, lihat ini, perjalanan dari Korea ke Indonesia cukup mudah. Jika kau akan ke Bali, kau bisa naik pesawat Korea langsung ke Bandara Internasional di Jakarta lalu terbang ke Denpasar. Jika kau ingin ke Magelang tempat Borobudur, lebih baik kau terbang ke bandara Adisucipto di Jogjakarta.” jari telunjuk kanan Jiyeon melukis di atas layar laptopnya. “Omo! Jogja? Aku pernah mendengarnya. Onje?” Jiyeon mengingat-ingat sesuatu.
“Haish, ingatanmu itu buruk sekali.” Jieun mengambil alih laptop Jiyeon.
“Ingatanmu bahkan lebih buruk,” balas Jiyeon yang tidak terima atas kata-kata Jieun.
“Keurom, kapan kita ke sana?” tanya Jieun yang masih berkutat dengan laptop milik Jiyeon, anhi, tepatnya milik Chorong.
Jiyeon tampak sedang berpikir. “Tunggu tanggal mainnya.” Jiyeon mengeluarkan senyum evil-nya.

Chorong bersenandung ria di dalam kamarnya. Ia sedang asyik menyelesaikan tugas-tugasnya yang harus dikumpulkan besok lusa sembari mendengarkan lagu boyband kesukaannya.
Tok tok…
“Eonni, kau ada di dalam?” tanya Jiyeon menempelkan sisi kanan kepalanya di pintu kamar Chorong.
“Eoh. Wae?” Chorong masih asyik menggoreskan pena di atas kertas putih di depannya.
Cekleek…
Jiyeon membuka pintu kamar Chorong. Setengah badannya sudah berada di dalam kamar, setengahmya lagi msih diantara kedua gawang pintu itu. “Eonni. Aku ingin bicara sesuatu.”
“Mworago?” Chorong masih tetap.konsentrasi dengan tugasnya meskipun Jiyeon datang mengganggu.
“Eonni, untuk tugas akhir nanti, aku ingin mengadakan penelitian di Indonesia. Tepatnya di Bali. Apakah boleh?” tanya Jiyeon ragu-ragu. Takut Chorong marah.
Chorong berhenti menulis kata-kata di atas tumpukan kertas di atas mejanya, ia menatap Jiyeon fengan sedikit melirik. “Jinjja? Apa kau serius?”
“Eoh. Waeyo? Apa kau mengizinkanku eonni? Kalau eonni tidak mengizinkan, aku juga tidak akan pergi.” Jiyeon tertunduk lesu. Ia sudah menyiapkan mentalnya jika eonni-nya tidak mengizinkan. Tapi ia belum menyiapkan lokasi alternatif untuk penelitiannya jika penelitiannya di Bali batal.
“Bali?” tanya Chorong. Ia sedang mempertimbangkan permintaan Jiyeon. “Hmm gurae. Kau boleh ke sana. Oh ya, kapan kau ke sana? Aku sarankan saat libur musim semi ini. Eotte?”
Jiyeon terperangah. Kenapa justru Chorong yang bersemangat pergi ke sana? “Eonni, aku kan bukan ingin liburan, tapi untuk penelitian.”
“Aah, kau ini. Aku juga mau ke sana, Jiyeon-a. Siwan oppa mengajakku berlibur di sana.”
“Jinjjayo?” pekik Jiyeon dengan mata melotot.
Chorong mengangguk mantab. Senyum terkembang di bibirnya.

Sementara itu, di kediaman keluarga Kim, putra tunggal yang bernama Myungsoo sedang mengutak utik ipad-nya.
Myungsoo pov
Jenuh, bosan, di rumah tidak ada siapa-siapa. Appa dan eomma ke luar negeri. Biasa, urusan bisnis. Kadang juga mereka cuma berlibur. Sepulang dari Australia, aku sama sekali tidak memiliki teman. Teman-temanku berasal dari berbagai negara. Ya, aku baru saja lulus kuliah diploma di Australia jurusan Sastra Bahasa Inggris dan Jerman. Aku sudah melamar pekerjaan di berbagai bidang seperti pariwisata, pendidikan, hingga di perusahaan-perusahaan. Aku tidak mau bekerja di perusahaan appa. Menurutku jika bekerja di sana, aku akan sulit.mengembangkan diri. Karena di sana pasti semua karyawan akan mendewakan aku.
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang yang selalu rapi, tentu saja. Aku kan orang yang perfectionist. Sejenak terlintas di pikiranku untuk melamar kerja di luar negeri. Ya, Indonesia. Kebetulan kakak sepupuku, Luhan hyung tinggal di sana. Dia memiliki bisnis villa di Bali. Aah, aku akan menghubungi Luhan hyung. Mana ponselku?
To: Luhan Hyung
Hyung, kau bisa membantuku? Apa di sana ada lowongan? Paling tidak di bidang pariwisata. Aku bisa bahasa Inggris, Korea dan Jerman. Otte?

Cliiing… Sms dari Luhan Hyung
From: Luhan hyung
Eoh, kemarilah. Ada beberapa lowongan, sebagai supervisor di sebuah minimarket, tour guide, atau kau juga bisa membantuku mengurus villa. Tenang bro, maksudku mengurus penyewaan villa dan prasarana yang lain. Otte? Kalau kau mau, berangkatlah lusa.

Waah, ada lowongan di sana. Baiklah. Aku mau.
To: Luhan Hyung
Gurae, aku mau hyung. Aku ambil yang tour guide dan aku juga bersedia membantumu mengurus usahamu itu. Aku akan terbang ke Indonesia lusa.

Akhirnya aku dapat kesempatan kerja. Bali bukanlah tempat yang buruk. Bahkan Bali hampir sama dengan Jeju. Pemandangan di sana sangat menakjubkan. Aku pernah ke Bali sekali saat mengantar Luhan hyung pertama kali pergi ke sana, sebelum aku kembali ke Australia saat masih kuliah dulu. Bali wait me….

Luhan hyung benar-benar bisa diandalkan. Tidak percuma aku punya hyung sepupu seperti dia. Ahh, aku tidak sabar. Oh ya, persyaratannya harus ku siapkan sekarang. Nanti akan kukirimkan pada Luhan hyung melalui email. Keunde, aku lupa email Luhan hyung. Aish, Myungsoo pabbo. Kenapa tadi aku lupa tidak menanyakannya? Aku SNS saja. Kalau mengirim SMS biayanya mahal. Hehehe… aku kan belum bekerja, jadi harus berhemat. Ada lagi yang aku lupakan. Aku harus memberitahu appa dan eomma kalau aku melamar kerja di Indonesia dan akan tinggal bersama Luhan hyung di sana. Aku bosan sekali di sini.
Myungsoo pov end.

Hari ini Jiyeon berencana pergi ke rumah Jieun. Dia ingin membicarakan rencana keberangkatan mereka ke Bali. Jiyeon dan Jieun sudah meng-email-kan tugas akhir mereka ke Han saem dan sudah mendapat persetujuan dari gurunya itu. Jieun berencana mengadakan penelitian di Jogja namun ia ingin pergi ke Bali dulu. Jieun dan Jiyeon akan menikmati keindahan pantai dan tempat-tempat lainnya di sana.
“Waaah Jiyeon-a… Masuklah. Makanan sudah menunggumu,” seru Jieun yang baru saja membuka pintu yang telah diketuk berulang kali oleh Jiyeon.
“Jinjja? Uwaaa… Kau tahu saja kalau aku suka makan. Hehehe…” Jiyeon menampilkan senyum evil-nya.
Jiyeon dan Jieun makan bersama. Orangtua Jieun adalah pengusaha daging tersukses di Seoul. Namun Jieun sama sekali tidak menyombongkan diri. Berbeda dengan Jiyeon. Dia dan Chorong harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Jieun sering memberikan olahan daging pada Jiyeon secara cuma-cuma, sebagai tanda persahabatan.
“Mashiketa…” seru Jiyeon. “Aku sudah kenyang. Jongmal gomawoyo, Jieun-a. Oh ya, hari ini paspor kita selesai. Chorong eonni dan Siwan oppa juga ikut loh. Katanya Siwan oppa mengajaknya berlibur di Bali.”
“Jongmal? Uwaah pasti asyik rame-rame. Karena Chorong eonni sudah dibiayai oleh Siwan oppa, maka biaya untuk kita berdua akan aku tanggung. Serahkan saja padaku.”
“Jinjja? Jongmal gomawo lagi ne, Jieun-a…”

Jiyeon dan Jieun makan bersama. Mereka berteman bahkan bersahabat sejak masih kecil, kira-kira sejak umur 4 tahun. Dulu mereka bertetangga. Namun orangtua Jiyeon memilih pindah ke rumah baru yang jaraknya lebih dekat dari kantor appa Jiyeon. Persahabatan mereka tetap erat karena memang selalu bersekolah di sekolah yang sama.

Jiyeon, Chorong, Jieun, dan Siwan sudah bersiap berangkat ke Bali. Mereka masih menggu keberangkatan pesawatnya 30 menit lagi. Begitu pula dengan Myungsoo. Ia juga telah bersiap di bandara, menunggu keberangkatan pesawat ke Indonesia. Myungsoo hanya membawa satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel yang menggantung di punggungnya.
30 menit kemudian.

Semua penumpang telah menempati tempat duduk masing-masing. Ternyata kursi yang ditempati Myungsoo berada di belakang kursi Jiyeon dan Jieun. Sementara itu Chorong dan Siwan menempati kursi di bagian paling depan. Agak jauh dari dongsaengnya.
Pesawat tinggal landas. Para penumpang pun memunggu beberapa jam hingga sampai di tanah zamrud Khatulistiwa, Indonesia.

Pesawat menuju Indonesia lepas landas dengan lancar. Para penumpang mulai menikmati pemandangan dari atas awan. Beruntung hari ini cerah. Jadi keberangkatan pun tidak mengalami penundaan seperti bulan kemarin.
Jiyeon dan Jieun menikmati perjalanan mereka dengan main batu-kertas-gunting. Siapa yang kalah harus mendapat hukuman. Sangking asyiknya, mereka tidak sadar bahwa sedari tadi keduanya diperhatikan oleh seorang namja berwajah dingin karena mereka terlalu berisik. Jieun yang menyadari hal itu langsung memberi isyarat pada Jiyeon untuk tutup mulut. Jiyeon yang tidak mengerti maksud Jieun, membulatkan matanya.
“Yaak, kita sedang diawasi oleh namja itu,” bisik Jieun pada Jiyeon yang medekatkan telinganya ke arah Jieun.
“Mwo? Nugu?”
“Issh, pabbo. Mana aku tahu? Memangnya aku kenal siapa lagi jia bukan kau, eonni dan oppa?” Jieun sedikit kesal karena sikap Jiyeon.
“Eoh, araseo, araseo. Namja itu kenapa menatap kita terus-terusan? Hah, aku sumpahi dia jatuh cinta padaku.” Jiyeon membenahi posisi duduknya.
“Yaak, seenaknya saja kau mengucapkan sumpah.”
“Wae? Kalau benar terjadi juga tidak apa-apa. Ngomong-ngomong dia lumayan tampan.” Jiyeon tersenyum puas. Jieun malah menggelengkan kepalanya. Heran atas sikap Jiyeon.

Beberapa jam kemudian. Di bandara Ngurah Rai, Bali.
Jiyeon, Jieun, Siwan dan Chorong bingung mau kemana. Diantara mereka berempat yang menguasai bahasa Indonesia hanyalah Siwan. Itupun masih tergolong awam. Jiyeon dan Jieun malah bengong tak tahu apa yang harus dilakukan. Sekilas Jiyeon melihat namja yang menatapnya di pesawat.

Jiyeon pov.
Omo, bukankah itu namja yang tadi menatapku setajam silet saat di pesawat. Hmmm ternyata dia dijemput seorang yeoja cantik dan tinggi.
“Annyeonghaseo…” sapa seorang namja tampan, ah bukan. Cantik. Ya, menurutku namja ini cantik.
“Annyeonghaseo…” balas Chorong eonni, Jieun dan Siwan oppa kompak. Aku masih terpaku mengagumi makhluk namja cantik itu.
“Joneun Luhan Xi imnida. Aku adalah tour guide rombongan Anda.” Namja itu mengenalkan dirinya. Waah tour guide setampan ini? Bahkan dia.lebih tampan dari Halyu Star.
“Luhan-ssi, setelah ini kita harus kemana?” tanyaku dengan polos. Sontak, ketiga orang yang datang dari Korea bersamaku pun menoleh. Aku malah bingung dengan sikap.mereka. “Wae?” tanyaku pada mereka. “Aah, aigo, aku lupa. Nan Park Jiyeon. Ini eonniku Park Chorong, sahabatku Lee Jieun dan ini namjachingu eonni, Im Siwan.” Lagi-lagi dengan polosnya aku mengenalkan mereka semua pada namja bernama Luhan. Omo, Luhan? Seperti nama yeoja saja…
Luhan-ssi menuntun kami untuk naik taksi. Chorong eonni dan Siwan oppa naik taksi yang belakang. Sedangkan sisanya, aku, Jieun, dan Luhan-ssi naik taksi yang depan. Jieun kelihatan terpesona dengan wajah tampan Luhan-ssi. Akupun hanya berdecak lirih. Saat taksi melaju pelan, aku tidak sengaja melihat namja di pesawat tadi bersenda gurau dengan yeoja yang menjemputnya. Mereka masuk ke mobil. Setelah itu aku tidak tahu. Mereka sudah tidak terlihat lagi.
Jiyeon pov end.

“Luhan-ssi, di hotel manakah kita akan menginap?” tanya Jieun.
“Hotel Nusa Dua Bali. Kalian pasti akan suka berada di sini,” kata Luhan dengan senyum termanisnya.
Double Ji (Jiyeon dan Jieun) pun saling menatap.
Entah apa nama hotelnya yang penting nyaman dan fasilitasnya lengkap, pikir Jiyeon.

“Sudah sampai.” Luhan membuka.pintu taksi.
Double Ji pun menyusul keluar dari taksi dan menyeret koper mereka masing-masing yang kemudian disambut oleh dua orang namja asli Indonesia yang bertugas membawakan barang-barang mereka.

Myungsoo menanti kedatangan Luhan. Meski saat di bandara ia telah bertemu dengan hyungnya itu, rasa rindunya harus ditahan karena Luhan sedang melaksanakan tugasnya sebagai tour guide.
Cekleeek…
Pintu utama villa mewah milik keouarga Luhan terbuka. Muncul sosok namja yang rupawan, siapa lagi kalau bukan Luhan sang pemilik villa.
Mendengar pintu terbuka, Myungsoo berhambur menemui Luhan di ruang santai.
“Hyung!” panggil Myungsoo yang langsung mendapat respon dari pemilik status yang baru saja ia serukan.
“Eoh, mian tadi aku harus bertugas. Maklum saja, tour guide di sini jarang yang fasih dan lancar bahasa korea dan bahasa China. Kau sudah mandi?” tanya Luhan yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas yang dipegangnya.
“Eoh,” jawab Myungsoo singkat. “Oh ya, hyung, apa kau sudah mengirimkan surat lamaranku ke pusat pelatihan tour guide?”
“Sudah. Kau sudah diterima berdasarkan ijazah dan berkas-berkasmu yang lain. Besok kau harus ikut aku ke pusat pelatihan. Kau harus menjalani pelatihan minimal dua minggu. Apa kau bisa bahasa Indonesia?” Luhan meletakkan gelasnya di atas meja ruang makan yang bersebelahan dengan ruang santai.
“Sedikit. Teman-temanku dulu juga banyak yang dari Indonesia. Tapi aku tidak tahu rumah mereka dimana. Hahaha… Aku suka orang Indonesia. Mereka ramah sekali. Inilah perbedaan mereka dengan bangsa lain.” Myungsoo menyandarkan punggungnya ke sofa warna cream yang didudukinya. Luhan menatapnya aneh.
“Oh ya, apa tadi Hwayoung mampir ke sini?” tanya Luhan.
“Eoh. Hanya sebentar. Wae?”
“Tadi namjachingunya menanyakan keberadaannya padaku. Aku juga tidak tahu karena tadi kan dia menjemputmu. Sudahlah. Aku mau mandi lalu tidur. Besok pagi harus bertugas lagi. Kau juga, tidur sana.” Luhan menaiki tangga yang terbuat dari kayu jati. Villa milik keluarganya itu memiliki desain yang unik. Desain yang menggabungkan antara rumah model Indonesia dengan beberapa sentuhan desain Eropa. Jadi terkesan mewah dan berkelas.

Keesokannya, double Ji, Chorong dan Siwan menunggu tour guide mereka di lobi depan. Sudah sepeluh menit mereka menunggu di sana. Jiyeon melihat sosok namja yang dinanti-nanti. Kemudian dia berdiri dan memanggil Luhan.
“Luhan-ssi!” seru Jiyeon. Luhan menoleh ke arahnya lalu mengayunkan langkahnya menghampiri rombongan dari Korea itu.
“Ah, mian sudah membuat kalian menunggu lama. Tadi aku harus mengantar dongsaengku ke pusat pelatihan tour guide. Lalu meluncur ke sini. Ya sudah, ayo kita berangkat.”
Jiyeon sangat bersemangat, begitu juga Chorong. Pasangan kakak beradik itu tampak kompak untuk saat ini. Sedangkan Jieun dan Siwan masih bingung mereka akan dibawa kemana. Jieun malah berpikir negatif. Dia berpikir bahwa Luhan akan menyekap mereka di sebuah gudang atau bangunan kosong.
“Yaak, Jieun-a!” panggil Jiyeon yang sukses membuyarkan lamunan Jieun. “Kau melamun apa? Apa kau membayangkan kencan dengan Luhan-ssi?” goda Jiyeon.
Pletakk!!
Sebuah pukulan dari tangan Jieun mendarat mulus di kepala Jiyeon. Yeoja itupun meringis kesakitan untuk menggoda Jieun lagi.
“Aku tidak akan terpengaruh. Kau itu pandai bersandiwara,” ketus Jieun.
Jiyeon tersenyum. Jieun memang sudah sangat mengenal Jiyeon karena mereka sudah bersahabat sejak lama sekali.
Dalam perjalanan, rombongan Jiyeon tak henti-hentinya melihat pemandangan sekeliling. Bayak turus asing, kios-kios souvenir, pura, dan pemandangan lainnya yang membuat mereka kagum. Tanpa terasa, mereka telah sampai di salah satu pantai terindah di Indonesia, Kuta beach. Jiyeon membulatkan matanya melihat keindahan pantai itu, ombaknya bergulung teratur, banyak peselancar memamerkan aksi mereka.
“Waah, daebak!” Chorong berjalan mendekati pantai dengan semagat tinggi.
“Eonni, aku tidak pernah melihat pantai seindah ini. Waah aku tidak sabar ingin berenang di sana,” tunjuk Jiyeon ke arah gulungan ombak.
Melihat orang-orang di depannya terkagum-kagum akan keindahan pantai Kuta, Luhan hanya tersenyum. Ekspresi mereka sama dengannya saat ia menginjakkan kaki pertama kali di pulau Dewata itu.
“Luhan-ssi, apa nama pantai ini?” tanya Jiyeon.
“Pantai Kuta.”
“Kuta? Lucu sekali…” gumam Jiyeon lirih namun dapat didengar oleh Luhan.
Chorong dan Siwan menikmati kemesraan mereka dengan ombak-ombak yang bergulung bolak-balik. Sedangkan double Ji hanya melihat.mereka berdua dari kejauhan.
“Ternyata begitu ya kalau memiliki namjachingu…” ungkap Jieun yang tak melepas pandangannya.pada Chorong dan Siwan yang bermesra-mesraan di tepi pantai.
“Kenapa kita belum pernah merasakan yang namanya pacaran ya…” Jiyeon mempoutkan bibirnya. “Ah, Chorong eonni membuatku galau.”
“Aku tidak merasa jelek. Tapi kenapa kita belum laku?” keluh Jieun.
“Kau dan aku sama-sama cantik karena kita sudah bersahabat lama sekali. Bahkan kau lebih dari sahabat. Ah, anhi. Saudara. Kau lebih dari saudara.”
“Memangnya apa ada yang lebih dekat dari saudara?”
“Aah andwae! Tidak mungkin kalau aku berpacaran denganmu…”
“Yaak, pabbo. Memangnya aku.sudah gila, eoh?” Lagi-lagi Jieun dibuat kesal oleh Jiyeon.
Jiyeon tertawa lepas. “Araseo… Kau dan aku lebih dari saudara. Ah, bagaimana kalau saudara kembar?”
Kali ini malah Jieun yang tertawa lepas. “Bisa juga. Kita saudara kembar. Hmm siapa yang eonni dan siapa yang dongsaeng?”
Jiyeon dan Jieun malah menikmati kebersamaan mereka berdua dengan duduk-duduk di tepi pantai.

Malam ini, sesuai jadwal yang mereka buat dengan Luhan, waktunya melihat pertunjukan seni khas Bali. Semua tampak antusias. Setiba di lokasi, Luhan menuntun mereka untuk melihat pertunjukan itu dari dekat. Berbagai macam pujian keluar begitu saja. Tari khas Bali benar-benar daebak, pikir Jiyeon. Jiyeon berdiri di samping Chorong, Jieun berdiri agak jauh dari mereka. Sedangkan Siwan berdiri dekat dengan sang penari.
“Eonni, bagaimana bisa ada tarian seindah itu?”
“Ah, molaseo. Indonesia memang memiliki banyak sekali tari daerah. Ini masih salah satunya.” Chorong tetap terpaku melihat sang penari meliuk-liukkan tubuh. “Omo! Jiyeon-a, kau kan jago dance. Apa kau bisa menirukan gerakan mereka?”
“Michyeoseo? Anhi. Aku tidak bisa. Gerakannya indah sekali. Orangnya juga cantik-cantik.”
“Yaak, liat itu. Bagaimana mera melakukan gerakan mata seperti itu?” tanya Chorong.
“Molla, eonni.”
“Kau bisa mnirukan gerakan mata mereka? Matamu kan lebih.lebar dari mataku.”
“Aah, eonni. Neo michyeoseo? Dari tadi mengatakan hal yang tidak masuk akal. Mana bisa aku menirukan mereka? Haissh… Itu tarian tingkat tinggi.”
“Kostumnya… Apa mereka tidak merasa risih dengan kostum seperti itu?”

Chorong tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Apalagi sekarang salah satu penari meminta Siwan untuk ikut menari bersama. Tentu saja Siwan bingung. Ia hanya menirukan sedikit gerakan yang dirasa mudah untuk ditirukan. Chorong mengambil posisi di tempat lain, ia ingin mengambil foto Siwan yang berada di tengah-tengah penari. Ini kesempatan langka, batinnya. Indonesia benar-benar negara yang kaya budaya yang menyenangkan dan indah seperti ini. Chorong tidak bisa membayangkan betapa banyaknya jenis tarian di Indonesia. Jika tari Bali begitu indah, bagaimana dengan tari-tari yang lain? Chorong semakin penasara. Ia pun berjanji dalam hati jika ada kesempatan dan uangnya cukup, ia akan kembali ke Indonesia dan mengunjungi tempat-tempat yang indah selain Bali.

Sementara itu, Jiyeon menikmati tontonan tarian itu sendiri, jauh dari Jieun, Chorong maupun Siwan. Ia terlalu asyik melihat gerakan para penari yang menurutnya menakjubkan hingga tak menyadari sekelilingnya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti.

“Eonni, kapan-kapan aku akan belajar menari tarian ini.” Jiyeon tersenyum senang. Karena tidak ada respon dari eonni-nya, ia menoleh ke arah tempat Chorong di sampingnya. Matanya membelalak. Namja itu. Ya, Myungsoo, namja yang menatap Jiyeon dan Jieun di pesawat, kini berdiri di samping Jiyeon. Myungsoo merasa ada yang menatapnya, ia pun menoleh. Jiyeon memalingkan wajahnya.

“Omo, namja itu lagi…” lirih Jiyeon.

Myungsoo masih melihat Jiyeon yang berdiri mematung di sampingnya. Ia sedikit ingat postur tubuh Jiyeon dan wajah Jiyeon dari arah samping. Tiba-tiba Jiyeon melihat ke arahnya. Pandangan mereka bertemu namun Jiyeon buru-buru memalingkan wajahnya tadi. Sedangkan Myungsoo mengerutkan keningnya. Bertanya-tanya adapa dengan yeoja itu. Kenapa melihatnya sama seperti melihat hantu?

“Jeogi, kau yeoja yang di pesawat itu kan?” Myungsoo buka suara. Ia tidak tahan penasaran. Lebih baik bertanya daripada penasaran berkelanjutan.

Jiyeon perlahan-lahan menghadapkan wajahnya ke arah Myungsoo. “Ah, ne.” Jiyeon tidak berani menatap mata Myungsoo. Pasti tatapannya sama tajamnya dengan saat di pesawat, pikir Jiyeon.

Tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Myungsoo. Ia merasa rasa penasarannya sudah terobati dengan jawaban singkat dari yeoja itu. Lagipula ia tidak mengenal yeoja yang berdiri di sampingnya.

Myungsoo datang ke acara pertunjukan tari itu karena dia sedang dalam masa pelatihan untuk menjadi tour guide. Ia harus bisa mengenal dan menghafal segala tentang Bali dan Indonesia. Maka dari itu, nantinya Myungsoo akan menggunakan waktunya untuk pergi ke tempat-tempat wisata, pertunjukan seni seperti tari Bali, atraksi, dan lain sebagainya.

Jiyeon mencari keberadaan rombongannya dengan menoleh kanan-kiri, membolak-balikkan badannya. “Opseo..” lirihnya.

Myungsoo mendengar kata yang keluar dari mulut Jiyeon. Ia pun mengikuti pandangan Jiyeon yang bingung mencari rombongannya. Saat sibuk mencari ke segala arah dengan penglihatannya, tiba-tiba mata Jiyeon dan Myungsoo bertemu. Jiyeon terlihat panik. Ia tidak menemukan keberadaan rombongannya. Akhirnya Jiyeon melangkahkan kaki mencar ke segala tempat. Myungsoo mengikutinya dengan berlari kecil.

“Eonni!” seru Jiyeon diantara kerumunan orang-orang yang mulai membubarkan diri. “Lee Jieun!” seru Jiyeon lagi. Kali ini ia meneriakkan nama Jieun. Orang-orang di sekelilingnya memandang aneh. Jiyeon masih berlari ke sana kemari, mencari rombongannya. Tiba-tiba ia berhenti, berdiri sejenak lalu jongkok di dalam kerumunan orang banyak.

Myungsoo melihat Jiyeon yang panik dan bingung. Ia mendekati Jiyeon dan menarik lengan yeoja itu untuk berdiri. “Ireona!”

Jiyeon mendongakkan kepalanya. Ia melihat Myungsoo di depannya, menarik lengannya. Jiyeonpun berdiri.

“Siapa nama tour guide’mu?” tanya Myungsoo. Ia dan Jiyeon berjalan pelan menuju tempat yang aman dari kerumunan orang.

“Lu, Luhan Xi,” jawab Jiyeon lirih.

Myungsoo mengerutkan keningnya. Luhan hyung? batinnya.

“Kau tunggu di sini. Aku cari tour guide mu itu.” Jiyeon menurut. Myungsoo melangkah pergi meninggalkan Jiyeon di depan sebuah pura.

Jiyeon mencari tempat duduk di sekitarnya. Ia menunggu Myungsoo datang dengan Luhan di depan pura. Sepuluh menit, lima belas menit. Myungsoo ataupun Luhan belum datang. Jiyeon ingin menangis. Jika ia hilang di Korea itu tidak masalah. Masalahnya akan berbeda jika ia hilang di Bali, Indonesia. Sesaat kemudian, seorang namja datang menghampirinya. Luhan.

“Jiyeon-ssi…”

Jiyeon mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya. “Luhan-ssi? Akhirnya aku bertemu dengan orang yang bisa mengantarku ke hotel.”
Luhan mengantar Jiyeon kembali ke hotel. Ia pun minta maaf karena keteledorannya, Jiyeon terlantar di lokasi pertunjukan tadi. Jiyeon sudah memaafkannya.

Di kamar, Jiyeon memeluk Chorong. Ia hampir saja kehilangan eonninya tercinta. Chorong membelai lembut rambut panjang dongsaengnya itu.

Hari ini, Jieun harus mengunjungi semua tempat wisata di Bali. Ia hanya punya waktu tiga hari di Bali. Setelah itu, ia harus terbang ke Jogja untuk menyelesaikan penelitiannya. Jiyeon memulai penelitiannya hari ini. Ia mendatangi kantor walikota Denpasar, pergi ke beberapa tempat bersejarah, dan meminta berkas salinan tentang tempat-tempat yang baru dia datangi. Jiyeon pergi ke sana kemari hanya bermodalkan GPS. Awalnya Jiyeon ingin mengajak Jieun. Tapi ia kasihan pada sahabatnya itu karena hari ini adalah hari terakhir Jieun di Bali. Ia pun meminta Jieun untuk mengajak Chorong eonni pergi ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi.

Cuaca di Indonesia tidak sama dengan di Korea. Matahari terik berada tepat di atas kepalanya. Karena panas, Jiyeon mampir ke sebuah rumah makan untuk membeli minuman atau kalau memungkinkan, ia akan membeli makanan juga. Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah makan yang menjadi incarannya, ia menabrak seseorang. Anhi, lebih tepatnya tak sengaja bertabrakan.

Tbc.

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s