XOXO Undercover [Session 3]

xoxo-undercover-new

~XOXO Undercover~

Kami adalah 12 si ahli menyamar.

Cast:

Seungri, Jiyeon, Lay, Lime, Baekhyun, Nana,

Xiumin, Suho, Eunji, Kai, Sulli, Sehun

Genre:

Romance, Angst, Action & Friendship

Length:

Multichapter

Rating:

PG – 15

Previous Sessions: Characters | ID Cards | Session 1 | Session 2

Storyline  is mine, Cover by Kak Ica@ICAQUEART

Happy reading…

After read this FF, don’t forget to leave your opinion in comment box

~oOo~

Alunan musik klasik terdengar sayup-sayup di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kumpulan berkas-berkas yang tertata rapi di atas rak kayu berwarna hitam. Seorang namja sedang duduk dengan menyelonjorkan kedua kakinya di atas meja kerja di depannya. Sebatang rokok hampir habis dihisapnya saat itu.
“Kasus ini semakin menarik,” ucap Seungri yang tak menunjukkan ekspresi apapun.
“Bukan semakin menarik, tetapi semakin rumit,” sahut Xiumin yang berdiri mematung di samping sebuah jendela bertirai putih, tepat di sebelah kanan Seungri. “Hyung, apa kau berpikir kalau yang membunuh Kris adalah Dong Woo?” Xiumin membalikkan badannya menghadap Seungri yang masih saja bersantai ria dengan sisa rokok di tangan kanannya.

Seungri mendesah pelan. “Aku belum yakin. Jika pembunuhnya adalah Dong Woo, maka kasus ini tidaklah rumit. Tapi jika pembunuhnya bukan Dong Woo, kasus ini akan membutuhkan waktu lama untuk…”

Tok tok tok!
Seungri dan Xiumin spontan menoleh ke arah pintu kayu oak dengan cat warna putih.
Setelah sepersekian detik, muncullah seorang yeoja berambut panjang yang tak lain adalah Alice. Dengan keadaan kacau, Alice memberanikan diri memasuki ruang kerja Seungri.

Sedangkan Seungri dan Xiumin masih tak bergerak sedikit pun dari tempat mereka berada.
“Nona Alice, apa kau baik-baik saja?” tanya Xiumin yang mulai mencemaskan Alice karena tubuh yeoja itu kelihatan bergetar.
“Duduklah!” pinta Seungri.
Dengan sigap, Xiumin menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Alice untuk duduk di kursi itu.
“Tennglah, kau tidak perlu takut,” kata Seungri lembut seraya mematikan nyala api di puntung rokoknya.
“A, apa yang akan kalian lakukan untuk mengungkap kasus pembunuhan kakakku?” tanya Alice dengan terbata-bata.
Seungri dan Xiumin mengerutkan kening.
“Kami masih memikirkan rencana untuk itu. Sebelum melakukan tindakan berikutnya, kami harus menerima laporan dari Jiyeon dan Lay. Tanpa laporan dari mereka, kami tidak memiliki acuan untuk bertindak. Apa kau mau bersabar mengikuti proses penanganan kasus yang kami akan lakukan?”
Alice tak menjawab dengan kata-kata. Bibirnya bergetar, takut dan wajahnya memucat.
“Kau tidak perlu menjawabnya.” Seungri berusaha menenangkan Alice agar tak kelihatan syok dan terpuruk seperti itu.

***

Pesan terkirim. Jiyeon semakin cemberut setelah ia berhasil mengirim pesan pada namja yang sangat mencintainya. “Kenapa hidupku selalu susah dan penuh cobaan?” gerutu Jiyeon dengan suara lirih yang dapat didengar oleh Lay karena jarak mereka berdua yang cukup dekat.

“Sepertinya kau sangat menginginkan kencan itu,” sahut Lay yang sukses membuat Jiyeon menatap aneh padanya.

“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon dengan berkerut kening. Ia sama sekali tidak menyangka Lay akan bertanya seperti itu. “Tentu saja aku sangat senang berkencan dengan Seungri oppa. Setidaknya ada orang yang dengan senang hati menaruh perhatian padaku.”

Ucapan Jiyeon barusan berhasil menusuk relung hati Lay yang paling dalam. Lay menarik nafas panjang. Dia menghentikan langkahnya.
“Waeyo? Kenapa tiba-tiba kau berhenti?” tanya Jiyeon yang heran melihat sikap dingin Lay lagi dan lagi. “Kajja, segera selesaikan tugas ini. Setelah itu aku ingin istirahat.”

Lay terdiam.
Jiyeon memegang lengan baju seragam milik Lay. “Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?” Jiyeon tampak cemas melihat Lay yang menjadi diam lagi.
Dengan pelan, Lay menyingkirkan tangan Jiyeon yang menarik lengan bajunya. “Aku yang akan mengerjakannya. Kembalilah ke asrama dan beristirahat atau…”
“Atau apa?” tanya Jiyeon penasaran. Mereka berdua berdiri di depan ruang guru dan banyak hagsaeng maupun seonsaengnim berlalu lalang di sekitar mereka berdua.
“Lupakan.” Lay pergi nyelonong begitu saja tanpa melihat ke arah Jiyeon atau berpamitan pada yeoja itu.

“Apa yang terjadi pada namja Batu Es itu?” gumam Jiyeon.

***

Di dalam markas XOXO Agent, Sulli dan Eunji baru saja menyelesaikan otopsi yang mereka lakukan terhadap mayat Kris. Ada banyak luka yang diakibatkan oleh goresan pecahan kaca di kulit kepala Kris. Sulli dan Eunji meyakini bahwa sebelum dibunuh, Kris dianiaya terlebih dahulu. Jika pembunuhnya ingin menghabisi nyawa Kris, tentu saja dia akan melakukannya dengan cepat karena kompleks perumahan itu merupakantempat yang cukup ramai.

Sulli duduk di belakang sebuah meja berbentuk persegi panjang. Di atas meja itu sudah terpasang dua buah Mikroskop teknologi mutakhir yang akan ia gunakan untuk mengamati sobekan baju Kris yang ternyata dipenuhi dengan banyak serpihan kaca botol red wine.

“Bagaimana?” tanya Eunji yang baru saja memberikan selembar kertas kosong pada Sulli untuk digunakan menulis laporan sementara tentang pengamatan barang bukti.
“Seperti yang kita duga. Ada banyak serpihan di pakaian Kris.”
“Kasihan sekali… namja setampan dia harus merenggut nyawa dengan cara yang amat kejam.”

Berdasarkan hasil pengamatan forensik, tim XOXO dapat mengira-ngira kronologi kejadian pembunuhan itu.

Cekleeek!
Seungri memasuki ruang otopsi dengan langkah terburu-buru. “Kalian menemukan sesuatu?” Dia segera mendekati mikroskop untuk mengamati langsung apa yang ditemukan dalam kain baju Kris.
“Banyak serpihan kaca, oppa. Dan serpihan itu memiliki warna yang beraneka macam. Berdasarkan pengamatan kami, ada empat jenis botol red wine yang digunakan oleh pelaku untuk membunuh Kris,” jelas Sulli yang masih berdiri di samping Seungri yang tengah duduk mengamati dari balik lensa mikroskop.
“Empat macam botol wine?” tanya Seungri untuk membenarkan pernyataan yang dilontarkan oleh Sulli. Sedangkan yeoja yang menjelaskan tentang jenis bitol red wine tadi mengangguk dengan mantab.
“Ne, ada empat jenis botol yang berasal dari empat negara yang berbeda.” Sulli memotong kalimatnya. “Serpihan yang berwarna putih bening dan kristal serpihan yang terasa kasar jika disentuh merupakan botol red wine buatan Amerika Serikat. Di negara itu cenderung menggunakan trik penarik minat dengan membuat botol minuman beralkohol yang menyerupai kristal, seolah-olah botol itu terbuat dari kristal. Amerika tak sembarangan memproduksi red wine ini. Pasalnya, mereka melakukan pengawasan ketat terhadap beredarnya jenis wine ini. Bisa dibilang, red wine itu tergolong wine kelas elit karena harganya yang lebih mahal dan tingkat alkohol yang tinggi.”
“Kenapa tingkat alkohol yang tinggi harganya malah lebih mahal?” tanya Seungri lagi. Ia semakin tertarik mendengarkan penjelasan dari ahli forensik, Choi Sulli.

Sulli tak melepaskan tatapan matanya dari kain baju Kris yang terkena serpihan kaca botol wine itu. “Amerika sengaja memberikan unsur zat yang dapat memperlambat penyebaran efek alkohol sehingga seseorang yang meminumnya tidak akan lekas mabuk. Ditambah sesuatu yang bersifat menenangkan dari berbagai jenis narkotika, wine ini akan terasa sangat nikmat dan menenangkan bagi peminumnya.”
“Jadi, maksudmu wine ini diproduksi khusus untuk orang-orang pecandu narkotika?”
“Anhi. Bukan begitu. Berdasarkan data penjualan wine jenis ini di Amerika, pemerintah sengaja melindungi produksinya karena wine ini adalah wine yang dinikmati oleh para pejabat pemerintah AS.”
“Apa kau ingin bilang bahwa pembunuhnya merupakan pejabat AS atau orang yang dekat dengan pejabat AS?”
Sulli menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. “Secara logika, tidak mungkin pelakunya adalah pejabat AS. Jadi, mungkin saja pelakunya memiliki hubungan yang dekat dengan pejabat AS. Perlu diketahui. Wine ini hanya terdapat di AS. Tidak diekspor ke negara manapun.”

“M, mwo?” Seungri terkeut mendengar kalimat terakhir dari penjelasan Sulli.

“Lanjut dengan jenis wine yang kedua,” sela Eunji. “Serpihan botol yang berwarna putih kekuningan itu merupakan botol wine khas Belanda.”
“Omona! Ada lagi?” komentar Suho yang sedari tadi diam mendengarkan penjelasan dari Sulli.

Eunji tersenyum tipis mendengar kata-kata dari Suho. “Tidak seperti jenis botol wine yang pertama, serpihan botol wine ini memiliki pola yang unik saat dipecah atau dihancurkan. Lihatlah, banyak dari serpihan kaca botol ini yang memiliki pola diagonal. Jika diamati lebih teliti, pola ini dapat memperlihatkan sesuatu. Kalau menurutku, pola serpihan botol ini menunjukkan sebuah logo atau simbol sesuatu.”
“Apa produsen wine ini bekerja sama dengan pemerintah seperti yang terjadi di AS?” tanya Suho.
Eunji menggeleng. “Wine ini kebalikan dari yang pertama tadi. Wine khas Belanda ini sengaja diekspor ke negara-negara lain dan harganya cukup lebih murah daripada wine buatan Belanda yang lain. Di Korsel pun kita bisa menemukan botol wine itu.”

Seungri mengamati serpihan botol itu. “Apa kau punya gambar botol-botol yang masih utuh?” tanya Seungri pada Sulli atau Eunji.

“Igeo.” Sulli menunjukkan selembar kertas yang terdapat empat gambar botol red wine yang ia peroleh melaui akses internet selama beberapa jam. “Saat diketahui banyak pecahan botol di rumah Alice, aku langsung berpikir bahwa botol red wine itu pasti berkaitan dengan pelaku yang saat ini masih belum diketahui siapa orangnya.”

“Jadi, menurutmu, kita dapat mengetahui siapa pelakunya dengan mengidentifikasi botol wine ini? Siapa saja yang pernah minum wine dari botol ini? Aah, aku punya ide lagi. Bagaimana kalau kita deteksi pecahan botol itu untuk mengetahui DNA atau sidik jari yang melekat pada botol itu.” Suho menyampaikan ide cemerlangnya yang jarang keluar saat mereka menangani kasus seperti itu.

Seungri dan yang lainnya tampak berpikir. Ide yang disampaikan oleh Suho perlu ditindak lanjuti. Tetapi, untuk mencari bagian tubuh seseorang yang masih melekat pada pecahan botol itu tidaklah mudah. Apalagi mendeteksi DNA seseorang.
“Yaak, berpikirlah sedikit rasional!” seru Xiumin yang sedari tadi memilih diam karena dia berusaha memahami kasus baru mereka yang semakin rumit untuk dipecahkan.

“Apa salahnya kita coba?” Tiba-tiba Eunji menunjukkan ekspresi meyakinkan.
“Are you sure?” tanya Seungri.
Eunji tersenyum. “Maybe.”

Gloddaakk!
“Maybe?”
“Wae? Lalu apa idemu, Xiumin oppa?” tanya Eunji yang merasa bahwa Xiumin tidak yakin dengan kemampuannya mendeteksi DNA dan sidik jari yang mungkin masih melekat pada pecahan botol wine itu atau bahkan sudah tidak apa-apa lagi yang bisa menjadi petunjuk untuk mereka.

Seungri bangkit dari duduknya. Ia menghel nafas panjang. “Baiklah, kita akan melakukan apa yamg diusulkan oleh Suho. Aku punya rencana.”

Semua yang ada di ruang otopsi menatap heran pada Seungri yang kadang misterius karena tiba-tiba melakukan hal-hal yang tak msuk akal dan hasilnya selalu bagus. Ia jarang mendiskusikannya dengan timnya karena saat berdiskusi pasti akan ada perdebatan yang tak ada ujungnya.

“Rencana apa?” tanya Sulli yang penasaran setengah mati.
Seungri tersenyum evil. “Kalian lakukan saja tugas mencari petunjuk yang dapat membantu kita mendeteksi DNA dan sidik jari. Aku akan menghubungi Jiyeon dan Lay untuk melakukan sesuatu di sana.”

“Semoga kali ini tidak salah langkah,” lirih Xiumin tidak yakin.
“Oppa, apa kau meragukan kemampuanku dan Sulli, eoh? Kenapa kau selalu menyebalkan?” Eunji menatap tajam pada Xiumin. Tatapannya seperti seekor harimau yang melihat mangsa berdiri.di depannya dan siap menerkam mangsa itu.

“Kenapa aku harus konflik denganmu?” Xiumin meninggalkan Sulli, Eunji, dan Suho yang masih berada di dalam ruang otopsi.

“Kajja, keluar dari sini. Apa kau ingin berlama-lama dengan mayat?” Suho mulai melangkahkan kaki menuju pintu.

“Setidaknya mayat itu lebih tampan darimu, oppa,” sahut Eunji.

***

Sementara itu, di dalam asrama, Jiyeon sedang memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba ia merasakan getaran dari ponsel yamg dimasukkan ke dalam saku celananya.
“Seungri…” lirih Jiyeon.
Rupanya Seungri mengirim pesan pada Jiyeon agar yeoja itu segera membuka emailnya karena ia telah mengirim email rahasia padanya.
Dengan segera, Jiyeon membuka laptop yang telah disiapkan oleh Eunji sebelum dia dan Lay berangkat ke Corode Highschool.

“Ige mwoya?” gumam Jiyeon dengan dahi sedikit berkerut. “Apa maksudnya?”

“Ada apa?”
“Omo!” Jiyeon terperanjat kaget karena tiba-tiba Lay sudah berdiri di sampingnya dan juga menatap layar laptop bersama dengan dirinya. “Issh, sejak kapan kau di sini?”

Lay tidak menjawab melainkan hanya melirik ke arah Jiyeon yang berada di sampingnya dengan jarak yang cukup dekat hingga Lay bisa melihat betapa mulus kulit wajah Jiyeon.

“Kau sudah membacanya, kan? Berarti dalam tugas kali ini yang lebih berperan bukan aku, melainkan kau karena Dong Woo berada di tingkat yang sama denganmu.”

“Mau membantuku?” tanya Lay yang telah menjauhkan diri dari Jiyeon. Sedangkan Jiyeon masih duduk di tepi ranjangnya.

“Maksudmu dalam tugas ini? Tentu saja aku akan membantumu karena ini adalah tugas kita berdua.”

Lay tersenyum tipis. Ada kesejukan tersendiri saat Jiyeon menyebut kata “berdua” yang berarti Jiyeon dan dirinya.
“Kenapa ekspresimu mencurigakan seperti itu?” selidik Jiyeon seraya menutup laptopnya kembali.
“Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya berharap kau tidak merusak rencanaku.”

“Mwo? Apa kau pikir aku adalah pengacau?” Jiyeon tidak terima jika dirinya dikatakan dapat merusak rencana Lay.
“Kau adalah tipe orang yang gegabah dan ceroboh. Dua sifat itu sangat merugikan apalagi saat menjalankan misi. Kau bisa merusak rencana kita.” Lay berkata-kata dengan santainya dan sama sekali tidak menyadari kalau kata-katanya itu melukai perasaan Jiyeon.
“Apa kau pikir kau adalah namja yang hebat sehingga kau bisa mengatakan hal buruk tentangku?”
Lay menoleh ke arah Jiyeon.
“Lalu bagaimana dengan yang lain? Siapa lagi yamg menurutmu ceroboh dan gegabah seperti aku?” Suara Jiyeon meninggi. Dia sangat kesal karena Lay selalu menjelek-jelekkan dirinya.

“Opso,” jawab Lay singkat
“Tch!” Jiyeon menghempaskan tubuhnya di atas sofa bokong babi di belakangnya. “Bagaimana dengan Lime? Bukankah dia lebih ceroboh dan gegabah daripada diriku? Jika malam itu Lime tidak menari-nari dan tidak melukai gadis penggoda itu, mungkin saat ini kita sudah dapat menangkap si mucikari yang pandai bersembunyi itu. Sekarang kau malah bilang aku adalah yeoja yang ceroboh dan gegabah. Seburuk itukah aku dalam pandanganmu?”

Deg! Kata-kata Jiyeon berhasil membuat Lay terkejut.
“Setidaknya Lime lebih baik dari dirimu.” Lay malah semakin menyulut api di dalam diri Jiyeon.
“Mwo?!” Jiyeon mengerutkan keningnya. Ia tak pernah mengira Lay akan menilainya seperti itu. “Baiklah kalau menurutmu Lime lebih baik dari aku. Menurutku Seungri bahkan jauh lebih baik darimu.”

Jiyeon beranjak dari tempatnya dan keluar kamar dengan emosi memuncak dan hati yang terluka seakan tertusuk duri tajam. Kenapa Lay membanding-bandingkn dirinya dengan Lime? Tentu saja Jiyeon merasa dirinya lebih baik dari Lime karena dalam beberapa misi, dirinyalah yang lebih sering berperan untuk memecahkan kasus. Bukan Lime. Jiyeon bahkan menganggap Lime adalah pengacau dalam tim XOXO.

Lay mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mr. Jang pada dirinya dan Jiyeon. Dia sudah mengatakan kalau tugas itu akan ia selesaikan seorang sendiri. Lagipula, Jiyeon sedang kesal padanya. Jadi, tidak mungkin Jiyeon mau membantunya menyelesaikan tugas itu. Beberapa saat setelah memulai mengerjakan tugas, Lay melirik ke luar jendela dan melihat ke arah bawah. Kamarnya terletak di lantai 4, jadi dia bisa menatap keadaan halaman asrama dan jalan raya. Lay melihat Jiyeon sedang duduk di bawah pohon di halaman asrama. Yeoja itu bersandar pada pohon mapel yang cukup tinggi. Setelah mengamati Jiyeon yang berada di halaman, Lay kembali fokus pada tugasnya.

10 menit telah berlalu. Lay melirik lagi ke luar jendela. Ia melihat ke arah pohon mapel tempat Jiyeon duduk-duduk tadi. Keningnya berkerut saat yeoja yang ingin ia lihat tidak ada di tempat itu.
“Jiyeon-a, ke mana kau pergi?” Lay menutup bukunya lalu bergegas keluar asrama dan mengecek keberadaan Jiyeon di halaman asrama.
Sesampainya di halaman asrama, Lay tak menemukan siapapun. Tak ada Jiyeon atau hagsaeng lainnya. “Di mana dia?”
Tanpa aba-aba, Lay mengikuti jejak kaki yang nampak jelas di atas permukaan tanah. “Apa ini jejak kaki Jiyeon?”

Di tempat lain, Jiyeon yang masih kesal pada Lay, melangkahkan kakinya menjauh dari asrama. Dia merasa bosan sore itu. Seharusnya kencan dengan Seungri tidak ia batalkan. “Namja itu benar-benar menyebalkan! Kenapa ada orang semacam itu? Bahkan Sehun yang yang bersikap dingin pada Sulli pun masih lebih baik daripada Lay.”

“Kau mau ke mana?”
“Omo!” Jiyeon segera menghentikan langkah kakinya. “N, nuguya?” Ia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang bertanya padanya.
Namja yang berdiri di depan Jiyeon tersenyum licik. Jiyeon pun jadi bergidik melihatnya. Tapi untungnya dia segera sadar bahwa tak ada gunanya takut pada namja yang berdiri di depannya itu. “S, sunbaenim…”

Namja itu tampak terkejut mendengar Jiyeon menyebutnya sunbae. “Kau tahu tentangku?”
“Keurom. Aku pernah melihatmu di sekolah. Kau memakai badge kelas tiga. Jafi aku langsung mengenalimu sebagai sunbae-ku. Heuuuh, aku kira tadi siapa. Ternyata kau sunbaeku.” Jiyeon berpura-pura sok akrab dengan namja yang baru dikenalnya. Hal ini ia lakukan tentu saja untuk menjaga penyamarannya.

Suasana canggung. Jiyeon memutar otak untuk bisa mencairkan suasana di sana. “Umm, sunbae, kenapa kau berkeliaran di sini? Bukankah kelas tiga sedang ada pelajaran tambahan?”
Namja itu berkerut kening. “Darimana kau tahu?”
“Oppa-ku juga kelas tiga. Tapi hari ini dia juga bolos tidak mengikuti pelajaran tambahan karena ada tugas translate dari Mr. Jang.”
“Oppa?”
Jiyeon mengangguk kecil dan mengangkat kedua alisnya. “Ne, Loraay oppa. Oh iya, kenalkan, namaku Jessie Kim. Nama sunbae siapa?” Jiyeon berlagak polos. Tiba-tiba manik matanya melihat nama yang tertulis di nametag namja yang ia ajak kenalan. Dong Woo, batin Jiyeon.
“Panggil saja aku Dong Woo. Tanpa marga.”
“Eh? Waeyo?”
“Aku tidak suka memakai nama margaku.” Dong Woo menjawab pertanyaan Jiyeon dengan jutek. Hal itu malah membuat Jiyeon semakin semangat mendekati namja itu.

“Gurae, aku akan memanggilmu Dong Woo sunbae. Kau bisa memanggilku Jessie.” Senyum lebar menghiasi wajah cantik Jiyeon yang dipoles dengan make up minimalis.

***

Dua jam sudah berlalu. Sulli dan Eunji masih berkutat dengan mikroskop mereka hingga membuat mata mereka berdua sedikit berkunang-kunang.
“Sampai kapan kita melakukan tugas ini?” keluh Eunji yang menyandarkan punggungnya di atas dinding berwarna peach.
Sulli menoleh ke arahnya dan menarik nafas panjang. “Siapa yang menyetujui ide gila ini? Kau sendiri, kan?” Ia pun kembali mengamati pecahan botol yang diduga terdapat sidik jari yang melekat di sana. “Kita harus dapat menemukannya. Aku ingin melakukan hal besar yang bisa membuat namaku disanjung oleh anggota tim kita.”
“Mwo? Yaak, Sulli-a, aku tahu kau sedang patah hati. Tapi jangan seperti ini. Kau malah sengaja melampiaskan rasa sakitmu itu dengan mengamati sesuatu yang belum tentu ada.”
“Kau bisa diam atau tidak? Jika kau tidak mau melakukannya, aku sendiri yang akan menyelesaikan tugas ini.” Sulli menatap tajam ke arah Eunji yang masih bersandar dengan santainya.
Eunji tahu kalau Sulli tidak bermaksud mengusir Eunji. Yeoja itu hanya emosi. “Setelah pekerjaan ini selesai, aku akan membuat perhitungan dengan namja bernama Oh Sehun!” Ia langsung berdiri tegak dan mendekati Sulli yang masih berkonsentrasi mengamati pecahan kaca botol yang entah sudah keberapa. “Besok aku akan pergi ke dokter mata dan membeli kacamata model terbaru.” Eunji kembali mengamati tiap pecahan botol yag jumlahnya tidak sedikit.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah 4 jam Sulli dan Eunji berada di ruangan tertutup itu hanya untuk mencari sesuatu yang bisa membuktikan pelaku pembunuhan namja bernama Kris.
“Aah, dapat! Aku dapat!” teriak Eunji terlalu bersemangat.
Sulli segera melihat apa yang didapat oleh Eunji. “Jinjja? Apa?”
“Bulu mata.”
“Mwo? Bagaimana bisa bulu mata menempel pada pecahan kaca botol wine? Mungkin itu bulu mata milikmu.”
“Issh! Tidak mungkin. Bulu mataku tidak mudah rontok. Aku akan melakukan tes DNA.”
“Besok saja. Sebaiknya sekarang kita istirahat dulu. Aku lapar sekali.” Sulli memegang perutnya yang sudah keroncongan sejak sejam yang lalu. “Ini sudah jam 8 malam. Ayo makan dulu.”
“Aish! Kau itu sedang patah hati tetapi masih suka makan.” Eunji menuruti kemauan Sulli. Sebenarnya dia juga sudah lapar. Namun ia terlalu gengsi untuk ngomong duluan.

***

Malam ini Seungri sengaja pulang ke apartemennya untuk menyelesaikan sesuatu di sana. Ya, sesuatu yang berbau rahasia. Namja yang penuh wibawa dan bertanggungjawab itu tak ingin melibatkan seseorang dalam urusannya kali ini.
Tut tuuut… tuuuut…
“Kenapa lama sekali?” gerutu Seungri saat sedang menghubungi seseorang. Dia menunggu panggilan seraya memandangi sebuah foto yang dipegangnya.
“Yoboseo…” Terdengar suara yeoja paruh baya dari seberang telepon.
“Eommonim… masih ingat suara saya?”
“Seungri?”
“Ne, eommonim. Maaf saya menelepon malam-malam begini. Tujuan saya menghubungi Anda adalah untuk menanyakan beberapa hal kepada Anda terkait suami baru Anda.”
“Gurae, silahkan. Aku punya waktu beberapa menit untuk bicara denganmu. Aku juga takut jika kita ngobrol terlalu lama, mereka akan curiga dan akhirnya bisa menyadap teleponku.”
Seungr tersenyum tipis. Dia yakin kali ini nyonya itu akan memberikan informasi yang sangat berguna untuknya.

***

Kembali ke pasangan penyamaran Lay dan Jiyeon yang kini berada di dalam kamar asrama mereka yang nampak sepi.
Jiyeon sedang membersihkan kuku-kuku kakinya sambil bersenandung kecil, menikmati alunan lagu yang terdengar melalui sepasang earphone-nya. Sejak bertengkar dengan Lay, ia sama sekali tak menyapa namja itu apalagi mengobrol. Jiyeon yakin, dia akan semakin naik darah jika bicara dengan namja Batu Es itu.

Tanpa Jiyeon sadari, sedari tadi Lay memperhatikan aktifitasnya yang hanya membersihkan kuku kaki. Lay tidak habis pikir, seorang yeoja yang merupakan agent penyamaran masih sempat melakukan hal-hal sepele dalam menyelesaikan misinya.

“Tadi… kau pergi ke mana?” Lay membuka suara untuk mencairkan suasana canggung diantara dirinya dan Jiyeon.
Jiyeon mendengar suara Lay dengan jelas meski suara namja itu beradu dengan lagu yang ia dengarkan melalui earphone. Jiyeon tidak ingin menjawabnya. Ia malah semakin mengeraskan volume ponselnya hingga lagunya terdengar semakin memekakkan telinga. Jiyeon tak peduli akan hal itu. Ia tidak ingin berdebat atau bertengkar dengan Lay lagi untuk hari ini.

“Kau tidak mendengarkanku atau pura-pura tidak dengar?” Lay tidak ingin dicueki oleh Jiyeon.
Jiyeon masih tidak peduli. Ia berusaha untuk menikmati lagunya.

Tiba-tiba Lay menarik kabel earphone milik Jiyeon sehingga earphone itu terlepas dari telinga Jiyeon.
“Apa maumu?” seru Jiyeon mulai emosi.
“Kau sungguh tak menghargai orang lain saat diajak bicara.”
“Mwo? Mworago? Menghargai? Sejak kapan kau bertanya tentang menghargai orang lain?”
Lay tak berusaha menjawab. Jika ia menjawabnya, pasti akan terjadi perang mulut lagi.
“Aku ngantuk. Sebaiknya simpan saja pertanyaanmu itu untuk orang lain.” Jiyeon menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur namun lagi-lagi Lay berbuat sesuatu yang membuat Jiyeon kesal.
“Yaak! Apa maksudmu membuang selimutku?”
“Kenapa?” Lay malah balik tanya.
Jiyeon hanya bisa mendesah kasar. Seharusnya dia tidak menerima tugas ini jika berpasangan dengan Lay. Jiyeon bangkit dari tidurnya lalu mencari ponselnya yang berdering pelan.
Satu pesan diterima.
Jiyeon membukanya. Ternyata pesan dari Seungri.

“Jiyeon-a, tugasmu untuk besok adalah mencari sesuatu yang merupakan bagian tubuh dari Dong Woo. Maksudku carilah sesuatu yang bisa digunakan untuk tes DNA. Selamat malam, mimpi indah.”

“Oppa…” lirih Jiyeon. Dia berpikir sejenak. Apa kiranya yang dapat dia lakukan untuk mendapatkan yang diinginkan oleh Seungri. Saat dirinya asyik berpikir, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Dahinya berkerut melihat nama orang yang mengirim pesan padanya. “Oppa lagi?”

“Bukalah emailmu. Jangan pakai ponsel karena mudah dideteksi. Pakailah laptop yang sudah diprotect oleh Sehun.”

Jiyeon menuruti perintah Seungri. Ia meraih laptop yang diletakkan di atas nakas berukuran lumayan besar. Tombol On sudah ditekan, tak lama kemudian laptop itu nyala. Jiyeon segera membuka emailnya, namun saat dia baru saja membuka alamat web emailnya, kedua matanya terbelalak. Sebuah pesan dari Lime yang ditujukan kepada Lay.

“Kau tidak sign out dari emailmu?” seru Jiyeon pada Lay.
Lay menoleh ke arah Jiyeon dan segera merebut laptop itu dari tangan Jiyeon.
“Apa yang kau baca? Jangan sembarangan membuka email orang lain.”
Jiyeon tidak terima dikatakan sembarangan membuka email orang lain. Dia berdiri menyejajarkan tubuhnya dengan Lay. “Yaak, aku tidak serendah itu. Permisi!” Jiyeon berlalu dari hadapan Lay.

Tap!
Langkahnya terhenti. Tangan Lay megang tangan Jiyeon untuk mencegahnya pergi. “Sudah larut malam. Kau mau ke mana?”
Jiyeon tak menoleh ke arah Lay. Jangankan menoleh, melirik namja itupun tidak ia lakukan.
“Kembali ke markas.”
“Mwo? Michyeoso?” Suara Lay meninggi. “Kau benar-benar sudah gila. Sekarang sudah larut malam. Kau ingin kembali ke markas sendirian.”
“Lalu apakah kau mau menemaniku?” tanya Jiyeon sinis. Lay diam saja tak bergeming.

“Lepaskan tanganku.!” Jiyeon mengibaskan lengan kirinya yang dipegang oleh Lay. Ia berhasil lolos dari Lay.

“Yaak, Jiyeon-a! Jiyeon-a! Kembalilah!” Lay berlari menyusul Jiyeon yang sudah cukup jauh dari kamar asrama mereka.

Langkah Jiyeon semakin cepat. Dia tidak ingin berdebat dengan Lay saat suasana hatinya sedang kacau.

“Jiyeon-a, keumanhae!” teriak Lay yang semakin cepat berlari.

Tap!
Lay berhasil mengejar Jiyeon dan menarik tangan gadis itu. Jiyeon terpaksa mengehentikan langkahnya.
“Sebenarnya apa maumu, eoh? Kau benci padaku? Katakan saja jika kau membenciku! Jangan perlakukan aku seperti musuhmu! Lebih baik katakan tidak suka daripada bersikap menjengkelkan di depanku. Aku sudah muak.”

Ponsel Jiyeon berdering. Seungri menelepon.
Klik!
“Oppa!” lirih Jiyeon sedih.
“Eoh, waegurae? Gwaenchanayo?”
“Oppa, jemputlah aku di asrama sekarang juga.”
“Yaaak, Jiyeon-a, apa maksudmu?” tanya Seungri bingung karena tiba-tiba Jiyeon minta dijemput olehnya. Ada apa ini? batin Seungri yang mulai khawatir. “Gurae, tunggu 10 menit. Aku akan datang.”
Klik!

Akhirnya Jiyeon bisa bernafas lega. Ia melirik ke belakang, Lay tengah memperhatikannya. Molla, dia sendiri tidak ingin menanggapi Lay yang sangat menyebalkan, bahkan kelewat menyebalkan. Jiyeon berjalan ke depan, membuat jaraknya dengan Lay semakin jauh. Ia berjalan tanpa sekalipun berbalik badan.

Tanpa Jiyeon dan Lay sadari, dari kejauhan, tampak seorang namja sedang berdiri bersandar pada dinding di bawah tangga. Tepat di belakang Lay dengan jarak 10 meter. Namja itu tersenyum evil ke arah Jiyeon dan Lay.

Lay tidak tahu apa yang terjadi pada Jiyeon atau lebih tepatnya dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Jiyeon. Bagaimana bisa yeoja itu meminta Seungri untuk menjemputnya padahal mereka berdua sedang menjalankan misi rahasia mengungkap kasus besar yang sudah berhari-hari belum terpecahkan. Lay berlari menyusul Jiyeon. “Jiyeon-a, mianhae…”

Jiyeon tak mempedulikan Lay. Dia tetap berjalan keluar asrama karena dalam waktu 10 menit Seungri akan datang untuk menjemputnya.

“Jiyeon-a…” panggil Lay lirih.
Jiyeon menghentikan langkah kakinya. Dia menyadari ada yang tengah mengintai mereka berdua. Tiba-tiba Jiyeon membalikkan badan. “Panggil aku Jessie. Namaku bukan Jiyeon. Kenapa kau selalu memanggilku dengan nama itu?”

Lay mengerutkan keningnya. Jiyeon kesal karena Lay tidak menyadari kalau di belakangnya ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua.
“Ttarawa!” Jiyeon menarik lengan Lay dengan paksa hingga membuat namja itu terhuyung ke depan.

Sesampainya di belakang pintu asrama, Jiyeon melepaskan lengan Lay.
“Ada seseorang yang sedang memperhatikan kita berdua. Tadi dia ada di belakangmu. Makanya aku menyuruhmu memanggil namaku dengan Jessie.”
“Mwo?”
Jiyeon menekuk wajahnya. Ekspresi kekesalan ini benar-benar ia tampilkan di depan Lay. “Lihat, siapa yang bisa mengacaukan misi ini?” tanya Jiyeon sewot. “Kemarilah!” Jiyeon menarik tangan Lay lagi.

Ckiiiitt!
Seungri datang dengan mobil mewahnya. Dengan sedikit tergesa, dia memasuki halaman asrama yang tampak sepi tak ada kegiatan apapun di dalamnya. Tentu saja, hal itu karena penghuni asrama sudah tertidur pulas di atas kasur mereka masing-masing. Setelah sampai di depan pintu asrama, Seungri dikagetkan oleh pintu yang tiba-tuba terbuka.

“Kau benar-benar orang yang menyebalkan!” ketus Jiyeon yang masih menarik tangan Lay. Sedangkan Lay tak bisa berbuat apa-apa karena tidak mendapat kesempatan bertanya atau apapun.
“Omo! Kalian? Apa yang kalian lakukan?” tanya Seungri yang menatap Jiyeon dan Lay penuh tanda tanya.
“Oppa, kau sudah di sini?” tanya Jiyeon balik.
“Ini, kenapa kau menarik tangan Lay?” Seungri menjulurkan jari telunjuknya, menunjuk ke arah tangan Jiyeon yang menarik-narik tangan Lay.
“Anak buahmu yang… Omo!” Jiyeon menutup mulutnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya sendiri.

Lay dan Seungri menatap Jiyeon. Seungri mengangkat kedua alisnya, tandanya bahwa dia bertanya ‘ada apa’ pada Jiyeon karena tiba-tiba Jiyeon menutup mulutnya.

“Akan aku jelaskan di dalam mobil.” Jiyeon melangkah menuju mobil Seungri yang terparkir di depan halaman asrama.
Sedangkan Seungri dan Lay hanya mengikuti yeoja ketus itu masuk ke dalam mobil.

Suasana hening di dalam mobil. Seungri dan Lay menatap Jiyeon yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Yaak, Jiyeon-a, ada apa?” bisik Seungri penasaran. Dia mengira Jiyeon kesurupan karena bertingkah tidak seperti biasanya.

Jiyeon yang tengah menundukkan kepalanya tiba-tiba menghentakkan kaki hingga membuat mobil itu sedikit bergoyang.
“Keumanhae! Kau bisa merusak mobilku,” seru Seungri.
Jiyeon malah geram atas perlakuan Seungri.
“Yaak, kalian berdua dengarkan aku.” Ekspresinya berubah serius. Tetapi Seungri dan Lay tidak yakin kalau Jiyeon akan membahas sesuatu yang sifatnya serius. “Oppa, jalankan mobilnya.”

Seungri tak berkomentar. Dia langsung menghidupkan mesin mobil dan melesat menjauh dari asrama.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Seungri pada Jiyeon.
“Zhang Yixing, mianhae.”
Lay mengerutkan kening. “Maaf atas apa?”
“Maaf atas acting-ku tadi.” Jiyeon tersenyum puas.
“Mwo? Jadi kau hanya acting?”
“Dengarkan dulu penjelasanku. Aku terpaksa berpura-pura karena Dong Woo memata-matai kita. Dia curiga pada kita berdua.”
“Bukankah tadi sore kau berkenalan dengannya?” tanya Lay.
“Mwo?” Seungri kaget.

Tbc

Advertisements

2 thoughts on “XOXO Undercover [Session 3]

  1. keren…keren… jiyeon sama Lay berantem melulu deh.. Lay suka ya sama jiyeon?? tapi dia ga bisa nunjukin kalau dia suka sama jiyeon makannya dia dingin ke jiyeon.. dan dongwoo curiga sama jiyeon-lay, ditunggu next partnya

    Like

  2. nah kan iya bener dongwoo, apa dia curiga ya kalo ternyata dia dimata-matai, masa dia udah tau, secepat itu kah..
    ini kayanya lama lama jiyeon ngak kuat deh kerja sama berdua sama lay terus menerus, mau berantem sampe kapan coba
    oohh iya kan lay suka sama jiyeon, keliatan ih agak gimana gitu waktu jiyeon berkirim pesan sama seungri. jiyeon juga nih kok ngga suka gitu ya lay deket sama lime
    perkara botol wine ini sulit sepertinya, mungkin banyak orang pentung diluar sama yg terlibat dalam pembunuhan kris
    aaa seru! next part soon

    Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s