Doubtless [Chapter – 2]

doubthless

Prev: 1 |

Cast:
Jiyeon T-Ara, Seungri Bigbang, Ken VIXX, Seohyun SNSD
Support cast:
Bae Suzy, Lee Donghae, Ham Eunjung, Kim Woobin, Lee Qri
Genre:
Romance, Marriage Life, AU, Friendship
Length: Multichapter
Rating: PG – 13

This storyline and artposter are mine.
NOT ALLOWED to Plagiat / Copy Cut / Take Idea / Bash

Don’t forget to leave Ur feedback!
Sorry for typos somewhere 😀
Happy Reading!

 

Dengan menghentakkan kakinya di atas lantai restoran, Jiyeon keluar menyusul Suzy dan Ken yang berjalan di depannya. Ia kesal pada kedua sahabatnya itu. Mereka tidak tahu betapa bahagianya bertemu dengan idola yang selalu hadir dalam mimpi. “Mereka menyebalkan!” gerutu Jiyeon dengan wajah ditekuk.

“Yaak! Kenapa kau menatap kami seperti itu?” tanya Suzy yang tiba-tiba menghentikan jalannya dan membalikkan badan, menatap Jiyeon dengan ekspresi bingung.

“Hanya ingin menatap kalian seperti itu. Aigoo, malam ini benar-benar membuat aku gerah!” Jiyeon melewati Suzy yang berdiri mematung menatap aneh padanya. Beberapa detik kemudian Jiyeon mendahului langkah Ken.

“Hei Dino!” panggil Ken yang merasa heran melihat polah tingkah Jiyeon yang aneh.

Jiyeon tetap tak menanggapi Suzy dan Ken. Dia telah menghilang di balik mobil-mobil yang berjajar di tempat parkir.

“Oppa, apakah dia akan pulang sendirian?” Suzy bertanya pada Ken.

Ken mengangkat kedua bahunya. “Mana ku tahu.”

Karena malam semakin larut, Suzy dan Ken memutuskan untuk pulang bersama dan meninggalkan Jiyeon yang entah sedang berada di mana.

“OMG! Di mana Suzy dan Ken? Bukankah mereka berdua masih di sini saat aku masuk ke dalam toilet tadi?” Jiyeon berlari ke sana kemari mengitari tempat parkir yang tak begitu luas hanya untuk mencari sosok Ken dan Suzy. Mereka berdua menghilang bersama mobil Ken yang terparkir tak jauh dari pintu tempat parkir itu. “Mwoya? Aku ditinggal lagi? Mereka yang mengajakku pulang. Tapi justru malah mereka yang sering meninggalkanku sendiri. Aissh!” Jiyeon melampiaskan kekesalannya dengan menendang ban sebuah mobil yang ada di hadapannya.

Alarm mobil itu langsung berbunyi setelah kaki kanan Jiyeon berhasil menendangnya.

“Otteohke?” Jiyeon panik.

Tap tap tap!
Suara langkah dua orang terdengr samar-samar di sela-sela bunyi alarm mobil. Jiyeon menjauh dari mobil yang ditendangnya tadi. Dia menutup kedua telinganya.

“Apa yang terjadi?” tanya Seungri pada manajernya yang memeriksa mobil mereka. Rupanya ban mobil yang ditendang oleh Jiyeon adalah mobil milik agensi Bigbang, YG Entertainment.

Jiyeon yang melihat Seungri dan manajernya di depan mobil itu, membelalakkan mata bulatnya. “Ya Tuhan, i, itu mobil YG?” Tak lama kemudian dia berjalan pelan ke arah mobil yang ditatap oleh Seungri.

“Seungri-ssi!” panggil Jiyeon lirih.

Seungri menoleh ke asal suara. Dia sedikit terkejut melihat sosok Jiyeon masih berada di tempat parkir. “Jiyeon-ssi, kau masih di sini?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Ne. Ah, maafkan aku. Gara-gara ulahku, alarm mobilnya berbunyi. Ta, tapi aku tidak berbuat apapun pada mobil itu. Sumpah! Tadi aku hanya menendang ban mobilnya karena kesal pada dua orang temanku.”

Seungri dan manajernya melihat ban yang ditunjuk oleh Jiyeon. Mereka tersenyum mendengar pengakuan Jiyeon yang sangat konyol dan kocak.

“Tidak apa-apa, Jiyeon-ssi,” kata sang manajer dengan ramah.

“Benarkah? Wah, untung saja. Kalau kalian tidak terima, aku bisa hancur.” Jiyeon mengelus dada karena lega, si empunya mobil tidak menuntut apa-apa padanya.

“Katamu, dua orang temanmu sudah pulang. Apakah kau ingin pergi bersama kami? Kami akan mengantarmu pulang sampai ke rumah.” Seungri menawarkan tumpangan pada Jiyeon. Tentu saja Jiyeon mengiyakannya. Bagaimana dia bjsa menolak tawaran idola favoritnya?

Mobil milik YG entertainment melaju dengan kecepatan standar. Jiyeon, Seungri, dan manajer Bigbang itu mengobrol dan bercanda ria di dalam mobil.

“Manajer-nim, apakah kau tidak lelah mengurus jadwal dan keperluan member Bigbang?”

Manajer hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jiyeon.

“Pertanyaanmu tidak bermutu. Manajer kami tidak hanya satu. Ada beberapa manajer dengan tugas yang berbeda-beda,” sahut Seungri.

“Benarkah?” Jiyeon menggaruk tengkuknya canggung.

20 menit kemudian, mobil YG itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang terlihat rapi. Jiyeon turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil itu melesat pergi.

“Gamsahamnida…” ucap Jiyeon yang tengah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.

Jiyeon melompat kegirangan karena dia merasa hubungannya dengan sang magnae Bigbang itu semakin dekat. “Aku pasti bisa lebih dekat lagi dengan Seungri. Ya Tuhan, semoga Engkau menakdirkan aku berpasangan dengannya.” Jiyeon berbicara dengan dirinya sendiri.

Cahaya di dalam kamar sederhana yang terletak di sebelah ruang tamu sebuah hanok terlihat redup. Rupanya sang penghuni kamar sedang menatap foto seorang pria tampan dengan gaya yang sangat maskulin. Siapa lagi kalau bukan Jiyeon yang sedang jatuh cinta pada Seungri. Sebelum tidur, gadis itu terus menerus menatap foto-foto keren pemilik nama Lee Seungri. Jiyeon tersenyum membayangkan dirinya berpacaran dengan Seungri hingga akhirnya dia tertidur.

Pagi ini Jiyeon sudah mulai menjalani masa training sebagai pembawa berita selebriti. Dia selalu bertanya-tanya, apa pentingnya berita para selebriti? Mungkin kalau berita para atlit atau orang berprestasi akan sangat berguna karena bisa memotivasi semua orang untuk mengejar cita-cita dan impian mereka.

Jiyeon tengah duduk di sebuah bangku dan menghadap seseorang.

“Kau sudah siap?” tanya orang itu yang ternyata bernama Ken.

“Tunggu dulu!” Jiyeon melayangkan lima jari tangan kanannya di udara.

“Yaak! Kau bercanda? Siaran live segera dimulai.”

“Oke, kita mulai.” Jiyeon merapikan blazer hitam yang ia kenakan dan menunjukkan ekpresi layaknya seorang pembawa berita.

Berita selebriti hanya diberikan waktu selama 30 menit dari keseluruhan penyiaran berita pada hari itu. Selama 30 menit itu, Jiyeon menahan rasa tegang yang hanya akan membuatnya gagal dalam masa training. Setelah selesai syuting membawakan berita, Jiyeon mengambil secangkir kopi dari ruang staf. Dia duduk di sebuah kursi lalu berusaha mengatur nafasnya karena tegang tadi.

Dihelanya naafas panjang lalu dihembuskan begitu saja. “Benar-benar pengalaman pertama. Tampil di layar tv membuatku semakin percaya diri.” Jiyeon tersenyum sendiri.

“Jiyeon-ssi!”
Jiyeon menolehkan kepalanya. Kedua matanya terbelalak begitu saja saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya. “S, Seungri-ssi…” lirihnya tertegun melihat Seungri berdiri di depannya. Jiyeon menoleh kanan-kiri untuk mencari seseorang. Mungkin Seungri datang ke tempat itu bersama beberapa kru dari agensinya. “Ada apa?” tanya Jiyeon saat selesai celingukan.

Seungri tersenyum dan menempati kursi di samping Jiyeon. “Ada sesuatu yang terjadi di dalam ruang siaran. Jadi, aku diminta menunggu di sini. Kau sendiri sedang apa?”

Uhuk!
Tiba-tiba Jiyeon terbatuk saat sedang meminum kopinya. Cairan kopi berwarna hitam itu muncrat sedikit di baju Jiyeon.

“Eotteohke?” Jiyeon melihat kemejanya yang terkena cairan kopi. Beruntung ia memakai blazer warna hitam sehingga noda kotor tidak akan terlihat jelas pada blazernya.

“Kau baik-baik saja, Jiyeon-ssi?” tanya Seungri yang juga terkejut melihat baju Jiyeon kotor. “Pakai sapu tanganku ini.” Ia mengulurkan tangannya yang memegang sebuah sapu tangan berwarna biru muda.

“Gomawo,” ucap Jiyeon singkat.

“Kau bekerja di perusahaan ini?”

“Ne, aku mulai kerja hari ini. Syukurlah siaran perdanaku tadi sukses. Meskipun masih kaku, Ken bilang kalau aku lumayan bagus untuk seorang pemula yang belum punya pengalaman. Kau sendiri sedang apa di sini? Sepertinya tidak ada siaran langsung yang akan menyertakanmu.”

“Aku datang ke sini hanya untuk menandatangani kontrak.”

“Kontrak apa?” Jiyeon selalu ingin tahu.

“Maaf, itu rahasia.” Seungri trsenyum evil.

Jiyeon mendesah kasar. Laki-laki emang pelit, pikirnya. “Baiklah, aku mengerti.”

Jiyeon berpikir bahwa sesuatu yang dirahasiakan oleh Seungri pasti akan terbongkar dan diketahui oleh semua orang di dunia ini. Jadi, dia tidak ingin ambil pusing memikirkan sesuatu yang dapat menyita waktu berharganya.

Tap tap tap!
Suara hentakan high-heel terdengar semaain jelas di telinga Seungri dan Jiyeon. Keduanya terdiam saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang ternyata menuju ke ruangan di mana mereka berdua sedang asyik mengobrol.

“Jeogi,” ucap seorang gadis.

Seungri dan Jiyeon menolehkan kepala mereka ke arah sang gadis berambut panjang itu. Gadis itu tersenyum. Jiyeon sempat tercengang melihat sosok gadis cantik tmyang tengah berdiri di depan pintu ruangan itu. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Seungri. Laki-laki tampan itu justru melempar senyum balik ke arah gadis bernama lengkap Seo Joo Hyun atau akrab dipanggil dengan nama Seohyun.

“Seungri-ssi, kau juga di sini?” tanya Seohyun yang baru menyadari kalau laki-laki yang sedang mengobrol tadi adalah Seungri.

“Ne. Senang bertemu denganmu.” Seungri masih memajang senyum manisnya.

Seohyun mengangguk pelan. “Nado.”

“Seohyun-ssi, apa yang membawamu kemari?” tanya Seungri.

Seohyun belum menjawab pertanyaan Seungri. Dia mengambil beberapa langkah mendekati tempat duduk yang tersisa di samping Jiyeon. Tak lama kemudian, dia menduduki kursi yang berada tepat di samping Jiyeon. Hal itu berarti Jiyeon duduk diantara Seohyun dan Seungri, dua orang idol papan atas.

“Besok aku akan mengikutin wawancara di stasiun ini. Oh ya, apakah Anda Park Jiyeon?” tanya Seohyun pada Jiyeon yang terus menerus kagum pada Seohyun.

Jiyeon terkejut mendengar namanya disebut oleh Seohyun. “Ah, ne. Aku Park Jiyeon.”

Selama beberapa menit, Jiyeon dan Seohyun terlihat serius membicarakan sesuatu yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

“Aku tahu apa yang harus ku lakukan, Nona Seo.”

“Baiklah, aku percaya padamu, Jiyeon-ssi.” Seohyun beralih pada Seungri yang berlagak cuek di depan gadis itu.
“Sikapmu belum berubah, Seungri-ssi.”

Seungri hanya menyeringai kecil. Dia menyadari bahwa ucapan Seohyun memang benar. “Ya, begitulah. Kehidupan sebagai seorang idola bisa dikatakan sebagai ilusi saja. Yang terpenting adalah fans tidak dikecewakan oleh sikap kita.”

Jiyeon yang mendengar kalimat dari mulut Seungri, bertanya-tanya dalam hati dan otaknya mencoba mencerna maksud ucapan itu. ‘Sepertinya ada sesuatu antara Seungri dan Seohyun yang belum diketahui oleh publik,’ batin Jiyeon.

Seohyun bersikap sebaliknya. Dia tersenyum menatap Seungri dengan tatapan yang tak biasa, tak seperti tatapan pada seorang teman. “Kau memang selalu pandai bermain kata.”

Sengri menanggapi kata-kata Seohyun dengan senyuman.

Layaknya matahari yang perlahan merangkak turun di ufuk timur, Jiyeon melanglahkan kaki jenjngnya mengikuti arah sang matahari yang kembli ke peradunnya. Hari ini adalah hari pertama dia bekerja sebagai pembawa berita selebriti. Jiyeon dituntut untuk mengenal lebih dekat setiap idola yang menjadi bintang tamu dalam acara wawancaranya yang harus dilakukan 2 kali seminggu. Siapa sangka, gadis cantik dengan hidung lancip ini akan menjadi pembawa acara wawancara dengan Seungri untuk minggu ini dan Seohyun untuk minggu depan.

Saat memikirkan kata-kata yang akan Jiyeon ucapkan dalam acara wawancara dengan Seungri, tiba-tiba Ken muncul di depannya. “Yaak! Menyebalkan sekali!” teriak Jiyeon yang kaget setengah mati akibat ulah Ken.

Laki-laki tampan itu hanya tersenyum melihat tampang polos Jiyeon. “Aku memang sengaja melakukannya.”

“Kau selalu begitu,” gerutu Jiyeon yang masih kesal.

Ken merangkul bahu kiri Jiyeon menggunakan tangan kanannya. “Kau nampak serius mempelajari kertas itu.”

Jiyeon mengarahkan pandangannya pada secarik kertas yang dipegangnya sedari tadi. “Tentu saja. Aku tidak seperti orang yang lainnya.”

“Woah! Kau bertanggung jawab sekali. Aku bangga padamu.” Ken menepuk bahu Jiyeon. “Mau makan malam denganku?” tawar Ken pada Jiyeon.

“Tumben sekali…” sahut Jiyeon.

“Mau atau tidak?” ulang Ken.

“Pasti. Tentu saja aku mau ditraktir. Boleh juga. Hehehe…” Jiyeon tersenyum evil.

Ken melirik ke arah Jiyeon. “Yaak! Apa yang kau pikirkan, eoh? Kau tidak berniat membuatku malu  kan?”

“Anyio. Bukan begitu. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Ya ampun! Aku keceplosan.” Jiyeon terlihat salah tingkah di depan Ken. Dia tak tahu kenapa bisa bertingkah aneh seperti itu.

Ken mengerutkan keningnya saat melihat keanehan yang terjadi pada Jiyeon. Sikapnya seperti orang yang bingung. “Yaak! Ada apa denganmu?” tanya Ken.

Jiyeon menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia menarik nafas panjang. “Apa yang terjadi padaku?”

Ken mengangkat kedua bahunya.

“Aku pasti sudah gila.” Jiyeon menepuk dahinya.

“Jangan bersikap aneh seperti itu lagi. Sikapmu yang tadi bisa membuatku merinding,” kata Ken yang sedikit mengejek Jiyeon. “Nanti malam aku tunggu kau di tempat biasa.” Ken meninggalkan Jiyeon berdiri terpaku menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.

Jiyeon mendesah kesal pada dirinya sendiri. Ia menyesal bertingkah aneh di depan Ken. “Apa yang terjadi padaku?” Ia menepuk kedua pipinya.

Pukul 6 sore, Jiyeon meninggalkan gedung siaran. Dia berjalan gontai menuju tempat parkir yang berjarak tak kauh dari tempatnya berdiri.

“Kau bisa melakukannya?”

Jiyeon mendengar suara seorang wanita dari arah tempat parkir. Dahinya berkerut, mengingat siapa pemilik suara itu karena telinganya merasa tak asing mendengar suara yang menggema dengan jelas.
“Suara siapa?” lirih Jiyeon saat hendak menghampiri mobilnya. Jiyeon tak mengindahkan suara aneh itu. Dia telah masuk ke dalam mobilnya dan…
“Oh God!” serunya dengan suara yang volumenya dapat dikontrol. “Seohyun? Sedang apa wanita itu di tempat seperti ini?”

Kriiiing!
Ponsel Jiyeon berdering hingga membuatnya terlonjak kaget.
“Aish! Ken! Selalu saja mengagetkanku,” gerutu Jiyeon saat melihat layar ponselnya menyala dan nama Ken tertera di sana.

“Eoh, wae?” tanya Jiyeon malas.

“Kau sudah meluncur ke lokasi?” tanya Ken dari seberang telepon.

Jiyeon menyalakan mesin mobilnya. “Eoh, aku baru saja menyalakan mesin mobilku. Sebentar lagi aku sampai di sana. Apakah kau sudah menungguku di sana?”

“Aku sudah jamuran menunggumu di sini. Palliwa! Kau ingin melihatku beruban karena terlalu lama menunggumu?”

“Baiklah. Aku segera datang, Kakek tua.”
Klik!
Sambungan terputus.

Hanya dalam waktu 10 menit, Jiyeon telah sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Mobilnya pun telah terparkir dengan rapi. Saat baru saja keluar dari mobil, ia melohat mobil Hyundai putih milik Ken terparkir tepat di belakangnya. Jiyeon tersenyum kecil. Dia selalu datang terlambat dan Ken selalu datang lebih dulu.

Tap tap tap!
“Ken!” panggil Jiyeon saat melihat Ken sedang asyik buble tea-nya.

Ken mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggil namanya dengan suara lantang. “Eoh, kau sudah datang. Duduklah!”

Jiyeon menarik kursi kosong di depan Ken lalu mendudukinya. “Kau sudah memesan makanan?” tanya Jiyeon yang baru saja diberikan buku menu oleh seorang pelayan.

“Ajikdo,” jawab Ken singkat.

Karena Ken belum memesan makanan, Jiyeon memutuskan untuk memesan makanan dua porsi. Tentu saja bukan untuk dirinya sendiri. Satu porsi untuk Ken dan satu porsi untuk dirinya sendiri. Selera makan mereka berdua sama, jadi mudah saja menentukan makanan yang akan mereka santap malam ini.

Setelah selesai memesan makanan, Jiyeon menatap laki-laki tampan yang sedang asyik menikmati pemandangan air mancur di sisi kiri restoran itu.

‘Kenapa aku baru menyadari kalau Ken itu tampan dan keren. Tak kalah dari Seungri. Mungkin kalau dia menjadi idol, namanya akan dikenal banyak orang dan fansnya bertebaran di mana-mana,’ batin Jiyeon.

“Yaak! Apa yang kau lihat, eoh?” Ken membuyarkan lamunan Jiyeon.

Jiyeon tergagap karena ketahuan menatap Ken dengan tatapan yang tak biasa. “A, aku… aku hanya melihat apa yang bisa aku lihat.”

“Sudah ku bilang, jangan bersikap aneh di depanku. Kau membuatku merinding.”

Jiyeon memanyunkan bibirnya. “Enak saja, kau bilang begitu.”

Makan malam berlangsung dengan santai. Jiyeon dan Ken bersenda gurau layaknya sahabat yang sudah terlalu dekat.

“Jiyeon-ssi!” panggil seseorang yang berdiri di samping meja dengan wajah tertutup masker.

Jiyeon dan Ken menoleh.
“Kau memanggilku?” tanya Jiyeon memastikan.

Orang itu mengangguk.
Jiyeon dan Ken saling pandang. “Tapi… siapa kau? Apakah aku mengenalmu?” tanya Jiyeon lagi.

Laki-laki berpakaian hitam, bertopi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya itu menarik lengan Jiyeon dan membawanya ke tempat yang lebih sepi di dekat toilet.

“Siapa kau?” tanya Jiyeon dengan suara yang lebih tinggi.

Laki-laki itu menatap Jiyeon lalu membuka masker hitamnya.

“Seungri-ssi? Kau….”

“Ya, ini aku.”

Jiyeon memandang Seungri aneh. Dia melihat kostum Seungri dari bawah hingga ke atas. “Kenapa kau memakai kostum seperti ini?”

“Tadi aku pergi ke minimarket yang dekat dari rumah temanku. Tiba-tiba para fansku mengetahui penyamaranku. Mereka mengejarku dan… aku tak tahu harus pergi ke mana. Tiba-tiba aku berbelok ke tempat ini.”

“Kenapa tempat ini?”

“Entahlah, mungkin karena aku lapar dan ingin membeli makanan. Aku takut ditangkap oleh para sasaeng itu.”

Jiyeon percaya sepenuhnya pada Seungri. Ya, dia memang seorang fans Lee Seungri yang fanatik namun tidak egois. Fans yang selalu ingin melihat idolanya tersenyum dan berharap bisa akrab dengannya.
“Lalu kenapa kau menghampiriku?” Jiyeon merasa bahwa Seungri hanya ingin memanfaatkan dan mempermainkan dirinya.

“Aku… minta tolong padamu.”

“Mwoya? Katakan dengan jelas sehingga…” Jiyeon tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Seungri membekap mulutnya.

“Pelankan suaramu. Mereka ada di sini,” bisik Seungri sambil melepaskan tangannya yang membekap mulut Jiyeon tadi.

Jiyeon semakin kesal. “Lee Seungri! Kau pikir aku…”

Chu~

Seungri menutup mulut Jiyeon dengan sebuah ciuman yang tiba-tiba mendarat begitu saja tanpa izin dari Jiyeon. Tangan kanan Seungri melingkat di pinggang ramping Jiyeon dan menarik tubuh gadis itu semakin dekat dengan tubuhnya. Jiyeon ingin melepas ciuman tak terduga dari orang yang diidolakannya itu.

Beberapa detik berlalu. Seungri pun melepaskan ciuman bibirnya dari bibir mungil Jiyeon.

“Yaak! Apa-apaan kau, eoh?” Jiyeon sudah tak mengindahkan tata krama atau etika terhadap orang lain apalagi orang yang cukup asing baginya.

“Mian. Aku… melakukannya untuk menutupi wajahku dari para sasaeng tadi.” Seungri merasa bersalah telah mencium Jiyeon sembarangan.

“Sasaeng? Bisakah aku percaya kata-katamu? Kau hanya memanfaatkanku!” seru Jiyeon yang tengah emosi mendapat perlakuan dari Seungri yang menurutnya tak tahu sopan santun.

“Jiyeon-ssi, aku benar-benar minta maaf padamu. Baiklah, aku akan menebus kesalahanku dengan apapun yang kau minta dariku.” Wajah tampan Seungri tampak bersalah sekali. Dia ingin menebus kesalahan yang telah diperbuatnya dengan melakukan apapun yang diminta oleh Jiyeon.

Jiyeon bergeming. Dia masih berusaha mengatur emosinya agar tak meluap tanpa kendali. “Baiklah, lupakan saja.” Jiyeon membalikkan badan dan tak menghiraukan Seungri yang meminta maaf padanya.

Tap!
Seungri mencegah kepergian Jiyeon dengan memegang lengan kirinya. “Aku tahu kau sangat marah. Ijinkan aku menebus kesalahanku.”

“Kenapa kau repot-repot minta maaf dan ingin menebus kesalahanmu? Kau adalah seorang idol. Tidak pantas berbuat seperti itu.”

Kata-kata Jiyeon cukup menusuk hati Seungri. “Baiklah, jika itu yang kau mau, aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Terimakasih sudah bersedia menolongku.” Satu ayunan langkah kaki Seungri baru saja terlewati. Tiba-tiba….

Prokk!!
Seseorang melempar telur ke arah Jiyeon. Beruntung Seungri menolongnya. Laki-laki itu menarik lengan Jiyeon dan mendekapnya erat di dalam pelukan sehingga telur yang dilempar ke arah Jiyeon itu mendarat mantab pada punggung Seungri yang dibalut jaket hitam mahal.

Pecahan telur yang mengotori jaket Seungri tampak menjijikkan dan berbau amis. Pemandangan itu disaksikan oleh banyak orang yang berkerumun di sekitar lokasi kejadian.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Seungri pada Jiyeon yang berlindung di dalam pelukannya.

Jiyeon melepas pelukan Seungri. Dia menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh idolanya itu. “Aku tidak apa-apa. Ya Tuhan! Siapa yang melempar telur ini?” Jiyeon melihat cangkang telur yang pecah setelah dilempar ke arah Seungri tadi. Ia menatap Seungri cukup lama. “Terimakasih dan maaf… aku harus pergi.”

“Tunggu!” Seungri mencegah Jiyeon meninggalkan tempat itu. “Aku tidak apa-apa. Yang tadi itu…”

“Itu tadi sudah cukup untuk menebus kesalahanmu. Aku pergi,” ketus Jiyeon yang langsung membalikkan tubuhnya.

“Jiyeon-ssi!” Seungri mengejar Jiyeon yang berjalan ke arah tempat duduk Ken.

“Tolong jangan berbuat seperti ini. Kau lihat tadi, kan? Ada orang yang telah melempar telur ke arahku, bukan ke arahmu. Jika saja kau tidak menghalangi telur itu, sudah dapat dipastikan kalau wajahku akan…”

“Cukup! Biarkan saja kalau memang itu yang harus terjadi. Apakah idol tidak boleh menolong orang lain?”

Jiyeon tertegun mendengar pernyataan Seungri. Dia hanya mampu berkedip dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Jadi, biarkan aku menolongmu.”

“Apakah kau ingin membuat skandal?” tanya Jiyeon yang sukses menusuk hati Seungri. Nafas Jiyeon tak beraturan. Dia gugup karena telah lancang menanyakan hal itu pada idol seperti Seungri. “Mian,” ucapnya dengan sedikit gemetar. “A, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada gosip tidak jelas itu. Aku hanya…”

“Tidak apa-apa. Lebih baik kau berpikir bahwa aku adalah orang yang penuh skandal daripada kau menganggapku orang yang suka memanfaatkan orang lain. Maaf dan terimakasih.” Seungri mengayunkan kakinya menapaki lantai restoran dengan pelan dan pasti. Dia tak berniat membalikkan badan untuk menatap Jiyeon yang berdiri mematung di tempatnya.

Rasa bersalah menghinggap di benak gadis bermarga Park. Kenapa mulutnya lancang sekali menanyakan privasi orang lain? “Haaaish!” Dia mengacak rambutnya sendiri di tempatnya berdiri hingga membuat orang yang melihatnya berpikir bahwa dirinya sudah gila karena dicampakkan oleh Seungri.

Tap!
“Ayo pulang!” Tiba-tiba Ken memegang tangan Jiyeon dan menariknya pelan.

Jiyeon menurut begitu saja. Ia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

“Apakah kau sudah gila?” tanya Ken dalam keheningan yang tercipta di dalam sebuah mobil Hyundai miliknya.

Jiyeon terdiam lesu. Dia tidak ingin memberikan jawaban pada Ken.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau diam saja karena dirimu tidak ingin memberikan jawaban yang mengecewakan, iya kan?” Ken melirik Jiyeon yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tampak lesu dan tidak bersemangat.

Jiyeon berusaha mengatur nafasnya untuk sedikit menenangkan dirinya sendiri. “Aku tidak menyangka semua itu terjadi pada kami, Oppa.”

Deg!
Setelah sekian lama, Jiyeon memanggilnya dengan sebutan itu lagi. Ya, sebutan ‘Oppa’ terakhir diucapkan oleh Jiyeon untuknya saat mereka berdua masih kecil.

“Bolehkah aku memanggilmu ‘Oppa’? Aku benar-benar ingin memanggilmu seperti itu,” lirih Jiyeon yang telah menundukkan kepalanya.

“Kenapa tidak? Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun asalkan kau bisa merasa nyaman dengan itu.” Ken tersenyum pada Jiyeon dan gadis itu pun membalas dengan senyum yang tak kalah manis.

“Gomawo, Oppa,” ucapnya senang. “Antarkan aku ke tempat Suzy.”

“Mwo? Untuk apa? Nenek sihir itu pasti akan melontarkan ribuan pertanyaan dan ocehan lain padamu.”

Jiyeon tertawa. Kata-kata Ken selalu dapat membuatnya tertawa. “Jangan seperti itu. Dia adalah orang yang baik.”

Jiyeon pov
Aku dan Ken telah sampai di tempat Suzy. Apartemen yang tergolong cukup mewah untuk kalangan orang-orang dengan ekonomi menengah.

Tok tok!
Ken selalu mengetuk pintu dengan kepalan tangannya. Padahal di pintu itu terdapat bel yang lebih mudah mengeluarkan bunyi nyaring daripada ketukan pintu. Dia memang lebih senang mengetuk pintu daripada memencet bel. Jadi, di manapun tempatnya, dia tidak akan memencet bel meskipun bel itu terpampang jelas di depan matanya.

Cekleeek!
Pintu terbuka. Aku kira Suzy yang membukanya. Rupanya sosok wanita lain yang membukakan pintu untuk kami.

“Jiyeon-ssi!”

Aku sedikit tersentak kaget mendengar seseorang memanggil namaku dengan formal. Seohyun? Seo Joo Hyun member SNSD?

“Wah, kita bertemu lagi, Jiyeon-ssi,” ucapnya dengan senyum terpampang nyata di wajah cantiknya.

Aku tak membalasnya dengan senyuman. Justru Ken yang membalas senyumnya.

“Senang bertemu denganmu, Jiyeon-ssi.” Seohyun mencoba akrab denganku.

“Ah, ya, senang bertemu denganmu juga, Seohyun-ssi. Aku tidak menyangka kau ada di tempat Suzy.”

“Yaak! Apa maksudmu, eoh?” Suara Suzy memenuhi ruang dengarku.

Aku tersenyum pada mereka berdua, Seohyun dan Suzy. Seohyun adalah seorang idol yang dikabarkan dekat dengan Seungri. Dia berusia 2 tahun lebih tua dariku. “Maksudku, bagaimana bisa seorang Seohyun memiliki teman sepertimu?”

Suzy memanyunkan bibirnya. “Kau terlalu meremehkanku.”

“Suzy-a, kenapa kau tidak meminta mereka masuk?”

“Ah, aku lupa, Eonni.”

Eonni? Suzy memanggil Seohyun dengan sebutan akrab seperti itu? Aigoo, mereka dekat sekali.

Aku dan Ken masuk ke dalam apartemen Suzy. Semua perkakas tertata rapi hingga membuat mataku nyaman memandang apapun di sini. Menyenangkan. Sebenarnya apartemenku tak beda jauh dari apartemen Suzy. Ya, aku punya rumah dan apartemen yang baru. Jika pekerjaanku selesai pada larut malam, aku pulang ke apartemen. Sejujurnya, di dalam apartemenku belum ada begitu banyak perkakas seperti milik Suzy. Ya, bisa dibilang aku masih newbie dalam hal apartemen begini.

“Yaak Jiyeon-a! Apa yang sedang kau pikirkan?” Suzy membuyarkan lamunanku.

Aku tergagap dan bingung memilih kata untuk ku katakan pada sahabatku itu. “Ah, aku hanya mengagumi apartemenmu yang rapi dan indah.”

“Benarkah?” Suzy tampak sumringah mendengar pujian dari mulutku. Mungkin tidak banyak orang yang sudi memujinya, mengingat dia sendiri enggan memuji orang lain.

Aku mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Suzy. “Kau pandai menata interior, Suzy-a,” pujiku lagi.

Saat aku dan Suzy bercanda ringan, tiba-tiba Seohyun menyalakan TV yang terletak di atas nakas panjang di depan kami berempat. Gadia bermarga Seo itu memencet angka 29 pada remote TV untuk mengganti channel.

“Ini acara favoritku,” ucapnya.

Aku dan Ken memandangnya aneh. Ternyata Seohyun adalah seorang idol yang gemar menyimak kabar atau gosip terbaru dari para idol dan selebriti lain yang ditayangkan melalui acara TV.

“Yaak! Bukankah itu dirimu, Jiyeon-a?” pekik Suzy terkejut melihat sosok wanita mirip diriku di layar TV.

Aku, Ken, dan Seohyun spontan menatap layar berukuran 42 inchi itu tanpa berkedip. Ya Tuhan! Apa yang dikatakan Suzy benar. Aku ada di layar TV. Kenapa bisa begini?

Seohyun menambah volume TV itu hingga suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan apartemen Suzy.

Kami berempat melotot menyaksikan kabar yang diwartakan oleh seorang reporter muda dari sebuah kantor berita stasiun TV swasta. Reporter itu memberitakan tentang sesuatu yang telah terjadi di restoran tadi, saat Seungri dan aku tengah adu mulut. Ya Tuhan… ada apa ini? Semua warga Korea Selatan pasti akan berpikir negatif tentang kami berdua.

“Jiyeon-ssi, apa yang kau lakukan dengan Seungri?” tanya Seohyun.

Aku sudah menduga kalau Seohyun pasti akan menanyakan hal itu padaku. Lidahku kelu dan tak dapat digerakkan.

“Mereka bertemu secara tidak sengaja dan hanya berbincang biasa layaknya seseorang bertemu dengan idolanya,” jawab Ken membantuku.
Jiyeon pov end

Seohyun melirik Jiyeon dengan lirikan maut. Sedangkan gadis yang diliriknya hanya menundukkan kepala. “Benarkah?” tanya Seohyun seakan tak percaya dengan penjelasan Ken.

“Benar. Hanya itu,” sahut Jiyeon. “Semoga hal itu tidak menjadi skandal yang dilebih-lebihkan,” tambahku dengan harapan Suzy dan Seohyun percaya padanya. “Percayalah, bukan seperti itu. Tidak ada apaupn diantara kami berdua.” Jiyeon terus mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Seohyun dan Suzy. ‘Sebenarnya bukanlah aku yang berusaha mendekati Seungri. Kau lah orangnya, Seohyun-ssi. Kau ingin memiliki hubungan dekat dengan Seungri, kan?‘ batin Jiyeon yang sedikit tidak terima jika Seohyun dekat dengan Seungri. ‘Ya Tuhan! Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkan laki-laki itu? Dia tidak mungkin bisa duduk di sampingku. Kami tidak mungkin bisa menjalin hubungan seperti yang ku inginkan. Aaaah! Buang jauh-jauh pikiranmu itu, Park Jiyeon! Kau benar-benar memalukan!’ pekik Jiyeon dalam hati seraya mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi sejak dia turun dari mobil tadi.

“Ada apa denganmu?” tanya Ken. Tatapan mata Ken pada Jiyeon layaknya tatapan mata seseorang yang tengah melihat kelakuan aneh seorang gadis gila. Ken takut kalau Jiyeon mengalami depresi dan berakhir di rumah sakit jiwa.

“Jangan menatapku seperti itu! Aku belum gila!” Jiyeon melirik tajam ke arah Ken yang langsung mengalihkan pandnagannya pada layar TV.

Tok tok tok!

Suara pintu diketuk oleh seseorang dari luar apartemen telah mengagetkan Jiyeon, Ken, Seohyun, dan Suzy. Mereka berempat saling pandang.

“Kau mengundang seseorang datang kemari?” tanya Jiyeon pada Suzy yang kelihatan bingung.

Suzy menggeleng. “Anhi. Mungkin ada yang memesan makanan atau sesuatu yang lain?” tanya Suzy pada tiga orang yang lain.

Ketiganya menggeleng.

“Tak ada yang memesan sesuatu,” sahut Ken.

“Lalu siapa?” tanya Jiyeon lagi.

 

 

TBC

Maaf update-nya lama. Lagi busy ini itu 😀

Semoga part ini gak mengecewakan ya

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s