My Heart [Chapter 10 Final]

my heart1

Rekap from INDO FF

Poster and storyline by Kimleehye19

Title: My Heart

Prev: [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9]

| Starring: Luhan | Park Jiyeon | Siwan |

| Co. Starring: Jieun a.k.a IU | Xiumin | Leo VIXX | Kyuhyun | Krystal | Seohyun |

| Genre: romance | hurt/comfort | family | little marriage life
| Lenght: multichapter |

Rating: PG – 13

Don’t plagiat!!

Leave Comment or like 🙂

Big thanks to:

All readers who always spend their times to read this fanfiction until the last chapter.

All commenters who always give their opinions, feelings, and another thinkings to this fanfiction. You’ve been read my fanfiction and given your notes in comment box.

All of you who like this fanfiction.

Jjeng jjeeeng!!

Yehet oholat! *ketularan Sehun

Lalalala! *ketularan Chen

Akhirnya oh akhirnya, aku bisa publish chapter terakhir dari FF ini. Udah baca yang di atas kan ya? Nomu nomu nomu gamsahapnida chingudeul…

Mian for typos

  I love you even I know you love him

Jiyeon terkejut melihat Siwan ada di sekitar rumah Luhan. Ia curiga kalau Siwan sudah mengetahui tentang statusnya yang sudah menikah.

“Sedang apa kau di sekitar sini?” tanya Jiyeon datar. Dia tidak ingin menunjukkan ekspresi apapun karena saat ini Jiyeon sednag bad-mood. “Pergilah, aku sedang tidak ingin bercanda.”

“Bercanda? Siapa yang mengajakmu bercanda?”

Jiyeon menatap Siwan yang masih nangkring di atas motornya dengan datar. Gurae, apa yang kau inginkan?”

“Bagaimana kalau aku traktir jjajjangmyeon?”

Dahi Jiyeon berkerut. Bagaimana Siwan bisa tahu kalau dia sedang ingin ergi membeli jjajjangmyeon untuk Luhan? “Gurae. Aku setuju.”

Akhirnya Jiyeon berjalan kaki menuju kedai jjajjangmyeon diiringi Siwan yang menuntun sepeda motornya. Mereka memilih berjalan kaki karena letak kedai itu tidak jauh.

Jarak beberapa meter dari Siwan dan Jiyeon, Luhan mengikuti keduanya. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Jiyeon dan namja itu.

Jiyeon dan Siwan sampai di kedai. Keduanya memesan dua porsi jjajjangmyeon. Jiyeon memesan satu porsi lagi tetapi dibungkus.

“Satu porsi lagi? untuk siapa?”

“Lee Jieun. Tadi aku keluar untuk membelikannya jjajjangmyeon dan kebetulan kau ingin mentraktirku.”

Siwan hanya manggut-manggut. Dia senang sekali bisa makan malam berdua dengan Jiyeon meskipun hanya menu sederhana. “Jiyeon-a, bagaiman tentang pertanyaan tempo hari?”

Jiyeon menghentikan tangannya yang tadi sibuk menyumpit mie di dalam mangkoknya. Pandangannya kosong.

“Jiyeon-a…” lirih Siwan yang berhasil membuat Jiyeon kaget.

“Kau kenapa?” tanya Siwan khawatir.

“Gwaenchana. Hmm, tentang pertanyaanmu tempo hari, igeo, mian… aku tidak bisa.” Jiyeon sudah tak bernafsu makan lagi. “Aku harap kau bisa menerima jawabanku. Mian, jongmal mianhae. Suatu saat aku akan memberikan penjelasan padamu.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku yakin alasanmu pasti dapat diterima.”

Jiyeon terdiam. Semoga jawaban yang ia berikan kepada Siwan adalah jawaban yang tepat.

Suasana hening, hanya ada suara jangkrik yang menghiasi ruang dengar keduanya. Jiyeon berjalan pelan, sedangkan Siwan berjalan pelan di sampingnya.

Luhan masih membuntuti Jiyeon dan Siwan. Hatinya terasa sakit seperti ditusuk jarum super tajam. Dia memegang dadanya, sesak. Itulah yang saat ini dirasakan namja tampan itu.

Luhan pov

Aku telah kehilangan eomma. Saat aku menyadari kehadiranmu di hidupku, aku bangkit dari keterpurukanku karena kau selalu menguatkanku. Tapi, apakah aku akan kehilanganmu, Park Jiyeon?

Aku melihat Jiyeon dan namja itu sedari tadi asyik mengobrol, entah apa yang telah dan sedang mereka bicarakan. Hatiku sangat sakit melihatnya. Kenapa harus seperti ini?

Jiyeon dan namja itu berhenti sejenak. Mereka berdiri berhadapan. Aku tidak bisa menebak apa yang akan mereka lakukan kemudian.

Namja itu memegang lengan Jiyeon dan menatapnya lekat-lekat. Aku bahkan tidak pernah berbuat seperti itu pada Jiyeon.

“Aku harap kau tidak menungguku. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita. jangan marah padaku, jangan menghindar dariku. Tetaplah ada di saat aku membutuhkan seseorang untuk curhat, untuk menghibur diri, dan apapun yang bisa kau lakukan padaku.” Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Jiyeon. Aku tak mengerti maksudnya.

Sesaat kemudian namja itu memeluk Jiyeon. aku tak sanggup melihatnya, tetapi tiba-tiba aku mendengar dia mengatakan,”Biarkan seperti ini untuk beberapa detik, hanya untuk yang terakhir kali.”

Mwo? Terakhir kali? Apa maksudnya? Ada hubungan apa diantara mereka berdua?

Namja itu terlihat sangat menikmati saat-saat berdua dengan Jiyeon. Apa mereka saling mencintai?

Akhirnya Jiyeon melepaskan pelukannya dengan namja itu. Tak lama kemudian mereka berjalan lagi sampai di dekat pintu gerbang rumah. Jiyeon melambaikan tangannya dan mngucapkan “Annyeong” pada namja itu yang semakin lama semakin menjauh dengan motornya.

Jiyeon berjalan sendirian masuk ke dalam gerbang. Aku mempercepat langkahku untuk bertanya padanya mengenai hal yang tadi.

“Jiyeon-a!” panggilku. Yeoja itu berhenti lalu menoleh ke arahku.

“Oppa, kau diluar?”

“Kau darimana?” tanyaku untuk mengecek apakah Jiyeon akan berbohong atau tidak.

“Aku membeli jjajjangmyeon untukmu, oppa. Waeyo?”

Wajahnya polos. Ya, kau baru saja membeli jjajjangmyeon dan bertemu dengan namja itu.

“Eoh, ya sudah, ayo masuk.” Aku mendahuluinya masuk ke dalam rumah. Suasana malam ini agak canggung setelah kepergian eomma. Aku tidak jadi menanyakan tentang pertemuannya dengan namja asing itu. Entahlah, aku semakin tidak mood malam ini. Kedua kakiku kuayunkan ke kamar, aku ingin istirahat. Mengistirahatkan pikiran dan tubuhku.

“Oppa…” lirih Jiyeon tetapi aku tidak mengindahkannya.

Kriiet! Pintu kamar kubuka. Aku membiarkan Jiyeon di luar dengan jjajjangmyeon yang dibawanya. Sebenarnya aku tidak tega memperlakukannya seperti ini. Tapi bagaimana lagi? Aku tidak ada mood berbincang dengannya.

Luhan pov end

Pagi ini, Jiyeon dan Luhan bersiap berangkat ke cafe. Mereka tak saling menyapa apalagi mengobrol. Hal inilah yang menyiksa keduanya. Jiyeon tak bisa diam saja jika bertemu dengan Luhan, begitupun sebaliknya. Keduanya ingin menyapa tetapi suasana begitu canggung. Sebenarnya tidak ada alasan bagi keduanya utnuk tidak saling menyapa pagi itu. Toh, tidak ada pertengkaran diantara keduanya.

Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka berdua sampai di cafe. Semua karyawan cafe sudah mulai melaksanakan tugas masing-masing termasuk Krystal. Saat hendak mengelap meja kasir, Krystal melihat Jiyeon namun ia membuang muka. Jiyeon hanya bisa mendesah pelan. Ia tahu Krystal tidak menyukainya. Apalagi setelah ia mengetahui kebersamaan Jiyeon dengan Luhan.

Hari ini Krystal ingin bertukar tugas dengan Jiyeon. Dia yang akan menjaga kasir sedangkan Jiyeon bertugas membawakan pesanan pelanggan. Jiyeon menerimanya dengan senang hati. Menurutnya apapun tugas yang ia laksanakan akan terasa ringan jika ikhlas melakukannya.

Jiyeon dengan ramahnya menyambut pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka adalah pelanggan cafe, sebagian lagi pengunjung yang memang baru menginjakkan kaki di cafe itu. Jiyeon tak pilih kasih. Dia segera mengantar pesanan pengunjung yang datang lebih dulu.

“Kau bersemangat sekali, Jiyeo-a,” kata Lee Sungyeol yang merupakan partner Jiyeon dalam menyiapkan pesanan pengunjung.

“Aku selalu bersemangat. Jadi, kau jangan sampai kalah denganku.” Jiyeon tersenyum lalu melenggang pergi mengantar pesanan itu.

Di saat Jiyeon melangkahkan kaki mengantar pesanan pengunjung, di saat itu pula Luhan keluar dari ruangannya. Kesempatan ini digunakan oleh Krystal untuk cari perhatian. Saat Jiyeon berjalan sampai di depan meja kasir, kaki Krystal sengaja dijulurkan hingga akhirnya…

Prang!!

Gelas kaca pecah dan berserakan di sekitar tempat Jiyeon terjatuh. Ya, Krystal berhasil membuat Jiyeon tersandung kakinya. Jiyeon tak berani bergerak. Lututnya bertumpu pada lantai yang ada pecahan kaca gelas yang dibawanya. Rasanya perih, sakit. Begitu pula dengan telapak tangan kanannya. Saat terjatuh, Jiyeon langsung bertumpu pada lantai di bawahnya padahal pecahan kaca itu tepat berada di bawahnya.

Luhan dan beberapa karyawan lain terlonjak kaget akibat bunyi gelas kaca yang terjatuh. Luhan melihat Jiyeon masih membungkuk dan bertumpu di atas pecahan kaca. Ingin sekali Jiyeon menangis menahan sakit di telapak tangan dan lututnya.

“Jiyeon-a…” Luhan segera berhambur mendekati Jiyeon untuk menolongnya namun secepat kilat Krystal menarik lengan Luhan.

“Biarkan saja, oppa. Itu adalah hukuman untuk orang yang suka memainkan perasaan orang,” kata Krystal ketus.

“Apa maksudmu?” tanya Luhan bingung.

“Yeoja ini adalah yeoja yang suka mempermainkan perasaan namja. Kau dan Im Siwan adalah korbannya. Sekarang korbannya sudah dua orang, besok siapa lagi yang akan dia permainkan? Kau tahu oppa? Namja bernama Im Siwan adalah selingkuhannya. Jika benar kau sudah menikah dengan yeoja ini, ceraikan dia sesegera mungkin.”

Jleb!!

Hati Luhan dan Jiyeon seakan tertusuk benda tajam, bukan pisau, parang atau sejenisnya. Tetapi terasa seperti tertusuk ranting yang runcing.

Jiyeon berusaha bangkit dengan luka di telapak tangan dan lututnya yang meneteskan darah segar tanpa henti. Pecahan kaca dan serbuk-serbuk kaca kecil-kecil masih menempel di bagian tubuhnya yang terkena pecahan kaca.

“Oppa, tidak seperti itu. Aku bisa menjelaskannya,” lirih Jiyeon yang tengah menahan tangisnya. Dia merasakan perih luka hati dan luka berdarah.

Luhan menatap Jiyeon dengan tatapan tak percaya. “Jadi benar dugaanku. Apakah namja itu adalah namja yang menemanimu di bar dan namja itu datang lagi semalam? Apakah namja itu adalah namja yang mentraktirmu jjajjangmyeon tadi malam? Jawab aku!” bentak Luhan.

Kedua mata Jiyeon memerah. Hatinya sangat terluka mendengar Luhan membentaknya seperti itu. Seumur hidup, Jiyeon sama sekali belum pernah dibentak oleh seseorang, termasuk orangtuanya sendiri. Luhan lah orang yang pertama kali membentaknya.

Tak terasa cairan bening dan hangat mengalir dari sudut mata indahnya. “O, oppa. Dia memang Im Siwan, tetapi apa yang dikatakan oleh Krystal itu tidak benar.”

“Tidak benar? Yaak yeoja tak tahu diri! Siwan sendiri yang cerita sendiri pada Seohyun dan Seohyun cerita padaku.”

“Tidak mungkin. Siwan bukan tipe orang yang suka berbohong. Kau jangan memutar balikkan fakta, Krystal Jung!” seru Jiyeon tak terima jika Siwan dijelek-jelekkan oleh Krystal karena memang Siwan bukan orang seperti itu. “Dia orang baik-baik, tidak sepertimu!” bentak Jiyeon pada Krystal.

Plaakk!!

Krsytal menampar Jiyeon. Luhan terkejut melihat perlakuan Krystal pada Jiyeon. Sebenarnya ia tak tega melihat Jiyeon diperlakukan seperti itu. Menurutnya, meskipun Jiyeon bersalah, tak sepantasnya Krystal menamparnya.

“Krystal, jaga sikapmu!” seru Luhan pada Krystal.

“Oppa, dia pantas menerimanya.”

“Oppa, kau percaya padanya atau percaya padaku?” tanya Jiyeon pada Luhan yang sedikit emosi. “Gurae, kalau ini yang kalian inginkan, aku akan…” Jiyeon memutuskan kata-katanya. Dia sesenggukan dalam tangisnya. Rasanya dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya. “Aku tahu kalian pernah mencintai satu sama lain dan terhalang oleh restu tuan Jung. Gurae, jika ini yang kalian inginkan, aku akan… aku.. akan melepas Luhan oppa. Aku.. tidak akan menghalangi cinta kalian berdua. Hina saja aku, jangan pernah menghina orang lain. Jangan menghina Siwan atau siapapun.” Jiyeon berusaha mengatur nafasnya. Setelah mengatakan itu semua, dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan cafe dengan luka yang masih mengucurkan darah segar.

Luhan ingin menyusul Jiyeon tetapi hatinya ragu. Dia sudah kecewa berat pada istrinya itu. Hatinya juga terluka. ‘ Apa benar kau melakukannya, Jiyeon-a? Kenapa kau tega melakukannya padaku? Apa salahku, Jiyeon-a?’

Jiyeon berjalan tertatih-tatih dengan perasaan yang hacur sehancur-hancurnya. Hari ini rencananya dia ingin mengutarakan perasaannya pada Luhan kalau dia sangat mencintai Luhan. Tetapi sekarang, dia malah dibuang begitu saja dengan membawa sakit hati yang sangat sangat perih. Luhan pasti tidak percaya padanya. Jiyeon berjalan dengan berpegangan pada dinding bangunan yang dilaluinya.

‘Abeoji, eommonim, mianhae. Jongmal mianhae. Aku gagal menjadi anak yang baik dan istri yang baik. aku telah mengecewakan kalian. Jika akhirnya akan seperti ini, kenapa kalian tidak mengajakku pergi bersama kalian? Mungkin aku akan ikut memperhatikan Luhan oppa dari atas sana karena aku tidak dapat menjaga dan merawatnya di sini, aku hanya bisa menyusahkannya. Kenapa ini terjadi padaku? Aku mencintai Luhan oppa. Aku sangat mencintainya. Apakah Luhan oppa tidak merasakannya? Kenapa dia juga tega bersikap seperti itu padaku? Aku tidak mengkhianatinya. Aku sama sekali tak pernah mencintai namja lain selain dirinya.’

Di dekat sungai Han, Jiyeon berhenti. Luka akibat terkena pecahan kaca itu masih utuh, belum tersentuh tangannya. Jiyeon mendesah pelan, dia tidak tahu lagi harus kemana. Apartemennya telah ia tinggalkan. Ia tidak mungkin meminta bantuan pada Jieun atau Siwan karena tidka mau merepotkan mereka. Jiyeon merogoh sakunya untuk mencari ponsel atau sesuatu ternyata tidak ada. Dompet dan ponselnya ia taruh di dalam tas dan ia letakkan di loker karyawan di cafe. Pupus sudah harapan Jiyeon untuk sekedar membeli makanan karena perutnya sudah lapar karena ia belum sarapan seperti biasanya.

Kembali ke cafe hanya untuk mengambil tasnya? Itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia tidak ingin mengganggu Luhan atau siapapun dulu. Dia sendiri ingin menenangkan pikiran, ta[i tidka dalam keadaan perut kosong.

Tap tap tap!

Leo mendatangi Luhan di cafe. Seperti biasa, Luhan duduk manis di belakang meja kerjanya. Namun kali ini ada yang beda dengan hari-hari biasa. Wajah tampan namja itu tampak kusut sekali seperti baju yang tidak pernah disetrika bahkan bisa lebih dari itu. Leo sampai di depan ruangan yang berukuran cukup besar dan style minimalis untuk seorang manajer. Pintu tidak tertutup rapat, Leo mengintip sedikit di celah-celah pintu. Luhan tampaj sedang memikirkan sesuatu.

“Wajahnya suram sekali,” gumam Leo.

Tok tok tok!

“Luhan-a, kau ada di dalam?”

Luhan yang mendengar suara Leo sedikit tersentak kaget karena sedari tadi dia hanya melamun. Di masa-masa galaunya, ia masih sempat-sempatnya menata penampilan. Dia memang namja metropolitan yang sederhana.

Tak ada jawaban. Leo masuk begitu saja padahal Luhan belum mempersilahkannya masuk.

“Kau kenapa? Wajahmu itu, ekspresimu itu? Ada apa?” tanya Leo bertubi-tubi.

Luhan hanya diam dan menatap Leo dengan tatapan sedih.

“Luhan-a…”

“Sejak kapan kau memanggilku seperti itu?” tanya Luhan buka suara.

“Mian, ada yang ingin aku tunjukkan padamu.” Leo mencari sesuatu di dalam saku jaketnya. Saat ini dia berniat mengatakan kebenaran tentnag hubungan mereka berdua dengan menunjukkan foto keluarga yang Leo miliki dan pastinya Luhan juga memilikinya. Dia ingin mengatakan pada Luhan bahwa Luhan adalah dongsaengnya. “Ige.” Leo menyerahkan foto itu pada Luhan dengan jantung berdebar-debar. Ia yakin bahwa Luhan tidak akan mempercayainya. Jika dongsaengnya percaya, mungkin dia tidak akan memaafkan hyung seperti dirinya.

Dahi Luhan tampak sedikit berkerut saat melihat foto keluarga itu. Dia benar-benar mengamati foto itu. “Foto ini… darimana kau dapatkan foto ini?” Ekspresi wajah Luhan berubah drastis, sekarang ia tampak serius setelah melihat foto itu.

Leo membisu.. dia bingung bagaimana menjelaskannya pada Luhan. “Itu adalah foto keluarga kita. dua orang anak kecil di dalam foto itu adalah kita berdua.”

“Mwo?” Luhan tidak percaya, tepat seperti perkiraan Leo.

“Jongmal mianhae. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya saat eomma masih hidup.”

“Apa maksudmu? Kenapa kau bawa-bawa eomma?”

Kedua mata Leo terasa panas. “Luhan-a, nyonya Lee… dia bukan hanya ibumu, tetapi dia.. dia adalah ibu kandungku.” Leo menunduk untuk menyembunyikan matanya yang telah memerah dan berair.

“Kau? Jadi maksudmu kau adalah saudaraku?” Luhan masih bingung. Tentu saja, ini adalah masalah serius dan tidak main-main. Jadi untuk memahaminya diperlukan usaha yang maksimal agar tidak salah paham. “Kau hyungku atau dongsaengku?”

Leo sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan. Dia mengambil sesuatu dari balik jaketnya. “Ige.”

Kali ini Leo menunjukkan akta kelahirannya yang sukses membuat Luhan semakin syok.

“J, jadi kau… kau b, benar-benar hyungku?” kedua mata Luhan berkaca-kaca.

Leo hanya diam saja tetapi dia menjawab pertanyaan Luhan dengan anggukan pelan.

Luhan mendesah kasar. “Jinjjayo? Gotjimal!”

“Jongmal mianhae, Luhan-a. Aku sudha lama tahu kalau kau dan nyonya Lee adalah kelaurgaku yang sebenarnya. Aku hanya…”

“Kenapa kau baru mengaku sekarang? Jika benar kau adalah saudaraku, apa kau tidak memikirkan perasaan eomma? Kenapa kau membiarkan eomma meninggal tanpa mengetahui anak kandungnya? Kenapa kau tega sekali pada eomma, eoh? Dimana hati nuranimu? Apakah kau masih pantas disebut sebagai seorang anak dan hyung?” Luhan meneteskan airmatanya. Ia tak dapat menahan cairan itu lagi karena hari ini adalah hari yang berat baginya. “Kenapa semua orang tega padaku dan eomma? Kenapa kalian mengkhianati kami?”

Leo tidak tahu siapa lagi yang membuat Luhan kecewa selain dirinya. Kata ‘kalian’ adalah kata ganti jamak. Jadi, bukan dia saja yang mengecewakan Luhan.

“Luhan-a, aku tahu kau sangat marah padaku. Akupun tidak tahu jika akhirnya aku terlambat memberitahumu. Aku sangat menyesal kenapa tidak kulakukan saat eomma masih hidup. Tapi… setidaknya aku bahagia melihat kalian dalam jarak dekat dan aku berhubungan baik dnegan kalian meski bukan sebagai keluarga. Setelah mengatakan ini semua, hatiku benar-benar merasa lega. Akupun tersiksa dengan apa yang aku lakukan. Menyembunyikan identitas memang tidak mudah karena setiap aku melihatmu dan eomma, hatiku menangis. Aku ingin memeluk kalian sebagai keluarga tetapi aku belum bisa melakukannya. Aku benar-benar menyesal.” Leo terduduk di lantai, tepatnya di depan meja Luhan.

Matahari semakin condong ke barat. Hari semakin gelap. Burung-burung pun kembali ke dalam sarang mereka untuk mengistirahatkan diri, begitu juga dengan banyak orang yang sudah menyelesaikan pekerjaan mereka sedari pagi tadi.

Luhan memutuskan untuk pulang duluan. Krystal ingin ikut dengannya tapi Luhan menolak. Dia ingin sendirian. Maka dengan berat hati, Krystal membiarkan Luhan pulang sendirian.

Luhan berjalan gontai dengan pakaian yang tidak serapi tadi pagi. Pikirannya terbang melayang kemana-mana. Kenyataan yang ia ketahui tentang Jiyeon membuatnya stres apalagi ditambah Leo yang ternyata adalah hyungnya. Kepalanya serasa ingin meledak. Berat dan pusing, itulah yang dirasakan kepalanya hingga dia tak sanggup meneruskan langkahnya. Luhan berhenti di depan sebuah mini market. Tiba-tiba dia teringat Jiyeon. Saat keluar dari cafe, kondisi Jiyeon memprihatinkan. Luhan berniat mencari Jiyeon petang ini. Tanpa pikir panjang, Luhan mengunjungi tempat-tempat yang biasa dikunjungi Jiyeon. Sungai Han, bekas apartemen Jiyeon, jalan depan rumah Siwan yang berada di dekat rumahnya sendiri. Jalan itu merupakan jalan favorit Jiyeon. tempat terakhir adalah bar Leo. Ia enggan berkunjung ke sana. Dadanya masih sesak mengingat fakta kalau Leo adalah hyungnya. Akhirnya Luhan meminta Xiumin untuk mencari Jiyeon di bar milik Leo. Xiumin mengatakan kalau saat ini tidak ada seorang yeoja pun yang datang ke bar Leo. Luhan menyerah mencari Jiyeon. Hal ini dikarenakan kepalanya yang terasa sangat berat hingga ia ingin jatuh pingsan dan perutnya kosong.

Luhan memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia akan menunggu Jiyeon di rumah. Siapa tahu Jiyeon akan pulang ke rumah.

Di suatu tempat, Jiyeon sedang berusaha melangkahkan kakinya sekuat tenaga. Dia benar-benar lemas. Penampilannya kacau. Luka bekas pecahan kaca yang tadinya berdarah, kini darah itu terlihat mengering dengan sendirinya. Hari sudah petang. Jiyeon merasakan dingin mulai menyerang.

Dengan susah payah dia berjalan menuju rumah Luhan. Bagaimanapun juga, rumah itu adalah rumahnya karena Luhan belum mengusirnya. Jarak menuju rumah Luhan masih sekitar 3 kilometer lagi namun Jiyeon tidak menyerah. Dia tetap berjalan pelan meski harus menahan sakit dan lelah. Kedua matanya ingin sekali terpejam dan tubuhnya ingin sekali berbaring di atas kasur yang empuk. Jiyeon tidak ingin mengingat kejadian di cafe itu lagi. jika mengingat hal itu, dadanya akan terasa sesak dan hatinya akan sangat terluka. Dia akan melepas Luhan secepatnya jika Luhan sendiri yang memintanya. Mereka berdua menikah atas permintaan ibunya Luhan, maka jika mereka ingin berpisah, Luhan sendirilah yang harus memintanya pada Jiyeon karena sebenarnya Jiyeon tidak ingin meninggalkan Luhan. Dia baru sadar kalau hatinya telah diserahkan penuh pada namja yang berstatus sebagai suaminya.

Pukul 11 malam, jalan-jalan terlihat sepi. Yang lewat di sana hanyalah orang-orang yang baru saja mebuk-mabukan di kedai soju atau di tempat seperti bar. Ada juga yeoja-yeoja yang bekerja pada malam hari, dan beberapa orang yang memang sengaja pulang malam.

Beberapa meter lagi, Jiyeon sampai di depan rumah Luhan. Dia semakin semangat mengayunkan langkahnya meski nafasnya berat. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing, dia ingin segera sampai di rumah Luhan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan seterusnya. Akhirnya ia sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah Luhan yang sederhana itu. Saat hendak membuka pintu gerbang itu, Jiyeon menghentikan tangannya. Dia berpikir sejenak sebelum membuka pintu gerbang itu. Tangannya terlepas dari pintu gerbang yang terbuat dari kayu lalu ia membalikkan badan. Jiyeon merasa tak pantas menginjakkan kaki lagi di rumah Luhan. Sesaat kemudian Jiyeon menoleh ke arah rumah Luhan. Lampunya masih menyala. Jiyeon tahu kalau Luhan belum tidur karena namja itu akan mematikan lampunya jika sudah mau tidur.

‘Oppa, mianha. Jongmal mianhae. Oppa, semoga kau baik-baik saja. Lupakan semua tentangku, maka kau akan hidup selamanya. Aku rela jika kau melupakanku untuk selamanya. Dan aku tidak akan mengganggumu lagi, oppa. Kau harus hidup dengan baik. Aku tidak ingin kau kelaparan, sulit tidur, kelelahan, sakit, dan sebagainya. Kau adalah bintang dalam hidupku, oppa. Jadi, tetaplah bersinar meskipun kita tak bersama lagi. Aku bisa meninggalkanmu dengan tenang jika kau hidup dengan baik.’ Jiyeon mengatakan itu semua di dalam hatinya. Ia tidak meungkin mengatakannya di depan Luhan.

Perlahan-lahan Jiyeon mendudukkan dirinya di depan pintu gerbang. Kedua matanya sembab dan tak kelihatan indah seperti biasa. Sayu, sedih, memerah, itulah keadaan mata Jiyeon. di bawah matanya terdapat lingkaran hitam yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan make-up remover.

Jiyeon memejamkan kedua matanya yang terasa berat untuk dibuka lagi. Nyaman rasanya menutup mata seperti itu. Lama-kelamaan Jiyeon tertidur di depan pintu gerbang rumah Luhan. Angin berhembus menembus pakaian Jiyeon. ia masih mengenakan baju seragam cafe yang berlengan pendek. Jiyeon menggigil kedinginan namun ia tetap bertahan hingga akhirnya ia tertidur sangat pulas dan tak dapat merasakan dingin lagi.

Di saat yang bersamaan, Luhan terbaring di atas kasur lantai miliknya. Lampu kamarnya sengaja dihidupkan dengan harapan Jiyeon akan pulang. Jika lampunya ia matikan, Jiyeon tak akan pulang karena istrinya itu pasti tahu kalau lampu sudah dumatikan itu artinya Luhan sudah tidur. Luhan memikirkan Jiyeon. Dia bertanya-tanya dalam hati, dimanakah Jiyeon berada? Bagaimana kondisi Jiyeon? siapa yang menolongnya?

Luhan mencoba menghubungi ponsel Jiyeon untuk pertama kalinya setelah kejadian tadi pagi.

Tuut tutt…

Tidak diangkat. Luhan mencoba beberapa kali namun tetap tak diangkat. Tentu saja tidak diangkat karena ponsel Jiyeon masih di dalam loker karyawan di cafe.

Malam ini, Leo sengaja tidka menutup barnya. Jika malam-malam biasanya bar itu tutup tepat jam 12, untuk malam ini dia masih membuka barnya. Beberapa orang karyawan meninggalkan dirinya di bar karena mereka pastilah. Beberapa pelanggan masih ada di dalam bar itu. Leo tak mempedulikannya hingga tiga orang karyawan yang pengertian padanya menutup bar itu. Mereka menata kursi, membersihkan ruangan, dan mencuci gelas dan peralatan yang lain. Leo masih duduk manis di atas sofa hitam yang berkelas itu. Namja yang tidak terbiasa mabuk-mabukan itu telah menghabiskan empat botol bir kelas berat. Kepalanya pening, rasanya dia seperti berada di dalam gulungan ombak atau angin tornado. Berputar-putar tanpa henti. Leo sangat frustasi. Dia memang sudah menebak bagaimana reaksi Luhan saat mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah saudara kandung.

“Luhan-a, jika kau memang tidak ingin dan tidak akan mengakuiku sebagai saudaramu, aku akan menerimanya dnegan lapang dada.”

Huek.. Leo hampir memuntahkan isi perutnya. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya,”Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku berani sumpah bahwa aku memang inign mengatakannya sejak dulu tetapi waktu belum memberikan kesempatan yang tepat padaku. Tapi sekarang malah terlambat. Yaak, uri dongsaengi, jika kau membenciku, aku minta berikan senyummu sekali saja padaku. Aku akan mengingatnya seumur hidupku. Aku akan meninggalkan Korea. Aku akan meninggalkan semuanya dan pergi ke Amerika. Jika kau.. tidka mau hidup denganku, maka aku… akan pergi dari kehidupanmu. Tetapi aku tetap menyambutmu di kehidupanku. Jika kita tidak dapat hidup bersama di dunia ini, aku ingin kita bisa hidup bersama di kehidupan yang selanjutnya. Cukup katakan ‘Hyung, aku memaafkanmu’, maka hidupku akan tenang.

Leo mabuk-mabukan seorang diri di dalam bar. Sungguh namja yang malang. Dia tertidur di dalam bar hingga mentari pagi bersinar terang dan menghangatkan tiap insan yang bertebaran di muka bumi khususnya di Korea Selatan.

Pagi ini Luhan bangun kesiangan karena tak ada Jiyeon yang biasanya membangunkan dirinya. Namja itu masih mengharapkan Jiyeon pulang. Namun ternyata harapannya itu hanyalah sebuah harapan kosong karena sampai pagi ini Jiyeon belum menampakkan diri. Apakah Jiyeon memang setega itu padanya? Luhan tak ingin memikirkan hal itu untuk saat ini meski hal itu terus menerus mengganggu pikirannya. Siapa yang tak galau dan tak khawatir bila memiliki masalah seperti dirinya. Luhan memang marah dan kecewa pada Jiyeon. Tetapi rasa sayangnya terhadap yeoja itu mengalahkan kemarahan dan emosinya hingga ia sendiri yang merasakan kepedihan. Luhan tidak bisa marah pada Jiyeon, oleh karena itu saat kejadian di cafe, dia hanya sedikit melontarkan kalimat dan tak berani membentak Jiyeon.
Masalah ini harus segera diselesaikan, pikirnya.

Selesai membersihkan diri dan berpakaian nan rapi, Luham siap berangkat kerja. Hari ini dia tahu akan datang terlambat karena itu sengaja dilakukannya. Suasana hatinya belum membaik. Pagi ini pun ia tidak menyuapkan sesuatu ke dalam mulutnya untuk sarapan. Tanpa Jiyeon ataupun ibunya maka tak ada sarapan karena ia sendiri tidak berminat untuk membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
Luhan menutup pintu rumahnya lalu menguncinya. Saat mengunci pintu, ia teringat saat berangkat bekerja bersama Jiyeon. Hal itu membuat ekspresi wajahnya kembali muram.
“Bagaimana aku bisa merindukanmu padahal hanya sehari aku tidak melihatmu. Park Jiyeon, dimanakah dirimu berada?” gumamnya lirih lalu memasukkan kunci rumahnya ke dalam tas.

Luhan berjalan menuju pintu gerbang. Saat ia melangkah di depan pintu gerbang, ia hampir terjatuh tersandung sesuatu. Luhan nyaris tak melihat kalau ada sesuatu di depan gerbangnya. Tetapi setelah ia berada diluar gerbang, matanya membelalak melihat sesuatu yang menghalangi jalannya tadi. Ya, tubuh lemah Park Jiyeon yang terbaring tak berdaya di depan gerbang. Jiyeon yang sejak tadi malam tertidur di depan gerbang dalam posisi duduk, sekarang terbaring di tempatnya.

“Jiyeon?” Luhan mendekati Jiyeon yang menutup matanya rapat-rapat. Menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi, Luhan segera mengangkat bagian kepala Jiyeon ke pangkuannya. Badannya panas sekali namun di ujung-ujung jari lentik yeoja itu terasa dingin sekali seperti es. Ya, Jiyeon mengalami Step atau demam sangat tinggi. Luka bekas terkena pecahan kaca juga masih utuh, di lutut dan telapak tangan kanannya. Luhan miris melihat itu semua hingga tanpa sadar airmatanya meleleh dan jatuh tepat di pipi Jiyeon.

“Jiyeon-a, ireona. Ireona chagiya…” Luhan menggoyang-goyangkan tubuh Jiyeon yang tak berdaya itu. Dia berharap Jiyeon akan membuka matanya. Namun ternyata yeoja itu tetap menutup matanya rapat-rapat. Tak ada cara lain, Luhan segera membawa Jiyeon ke rumah sakit.

Hari ini Xiumin sengaja menemui Krystal di cafe-nya. Cafe itu sudah sah menjadi milik Xiumin. Tidak hanya cafe, tetapi ada beberapa aset lain milik appanya yang diwariskan kepadanya. Untung saja appanya lebih percaya pada Xiumin. Jika namja paruh baya itu percaya pada istri barunya alias ibu kandung Krystal, maka seluruh aset kekayaannya akan lenyap seperti ditelan bumi.

Seperti hari-hari biasa, para karyawan sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke cafe. Xiumin senang melihat mereka bekerja dengan semangat.
Ada satu karyawan yang sama sekali tidak menunjukkan semangat kerjanya. Tentu saja orang itu adalah Krystal. Rupanya tidak hanya Luhan, Jiyeon dan Leo yang merasa galau, Krystal pun mengalami kegelisahan dalam hatinya. Ia sedih karena Luhan sudah menunjukkan tanda-tanda kalau namja itu sudah tak mencintai dirinya lagi.
‘Aku sama sekali tidak mengkhianatimu, oppa. Appaku lah yang memisahkan kita. Tapi kenapa semuanya jadi begini. Kemarin kau menolak pulang bersamaku, waktu itu kau menolakku bekerja di sini, tetapi saat yeoja itu datang, kau menerimaku asalkan yeoja itu juga bekerja di sini. Apakah kau benar-benar tidak mencintaiku? Aku tidak akan menyerah. Ini bukan takdir yang harus dijalani. Kau bukan untuk yeoja itu oppa.’ Krystal bicara dalam hatinya.

“Krys!” Suara khas seorang Xiumin mampu membuyarkan lamunannya.
Krystal menoleh. Ia agak terkejut melihat Xiumin sudah berdiri di depannya.
Krystal berdiri mengimbangi Xiumin. “Waeyo?” tanyanya pada Xiumin dengan nada lirih dan seperti orang yang kelaparan.
“Ada yang ingin aku bicarakan. Kita bicara di atap.” Xiumin mengambil langkah menuju atap cafe.
Sesampainya di sana, dia baru tahu kalau atap cafe sudah lebih indah dan lebih menyenangkan dari yang dulu. Luhan lah yang mengubah atap itu menjadi taman mini. Banyak jenis tanaman bunga yang ditanam dalam pot, banyak bonsai dan bambu kuning. Di sana juga terdapat dua buah bangku panjang dan satu meja besi kecil dengan desain Eropa. Taman indah itu membuat Xiumin menarik simpul bibirnya untuk sesaat sebelum dia mendudukkan diri di atas salah satu bangku kayu panjang.
Krystal mengikutinya dari belakang. Ekspresi wajahnya datar. Setelah sampai di atap, Krystal duduk di samping Xiumin dalam keadaan diam.

“Krys, aku mengajakmu bicara bukan untuk memaki dirimu atau mengambil harta yang telah diambil oleh ibumu. Aku datang ke sini ingin membicarakan tentangmu.”
Krystal mengangkat alisnya. Ia sedikot tak percaya kalau Xiumin ingin membicarakan tentang diri Krystal. “Waeyo? Bukankah kau membenciku?”
“Aku sama sekali tidak membencimu. Aku benci atas sikap dan tindakanmu. Itulah yang akan aku bicarakan saat ini.” Xiumin mengambil nafas dalam-dalam. “Aku sudah mengikhlaskan uang jutaan won yang dicuri oleh ibumu. Aku juga sudah memikirkan satu hal tentangmu. Kau adalah adik tiriku, Krys. Jangan mengira kalau aku membencimu. Aku membenci tindakanmu yang egois dan merusak kebahagiaan orang lain.”
Krystal mengerutkan dahi. “Apa kau ingin mencaciku lagi?”
“Biarkan aku menyelesaikan kata-kataku.”
Krystal diam.
“Aku telah memutuskan untuk memberimu 3% saham yang aku miliki. Tapi dengan syarat.”
“Apa kau serius? Syarat apa?” Krystal mulai tertarik dengan perbincangan itu.
“Aku akan memberimu saham itu dengan syarat kau keluar dari cafe ini dan bekerja di perusahaan. Dan lagi, kau harus meninggalkan dan melupakan Luhan.”
“Oppa…”
“Kau tidak mau? Aku hanya menerima satu jawaban dan itu akan berlaku selamanya. Jika kau menolak, maka aku akan mengusirmu dari rumahku dan mengurus perceraian appa dan eomma-mu. Aku akan meminta appa menceraikan eomma-mu. Aku pastikan hal itu terjadi karena appa juga tidak begitu senang dengan kehadiran eomma-mu. Tapi jika kau menerimanya, semua yang kutawarkan padamu akan menjadi kenyataan. Pilihlah satu jawaban.”
Krystal tampak bingung. Dia ingin sekali memiliki saham itu dengan cuma-cuma. Sedangkan di satu sisi, dia tidak ingin meninggalkan Luhan.
“Kau sudah tahu sendiri kan kalau Luhan tidak mencintaimu lagi? Untuk apa kau datang ke dalam kehidupannya? Kau hanya akan menjadi masalah baginya. Kenapa kau tidak mencari namja lain? Leo masih menunggumu.”
Krystal menatap Xiumin setelah mendengar pernyataannya kalau Leo masih menunggunya. “Leo?”
“Sebenarnya Leo masih mencintaimu. Cintanya begitu tulus hingga sulit dilupakan. Aku harap kau mau mempertimbangkannya.”
Krystal terdiam. Matanya memerah. Dia baru sadar kalau ternyata masih ada yang mengharapkan dirinya.
“Kau bisa menjawabnya dalam beberapa hari. Pikirkanlah.”
“Anhi, oppa. Aku tidak akan berpikir panjang lagi. Apa yang aku pikirkan sampai memakan waktu lama hanya membuatku terpuruk seperti ini. Aku tidak ingin menyia-nyiakan semua yang kau berikan. Aku menerimanya. Aku akan meninggalkan Luhan, bekerja di perusahaan, dan aku… akan menerima Leo. Ya, aku akan berusaha menerimanya. Apa yang aku rasakan terhadap Luhan, mungkin itulah yang dirasakan Leo terhadapku. Rasanya pasti sakit.” Krystal meneteskan airmata .
Xiumin memegang tangan Krystal. Ia berusaha menguatkan dan menenangkan afik tirinya itu. “Kau masih sangat muda Krys. Kau harus punya masa depan yang cerah. Appamu sudah tidak ada, eomma-mu tak peduli lagi padamu tetapi aku dan Leo masih peduli padamu. Maka jangan kau sia-siakan kepedulian kami.”
Krystal menangis semakin dalam. Xiumin menariknya ke dalam dekapannya. Adik tirinya itu terisak di dalam dekapannya. Inilah yang sangat diinginkan oleh Xiumin. Dia sangat menginginkan kehadiran seorang dongsaeng dan dia ingin membuat dongsaengnya bahagia meskipun Krystal hanya adik tirinya.

Seorang namja dengan langkah sempoyongan keluar dari sebuah bar. Namja yang tidak lain adalah Leo, sedang menormalkan pandangannya agar tidak menabrak sesuatu saat berjalan.
“Hyung, kau mau kemana? Biar aku yang mengantarmu,” tawar seorang karyawan bar.
Leo melambaikan tangannya yang menandakan dia tidak ingin diantar pulang. “Aku bisa sendiri.”

Setelah masuk ke dalam mobilnya, Leo teringat Luhan. Tentu saja hal itu membuatnya frustasi lagi. Ia tahu kalau Luhan pasti tidak bisa menerimanya sebagai saudara. Mustahil.
Leo meraih ponselnya di saku jaket yang sedang dipakai. Kemudian dia menekan nomor yang tak lama kemudian telepon tersambung.
“Saya pesan satu tiket pesawat ke Washington yang paling dekat dengan hari ini. Ne, hanya satu. Keberangkatan terdekat nanti malam? Gurae, gamsahapnida.”
Klik!
Senyum kepedihan tersungging di bibir Leo. Dia berniat meninggalkan semua yang ada di Korea dan tinggal bersama appa angkatnya di Amerika karena appanya baru saja memutuskan untuk menetap di sana. Apa boleh buat. Ia berharap semiga keputusannya kali ini adalah keputusan yang tepat. Meski dia menyayangi Luhan, namun Luhan tak ingin bersamanya, dongsaengnya itu tak mau memaafkan dan mengakuinya sebagai seorang hyung. Mulai hari ini, dia akan menyerahkan keseluruhan manajemen kepada ahlinya. Leo tak ingin lagi berurusan dengan Korea meski kenyataannya, dongsaeng kandungnya masih berada di Korea.

Luhan menunggu Jiyeon yang sedang terbaring lemah, bahkan sangat lemah di atas ranjang milik rumah sakit. Kemarin Jiyeon tidak makan seharian dan luka akibat terkena pecahan kaca malah menambah parah kondisinya saat ini. Lukanya sudah terinfeksi. Dokter masih belum selesai memeriksa dan memberi pengobatan pada Jiyeon. Di ruang tunggu, Luhan berjalan mondar mandir. Ia sangat khawatir. Hatinya tak tenang.
Kriiing!
Suara ponselnya mampu mengejutkan dirinya sendiri. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Luhan mengangkatnya.
“Yobose…” ucap Luhan dengan suara lirih dan lesu.
“Luhan-ssi. Aku sudah berada di depan rumahmu. Kenapa sepi sekali? Apa kalian sudah berangkat?”
“Kami tidak berangkat kerja,” jawab Luhan dengan nada yang sama dengan tadi.
“Eoh. Keurom, dimana Jiyeon? Hari ini dia harus tandatangan tugas akhirnya.”
Luhan terdiam sehingga tak ada jawaban darinya padahal Jieun menanti kata-kata dari Luhan.
“Luhan-ssi, kau masih di sana? Dimana kalian?” tanya Jieun lagi. “Aku harus menemui Jiyeon untuk menjelaskan tentang tugas akhirnya.”
Luhan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan. “Jiyeon… jika kau ingin bertemu dengannya, datanglah ke rumah sakit tempat eommaku dulu dirawat.”
“Mwo? Sedang apa kalian di sana?”
Tak ada jawaban.
Tut. Telepon malah terputus. Jieun berusaha menghubungi Luhan lagi tetapi tidak bisa. Mungkin ponsel Luhan dimatikan, pikir Jieun.

Dokter sudah selesai melakukan tugas profesinya. Sekarang Luhan sudah dapat menunggu Jiyeon di dalam kamar. Menurut dokter, Jiyeon membutuhkan banyak waktu untuk istirahat. Luka fisik yang dialami hanya terdapat pada telapak tangan dan lututnya. Sedangkan luka dalam organ tidak ada. Tetapi yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi psikisnya. Jiyeon mengalami depresi hebat hingga menyebabkan kondisi tubuhnya sangat lemah. Dia terlalu banyak pikiran dan tak mempedulikan seberapa kuat fisiknya.

Dengan setia, Luhan menunggu Jiyeon. Ia menggenggam tangan kiri Jiyeon dan tak melepasnya. Wajah pucat pasi itu tak menunjukkan kecantikan seperti biasanya, tak ada senyum ceria khas Jiyeon, tak ada ocehan yeoja yang tergolong cerewet itu. Luhan menatap wajah Jiyeon lekat-lekat. Dalam hati, dia bersyukur telah memiliki seorang istri yang begitu sempurna. Entah siapa yang Jiyeon cintai, dia tidak peduli. Yang dia tahu, kini hatinya sudah menentukan perasaannya bahwa Jiyeon lah satu-satunya yeoja yang ia cintai.

Jieun sedang berlari menuju halte terdekat. Pikirannya tertuju pada Jiyeon. Kata-kata Luhan mengisyaratkan kalau saat ini Jiyeon ada di rumah sakit. Ada apa dengannya? Jieun bertanya-tanya dalam hati. Setelah menempuh jarak 500 meter dari rumah Luhan, akhirnya dia sampai di halte namun sayang, bus yang bisa membawanya ke rumah sakit baru saja meninggalkan halte. Jieun yang menyadari kebodohannya sampai-sampai ketinggalan bus, menggerutu dalam hatinya. Dengan lesu dan kecewa, Jieun duduk di bangku tunggu di halte itu.

Ttiiin!
“Omo!” Jieun terlalu kaget. Jantungnya hampir saja keluar dari tempatnya. Dahinya berkerut saat menatap sebuah mobil mewah di depan halte. Saat diamati dengan seksama, ternyata si empunya mobil adalah Siwan. “Im Siwan?”
Siwan tersenyum lalu melambaikan tangannya dan menyuruh Jieun mendekat.
Jieun menurut.
“Ada apa dengan ekspresimu? Kau baru saja ditolak?” tanya Siwan asal. “Hehe… bercanda. Kau mau kemana?”
“Rumah sakit Seoul,” jawab Jieun singkat.
“Wow, jutek sekali.”
Jieun menatap Leo setajam pedang.
“Wae? Ah, aku bisa mengantarmu ke sana. Ngomong-ngomong, siapa yang dirawat di sana?”
“Park Jiyeon,” jawab Jieun dengan singkat lagi.
“Mwo? Mwoya? Ah, gotjimal. Kau dan Jiyeon sulit dipercaya.”
“Antarkan aku ke sana lalu buktikan kebenaran dari ucapanku tadi.”
Leo menyuruh Jieun segera masuk ke dalam mobilnya. Dalam waktu beberapa menit, mobil mewah itu sudah menginjakkan rodanya di tenpat parkir RS. Kedunya langsung berlari menuju ruang dimana Jiyeon dirawat.

Cekleek!
Jieun membuka pintu kamar perawatan milik Jiyeon. Luhan langsung menoleh ke belakang, ke arah pintu yang telah dibuka oleh seseorang itu. Dia terkejut melihat Jieun dan seorang namja yang ia duga bernama Im Siwan.
“Siapa dia?” tanya Luhan pada Jieun.
Jieun bingung. Apa yang dimaksud Luhan adalah Siwan? “Dia…”
“Im Siwan?” tebak Luhan.
Jieun hanya membatin, bagaimana Luhan bisa tahu kalau itu Siwan?
Luhan bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Jieun dan Siwan. “Kau yang menyebabkan Jiyeon seperti ini?” Pertanyaan Luhan terdengar seperti tuduhan.
“Apa maksudmu?” Siwan sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan Luhan.
“Kau yang membuatnya seperti ini. Kau kan namja yang mencintai Jiyeon dan semuanya dibeberkan oleh Jung Krystal.
“Siapa Jung Krystal?” Tentu saja Siwan bingung karena dia memang tak mengenal Krystal.
“Ada masalah apa ini? Bicarakan saja di luar. Kasihan Jiyeon. Dia harus istirahat.” Jieun menyeret Luhan dan Siwan keluar ruangan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Setelah sampai di luar ruangan, Jieun melanjutkan,”Baiklah, sekarang aku yang akan menjadi penengah. Gurae, kau Luhan-ssi, apa maksud ucapanmu tadi”

“Luhan-a!” Panggil seseorang dari jarak yang agak jauh secara tiba-tiba. Sontak ketiga orang yang ingin menyelesaikan masalah itu menoleh.

Xiumin datang bersama Krystal.
“Jung Krystal, kau yang tadi menghakimi Jiyeon. Katakan semua yang kau katakan di depan Jiyeon kemarin.” Luhan menatap tajam pada Krystal yang bersembunyi di balik tubuh Xiumin.
“Ada masalah apa?” tanya Xiumin penasaran.
“Tanyakan saja pada adik tirimu itu, hyung. Dia yang telah membeberkan semua entah kebenaran atau hanya kebohongan. Sekarang di sini ada banyak saksi dan juga Im Siwan, namja yang kau sebut-sebut kemarin. Kau tidak mau? Gurae, aku yang akan mengulangnya untuk kalian semua.”
“Anhi, oppa. Biar aku saja yang mengatakannya.” Krystal memberanikan diri untuk bicara sejujurnya. “Seohyun mengatakan padaku kalau Jiyeon terlibat cinta dengan namja bernama Im Siwan. Dia juga bilang kalau Jiyeon memperdaya Siwan. Aku marah karena Jiyeon sudah memiliki Luhan oppa tapi dia masih mencari pria lain. Semua yang aku dengar dari Seohyun telah aku katakan kemarin pada Jiyeon.”
“Apa-apaan ini?” Siwan mulai emosi. “Jiyeon tidak pernah merayuku atau memperdaya diriku. Kami sering bertemu namun hanya secara kebetulan. Kami juga tidak pernah berkencan karena aku hanya berusaha menghiburnya. Ya, memang ku akui kalau aku mencintainya. Tetapi malam itu, Jiyeon bilang kalau dia tidak mencintaiku sebagai namja, tetapi hanya sebagai teman dan suatu saat dia akan menjelaskan alasannya. Apa benar Seohyun berkata seperti itu? Pasti dia iri pada Jiyeon karena Jiyeon dekat denganku sedangkan dia memiliki cinta bertepuk sebelah tangan denganku.”
Kini masalahnya semakin jelas bahwa Jiyeon sama sekali tidak menduakan Luhan dan tidak pernah merayu Siwan. Semua orang yang terlibat dalam masalah itu hanya bisa terdiam menerima kebenaran itu.
“Jadi begitu?” gumam Jieun lirih.
Krystal terduduk lemas. Airmatanya menetes. “Aku telah menyesal mengatakan semua kebohongan dan tuduhan pada Jiyeon. Aku sangat menyesal. Biarkan aku minta maaf pada Jiyeon.”

“Luhan-a, ada yang ingin aku beritahukan padamu,” kata Xiumin setelah situasi kembali tenang. “Malam ini Leo akan berangkat ke Amerika. Dia akan menetap di sana karena… tidak ada alasan baginya untuk bertahan di Korea.”
Deg!
Luhan merasakan sesak di dada.
“Aku tahu semuanya. Akulah yang bersalah, Luhan-a. Aku telah mengetahuinya sejak awal tetapi sama sekali tidak memberitahumu. Bagaimanapun juga, Leo adalah hyung kandungmu. Kalian lahir dari rahim yang sama. Di dalam tubuh kalian, ada darah dan daging yang sama. Apakah kau tidak akan mengakui Leo sebagai hyungmu?”
Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar kalau Leo adalah hyung kandung Luhan. Luhan menangis. Dia teringat eommanya.
“Aku… tidak bermaksud begitu hyung. Aku sangat merindukannya tapi aku juga kecewa padanya. Kenapa dia datang terlambat?”
“Kata terlambat hanya ada jika kau membiarkan Leo pergi begitu saja. Kalian adalah saudara kandung yang harus saling menyayangi. Bahkan aku dan Krystal iri pada kalian karena kami hanyalah saudara tiri.”
Xiumin melirik arlojinya. Sudah jam 6 petang. “Ada waktu kurang dari satu jam untuk mencegahnya pergi. Pergilah bersama Krystal karena dia juga ingin mencegah kepergian Leo. Aku dan yang lainnya akan menjaga Jiyeon di sini.”

Tanpa menunggu perintah lagi, Luhan dan Krystal meluncur menuju bandara.

Leo baru saja tiba di bandara. Dia memandang luasnya bandara Incheon yang tak pernah sepi dari kesibukan manusia. Namja itu berjalan pelan dengan menyeret koper besarnya dan memegang paspor dan berkas lain di tangannya. Ia berjalan menuju pemeriksaan barang, tempat pengecekan paspor dan sebagainya. Setelah serangkaian ritual itu selesai dilakukan, ia menunggu pesawat di ruang tunggu. Kali ini ia benar-benar bertekad untuk meninggalkan Korea.

Luhan dan Krystal yang sudagmh sampai di bandara segera berpencar untuk mencari Leo. Waktu semakin menipis. Mereka harus cepat-cepat menemukan Leo.
Luhan dan Krystal berlari dan menoleh kanan-kiri, hingga beberapa kali salah mengenali orang. Keduanya panik.
Tiba-tiba Krystal melihat sosok Leo di ruang tunggu. Ia menghampirinya dengan harapan tidak salah mengenali orang lagi.
“Oppa…” panggil Krystal lirih dengan menyentuhkan tangannya di bahu namja yang duduk di depannya. Namja itu menoleh. Ternyata benar, Leo. “Leo oppa?” Krystal meneteskan airmatanya. Dia senang sekali bisa menemukan Leo.
“Oppa, ttonajima! Jangan tinggalkan kami, oppa. Gurae, akan aku katakan semuanya. Mian, mianhae. Aku telah menyia-nyiakan cintamu. Aku telah membuat dirimu sedih, oppa. Tapi kalibini, aku tidak akan membiarkanmu sedih. Kau harus tetap di sini. Aku… akan menerimamu, oppa. Aku berjanji akan mencintaimu seperti kau mencintaiku. Aku akan menjadi yeoja yang baik untukmu karena mulai sekarang, tanpa kau meminta padaku, aku akan menerimamu, oppa.” Krystal terisak dalam tangisnya. Leo juga tak dapat menahan airmatanya.

“Hyung, rupanya kau di sini.” Luhan mendekati hyungnya. “Kau tahu? Betapa sulitnya kami menemukanmu. Ternyata kau malah duduk manis di sini. Apa kau taju perasaan kami yang berkecamuk? Panik, takut dan semuanya campur jadi satu. Apa kau… ingin meninggalkan dongsaengmu?”
Leo semakin deras mengeluarkan airmata. Dia sama sekali tidak mengira kalau Luhan dan Krystal akan datang menemuinya.
“Luhan-a…”
“Beginikah caramu minta maaf padaku? Beginikah caramu kembali padaku? Apa kau ingin menelantarkan dongsaengmu, hyung? Kenapa kau tega sekali?” Wajah Luhan sudah basah terkena airmatanya sendiri.
Leo memeluk Luhan erat-erat. “Mianhae, jongmal mianhae, Luhan-a.”
Setelah itu, Leo juga memeluk Krystal dan menerima Krystal sebagai yeojachingu-nya. Akhirnya ketiganya kembali ke rumah sakit dimana Jiyeon telah sadarkan diri.

Di rumah sakit, Jiyeon yag sudah sadarkan diri terus saja mencari Luhan. Xiumin dan Jieun sudah membujuknya untuk istirahat karena Luhan tidak akan lama lagi sampai di rumah sakit. Jiyeon tidak percaya.
“Aku tidak ingin kehilangan Luhan oppa. Dimana dia?” Jiyeon memberontak ingin turun dari ranjang meski tubuhnya masih sangat lemah.

Tap tap tap!
Suara langkah kaki tiga orang yang sangat dinanti-nanti terdengar semakin jelas.
“Jiyeon-a!” seru Luhan yang ternyata sudah beridiri di depan pintu. Di belakangnya ada Krystal yang ingin minta maaf pada Jiyeon.
“Oppa!” seru Jiyeon senang.
Krystal berjalan pelan mendekati Jiyeon. “Jiyeon-ssi, dengan segenap ketulusan hati, aku meminta maaf padamu atas semua yang kulakukan padamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal, sangat menyesal.”
“K, Krystal-ssi? Aku juga minta maaf padamu. Mungkin aku juga telah menyakitimu. Kita saling memaafkan.”
“Gomawo, Jiyeon-ssi.” Krystal menggandeng tangan Xiumin dan keluar ruangan.
Di luar ruangan, Siwan, Jieun dan Leo duduk manis menatap lantai di bawah mereka.
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau Jiyeon sudah menikah. Baru kali ini aku jatuh cinta, tetapi orang yang kucintai ternyata sudah menjadi milik orang lain.”
“Yaak, Im Siwan. Meski kau harus patah hati, bukan berarti hidupmu juga berhenti. Kau harus tetap semangat.” Jieun tersenyum pada Siwan.
“Apa aku harus memintamu untuk jadi yeojachinguku?”
“Yaak, apa kau ingin menjadikanku pelarianmu? Shireo!”
“Siapa juga yang mau denganmu. Aku akan menata hatiku seperti semula agar suatu saat aku bisa mencintai seorang yeoja dengan sangat tulus.” Siwan mengembangkan senyumnya.
“Anak baik.” Jieun mengacak rambut Siwan sambil tertawa.

Di dalam ruang perawatan, Luhan telah kembali ke posisinya di samping Jiyeon dengan menggenggam erat tangan istrinya itu.
“Jiyeon-a, mianhae. Aku telah berbuat kasar padamu.”
“Oppa, nado mianhae. Aku telah menyebabkan hidupmu menjadi susah dan menjadi beban pikiranmu.”
“Park Jiyeon, tak ada yang ingin aku ucapkan lagi selain saranghaeyo.”
Jiyeon tertegun. Ia sama sekali tak mengira kalau Luhan juga mencintainya.
“Tak peduli apapun yang akan terjadi dan yang telah terjadi, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku tak bisa hidup tanpamu, Jiyeon-a.”
Jiyeon menitikkan airmata. “Nado saranghae oppa. Aku ingin mengatakan hal ini sejak lama tetapi aku belum yakin. Kali ini alu benar-bemar yakin dengam perasaanku. Hanya oppa yang ada di dalam hatiku. Hanya oppa yang selalu menjadi suamiku.”
Luhan merunduk, mendekatkan wajahmya ke wajah Jiyeon. Hembusan nafas keduanya terasa karena jarak antara mereka berdua hanya satu senti.
“Saranghaeyo, chagi…” bisik Luhan lalu mencium mesra bibir Jiyeon.
Jiyeon membalas ciuman Luhan. Bibir mereka saling bertautan. Luhan melumat bibir mungil milik Jiyeon. Begitu pula sebaliknya, Jiyeon tak henti-hentinya melumat bibir Luhan mesra. Mereka larut dalam Kiss Scene yang mereka ciptakan sendiri.

Setelah mengalami banyak peristiwa yang menguji hati mereka, akhirnya Luhan dan Jiyeon dapat hidup normal layaknya pasangan suami-istri. Kehidupan yang mereka jalani penuh kebahagiaan karena keduanya dapat saling memahami dan mencintai selamanya.

FINAL

Haaai… annyeong haloha semuanyaa…
Makasiiii bingit untuk yang udah baca FF ini sampe ada kata ‘FINAL’. Aku senang akhirnya aku bikin happy ending lagi.
Say goodbye all…
Thankyou so much. Saranghanda….
Hihihi…

Advertisements

2 thoughts on “My Heart [Chapter 10 Final]

  1. daebakk mian thor aku koment d part akhir aja ..
    keasikan aku baca nya penasaran terus , jiyeon yg sok kuat padahal lg sedih ..
    pernikahan nya yg mendadak krna eomma luhan ini bner2 dihormati bgt mreka berdua kerenn deh .
    suka bgt ma karakter jiyeon hehe dr awal kelakuan nya bikin takjub aja
    wktu mreka lg galau semua yg pling prihatin ya jiyeon galau nya smbil kelaparan dan luka begitu duh kasiann bgt
    thanks ya thor ff nya kerennn

    Like

  2. jeongmal mianhae yaa,, aku komennya loncat lgsung ke part end, soalnya keasikan baca jadi lupa deh mau komen ._.

    tapi overall aku suka banget sma ini ff, daebak pokoknya,, akhirnya jiyeon sama luhan bisa ngungkapin perasaan mereka dan bisa bersatu lagi,,yeyyy
    lucu deh liat siwan sama jieun mereka cocok..kekeke

    Like

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s