My Heart [Chapter 9]

My Heart on Nicefanfiction

Rekap from INDO FF

Poster and storyline by Kimleehye19

Title: My Heart

Prev: [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

| Starring: Luhan | Park Jiyeon | Siwan |

| Co. Starring: Jieun a.k.a IU | Xiumin | Leo VIXX | Kyuhyun | Krystal | Seohyun |

| Genre: romance | hurt/comfort | family | little marriage life
| Lenght: multichapter |

Rating: PG – 13

Don’t plagiat!!

Leave Comment or like 🙂

Luhan menggendong Jiyeon di atas punggungnya. Dia mengira kalau Jiyeon sedang mabuk berat. Padahal Jiyeon hanya berpura-pura mabuk. Flashback. Jiyeon dan Siwan sampai di bar. Mereka berdua bingung mencari tempat yang asyik untuk mengobrol. Karena Siwan masih bingung memilih tempat, akhirnya Jiyeon menunjuk ke tempat yang biasa ia gunakan untuk bermabuk ria saat sedang banyak masalah. “Aku lebih suka di sini. Kau pasti juga akan suka,” kata Jiyeon pada Siwan. Namja itu hanya membalas dengan anggukan. “Apa kau sering kemari?” tanya Siwan santai. Jiyeon menggeleng. “Aku datang ke sini baru dua kali ini. Saat pertama kali kesini, aku sangat menyukai tempat ini.” Jiyeon nyerocos dengan memandang ke berbagai arah sambil sedikit meliukkan badan mengikuti irama lagu disko yang terdengar melalui indera pendengarannya. Padahal lagu disko itu diputar khusus untuk euang sebelah karena bar itu berhimpitan dengan diskotik. Saat pandangannya terpaku pada tempat duduk para pelanggan, tiba-tiba kedua manik mata Jiyeon melihat sosok yang ia kenal. Jiyeon yakin kalau namja itu adalah Leo karena dia pernah mengantar Jiyeon ke apartemennya saat sedang mabuk berat. Dari kejadian itulah Leo bersikap sinis pada  Jiyeon. Leo menganggap Jiyeon adalah yeoja nakal yang sengaja memanfaatkan perasaan Luhan dan ibunya hanya untuk mengacaukan kehidupan mereka. Jiyeon mengetahui kalau Leo ada di sana. Leo pun melihat Jiyeon dengan jelas. Yeoja itu asyik dengan gelas alkoholnya. “Kau tidak minum?” tanya Jiyeon pada Siwan yang sejak awal hanya melihatnya menenggak alkohol. Siwan hanya tersenyum dan menggeleng. Jiyeon manggut-manggut. Keduanya bermain tanda isyarat. “Apa kau punya masalah?” tanya Siwan. Jiyeon meletakkan kembali gelas yang diambilnya barusan. “Setiap orang pasti punya masalah. Seharusnya yang kau tanyakan itu apakah masalahku cukup berat? Maka aku akan menjawab ‘ya’.” Jiyeon menarik nafas dalam-dalam. Dia memejamkan mata sejenak, memberi aba-aba pada dirinya sendiri untuk memulai berbicara. Dia ingin mengajukan pertanyaan pada Siwan. Sedangkan Siwan hanya memperhatikan Jiyeon. Menurut Siwan, sikap Jiyeon agak aneh. “Apa kau pernah menyakiti orang lain?” tanya Jiyeon yang mendadak, hingga membuat Siwan terbelalak. “Ekspresimu sampai segitunya. Santai saja.” “Pernah. Aku pernah menyakiti halmoni, Kyuhyun, ahjussi, Jieun, teman-temanku hingga aku tak sadar kalau perbuatanku sudah keterlaluan. “Aku yakin mereka semua pasti menyayangimu.” Jiyeon meneguk satu gelas kecil alkoholnya. “Bisakah kau menghentikan minummu itu? Aku sangat risih melihatnya.” “Mwo? Aku tidak menyuruhmu membayar minumanku. Jadi tenang saja. Aku akan membayarnya sendiri.” Siwan merasa ada yang aneh dengan Jiyeon. Dia belum pernah melihat Jiyeon senekad ini sampai memesan beberapa botol alkohol dan mabuk-mabukan. Apakah yeoja itu punya banyak masalah? “Jiyeon-a, seberapa berat masalahmu, jangan merusak dirimu sendiri dengan cara seperti ini,” kata Siwan memperingatkan Jiyeon. Sayang sekali, Jiyeon tak mengindahkannya. Dia tetap asyik menuangkan cairan memabukkan itu ke dalam gelas kecilnya. Tiba-tiba Siwan memegang tangan Jiyeon untuk menghentikan tangan itu menuangkan alkohol ke dalam mulutnya. Jiyeon menoleh dan menatap Siwan dengan tajam. “Kalau kau tidak bisa minum, jangan ganggu orang lain yang sedang minum. Cukup diam saja. Apapun yang terjadi, diamlah. Aku tidak ingin kau menolongku, membantuku, atau malah melarangku minum.” Siwan melepaskan tangan Jiyeon. Tangan itu dengan segera menuangkan alkohol ke dalam mulutnya. Jiyeon sampai merem meneguk cairan itu. Panas di tenggorokan. Siwan hanya bisa melihat Jiyeon minum-minum sendirian. Dia heran kenapa Jiyeon menjadi pemabuk seperti itu? Bahkan Siwan sendiri pun tak pernah minum alkohol melebihi satu botol. Dia menatap Jiyeon dengan tatapan iba. Yeoja yang disukainya mungkin sekarang sedang banyak masalah karena Jiyeon tak pernah seperti ini. Siwan mendesah kasar lalu meminum air putihnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Jiyeon menolak pertolongannya atau apapun dari Siwan. ‘Apa dia marah padaku karena aku sudah mengutarakan perasaanku?’ Tiba-tiba Luhan muncul. Dia langsung menghampiri Jiyeon yang tampak mabuk berat. Namun sebenarnya Jiyeon hanya mabuk biasa. Dia masih bisa melihat dengan jelas, mendengar dengan jelas, mengenali orang, dan yang lainnya. Flashback end. … Cekleek! Krieet! Pintu apartemen Jiyeon terbuka. Tentu saja Luhan yang membukanya. Malam ini dia mengantar Jiyeon ke apartemennya, bukan ke rumahnya. Jika ibunya tahu, pasti ibunya akan sangat khawatir dan bisa mengganggu kesehatannya. Luhan meminta Jiyeon duduk bersandar pada dinding sementara dia sendiri membersihkan ranjang Jiyeon yang beberapa waktu ini tidak terpakai. Setelah siap dipakai, Luhan segera membaringkan tubuh Jiyeon di atas ranjang itu. Ranjang yang hanya muat satu orang itu hanyalah ranjang biasa namun cukup nyaman digunakan untuk tidur. Luhan memilih untuk duduk di dekat ranjang yang telah digunakan oleh Jiyeon. Dia mendesah pelan dan meratapi nasibnya. ‘Aku sama sekali tidak menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi padaku. Setiap manusia pasti memiliki masalah. Ada orang yang menyukai dan ada juga yang membenci. Ada orang yang baik dan ada yang jahat. Aku hanya ingin hidup bersama orang yang ku sayangi, tidak lebih. Kenapa keinginanku itu sangat sulit diwujudkan? Apakah memang seperti ini harus ada ujiannya?‘ batin Luhan. Karena tubuh yang terlalu lelah dan pikiran yang melayang-layang tak karuan, akhirnya lama-kelamaan Luhan tertidur dengan menggenggam tangan Jiyeon. Kepalanya bersandar di tepi ranjang. Jiyeon membuka matanya. Rupanya sedari tadi dia belum tidur. Posisi tubuhnya miring ke kanan, menghadap ke Luhan. Jadi dia bisa melihat Luhan yang tidur pulas dengan menggenggam tangannya. Jiyeon dapat merasakan hangatnya genggaman Luhan hingga tak terasa cairan hangat keluar dari kedua sudut matanya. Jiyeon pov Jongmal mianhae oppa. Aku bersalah padamu. Akulah penyebab ketidak nyamanan ini. Akulah yang datang padamu dan merusak kehidupanmu. Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu. Kau harus menjalani hidup yang susah karena diriku. Kau harus menghadapi masalah yang rumit karena kehadiranku. Jongmal mianhae… Aku menggenggam tangan Luhan oppa dengan sangat erat karena tidak ingin melepaskan tangan ini. Namja yang tertidur di depanku ini benar-benar berhati malaikat. Kau tidak pernah menyakitiku, oppa. Akulah yang merasa buruk, aku yang tidak pengertian dan selalu menyalahkanmu. Aku berjanji padamu, suatu saat aku akan membuatmu bahagia karena kau telah mengizinkan aku merasakan kehangatan sebuah keluarga, merasakan kasih sayang seorang eomma, merasakan perhatian dari seorang suami. Jongmal gamsahapnida. Airmataku tak berhenti mengalir membasahi pipiku dan kasur yangbada di bawahku. Jiyeon pov end. Jiyeon dan Luhan tidur dengan posisi yang berbeda. Keduanya saling berpegangan tangan hingga sang mentari menampakkan diri dan menebar kehangatan sinarnya. Luhan membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena semalam dia tidur dengan posisi duduk. Dia melihat tangannya dan tangan Jiyeon masih saling menggenggam. Luhan bangun lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi, Luhan tidak mengganti pakaiannya karena memang tidak ada pakaian namja di kamar apartemen milik Jiyeon itu. Saat keluar dari kamar mandi, Luhan melihat Jiyeon sudah bangun. Yeoja itu duduk di tepi ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. “Oppa,” panggil Jiyeon lembut. Luhan menatap Jiyeon yang juga sedang menatapnya. “Wae?” “Kau akan memakai pakaian itu lagi, oppa?” Luhan melihat pakaiannya dari celana sampai kemejanya. “Aku akan mampir ke rumah untuk mengganti pakaian.” Jiyeon manggut-manggut. “Apa kau masih merasa pusing?” tanya Luhan yang mulai mengkhawatirkan Jiyeon karena semalam isterinya itu mabuk berat. “Anhi. Aku tidak merasa pusing atau apapun, oppa. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja.” Luhan merasa lega karena Jiyeon tidak apa-apa. “Gurae, aku akan pulang ke rumah dulu. Setelah itu barulah pergi ke cafe.” “Ne, cosimi.” Jiyeon menatap Luhan yang telah siap pulang ke rumah. Luhan pulang ke rumah. Di sana ada Jieun dan Ahn ahjumma. Jieun telah menjaga eommanya sehari semalam. Luhan sangat berterimakasih padanya dan meminta maaf karena telah merepotkan Jieun. “Cheonmanayo, Luhan-ssi. Aku senang membantumu dan Jiyeon. Oh ya, apakah dia masih di apartemen?” “Ne, dia masih ada di sana. Hari ini mungkin Jiyeon akan mencari kerja lagi.” “Apa yeoja itu masih bekerja di cafe?” tanya Jieun. Dia sedang menanyakan tentang Krystal. Luhan menarik nafas dalam-dalam lalu menjawab,”Ne, aku rasa dia akan bertahan bekerja di sana. Mengingat Krystal sangat ingin bekerja di cafe.” “Gurae, have a nice day. Aku pamit dulu. Hari ini ada kuliah.” Jieun beranjak keluar rumah. Namun sebelum melangkah keluar dari pintu, dia berbalik. “Oh ya, minta tolonglah pada Ahn ahjumma untuk menjaga eommonim karena hari ini Jiyeon pasti masuk kuliah juga.” “Oh, gurae. Terimakasih atas saranmu.” Jieun pergi. Luhan pun segera mengganti pakaiannya lalu pergi bekerja. Sebelum dia berangkat kerja, Ahn ahjumma sudah diminta tolong olehnya untuk menjaga eommanya hingga siang hari. Ahn ahjumma tidak pernah menolak permintaan Luhan karena dia sudah menganggap Luhan seperti anaknya sendiri. “Kau jangan sungkan padaku. Kau dan ibumu sudah kuanggap seperti keluarga.” Luhan tersenyum senang. Ahn ahjumma menepuk bahu Luhan dengan sayang. “Kau harus menjaga ibumu. Hanya dia keluargamu, Luhan-a…” “Ne, ahjumma. Aku pamit dulu, takut telat.” Ahn ahjumma hanya mengangguk sekali lalu membiarkan Luhan melangkah pergi. … Di apartemen, Jiyeon masih bermalas-malasan. Kepalanya cukup pening akibat mabuk semalam tetapi ia tak sampai hati mengatakan yang sebenarnya kepada Luhan. Jiyeon merebahkan tubuhnya lagi. Saat hendak memejamkan mata untuk melanjutkan acara tidurnya, tiba-tiba dia ingat kalau hari ini ada kuliah. “Kuliah lagi…” Jiyeon sedang dalam keadaan malas untuk melakukan apapun termasuk kuliah. Dia malas beranjak dari tempat tidurnya apalagi pergi kuliah. Kriiing! Jiyeo menatap ponselnya yang berdering makin keras. “Haaiiissh berisik!” Dia me-reject panggilan yang masuk. Kriiiing! Ponselnya berdering lagi. Kali ini dengan terpaksa, Jiyeon mengangkat teleponnya. “Eoh, wae?” tanyanya dengan malas. “Yaak, aku sudah di depan pintu apartemen. Ayo berangkat!” Suara Jieun terdengar nyaring di indera pendengaran milik Jiyeon. Kedua matanya membelalak karena sahabatnya sudah berdiri di depan pintu. “Gidaryeo!” Jiyeon menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuhnya lalu berdiri dan berjalan sempoyongan menuju pintu. Cekleek! “Lama sekali? Ayo berangkat!” Jieun masuk dengan mengoceh ini itu. “Kenapa aromanya aneh sekali? Apa kau mabuk?” Jiyeon masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dia berdiri bersandar pada pintu yang telah ditutup. “Eoh. Semalam. Wae? Bisakah aku tidak masuk sehari saja? Aku kan belum pernah ijin…” Pletak! Jieun memukul kepala Jiyeon dengan lembaran surat kabar yang ia bawa. “Kau berani membolos?” Dengan mengacak rambutnya, Jiyeon berkata,”Yaak, Jieun-a, kepalaku pusing. Apa kau tidak mengerti, eoh?” “Anhi. Aku tidak mau mengerti dan berpura-pura tidak mengerti. Sekarang cepatlah mandi dan ganti bajumu.” Jieun nyerocos seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya. Jiyeon menuruti perkataan Jieun dengan santai. Diapun mendapat teguran lagi dari teman sebayanya itu. … Di cafe, Krystal masih melayani para pengunjung yang memesan ini itu. Dia mulai kelelahan padahal sampai detik ini dia baru melayani empat orang pengunjung. Sungyeol menatap iba padanya. Namja itu pun menyuruh Krystal untuk istirahat jika sudah merasa lelah. Krystal pun istirahat. Dia duduk di bangku pegunjung yang kosong. “Siapa yang menyuruhmu istirahat?” Tiba-tiba terdengar suara Luhan dari belakang. Sontak, Krystal berdiri dan membenahi celemeknya. “Aku, hyung,” kata Sungyeol. “Kasihan Krystal-ssi kelihatan lelah sekali.” “Biarkan saja. Aku sudah melarangnya dan menolaknya tetapi dia bersikeras ingin bekerja di sini. Lain kali jangam kasihani karyawan yang tidak profesional.” Kali ini Luhan bersikap sangat tegas. Menurut Krystal malah sangat kejam. Beberapa karyawan dibuat terperangah akibat sikapnya tadi. “Oppa…” Krystal bertingkah manja lagi. Namun belum sempat dia mengeluarkan jurus manjanya, tiba-tiba seseirang datang dan memanggil Luhan. “Yaaa, Luhan-a!” Seperti biasa, Leo datang ke cafe dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans. Luhan dan Krystal menoleh ke arah pintu masuk. “Oppa…” lirih Krystal saat melihat Leo sudah berdiri dalam cafe. Leo tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Krystal lagi setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan yeoja yang ia cintai itu. “Jung Krystal, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leo selidik. Luhan tidak terkejut melihat Leo bertemu dengan Krystal. “Jika kalian punya masalah, selesaikan diluar. Jangan di dalam cafe ini.” “Aku sudah tidak punya urusan dengannya. Lihatlah Jung Krystal, kau bahkan sudah dibuang oleh Luhan. Dia tidak mungkin mencintaimu lagi.” Krystal terkejut mendengar pernyataan dari Leo. “Apa maksudmu?” tanya Krystal yang sebentar lagi menangis. Luhan tidak inginada sesuatu yang buruk terjadi di dalam cafe-nya. Dia segera menyuruh Krystal dan Leo keluar dari cafe. Keduanya menurut. Kemudian Luhan menyusul mereka keluar cafe. “Bisakah kalian tidak bertengkar? Lupakanlah masa lalu. Sekarang ya sekarang, jangan mengungkit masa lalu,” kata Luhan dengan tegas karena ia tidak ingin kembali ke masa lalu bersama Krystal. “Apa maksudmu, oppa?” “Krystal-a, dulu aku memang mencintaimu tetapi appamu tidak menyetujui hubungan kita hingga beliau mencaci maki diriku. Gurae, aku akan melupakan semuanya. Kau jangan mengejarku lagi karena aku tidak mungkin bisa mencintaimu lagi. Masa laluku sudah aku kubur dalam-dalam dan tak akan pernah aku gali lagi.” Mendengar pengakuan dari Luhan membuat Krystal menangis. “Tapi aku masih mencintaimu oppa…” Luhan pura-pura tidak mendengarnya. Hal itulah yang ingin dilakukan oleh Leo. Dia tidak ingin mendengar pengakuan dari Krystal kalau yeoja itu masih mencintai Luhan. “Aku pergi.” Leo meninggalkan Luhan dan Krystal begitu saja tanpa mengucap sepatah kata untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Menurutnya, tidak ada yang perlu dibicarakan. Luhan tidak mencintai Krystal tetapi Krystal masih mencintai Luhan sama seperti dulu. Itulah fakta yang membuatnya sakit hati. Luhan kembali ke ruangannya, sedangkan Krystal masih berdiri mematung. Ia tak percaya dengan pernyataan bahwa Luhan tak lagi mencintainya. … Setelah dari cafe, Leo berjalan gontai entah mau kemana. Pikirannya melayang kesana kemari, tak jelas. Brukk! Tanpa sadar, Leo menabrak seseorang yang sudah dikenalnya namun dia sama sekali tidak peduli. Galau, itulah yang sedang melanda hati namja cool itu. “Yaak, kenapa kau selalu menabrakku?” teriak yeoja yang ditabrak Leo. Siapa lagi kalau bukan Jiyeon. Nasibnya selalu sial jika bertemu dengan Leo. “Aku ingin buat perhitungan denganmu!” Jiyeon kesal pada Leo karena ia yakin bahwa Leo adalah orang yang memberitahu Luhan kalau dia mabuk di bar semalam. “Jung Leo!” Leo tak mengindahkan Jiyeon. Dia nyelonong begitu saja meninggalkan Jiyeon. Jiyeon tidak terima. Dia seperti tidak dianggap sebagai manusia dengan perlakuan Leo seperti itu. Jiyeon menarik tangan Leo hingga membuat namja itu berbalik badan dan hampir menabraknya. Untung saja Jiyeon sudah mengantisipasinya. Jiyeon heran melihat ekspresi dan sikap Leo tidak seperti biasanya. Diapun menempelkan punggung tangannya di dahi Leo kemudian membandingkan dengan dahinya sendiri. “Tidak demam,” gumam Jiyeon. “Gwaenchana?” Leo masih diam. Jiyeon makin kesal. Kenapa semua namja yang ia kenal seperti itu? Menyebalkan. “Yaak! Kenapa kau diam saja? Apa yanh terjadi padamu, eoh?” Leo menatap Jiyeon yang terus mengoceh ria. Tiba-tiba dia memeluk Jiyeon. Sontak Jiyeon terkejut atas perlakuan Leo. Dia berontak melepaskan diri. “Pabboya! Lepaskan aku!” “Biarkan seperti ini dulu. Aku ingin memeluk seseorang tetapi tidak ada yang bersedia kupeluk. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Pikiranku kacau,” kata Leo dengan lirih dan seperti tak bertenaga. “Kau… ada apa? Kau punya masalah apa?” … Jiyeon dan Leo kini sudah berada di tepi sungai Han. Keduanya menatap kosong pada sungai yang airnya terus mengalir itu. Sejurus kemudian, Leo mulai membuka percakapan. “Jika kau mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Leo dengan masih menatap Sungai Han tanpa kedip. “Aku? Kalau aku, aku – akan melepaskannya agar dia bisa bahagia dengan orang lain. Dengan begitu, hatiku juga akan bahagia jika dia bahagia.” “Jinjja?” tanyabLeo tak yakin dengan ucapan Jiyeon. “Eoh. Wae? Apa kau mengalaminya?” “Sebenarnya aku sudah dapatbmelupakannya, tetapi tiba-tiba dia muncul di depanku bersama orang yang dia cintai. Rasanya sakit sekali.” Leo tertunduk lesu. Jiyeon dapat mengerti perasaan namja itu. “Leo-ssi, jika kau tidak keberatan, kau bisa cerita padaku. Aku berjanji akan menjaga rahasiamu. Lagipula siapa yang mau peduli dengan rahasiamu? Mungkin tidak ada yang ingin mengetahuinya,” bujuk Jiyeon yang asal ngomong tanpa dicerna terlebih dahulu. Leo menatap Jiyeon. Sepertinya yeoja itu bisa dipercaya, pikirnya. “Apa kau bisa dipercaya?” “Kenapa tidak?” sahut Jiyeon sedikit kesal. “Gurae, aku akan cerita.” Leo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Jiyeon menanti Leo bercerita. “Sebenarnya, dulu aku dan Luhan mencintai yeoja yang sama. Aku mengalah untuk Luhan karena rasa sayangku padanya. Aku tidak mau Luhan terluka hatinya atau aku menyakiti hatinya. Yeoja itu juga mencintai Luhan. Suatu hari, saat Luhan mengatakan pada appa yeoja itu kalau dia mencintai putrinya, appanya marah sekali. Dia mencela dan menghina Luhan karena saat itu Luhan tidak melanjutkan kuliah. Sungguh malang nasibnya.” Leo menghela nafas panjang lagi. Dia melanjutkan,”Aku sudah dapat mengikhlaskan yeoja itu untuk Luhan, tetapi appanya malah menentang hubungan mereka. Jiyeon-a, kau tahu siapa yeoja itu?” Jiyeon sedikit terlonjak kaget atas pertanyaan Leo. “K, kenapa kau bertanya padaku?” “Yeoja itu adalah yeoja yang bekerja di cafe saat ini.” Deg! Jiyeon merasakan sesak di dadanya. “Mwo? Dia? Jadi, yeoja yang kalian cintai Jung Krystal?” “Ne. Aku baru bertemu dengannya tadi di cafe. Aku sangat terkejut melihatnya.” “Aigoo… kisah cinta yang rumit,” komentar Jiyeon. “Kau tidak cemburu pada Luhan?” “Eoh? Cemburu? Tentu saja aku cemburu.” “Kau tak tampak sedang cemburu.” “Sok tahu,” sahut Jiyeon. Jiyeon terdiam. Ternyata Luhan dan Leo pernah terlibat cinta segitiga. Tetapi hubungan mereka tetap baik. Kriiing! “Omo!” Jiyeon terkejut mendengar ponselnya berdering. “Yoboseo… mwo? Eodiseo?” Klik! Jiyeon menutup teleponnya. “Wae?” tanya Leo. “Eommonim masuk rumah sakit.” “Mwo?” Leo kaget, sama kagetnya dengan Jiyeon. … Di rumah sakit, Luhan menunggu dindepan ruang IGD sendirian. Dia sangat khawatir pada keadaan ibunya yang kini sedang sekarat. Raut wajahnya menampakkan kecemasan tingkat tinggi. Jiyeon datang bersama Leo. Dia tak tega melihat suaminya seperti itu. Sangat kacau. Pakaian kerjanya terlihat kusut, begitu juga dengan wajahnya. Wajah tampan itu tak tampak lagi, yang ada hanya wajah kekhawatiran. Jiyeon langsung memeluk Luhan begitu ia sampai di rung tunggu. Luhan diam saja, tak ada suara, ekspresinya juga datar. Dia tidak membalas pelukan Jiyeon namun Jiyeon tak peduli. Yang ia tahu, saat ini Luhan sangat membutuhkan seseorang yang dapat menguatkan hatinya dan dapat menenangkannya. Leo duduk di salah satu bangku yang berderet di ruang tunggu. Wajahnya lesu, kepalanya tertunduk. Entah apa yang dipikirkannya, namja itu juga kelihatan sangat mengkhawatirkan nyonya Lee. Leo tidak berani menanyakan keadaan nyonya Lee pada Luhan. Dia takut kalau Luhan malah akan terluka. Jiyeon dan Luhan duduk berdampingan. Jiyeon sama sekali tak melepaskan tangan Luhan. Dia terus menggenggamnya. Jiyeon berusaha untuk terlihat kuat agar dia juga dapat menguatkan Luhan yang diyakininya telah rapuh. Hampir satu jam dokter menangani nyonya Lee namun belum ada seorang pun yang keluar untuk memberitahukan kondisi nyonya Lee yang sebenarnya. Tak berapa lama kemudian dua orang dokter yang menangani nyonya Lee keluar dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Jiyeon, Luhan, dan Leo tak dapat menebak hasil dari penanganan yang dilakukan oleh para dokter tersebut. “Bagaimana keadaan ibu saya, dok?” Luhan mendekati seorang dokter namja paruh baya. Dokter itu menatap sendu pada Luhan lalu menggeleng. Luhan belum mengerti arti tanda gelengan dokter itu. Sedangkan Jiyeon dan Leo sudah terduduk lemas. Mereka berdua menitikkan airmata. “Apa maksud dokter?” tanya Luhan yang masih belum mengerti arti isyarat dari dokter itu. DOkter itu menepuk bahu Luhan pelan, bahkan sangat pelan. “Nyonya Lee sudah mengidap kanker stadium akhir. Penyakitnya ini sudah diderita lebih dari 5 tahun. Kami hanya sudah melakukan yang terbaik namun ternyata Tuhan menghendaki yang lain.” “Apa maksudnya?” tanya Luhan lagi. Sebenarnya dia sudah dapat mencerna kata-kata dari dokter itu namun Luhan tidak ingin percaya bahwa hal itu memang telah terjadi. Ibunya telah meninggal. Jiyeon berdiri dan mendekap Luhan. Dia berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan airmata di depan Luhan. Jiyeon meminta dokter itu untuk beristirahat. Dia juga berterimakasih kepada para dokter yang sudah menangani ibu mertuanya. Jiyeon tahu seberapa dalamnya kepedihan dan kesedihan yang dialami Luhan. Itulah yang dia rasakan saat appanya meninggal. Hal itu pula yang telah dialami oleh Jieun. Mereka telah kehilangan orang yang paling mereka sayangi. “Eomma… eomma…” rintih Luhan meratapi kepergian ibunya. Jiyeon tak berani menatap Luhan. Hatinya makin terhiris jika dia melihat raut wajah Luhan sekarang ini. … Suasana berkabung melingkupi kediaman Luhan. Di depan foto ibunya, Luhan terus saja menangis. Kedua matanya sampai tak bisa terbuka dengan sempurna karena sudah berjam-jam ia menangis. Jiyeon dengan setia mendampingi Luhan. Ia teringat saat nyonya Lee berlangganan susu dan surat kabar padanya, saat Jiyeon mendobrak pintu rumah Luhan untuk bisa melihat keadaan nyonya Lee yang sekarat, saat dirinya menikah dengan Luhan atas permintaan nyonya Lee, dan semua yang pernah dia lakukan bersama ibu mertuanya. Rasanya sangat menyakitkan saat mengingat itu semua. Jangan pergi, itulah kalimat yang ada dindalam hati orang-orang yang merasa kehilangan atas kepergian nyonya Lee. Beberapa orang yang datang dengan maksud melayat dan mendoakan alm. ibu Luhan tak sanggup melihat Luhan, termasuk Xiumin dan Jieun. Jieun sangat merasa bersalah dan sangat sedih karena dialah yang terakhir kali bersama dengan nyonya Lee. Jieun pun tak dapat menghentikan tangisnya apalagi dia teringat kepergian appanya beberapa tahun yang lalu. Rasanya sangat sesak di dada. Jieun memutuskan untuk menemani Luhan dan Jiyeon duduk di depan foto nyonya Lee dimana beberapa orang masih memberikan penghormatan terakhir. … Leo berada di depan rumah. Dia menangis sedalam-dalamnya. Beruntung Xiumin melihat keberadaannya. Dia berusaha menenangkan Leo dengan berbagai cara. “Aku tak ingin memintamu mengehentikan tangismu, Leo. Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Kau kehilangan ibu kandungmu yang sangat kau rindukan kehadirannya. Kau rela menyembunyikan identitasmu demi membuat Luhan dan ibumu bahagia. Aku… aku sangat salut padamu. Kauharus kuat, Jung Leo.” Singkat cerita, dulu ibunya Luhan pertama kali menikah dengan seorang pengusaha yang akhirnya bangkrut. Mereka memiliki seorang putra bernama Xi Leo. Selang tiga tahun, lahirlah Luhan. Saat Leo berumur 5 tahun dan Luhan berumur 2 tahun, tuan Xi meninggal dunia. Karena tak mampu mengasuh kedua puteranya yang masih sangat kecil, nyonya Xi atau nyonya Lee menyerahkan hak asuh Leo kepada neneknya. Tanpa diketahui oleh nyonya Lee, ibu mertuanya yang mengasuh Leo sudah meninggal hingga akhirnya Leo dititipkan di panti asuhan. Sepuluh tahun kemudian Leo diadopsi oleh seorang pengusaha kaya raya. Nyonya Lee tidak tahu sama sekali perihal putera sulungnya. Ia pernah menerima kabar bahwa ibu mertuanya telah meninggal dan Leo menjadi terlantar hingga meninggal karena kelaparan. Entah sumber itu dari mana asalnya, nyonya Lee percaya begitu saja. Saat dititipkan ke panti asuhan, Leo diberi selembar foto keluarganya. Hingga sekarang foto itu masih ia simpan. … “Aku tidak bisa percaya pada takdir ini, hyung. Sejak pertama kali aku bertemu dengan eomma, aku sangat senang meski aku harus menyembunyikan identitasku yang sebenarnya karena aku pikir belum waktunya aku menunjukkan diriku yang sebenarnya pada eomma dan Luhan. Hatiku sangat hancur.” Leo menangis sesenggukan. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Luhan. Dia, Xiumin dan Luhan. Leo bertemu dengan Luhan melalui Xiumin hingga akhirnya Luhan bekerja di cafe milik Xiumin. Mereka pun sering bertemu. Leo diajak Luhan ke rumahnya saat Luhan diangkat sebagai karyawan tetap di cafe Xiumin. Saat itulah Leo bertemu dengan ibunya Luhan yang ternyata beliau lah ibu kandungnya. Leo baru menyadari kalau nyonya Lee adalah ibu kandungnya sejak enam bulan yang lalu. Padahal dia dan Luhan sudah berteman hampir setahun. … Xiumin memeluk Leo dan menepuk punggung namja itu. “Kau harus kuat, Jung Leo.” Leo menggunakan marga orangtua angkatnya yang bermarga ‘Jung’. Oleh karena itu tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Leo adalah kakak kandung Luhan karena marga mereka berbeda. Di dalam akta kelahiran Leo masih tertulis nama asli Leo yakni Leo Xiao. Sedangkan Luhan bernama asli Luhan Xiao. Takdir mereka sungguh rumit. “Kau harus mengatakan yang sebenarnya kepada Luhan. Jangan sampai kau terlambat lagi untuk mengatakannya. Jangan takut, Leo. Aku tahu kau tipe namja yang kuat dan tegar.” Leo sudah berhasil menghentikan tangisnya. Xiumin membujuknya untuk menemui Luhan di dalam rumah. Saat mereka berdua sampai di depan pintu, muncullah Jung Krystal. Xiumin dan Leo tidak menyangka kalau Krystal akan datang dan berbela sungkawa. Merek bertiga bertemu dengan Luhan, Jiyeon dan Jieun yang kelihatannya ingin keluar dari ruangan dimana foto nyonya Lee terpajang indah diantara dupa dan karangan bunga. Krystal melihat Luhan dan Jiyeon berpegangan tangan mesra. Mereka berdua menautkan jari-jari mereka. Krystal terkejut melihat Jiyeon ada di sana bahkan berada di samping Luhan dan berpegangan tangan mesra dengan namja yang sangat ia cintai. “Kalian… yaak, yeoja tak tahu diri  lepaskan tanganmu dari tangan Luhan oppa!” Semua yang ada di sana terkejut. Luhan, Jiyeon, Jieun, Leo, dan Xiumin tak menyangka Krystal akan mengatakan itu di depan mereka semua, apalagi di saat keluarga Luhan sedang berkabung. Karena kesal akan sikap dan perkataan Krystal yang tidak sopan, Xiumin menyeretnya keluar dari rumah Luhan. Krystal memberontak. Dia bahkan ingin menampar Xiumin namun kekuatan Xiumin lebih besar daripada dirinya. Xiumin berhasil membawa Krystal keluar. Yeoja itu hanya akan merusak suasana. “Oppa! Kau benar-benar tega padaku. Kau tidak berperasaan!” Xiumin masih memegang lengan Krystal agar adik tirinya itu tidak menerobos msuk ke dalam rumah Luhan lagi. Plaakk! Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kiri Krystal hingga meninggalkan bekas merah di sana. Krystal menangis. “Kau menamparku? Kau memang saudaraku. Kau hanya saudara tiri, Kim Minseok. Aku menyesal menjadi saudaramu.” “Oh begitu? Baiklah, dengan senang hati aku memutuskan prsaudaraan kita. Aku tidak akan emnganggapmu sebagai saudara apalagi saudara tiri. Kau dan ibumu sama saja. Keluarlah dari rumahku karena aku tidak ingin punya saudara sejahat dirimu. Tak ada yang mau berada di pihakmu termasuk Luhan dan Leo.” Krystal menangis tersedu-sedu. Tanpa mereka berdua sadari, Leo dan Jiyeon melihat mereka berdua bertengkar hebat. Leo menatap Krystal dan Xiumin dengan tatapan kosong, datar. Sedangakan Jiyeon hanya biasa saja karena dia sama sekali tak mengenal Krystal. … Malam semakin larut, semua pelayat sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Luhan tertunduk sedih di ruang tamu. Jiyeon sangat sedih melihat suaminya seperti itu. Dia ingin mengembalikan Luhan yang dulu meski rasanya hal itu akan sangat sulit dilakukan. Jiyeon akan melakukan apapun untuk membuat Luhan tersenyum lagi. Hatinya terasa sedih saat dia melihat Luhan seperti itu. “Oppa, aku tahu kesedihanmu, aku dapat melihat hatimu yang hancur. Aku pernah merasakannya. Jebal, jangan bersikap ini terus menerus. Eommonim pasti akan sedih jika melihatmu sedih seperti ini. Orangtua mana yang tak akan sedih jika melihat anaknya sedang bersedih?” Jiyeon mengatakan kata-kata itu juga untuk dirinya sendiri. Ia tak dapat menahan airmata yang ingin menyeruak keluar dari kedua sudut matanya. Jiyeon memeluk Luhan erat-erat. Airmata Luhan jatuh membasahi baju berwarna hitam milik Jiyeon, begitu sebaliknya. Airmata Jiyeon jatuh membasahi baju hitam milik Luhan. Kali ini Luhan membalas pelukan Jiyeon. Mereka berdua larut dalam kesedihan. Beruntung Luhan masih memiliki Jiyeon di sisinya. … Keesokan harinya, seperti biasa, Jiyeon membersihkan rumah sendirian. Luhan masih mengurung diri di dalam kamarnya.  Saat hendak membersihkan ruang tamu, Jiyeon melihat foto ibu mertuanya. Airmatanya kembali menetes perlahan membasahi kulit mulusnya. “Eommonim, jongmal mianhae. Aku belum bisa membahagiakan eommonim dan Luhan oppa.” Ternyata Luhan yang baru saja keluar dari kamarnya, melihat Jiyeon bicara dengan foto ibunya. Jiyeon membersihkan foto itu dan mengembalikannya di tempar semula. Setelah itu dia membungkukkan badannya untuk menghormati ibu mertuanya yang telah tiada. Melihat hal itu membuat kesedihan kembali melanda Luhan. Dia meneteskan airmata. … Beberapa hari kemudian, semakin bertambahnya hari maka semakin tenanglah hati dan batin Luhan. Dia sudah dapat menerima kepergian ibunya. Kini dia hidup berdua dengan Jiyeon. Jiyeon bekerja di cafe bersama Luhan dan Krystal. Krystal tetap bertahan di cafe itu meski Xiumin telah memaksanya keluar dan menyuruhnya bekerja di tempat lain. Luhan tak mau tahu dengan apa yang dilakukan Krystal. Dia dan Jiyeon bekerja seperti biasanya. Jika mereka sedih maka kesedihan itu harus dipendam dalam-dalam, tidak boleh ditunjukkan pada para pengunjung cafe. Sore hari menjelang tutup, Krystal duduk termenung. Rupanya dia sedang memikirkan sesuatu. Ya, sesuatu tentang Luhan. Dia masih penasaran ada hubungan apa antara Luhan dan Jiyeon. Jam 6 petang, cafe tutup. Semua karyawan pulang ke rumah masing-masing, termasuk Luhan dan Jiyeon. Mereka berdua berjalan kaki bersama menuju halte bus. “Jiyeon-ssi!” panggil Krystal yang berhasil membuat Luhan dan Jiyeon terkejut. “Krystal-ssi, waegurae?” tanya Jiyeon. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Luhan memperhatikan mereka berdua. Jiyeon meminta Luhan pulang duluan namun Luhan menolak. Dia akan menunggu hingga Jiyeon selesai bicara dengan Krystal. … “Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” “Aku tahu kau sudah menikah dengan Luhan oppa. Dan – kau juga terlibat asmara dengan Im Siwan.” Jiyeon terkejut mendengar pengakuan Krystal  darimana yeoja itu tahu tentang hubungannya dengan Siwan? Kau mengenal Im Siwan?” Krystal tersenyum dingin.”Tentu saja. Aku mengetahuinya dari Seohyun. Siwan pernah cerita pada Kyuhyun dan Kyuhyun menceritakannya pada Seohyun. Seohyun adalah sahabatku sejak kami duduk di bangku SMA. Waah ternyata kau telah memikat banyak laki-laki. Selain Siwan dan Luhan, siapa lagi yang telah terpikat olehmu?” “Apa maksudmu? Apa kau pikir aku ini yeoja murahan?” Jiyeon naik pitam gara-gara perlakuan buruk dari Krystal. “Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kau ketahui kebenarannya,” tambah Jiyeon tegas. Jiyeon berbalik namun Krystal memegang tangannya. “Lepaskan Luhan oppa.” Jiyeon mengerutkan dahinya. “Apa lagi maumu?” “Mauku adalah kau melepaskan Luhan oppa. Aku telah mencintai Luhan oppa lebih dari empat tahun. Dari dulu kami sudah saling mencintai namun appaku mementang hubungan kami. Sekarang appaku sudah meninggal. Aku ingin Luhan oppa kembali padaku.” Deg! Jiyeon merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia memang sudah mengetahui masa lalu Luhan dengan Kryst. Tapi kenapa hatinya terasa sakit saat Krystal menginginkan Luhan kembali padanya? “Jika aku tidak mau?” “Aku akan membeberkan rahasiamu pada Luhan oppa dan Siwan. Mereka pasti akan syok dan membencimu.” Krystal merasa menang. Jiyeon mengepalkan tangannya, dia kesal pada Krystal. Ingin menghajar yeoja itu tapi dia masih sadar kalau hal itu tidak akan berguna malah akan membawa masalah baru. Jiyeon terdiam. Sesaat kemudian dia ingat kalau Luhan sedang menunggunya. Jiyeon tidak ingin Luhan menunggunya lama. “Gurae, ancamanmu berhasil.” Jiyeon meninggalkan Krystal yang tersenyum senang. … Malam ini, Jiyeon sengaja membuatkan Luhan masakan andalannya, bibimbab. Namun ternyata Luhan tidak menyukai bibimbab. Dia memilih makan jjajjangmyeon. “Oppa, kau menolak masakanku?” “Jiyeon-a, harusnya kau bertanya padaku sebelum memasak sesuatu.” Jiyeon kecewa. Susah payah dia membuat bibimbab tetapi Luhan malah tidak menyukai jenis makanan itu. Joyeon hanya terduduk merenung di meja makan lesehan itu sembari menatap kosong pada bibimbab hasil masakannya yang menganggur karena tak ada yang memakannya. Luhan melihat kekecewaan tersirat di raut wajah Jiyeon. Yeoja itu terlihat tidak semangat. “Kau sedang apa?” tanya Luhan tiba-tiba duduj di depan Jiyeon. Jiyeon tak merespon. Dia sudah terlanjur kecewa. “Jiyeon-a…” lirih Luhan. “Gurae, aku akan memakannya.” Luhan meraih sumpit yang dipakai Jiyeon untuk mengetuk-ngetuk meja kecil di depannya. Jiyeon membelalakkan kedua matanya saat melihat Luhan melahap bibimbab buatannya. “Oppa, letakkan makanan itu.” Luhan pura-pura tak mendengar Jiyeon. Dia terus melahap bibimbab meski sebenarnya dia sudah eneg. Uuk! Luhan hampir saja memuntahkan makanan yang masuk ke dalam lambungnya. Dengan kedua tangannya, Jiyeon membuang makanan hasil masakannya itu. Luhan terkejut. “Sudahlah, oppa. Jangan diteruskan. Makanan itu tidak enak. Aku akan membelikanmu jjajjangmyeon.” Jiyeon bangkit dari duduknya lalu berdiri dan mengayunkan kakinya. “Chakkaman!” Luhan memegang tangan Jiyeon, menahannya pergi. “Apa kau marah?” “Anhi.” “Jiyeon-a…” “Gurae, aku marah pada diriku sendiri. Aku bisa membuat makanan untuk diriku sendiri tapi aku tidak becus membuat makanan untukmu. Aku… tidak berguna.” Luhan menarik nafas dalam-dalam. “Oppa, bagaimana perasaanmu jika kau bisa bersama dengan cinta lamamu?” tanya Jiyeon tiba-tiba. Luhan tidak mengerti arah pembicaraan Jiyeon. “Anhi. Aku hanya ingin tahu pendapatmu. Bagaimana perasaan seseorang jika ia bisa hidup bersama orang yang telah ia cintai dalam waktu yang lama?” “Kenapa kau bertanya seperi itu?” “Aku hanya ingin tahu. Itu yang aku lihat di drama. Aku belum pernah mencintai seseorang terlalu lama. Jadi, aku tidak tahu bagaimana rasanya. Makanya aku bertanya padamu. Siapa tahu kau mengetahuinya, oppa.” Jiyeon membuat alasan agar tak ketahuan Luhan kalau dirinya telah mengetahui masa lalu Luhan. “Hmmm yang pasti orang itu akan bahagia karena akhirnya dia dapat hidup bersama orang yang sudah lama dicintainya. Mencintai itu tidak mudah. Makanya saat seseorang telah memantabkan hatinya untuk mencintai seseorang, dia akan tetap mencintai seseorang sampai kapanpun.” Jiyeon sedih mendengar jawaban dari Luhan. ‘Apakah itu yang akan kau rasakan saat kau bisa hidup bersama Jung Krystal, oppa?‘ batin Jiyeon. Hatinya sakit, sakit sekali saat Luhan bicara seperti itu. Secara tidak langsung, dia sama artinya dengan menmbayangkan dirinya mengalami hal yang ditanyakan oleh Jiyeon. “Gomawo, oppa.” Jiyeon melenggang pergi dengan hati yang terluka. Jiyeon pov. Aku tahu Luhan oppa pasti akan menjawabnya seperti itu. Jadi benar apa kata Krystal kalau Luhan oppa sebaiknya kembali padanya. Hatiku sakit, oppa. Sangat sakit. Aku melangkahkan kakiku gontai. Kenapa kedai jjajjangmyeon jauh sekali? Kenapa aku menangis? Ckiiit! Suara sepeda motor berhenti di samping Jiyeon yang sedang melamun. Jiyeon tidak menyadari hal itu. Dia terus saja melangkahkan kakinya menyusuri jalan lorong itu. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya hingga membuat Jiyeon membalikkan badan. “Jiyeon-a…” lirih Siwan yang tak sengaja lewat depan rumah Luhan. Dia melihat airmata Jiyeon membasahi wajah cantik itu. Siwan mengusap airmata itu. Jiyeon tersentak kaget. “Im Siwan…” lirih Jiyeon. Tanpa mereka sadari ternyata Luhan melihat adegan itu. Luhan mengira Jiyeon sengaja pergi membeli jjajjangmyeon karena ingin bertemu namja itu. “Apa kau mencintai namja itu, Park Jiyeon?” gumam Luhan lirih.

Tbc

Mian yaa sampai di sini harus aku penggal. Pikiran udah buntu. Waktu bikin nih FF, aku dengerin lagunya Baek Jiyoung-Love is not a crime dan Kwill-Crying Love. Denger lagunya aja udah bikin mewek… Hehehe ^^ Comment juseyo

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s