Doubtless [Chapter 1]

doubthless

Cast:
Jiyeon T-Ara, Seungri Bigbang, Ken VIXX, Seohyun SNSD
Support cast:
Bae Suzy, Lee Donghae, Ham Eunjung, Kim Woobin, Lee Qri
Genre:
Romance, Marriage Life, AU, Friendship
Length: Multichapter
Rating: PG – 13

This storyline and artposter are mine.
NOT ALLOWED to Plagiat / Copy Cut / Take Idea / Bash

Don’t forget to leave Ur feedback!
Sorry for typos somewhere 😀
Happy Reading!

Dua orang mahasiswi berjalan menyusuri sebuah lorong sepi di sore ini. Kedua yeoja cantik itu tengah mendiskusikan sesuatu yang bersifat pribadi. Entahlah, sepertinya salah satu dari mereka sedang dilanda penyakit akut yang bisa membuat seseorang lupa diri. Penyakit itu tidak lain adalah ‘jatuh cinta’.

“Kau yakin?” tanya salah satu yeoja.
Yeoja yang satunya menganggukkan kepala.

“Yaak! Park Jiyeon! Kau ini sudah menjadi mahasiswi. Seharusnya pendirianmu tidak labil seperti itu!” Suzy, kecewa atas sikap Jiyeon yang mudah berganti.

“Jangan menyebutnya dengan kata ‘pendirian’!”

Suzy menatap Jiyeon dengan heran. Dia tak percaya kalau teman karibnya itu sedang jatuh cinta pada seorang member boyband terkenal yang usianya jauh lebih tua daripada usianya sendiri. “Sejak kapan kau menyukainya?” tanya Suzy yang sedang menginterogasi Jiyeon.

“Aku juga tidak tahu. Suzy-a, aku mencintainya, ah, bukan hanya itu. Aku sangat mencintainya. Pertama kali bertemu secara langsung, aku sudah jatuh hati padanya. Suzy-a, aku mohon bantulah aku kali ini saja,” rengek Jiyeon pada Suzy yang mencoba tak mendengarkan kata-kata Jiyeon.

“Kau sudah gila? Aku sama sekali tidak mengenal laki-laki bernama Seungri, sekalipun dia adalah member dari Bigbang. Aku tidak pernah melihat aksinya di MV atau acara konser.”

“Itu karena kau sengaja tidak ingin mengenalnya. Jika kau sudah mengenal Seungri oppa, kau akan menilainya sebaik mungkin. Semua member Bigbang tampan dan baik. Tapi yang bisa memikat hatiku cuma Seungri oppa. Lagipula, kami juga sudah akrab. Jadi, apa yang masih kurang?”

“Aku sarankan sebaiknya kau tidur di rumah, jangan browsing tentang boyband, dan jangan chat dengan Seungri.”

Jiyeon mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?”

“Kau masih tak tahu apa alasannya? Itu karena kau terlalu terobsesi pada pria itu!” Suzy mengomel bak seorang ibu yang memarahi anaknya karena bermain-ain di bawah guyuran hujan.

Jiyeon mengurai senyumnya hingga membuat Suzy harus bertanya,”Ada apa?”

Gadis bernama lengkap Park  Jiyeon itu hanya menggeleng mantab. “Yaak, Suzy-a, besok lusa kita akan menjalani prosesi yudisium dan dinyatakan lulus. Apa yang akan kau lakukan pertama kali setelah lulus?”

Suzy tak menyangka bahwa dirinya akan mendapat serangan pertanyaan seperti itu dari seorang Jiyeon. Ia berpikir sejenak untuk mencari jawaban atas pertanyaan Jiyeon yang tumben tidak konyol seperti biasanya. “Hmm, aku akan menikah lalu punya anak. Setelah itu aku akan mencari kerja.”

Mwoya?” Jiyeon membelalakkan manik matanya yang bulat. Sesaat kemudian ia tertawa lepas sembari memegang perutnya yang sakit karena menertawakan Suzy yang terlampau polos dan ucapannya tidak masuk akal. “Menikah dengan siapa?” tanya Jiyeon.

“Aku tidak tahu. Mungkin aku akan mendatangi biro jodoh atau memasang iklan di pinggir jalan.”

Jiyeon semakin tertawa terpingkal-pingkal. Ucapan Suzy benar-benar membuatnya harus menahan rasa sakit di ulu hati karena tak henti-hentinya tertawa. “Baiklah, aku akan membantumu membuat iklannya.”

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 15 menit dari cafe milik seorang member Bigbang yaitu Taeyang, Jiyeon dan Suzy telah sampai di kediaman keluarga mereka masing-masing. Saat memasuki kamarnya yang terletak di lantai dua, Jiyeon teringat kata-kata Suzy yang ingin menikah lalu punya anak.

“Menikah dengan siapa? Aku tidak punya kekasih atau teman dekat,” gumamnya saat melepaskan sepatunya di dalam kamar bernuansa pink miliknya.

Tiit!
Nada SNS masuk telah berdering. Jiyeon mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas tangan miliknya lalu membaca SNS itu. Senyum terkembang dari bibirnya. “Seungri oppa!” serunya. Dia sangat senang mendapat respon dari Seungri lewat SNS. Member Bigbang yang menurutnya paling keren dan berhasil merebut mutiara hatinya.

Jiyeon duduk di tepi ranjang sambil berbalas SNS dengan Seungri. Jarang sekali ada penggemar yang bisa chatting dengan idolanya. Ya, Jiyeon benar-benar beruntung.

From: Seungri Bigbang
Besok aku ada hari libur. Maukah kau menemaniku jalan-jalan?

Jiyeon berseru kegirangan membaca SNS itu. Kemudian ia membalas:
Tentu saja, Oppa. Mau jalan-jalan ke mana saja? Oh ya, kalau ketahuan fans bisa gawat.

From: Seungri Bigbang
Tidak akan ketahuan. Percayalah padaku. Aku sudah berkali-kali menyamar, bahkan Siwon pun tak dapat mengenaliku saat aku menyamar sebagai orang biasa.

Dengan cepat, Jiyeon mengetikkan SNS untuk Seungri.
Baiklah. Aku bersedia menemani oppa.

Keesokan harinya.
Sesuai rencana, Jiyeon pergi menemani Seungri jalan-jalan ke tempat hiburan yang jarang dikunjungi orang. Hanya orang-orang elit yang dapat mengunjungi tempat mahal yang layak disbeut sebagai surga dunia.

Seungri mengajak Jiyeon bermain golf namun Jiyeon menolak. Bukan Seungri namanya jika ia tidak bisa membujuk Jiyeon untuk menuruti kemauannya. Dia mengajari Jiyeon tentang teknik bermain golf yang benar. Alhasil, kemampuan Jiyeon sudah lumayan bagus untuk seorang pemula karena dia dapat memasukkan bola ke dalam hole sebanyak 4 kali dari 7 tembakan.

Setelah bermain golf, Seungri mengajak Jiyeon istirahat di cafe yang masih berada dalam satu komplek dengan lapangan golf tadi. Jiyeon senang sekali berdekatan dengan Seungri yang notabennya adalah seorang laki-laki yang perhatian dan baik sekali.

Hari sudah sore. Jiyeon harus pulang sebelum matahari benar-benar tidur untuk beberapa jam.

Gomawo, Oppa!” Jiyeon melambaikan tangannya pada Seungri yang tengah mengendarai mobil merk Mercedez berwarna putih, mobil keluaran terbaru tahun ini.

Jiyeon pov
Hari telah berganti. Tanpa ku sadari, aku sudah lulus kuliah. Aaaaah senangnya. Oh ya, bukankah setelah lulus harus dapat pekerjaan dulu? Haduuh! Aku harus mencari kerja di mana? Jurusan broadcasting hanya cocok untuk menjadi penyiar radio, kan? Malang sekali nasibku.

Aku masih bingung dengan hidupku yang belum bisa dikatakan mandiri. Hidupku tidak seperti Suzy. Dia sudah mendapat pekerjaan sebagai host di sebuah reality show. Melihat dari pengalaman Suzy, dia memang layak menjadi host di acara itu. Suzy pandai bicara dan merayu orang. Tapi aki tidak seperti dirinya. Mulutku ini selalu ceplas ceplos saat mengeluarkan kata-kata. Meskipun aku paham betul bagaimana teknik bicara di depan banyak orang, baik sebagai host, penyiar radio atau penyiar berita, aku belum bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan semua itu.

Ohmo! Aku baru ingat. Selain menjadi penyiar radio, aku bisa mencoba melamar pekerjaan sebagai penyiar berita. Aha! Benar juga, penyiar berita sekarang ini kan kebanyakan sudah lanjut usia, maksudku usia mereka di atas 35 tahun. Kalau ada penyiar berita secantik diriku, pasti banyak orang yang mau menyimak berita. Park Jiyeon, kau memang ditakdirkan untuk menjadi orang terkenal.

Setelah memikirkan tentang pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikanku, aku langsung menulis surat lamaran kerja yang akan ku tujukan pada beberapa stasiun tv dan radio. Semoga saja aku bisa diterima di salah satu stasiun tv. Oh iya, kalau aku bisa menjadi penyiar radio, pasti Seungri oppa akan sering melihat wajahku. Ahaha… senangnya…. Aku tidak sabar untuk segera meluncur ke lokasi, eh, maksudku ke kantor stasiun tv swasta.

Berkas lamaran pekerjaan sudah ku selesaikan. Sekarang waktunya beraksi. Aku harus berpenampilan menarik agar menjadi pertimbangan supaya diterima bekerja di stasiun TV sebagai penyiar berita.
Jiyeon pov end

Jiyeon telah berdiri di depan kantor stasiun tv XX dengan senyum terpasaang di wajah cantiknya. Kostum yang dia kenakan tak kalah keren dari para penyiar berita di kantor itu. Setelan rok dan blazer dengan warna senada yaitu coklat tua, dipadukan dengan hem lengan panjang berwarna cream dan sepatu high-heel berwarna coklat tua, telah menambah anggun dan cantik si pemilik nama lengkap Park Jiyeon.

“Yaak! Jiyeon-a!”

Jiyeon mendengar seseorang memanggil namanya. Ternyata ada orang yang mengenalnya di tempat seperti itu. Tapi siapa orang itu? Jiyeon celingukan ke kanan-kiri-belakang namun hasilnya nihil. Tak ada orang yang melihat ke arahnya. Dia memutuskan untuk tak mengindahkan suara itu. Dalam hitungan 10 detik kemudian, Jiyeon berjalan beberapa langkah untuk menginjakkan kakinya di atas lantai kantor berita.

“Yaak! Dino!”

Jiyeon menghentikan langkahnya. Dino? Orang itu berani sekali memanggilnya Dino. Jiyeon menolehkan kepalanya ke kanan dengan asal. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan wajah tampan dan imut-imut datang menghampirinya.

“Ken?” ucap Jiyeon saat melihat wajah Ken, teman masa kecilnya.

“Yaak! Aku lebih tua darimu. Panggil aku ‘oppa’! Ah, iya, aku kan masih imut-imut, kalau begitu kau boleh memanggilku tanpa embel-embel ‘oppa‘.” Ken terlalu percaya diri mengucapkan kata-kata seperti itu sehingga membuat Jiyeon muak mendengarnya.

Laki-laki yang akrab dipanggil dengan nama Ken itu merangkul bahu Jiyeon seenaknya saja. Jiyeon kesal dengan perbuatan Ken karena penampilannya akan terlihat acak-acakan jika seseorang menyentuhnya secara berlebihan.

“Jangan menyentuhku sembarangan! Aku ingin melamar kerja. Jadi, penampilanku harus sempurna,” ujarnya sambil memperbaiki penampilannya yang mulai acak-acakan.

“Benarkah? Kau ingin melamar kerja di sini?” tanya Ken senang.

Jiyeon mengerutkan dahinya. “Ada apa dengan ekspresimu itu? Memangnya kenapa kalau aku ingin melamar kerja di tempat ini?”

Ken tersenyum khas. “Yaak! Kantor ini memang sedang membutuhkan staf penyiar berita yang sesuai dengan kualifikasi pendidikanmu. Keurom, santai saja lah, Jiyeon-a.”

Mworago?” Jiyeon mengangkat kedua alisnya.

Plettaakk!
Ken memukul kepala Jiyeon ringan. “Pabboya! Aku mengira dirimu adalah orang yang cerdas. Ternyata perkiraanku salah. Kau tetap bodoh seperti dulu.”

“Iissh!” Jiyeon mendelik kesal. “Jangan memanggilku dengan sebutan ‘bodoh’! Meskipun aku tidak sepandai Suzy, setidaknya prestasiku terbilang cukup bagus. Lagipula, kenapa kau selalu mengatakan kalau aku bodoh?”

Gubbrraakk!

“Ya ampun, Jiyeon-a!” Ken menahan kekesalannya pada gadis berambut panjang yang berdiri di depannya. Dia mengelus dada dan mencoba untuk tetap bersabar menghadapi gadis bermarga Park itu. “Aku tahu apa yang sedang terjadi padamu. Kalau kau bukan orang yang bodoh, berarti kau orang yang polos atau lugu. Perbedaan antara polos dan bodoh sangat tipis. Jadi, tetap saja kau disebut bodoh.”

“Yaaak!” seru Jiyeon hingga membuat orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya tertarik untuk melihat ke arahnya.

Aigoo, kau masih melamar kerja sudah membuat malu. Apalagi kalau sudah bekerja di sini?” Ken menutup wajahnya dengan map berkas yang ia bawa agar tidak malu dilihat orang. “Ya sudah sana! Pergi ke ruangan manajer dan serahkan berkas lamaranmu padanya. Aku tidak ingin dianggap sebagai orang gila karena berlama-lama di sini denganmu.” Ken melangkah menjauhi Jiyeon yang hatinya sudah sangat dongkol akibat kata-kata Ken yang selalu membuatnya kesal.

“Kau memang manusia aneh. Tidak mau dipanggil nama asli dan selalu mengejekku. Awas kalau aku diterima kerja di tempat ini. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!” gumam Jiyeon kesal. Tak lama kemudian, dia menuruti perintah Ken untuk menyerahkan berkas lamarannya pada manajer perusahaan.

Saat ini Jiyeon tengah duduk di depan meja kerja sang manajer. Dia berharap lamarannya akan diterima oleh sang manajer. Ya, semoga saja kualifikasinya memenuhi apa yang dibutuhkan oleh perusahaan itu.

“Park Jiyeon-ssi! Saya sudah membaca semua kalimat dalam berkas lamaran Anda. Meskipun belum ada pengalaman bekerja, saya yakin Anda mampu menunjukkan loyalitas kerja yang tinggi. Untuk itu, perusahaan kami dapat menerima Anda sebagai salah satu pembawa berita.” Sang manajer yang bernama lengkap Lee Seunggi tersenyum pada Jiyeon.

“Benarkah? Waah, terimakasih manajer-nim,” ucap Jiyeon senang.

“Kami akan memberikan masa training selama 5 bulan. Jika Anda bisa bekerja dengan baik selama 5 bulan, kami dapat mengangkat Anda sebagai karyawan tetap,” tambah Manajer Lee.

“Terimakasih, Manajer-nim. Terimakasih sekali lagi. Saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh.”

Jiyeon keluar dari ruangan manajer dan berjalan menyusuri lorong lantai 4. Senyum terkembang di wajah cantiknya. Akhirnya Jiyeon berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya. Semua ini harus disyukuri.

“Ah iya, aku harus memberitahu Suzy. Aku akan mengajaknya makan siang atau makan malam dan berpesta kecil-kecilan.” Jiyeon mengeluarkan ponsel dari saku blazernya. Dia mengusap ponsel layar sentuh itu untuk menemukan nama Suzy dalam kontaknya.

“Jiyeon-a!”

Indera pendengaran Jiyeon menangkap suara yang tidak asing baginya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada siapa-siapa. “Bukannya tadi aku mendengar suara Ken? Atau hanya halusinasi?” gumamnya.

“Yaak!”
Ken muncul di depan Jiyeon secara tiba-tiba.

Ohmo!” seru Jiyeon kaget bukan kepalang akibat ulah Ken. “Yaak! Jika kau melakukan itu lagi, aku akan membunuhmu dengan sadis!” seru Jiyeon kesal.

Aigoo, kau kejam sekali! Jiyeon-a, bagaimana hasil wawancaranya? Kau diterima bekerja di sini?” tanya Ken dengan mata yang berbinar-binar karena berharap Jiyeon akan diterima sebagai pembawa berita di perusahaan stasiun tv itu.

Jiyeon menghela nafas dalam-dalam lalu melepasnya asal. Ekspresi wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan hingga berhasil membuat Ken menghilangkan senyumnya.

“Kau diterima, kan?” tanya Ken untuk memastikan jawaban Jiyeon kalai dia diterima bekerja di sana.

Gadis itu menggeleng. Ken pun mengeluarkan ekspresi sedih.

“Benarkah?” tanya Ken untuk kesekian kali.

“Tidak ada keraguan lagi. Aku diterima bekerja di sini!” seru Jiyeon senang yang reflek memeluk Ken.

“Waaah! Selamat, Jiyeon-a.” Ken memeluk Jiyeon erat. “Aku ikut senang. Oh ya, kapan kau mulai bekerja?” tanya Ken yang melepas pelukan Jiyeon.

“Aku akan mendapat pelatihan selama seminggu. Jika aku lulus pelatihan itu, aku akan membawakan berita selebriti 2 minggu lagi.”

“Aku yakin kau pasti bisa.”

Jiyeon mengangguk mantab, membenarkan kata-kata Ken. “Pasti. Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

Ken dan Jiyeon sama-sama tersenyum.

“Oh, i, itu….” Jiyeon menunjuk ke arah lift yang baru saja menutup.

Mwoya?” tanya Ken bingung. Kedua manik matanya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jiyeon.

Jiyeon tak menjawab pertanyaan Ken namun dia langsung berhambur ke arah lift yang ditunjuknya tadi.

“Yaak! Park Jiyeon!” panggil Ken yang mengikuti langkah Jiyeon ke tempat lift.

Sesampainya di depan lift, Jiyeon mendongakkan kepalanya untuk melihat angka lantai yang dituju lift tersebut.

“Lantai 6?” Jiyeon ingin segera beranjak dari tempatnya namun tiba-tiba Ken menarik lengannya.

Eodikka?” tanya Ken yang bingung melihat perubahan sikap Jiyeon.

“Aku melihatnya. Aku melihat dia di sini dan masuk ke dalam lift. Kita harus menuju lantai 6.”

Ken mengerutkan keningnya. Lantai 6 adalah studio berita selebriti. Kenapa Jiyeon ingin ke sana? Apakah gadis itu baru saja melihat idolanya masuk ke dalam lift dan menuju lantai 6?
“Eoh, gurae. Kita ke sana sekarang. Aku akan menemanimu.”

Lantai 6 dipenuhi oleh kru berita selebriti dan beberapa orang kru sebuah agensi terkemuka di Korea Selatan. Sebentar lagi akan ada wawancara eksklusif dengan salah satu member boyband terkenal di dunia yaitu Bigbang.

Setelah beberapa detik berada di lift, akhirnya Jiyeon dan Ken keluar dari tempat itu dan langsung berlari menuju ruang studio untuk melihat seseorang yang sangat dikagumi oleh Jiyeon.

“Maaf, kami akan segera mulai syuting,” lata seoraag kru berita pada Jiyeon dan Ken.

“Kami juga staf di perusahaan ini. Apakah kami tidak boleh masuk ke dalam?” tanya Ken pada seorang staf acara berita selebriti.

Staf yang ditanya oleh Ken tak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki tampan itu. “Baiklah, kalian boleh masuk.” Akhirnya staf itu mengijinkan Jiyeon dan Ken masuk ke dalam studio.

Saat berada di dalam studio, Jiyeon celingukan mencari sosok laki-laki yang sangat akrab dengan indera penglihatannya.

“Siapa yang kau cari?” tanya Ken pada Jiyeon.

Jiyeon menoleh ke arah Ken. “Sosok laki-laki yang aku lihat tadi adalah Seungri.”

“Mworago? Seungri? Member Bigbang yang tampan itu?” Ken terkejut mendengar jawaban dari Jiyeon.

Jiyeon mengangguk pelan. “Kau melihatnya? Apa? Kau bilang dia tampan?”

Ken ikut celingukan mencari sosok Seungri di dalam studio itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Yaak! Pabboya!”

Jiyeon mendelik kesal jika dipanggil dnngan sebutan ‘pabbo’. “Sudah ku bilang berkali-kali. Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak sebodoh yang kau kira!”

Aigoo…. Yaak! Kenapa kau repot-repot celingukan seperti itu? Sebentar lagi acara dimulai. Dia pasti akan duduk di depan sana untuk diwawancarai.”

Arah pandang Jiyeon beralih pada Ken. Dia tersenyum. “Ah, benar juga. Kenapa kau tidak bilang dari tadi?”

“Itu karena kau terlalu bodoh. Sudahlah, akui saja kalau kau memang bodoh dan polos.”

“Shireo! Jika memang aku bodoh, setidaknya aku tetap cantik.”

Ken merasa mual mendengar pernyataan kebanggaan diri oleh Jiyeon. “Aku ingin muntah mendengar kata-katamu itu.”

Acara wawancara dimulai. Pembawa acara telah duduk di atas kursi yang telah disediakan. Acara ini akan dipandu oleh Ham Eun Jung sebagai pembawa acara. Dia akan memberikan beberapa pertanyaan terkait keaktifan Seungri sebagai seorang idol dan member sebuah boyband terkenal di dunia.

Seungri, laki-laki yang menjadi tipe ideal seorang Park Jiyeon, kini duduk di atas kursi yang terletak tepat di samping kursi Eun Jung. Idol yang telah berkecimpung di dunia hiburan Korea Selatan selama beberapa tahun itu selalu terlihat bahagia. Tidak ada yang tahu seluk beluk kepribadian Seungri selain rekan seperjuangannya, G Dragon.

Selama acara wawancara berlangsung, Jiyeon tak henti-hentinya memandang wajah tampan Seungri yang terlihat ramah. Sangking asyiknya menikmati penampilan idolanya, Jiyeon sampai lupa menghubungi Suzy. Jiyeon ingin mengajak Suzy makan siang tapi dia sendiri malah bengong melihat sosok Seungrinyang sangat dikaguminya.

“Yaak! Park Jiyeon!” panggil Ken yang ingin membuyarkan konsentrasi Jiyeon. “Sampai segitunya?” Ken menggelengkan kepalanya.

Malam harinya, Jiyeon cerita panjang lebar pada Suzy yang telah diajaknya makan malam. Rupanya mereka tidak hanya makan malam berdua. Jiyeon juga mengajak Ken yang datang telat karena baru saja pulang dari kantor. Jiyeon dan Suzy belum memesan makanan sebelum Ken datang.

“Kalian sudah memesan makanan?” tanya Ken yang baru saja datang dan menjejalkan bokongnya di atas kursi di antara Jiyeon dan Suzy.

“Belum. Oppa, kau saja yang memesan makanan. Aku dan Jiyeon memesan makanan yang sama denganmu,” ujar Suzy.

Selera makan mereka bertiga memang sama, yaitu sangat menyukai makanan pedas dan daging.

Tak sampai menunggu 10 menit, makanan yang dipesan Ken telah terhidang di atas meja.

“Waah, kau pandai memesan makanan, Oppa,” puji Suzy yang sudah menjilati bibirnya karena tak sabar untuk segera menyantap makanan lezat yang tergudang di depan matanya. “Ayo kita makan!” seru Suzy dengan mata berbinar-binar dan semangat yang tinggi. Ya, dia bersemangat untuk segera menghabiskan makanannya.

“Makanlah dengan pelan-pelan. Kau bisa tersedak.” Ken mengingatkan Suzy untuk menikmati makanan itu dengan penuh perasaan dan pelan-pelan saat mengunyah.

Tampaknya Suzy dan Jiyeon sudah sangat kelaparan karena harus menunggu kedatangan Ken beberapa menit yang lalu. Makanan yang ada di hadapan mereka bertiga ludes masuk ke dalam perut masing-masing setelah melalui proses pencernaan di dalam tubuh ketiga orang itu.

“Jiyeon-a, coba ceritakan dengan detail,” bujuk Suzy pada Jiyeon yang baru saja meletakkan gelas air minumnya di atas meja.

“Cerita apa?” tanya Ken. “Oh iya, Jiyeon diterima kerja di tempatku, Suzy-a.” Ken memberitahu Suzy perihal lamaran kerja Jiyeon yang telah diterima oleh perusahaan tempatnya bekerja.

“Aku sudah tahu,” sahut Suzy.

“Oh, begitu ya?” Ken menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Jiyeon-a, apa kau benar-benar bertemu dengan Seungri?” tanya Suzy penasaran dengan apa yang dialami Jiyeon tadi siang.

Uhuuukk!! Uhuk!
Ken terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Suzy pada Jiyeon.

Mworago?” tanya Ken. “Seungri? Suzy-a, kau juga penggemar Seungri?”

“Tentu saja bukan. Aku lebih tertarik padamu daripada Seungri, Oppa,” jawab Suzy.

Ken tersenyum manis. Ya, senyum yang belum pernah ditunjukkan pada Jiyeon dan Suzy. Mereka bertiga telah lama berteman. Mungkin lebih dari 10 tahun namun Jiyeon dan Suzy belum pernah melihat Ken tersenyum semanis itu saat beranjak dewasa.

“Aku tidak mempan dibohongi,” sahut Ken yang langsung mendapat tawa dari kedua gadis temannya sejaa masih kecil.

“Oppa! Aku tidak berbohong. Kau tidak ingin berpacaran denganku?” ledek Suzy. Dia tahu bahwa Ken tak akan mungkin menyukai dirinya ataupun Jiyeon.

Jiyeon tertawa melihat ekspresi Ken yang lucu. Alisnya sebelah kanan terangkat dan bibirnya seperti sedang mencibir seseorang.

“Sebenarnya aku menyukai Seungri sejak lama. Ah, bukan. Aku menyukainya sejak melihat penampilannya dalam konser Bigbang 2 tahun lalu. Meskipun penggemarnya tak sebanyak member yang lain, Seungri telah mencuri hatiku.” Jiyeon tersenyum menceritakan perasaannya yang terpendam.

Suzy dan Ken menanggapinya dengan serius.

“Benarkah?” tanya Ken spontan.

Jiyeon membenarkannya. “Aku senang sekali melihatnya langsung. Dia begitu keren.”

“Keren aku atau dia?” tanya Ken polos.

“Yaak! Apa-apaan kau ini? Tentu saja keren Seungri,” sahut Jiyeon.

“Tapi aku lebih muda dan lebih tampan. Ahahaha….”

Suzy terkikik mendengar pernyataan Ken yang mengatakan bahwa dirinya lebih tampan dari Seungri.

“Jika aku bisa menikah dengannya, pasti aku akan merasa bahagia,” kata Jiyeon lirih sambil melamun.

“Ada apa dengannya? Kau apakan dia?” tanya Ken pada Suzy.

Suzy mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia juga tak tahu penyebab perubahan sikap Jiyeon yang terlalu terobsesi pada sosok Seungri.

Saat Jiyeon, Suzy, dan Ken hendak pulang ke rumah masing-masing, mereka dikejutkan oleh kerumunan orang yang masuk ke dalam restoran. Ketiganya bengong melihat kerumunan itu. Kenapa tiba-tiba ada banyak orang yang datang bergerombol begitu?

“Ada apa ini?” tanya Suzy bingung.

“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama dengamu,” sahut Ken.

Ohmo!” seru Jiyeon yang melihat seseorang di tengah-tengah kerumunan itu.

“Yaak, kenapa kau selalu membuat temanmu terkejut, eoh?” Ken kesal pada Jiyeon yang seenaknya saja berseru tanpa alasan yang jelas. “Apa yang kau lihat?”

“Pertanyaanmu keliru. Bukan apa, tapi siapa yang aku lihat? Oh Tuhan, dia keren sekali.” Jiyeon menunjukkan puppy eyes-nya yang berhasil membuat Suzy dan Ken merinding melihatnya.

“Yaak! Jangan lakukan hal itu lagi. Bulu kudukku berdiri semua saat melihat ekspresimu tadi,” keluh Suzy.

“Lihatlah! laki-laki yang dikerumuni banyak orang itu adalah Seungri. Ya Tuhan… aku tidak percaya bisa melihatnya lagi di tempat ini.”

Suzy dan Ken menghempaskan nafas kasar. Mereka mengira bahwa Jiyeon melihat sosok orang inspirator atau orang kaya dermawan. Tetapi yang dilihatnya adalah Seungri, sang idola yang sangat dikaguminya.

Jiyeon ingin melihat sosok Seungri lebih dekat. Dia nekad mendekati kerumunan itu untuk bisa melihat Seungri yang keren.
“Yaak! Kau mau ke mana? Bukankah kau sudah pernah jalan-jalan dengannya?” teriak Suzy yang tak digubris sama sekali oleh Jiyeon.

Gadis bermarga Park itu telah berdiri di dekat kerumunan penggemar Seungri. Dia harus masuk ke dalam kerumunan itu agar bisa mendapat kesempatan melihat Seungri dari jarak dekat. Jiyeon melangkahkan kakinya pelan dan meyakinkan dirinya untuk bisa masuk ke dalam kerumunan di depannya.

Saat Jiyeon sudah berada di dalam kerumunan, tiba-tiba kakinya diinjak oleh seseorang. Akibatnya dia terjatuh tersungkur di atas lantai saat ingin mengangkat kakinya yang diinjak oleh orang tadi.

Bruukk!!

Ohmo! Jiyeon-a!” seru Suzy. Dia dan Ken segera berlari ke arah kerumunan itu untuk menolong Jiyeon.

Suzy dan Ken mengulurkan tangan mereka untuk menolong Jiyeon namun mereka kalah cepat dengan seseorang yang telah mengulurkan tangannya pada Jiyeon lebih dulu.

Banyak pasang mata menyaksikan Seungri mengulurkan tangannya untuk membantu Jiyeon berdiri.

“Ini pasti mimpi,” lirih Jiyeon terkejut melihat Seungri yang ingin membantunya berdiri.

“Ulurkan tanganmu!” Suara Seungri terdengar merdu.

“Ya Tuhan, dia benar-benar menolong Jiyeon,” bisik Suzy pada Ken.

“Eoh.”

Jiyeon berhasil bangun dari jatuhnya berkat pertolongan Seungri. Dia merasa seperti melayang saat tangan Seungri memegang tangannya. Ini bukan mimipi. Ini kenyataan, batinnya.

“Siapa namamu?” tanya Seungri pada Jiyeon. Mereka berdua berdiri di depan kasir dan tidak lagi dikerumuni oleh penggemar Seungri.

“Namaku Park Jiyeon. Seungri-ssi apakah kau masih ingat denganku? Aku adalah orang yang pernah kau ajak jalan-jalan dulu,” ungkap Jiyeon terus terang. “Wah, Seungri-ssi, kau sangat keren!” puji Jiyeon pada idolanya itu.

“Terimakasih atas pujiannya. Aku merasa tersanjung memiliki penggemar secantik dirimu, Jiyeon-ssi. Ah, aku agak lupa karena memoriku benar-benar banyak dan yang harus aku ingat adalah lirik lagu.”

Jiyeon agak kecewa karena Seungri mungkin saja sudah lupa padanya. Tapi tetap saja Jiyeon merasa tengah berada di taman bunga yang dikerumuni oleh banyak kupu-kupu yang indah. “Terimakasih, Seungri-ssi. Oh ya, baru kali ini aku melihatmu masuk ke dalam restoran ini?”

Seungri tersenyum tipis. “Ya, memang benar. Baru sekali aku menginjakkan kaki di dalam restoran ini. Kebetulan tadi aku ingin makan malam bersama manajer dan member Bigbang yang lain. Aku datang lebih dulu bersama manajer. Tapi rupanya banyak orang yang mengenaliku dan terjadilah kerumunan tadi. Aku minta maaf atas sesuatu yang menimpamu tadi, Jiyeon-ssi.”

Jiyeon ikut tersenyum. “Gwaenchana.”

‘Semoga kau ingat namaku, Seungri-ssi,’ batin Jiyeon.

“Permisi.”

Seungri dan Jiyeon menoleh ke arah sumber suara. Ya, Ken dan Suzy sedang berdiri di samping mereka berdua. Suzy tersenyum manis pada Seungri.

“Waaah, aku tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Seungri member Bigbang. Daebak!” ungkap Suzy.

Apa-apaan ini? Bukannya Suzy bukan penggemar Seungri? Kenapa sikapnya semnais gula?’ batin Jiyeon.

“Terimakasih. Senang bertemu dengan kalian,” ucap Seungri dengan senyum yang membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

“Seungri-ssi, maaf kalau teman kami telah mengganggu waktumu. Kami harus pergi ke suatu tempat. Maka dari itu, kami ingin pamit.” Ken berusaha bersikap manis terhadap Seungri. Ini bukanlah gayanya. Benar-benar gila, pikirnya.

“Oh iya, baiklah. Silahkan,” ucap Seungri.

Ingin rasanya Jiyeon menjambak rambut Ken dan Suzy yang telah mengganggu momen menyenangkan dalam hidupnya. Sulit sekali bisa bertemu dengan Seungri seperti tadi.

“Seungri-ssi, terimakasih atas waktunya. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” kata Jiyeon dengan terpaksa. Dia belum ingin mengatakan kalimat itu karena dirinya masih ingin ngobrol dengan Seungri.

Tbc.

Advertisements

4 thoughts on “Doubtless [Chapter 1]

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s