Vampires Love [Chapter 1]

VAMPIRES LOVE 1

Cast:

Kim Jongin | Park Jiyeon | Bae Suzy

Other Cast:

Byun Baekhyun | Oh Sehun | Jung Krystal

Genre:

Fantasy | Angst | Romance | School life | Supernatural

Length :

Multichapter

Rating: PG – 13

Mian typos bertebaran di mana-mana

Hari ini suasana Yeonhwa Senior High School terlihat ramai seperti biasanya. Di lapangan terlihat banyak siswa yang sedang berolahraga, bersih-bersih karena mendapat hukuman, dan beberapa karyawan sekolah yang tengah menjalankan aktivitasnya. Masuk ke dalam kelas 2-2 yang terletak di lantai kedua, ruangan ketiga di sebelah kanan tangga. Kelas yang terkenal gaduh namun siswanya juga terkenal unggulan di sekolah.

“Yaak, Jiyeon-ah, apa perutmu tidak lapar?” tanya Jieun pada yeoja yang duduk tepat di belakang bangkunya. Yeoja itu memandang datar padanya. Tanpa ekspresi. Namun Jieun sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.

“Anhiyo,” jawab yeoja itu singkat.

“Yaak, selalu sesingkat itu. Apa kau tidak punya stok kalimat untuk berbasa-basi, eoh?” Jieun mulai kesal pada Jiyeon, si yeoja muka dingin. “Kajja, kau harus ikut denganku.” Jieun menarik lengan Jiyeon. Yeoja itu hanya menatap aneh pada chingu-nya yang tanpa ijin menarik lengannya.

“Tapi ini sudah masuk jam pelajaran,” kata Jiyeon singkat.

“Ommo, neo jongmal michyeoseo,” kata Jieun dengan kesal ia kembali duduk di bangkunya.

Saat pelajaran.

“Park Jiyeon, tuliskan jawabanmu di papan tulis,” perintah Hwang saem pada Jiyeon yang terdiam di bangkunya. Seperti biasa, Jiyeon menuliskan jawabannya sesuai dengan yang tertulis di dalam buku catatannya.

Ketika Jiyeon sedang menuliskan jawaban di papan tulis, terdengar pintu kelas diketuk beberapa kali. Tanpa ada jawaban dari dalam kelas, pintu itu langsung dibuka. Rupanya wakil kepala sekolah sedang berdiri di depan pintu bersama seorang namja berwajah dingin seperti Jiyeon. Semua orang yang berada di dalam kelas sontak melihat siapa yang dating, termasuk Jiyeon dan Hwang saem. Jiyeon menatap namja yang dating bersama wakil kepala sekolah dengan sedikit ekspresi terkejut.

Jiyeon pov

Ketika aku sedang menuliskan jawabanku di papan tulis, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Sontak aku menghentikan aktifitasku kemudian pintu terbuka, muncullah wakil kepala sekolah bersama seorang namja tampan dan berwajah dingin, mungkin sama denganku. Tatapan mata namja itu tajam sekali. Tapi tunggu… aku mencium sesuatu yang aneh pada namja itu. Ya, semua inderaku memang sangat tajam. Itu karena aku seorang vampire. Aku mencium darah vampire dari namja yang kini berdiri di sampingku. Aku yakin dia memang seorang vampire sama denganku. Tapi…

“Jiyeon-ah, kembalilah ke bangkumu!” perintah Hwang saem.

“Ah, ne saem.” Aku kembali ke bangkuku. Sebelum melangkahkan kaki, ku lihat dari sudut mataku si namja dingin itu menatap tajam ke arahku.

Hari-hariku di sekolah rasanya semakin aneh sejak kedatangan namja bernama Kim Jongin. Aku belum pernah melihatnya menunjukkan taring vampirenya. Tapi aku sangat yakin dia adalah vampire. Oh God, akan ada kejadian apa lagi ini? Aku berjalan sambil berpikir apa yang akan terjadi dengan datangnya Jongin di sekitarku. Tak terasa kaki ini telah sampai di tempat pembuangan sampah di belakang sekolah. Aku harus membersihkan halaman sebagai hukuman karena tadi pagi datang telat ke sekolah. Sebagai siswa yang baik, aku harus menaati peraturan sekolah. Udara di belakang sekolah terasa segar. Ku pejamkan mata, menghirup udara segar sebelum kembali ke gedung yang berdiri di belakangku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Kubuka mataku. Kim Jongin. Ia berdiri tepat di depanku, bersandar pada pohon dengan tatapan yang sama tajam dengan tatapan pertamanya padaku. Aku tak ingin rebut dengannya, tanpa berkata apa-apa langsung saja ku balikkan badan ini hendak kembali ke gedung sekolah. Namun tiba-tiba namja itu memanggilku.

“Park Jiyeon,” panggilnya singkat.

Baru kali ini dia memanggilku setelah seminggu lamanya ia duduk di belakang bangkuku. Aku tetap diam tak berkata dan juga tak bergerak.

“Kau tidak mengenaliku?” tanyanya lagi.

Mwo? Mengenalinya? tanyaku dalam hati. Aku berbalik lagi untuk berhadapan langsung dengannya.

“Nugu?” tanyaku.

“Kau tak mengenaliku? Atau kau pura-pura tak mengenaliku?”

Aku semakin bingung dibuatnya. Namja ini benar-benar menyebalkan.

“Mian, aku tak pernah mengenalmu.” Kataku sambil membalikkan badan. Tiba-tiba suara letusan terdengar memekakkan telingaku. Tanpa kusadari ternyata aku sudah berada dalam pelukan Kim Jongin.

“Wae gurae?” tanyaku padanya. Ku lihat ekspresinya begitu menakutkan. Matanya berubah merah. “Kim Jongin-ssi…” aku, aku mencium keberadaan manusia. Ku lepas pelukan Jongin yang tak sengaja tadi. Aku mengikuti arah pandangnya. Seorang yeoja berdiri di balik pohon, mamakai seragam seperti yang ku pakai. Tapi di tangannya ia memegang sebuah pistol kuno berukuran kecil. Ommo… aku menyadari sesuatu.

Jiyeon pov end.

Jongin pov.

Doooorr… suara letusan memekakkan telingaku begitu juga Jiyeon, langsung kusambar tubuh yeoja itu agar tak terkena peluru si pemburu vampire. Sepertinya Jiyeon masih bingung dengan apa yang kulakukan padanya. Tatapanku terpaku pada seorang yeoja yang berdiri di balik pohon. Suzy, Bae Suzy, sang pemburu vampire.

“Annyeong si tampan Jongin dan si cantik Jiyeon,” sapa Suzy dengan nada sinis.

“Neo…” tak kulanjutkan kata-kataku. Kulirik Park Jiyeon, ia terlihat tenang, muungkinkah ia tidak tahu bahwa yeoja yang berdiri di hadapannya itu seorang pemburu vampire yang bisa saja membunuhnya.

“Annyeong si licik Suzy,” balas Jiyeon pada Suzy. Ternyata yeoja vampire ini juga mengenal Suzy.

“Park Jiyeon, yeodongsaeng dari Park Chanyeol. Aku tau kekuatanmu begitu kuat, tapi tidak bias dipungkiri bahwa inderamu tak setajam Jongin.” Suzy berjalan pelan mendekati kami berdua.

“Suzy, apa yang kau lakukan di sini, eoh?” tanya Jiyeon dengan suara lantang. Ia terlihat mulai geram pada Suzy.

“Yaak, Suzy-ssi, apa kau ingin kita melawanmu di sini? Di lingkungan yang banyak manusia?” tanyaku sinis.

“Jongin-ah, kau benar-benar tampan. Tapi dugaanmu selalu meleset. Untuk apa kalian melawanku? Kalian menyerah saja padaku. Dimanapun kalian berada, aku juga akan selalu di samping vampire sialan seperti kalian.” Suzy mempercepat langkahnya untuk segera membunuh kami berdua. Tiba-tiba Jiyeon menggumamkan sesuatu.

“Krystal…” ucapnya lirih. Tak lama kemudian ku lihat seorang yeoja sedang berlari ke arah kami.

“Jiyeon eonni…”

Sejurus kemudian Suzy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Krystal. “Hmm manusia. Menarik.”

Jiyeon mencoba tersenyum sealami mungkin pada Krystal yang semakin dekat.

“Yaak, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Krystal pada yeoja bernama Jiyeon. “Eoh, Jongin-ssi, kau juga di sini? Lalu siapa dia?” pandangannya ke arah Suzy.

“Dia Bae Suzy,” ucapku.

Jongin pov end.

Jiyeon melirik ke arah  Suzy dengan lirikan evil-nya. “Kajja kita kembalikan alat kebersihan ini, Krustal-ah. Jiyeon menggandeng lengan Krystal dan mengajaknya mengembalikan alat kebersihan yang mereka gunakan untuk membersihkan lapangan tadi.

………

Seorang namja sedang melatih emosinya di depan cermin. Ia melihat ekspresinya sendiri di pantulan cermin itu. Yak, Baekhyun-ah, kau harus bisa. Tidak lucu kan kalau vampire kuat sepertiku tidak bisa mengontrol emosi, katanya dalam hati. Senyumnya mengembang saat ia sudah sedikit berhasil menjalankan latihannya.

“Yaak, Baekhyun hyung, apa Jiyeon noona belum pulang?” terdengar suara namja dari dalam kamar.

“Mollaseoyo…” jawab Baekhyun.

“Hyung, kemarin sore secara tak sengaja aku melihat Bae Suzy dan Dong Woo di depan stasiun.” Namja bernama Oh Sehun datang mendekati Baekhyun yang masih berdiri di depan cermin kesayangannya.

“Mwo? Ah, yang benar saja. Ku dengar dari Kris hyung kalau mereka sudah tewas di tangan Tao.” Baekhyun mencari tempat duduk.

“Hyung, aku tidak mungkin salah lihat. Aku khawatir jika pemburu vampire itu menyakiti bangsa kita lagi,” cemas Sehun.

“Pabo! Mereka bukannya menyakiti, tapi membunuh bangsa kita. Arra?”

Sehun hanya tersenyum malu karena ia salah ngomong untuk yang kesekian kalinya. “Hyung, kenapa sulit sekali membunuh para pemburu itu? Rasanya hidupku tidak akan tenang jika para pemburu masih hidup dan berkeliaran di luar sana. Jika tiba-tiba ada yang menyerangku bagaimana…” lanjutnya.

“Siapa yang akan menyerangmu?” tanya Jiyeon yang tiba-tiba sudah duduk di samping Sehun dengan ekspresi datar.

“Omona! Yak, noona, bisakah kau tidak mengagetkan orang lain? Setiap kali kau muncul selalu tiba-tiba.” Sehun kesal pada Jiyeon yang seenaknya saja duduk di sampingnya.

“Wae?” tanya Jiyeon dingin.

“Aigoo noona, kau ini memang vampire sejati. Lihat ekspresimu. Jika aku tidak mengenalmu, pasti mudah ditebak bahwa kau ini vampire. Aigoo, ekspresi itu. Jangankan manusia, aku saja takut melihatmu seperti itu.” Sehun berdiri di samping Jiyeon dengan menggerakkan kedua tangannya untuk mengekspresikan kekesalannya pada Jiyeon.

Sekelompok vampire yang sedang bersantai di basement mereka tiba-tiba dihampiri oleh sesosok manusia. Ya, dia Krystal. Yeoja yang tadi siang membersihkan lapangan bersama Jiyeon.

“Eonni,” panggil Krystal pada Jiyeon yang sedang memandangi ponselnya.

“Neo… wae gurae? Tidak seharusnya kau datang kemari apalagi ini sudah malam. Pulanglah!” Jiyeon cuek pada tamunya yang jauh-jauh datang ke tempatnya.

“Yaak, Jiyeon-ah, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada tamu kita.” Baekhyun turun dari jendela, setelah beberapa menit dia bersantai duduk di jendela ruangan itu. “Siapa namamu?” tanyanya pada Krystal yang berdiri di depan Sehun.

“Annyeong, Jung Krystal imnida.” Senyum Krystal menghiasi perkenalannya.

Baekhyun tersenyum. “Joneun Byun Baekhyun imnida, sedangkan yang di belakangmu itu Oh Sehun. Dia yang paling muda diantara kami bertiga. Kau pasti lelah, masuk dan duduklah.”

“Oppa…” terdengar suara Jiyeon yang ingin mencegah Baekhyun mempersilahkan tamunya masuk. Namun Baekhyun tak mengindahkannya.

Krystal pov

Namja imut yang baru saja turun dari jendela itu terlihat baik hati dan ramah. Aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan yang bergaya Eropa klasik. Dari luar, rumah ini tidak sebagus ini. Benar-benar luar biasa. Ternyata Jiyeon eonni merupakan orang kaya.

“Ada apa?” terdengar suara Jiyeon eonni menggema di seluruh ruangan ini. Akupun sontak melihat ke arahnya. Dia benar-benar cantik, meskipun wajahnya sedingin itu, dia benar-benar cantik alami bahkan tanpa make up.

“Aku datang ke sini karena ingin menyampaikan pesan dari Bae Suzy, eonni.” Kusampaikan maksud kedatanganku pada Jiyeon eonni. Ketiga orang berkulit pucat itu sontak terkejut ketika aku menyebut nama Bae Suzy. Ada apa sebenarnya dengan nama yeoja itu? tanyaku dalam hati. Ekspresi Jiyeon eonni berubah drastis. Ia mengerutkan kedua alisnya. Ada apa ini?

Semakin lama aku semakin merinding di sini. Kulihat kedua namja tampan itu juga terlihat cemas dan memikirkan sesuatu. Pasti ada yang mereka sembunyikan. “Waeyo?” tanyaku pada mereka bertiga.

“A, aniyo, Krystal-ssi. Tak ada apa-apa. Pesan apa yang ingin kau sampaikan?” tanya namja bernama Baekhyun itu. ia berusaha menghilangkan ekspresi kekhawatirannya.

“Suzy-ssi memintaku untuk menyampaikannya langsung. Jadi, tadi siang aku mencari tahu alamat rumahmu, eonni…” aku memutuskan kalimat yang aku ucapkan. “Dia mengatakan bahwa…” kata-kataku terputus begitu saja. Aku merasa semakin merinding. Apa yang terjadi?

“Dia mengatakan bahwa salah satu teman kalian sudah mati di tangannya.” Aku begitu takut mengatakannya.
Krystal pov end

“Mwo?” Baekhyun tak percaya.
“Nugu?” tanya Sehun yang langsung mengepalkan tangannya.
Jiyeon terlihat sedang menerawang sesuatu. Ya, vampir cantik ini memang memiliki kemampuan menerawang apa yang telah terjadi,sedang terjadi dan yang akan terjadi pada seseorang. Mendadak Jiyeon mengalami sesak nafas. Baekhyun mulai khawatir.
“Noona jangan kau paksakan…” Sehun mencoba menenangkan Jiyeon.
Tiba-tiba Jiyeon menngeluarkan airmata. Airmata itu semakin deras mengalir membasahi wajah cantiknya.
“Jiyeon-ah, wae gurae?” tanya Baekhyun khawatir.
“Nuguya noona? Wae?” tanya Sehun.
Jiyeon berusaha mengatur nafasnya yang tersengal karena menangis terlalu dalam. “Kris oppa…” lirihnya. “Dia tewas di tangan Suzy,” lanjutnya.
Seketika itu mata Sehun dan Baekhyun berubah warna menjadi merah. Keduanya mengepalkan tangan ingin mengamuk di tempat itu namun mereka masih menyadari bahwa di sana ada Krystal. Akhirnya kedua namja itu pergi entah kemana. Sedangkan Jiyeon terduduk lemas.
Kris yang notabennya adalah namja yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri kini telah terbunuh di tangan Suzy, yeoja pemburu vampir yang sangat kejam.
“Apa salah oppaku? Apa yang dia lakukan…” Jiyeon menangis semakin dalam. Matanya kini juga berubah menjadi merah. Dari raut wajahnya, dia terlihat siap mencengkeram mangsanya. “Pulanglah, Krystal. Kau sudah tau semuanya… Pulang dan istirahatlah. Aku akan mengantarmu..” Jiyeon menatap Krystal yang berdiri ketakutan. Krystal hanya mengangguk. Ia ikut sedih melihat Jiyeon yang sedang berduka.

Di depan rumah Krystal.
“Eonni, gomawoyo,” ucap Krystal.
Jiyeon tak menanggapinya. Saat ini pikirannya melayang entah kemana.
“Kau harus sabar, eonni. Kau juga harus kuat. Agar yeoja itu bisa kau kalahkan. Jika kau butuh bantuan, aku siap membantumu eonni…”
Jiyeon merasa sedikit lega karena Krystal tak seperti manusia pada umumnya yang takut dengan kehadiran mereka sebagai vampir. Padahal mereka tak semuanya jahat.
“Aku yakin bahwa vampir pasti seperti manusia. Kau dan bangsamu pasti ada yang baik dan yang jahat. Aku tidak takut padamu eonni. Karena kau adalah vampir yang baik. Aku masuk dulu, jagalah dirimu baik-baik Jiyeon eonni. Annyeong…” Krystal melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Jiyeon hanya menatapnya datar.

Jam 1 malam.
Jalanan tampak sunyi. Hanya manusia yang mempunyai aktifitas di malam hari yang masih berkeliaran di sana sini. Baekhyun, vampir imut yang biasanya terlihat bijak, kini malah terlihat ganas dan mengerikan. Ia masih memikirkan cara untuk melenyapkan Suzy. Sedangkan Sehun hanya menatap kosong pada ranting-ranting di hadapannya yang bergerak pelan ditiup angin malam.
“Kita harus bisa membunuh pemburu itu.” Mata merah Baekhyun belum kembali normal.
“Benar, hyung. Kita harus mencari cara balas dendam pada mereka. Merekalah yang membunuh saudara-saudara kita. Para pemburu tidak pandang bulu, entah vampir yang baik atau yang jahat tetap mereka binasakan. Kasihan Kris hyung.”
“Kalian jangan gegabah.” Terdengar suara yeoja yang tidak asing di indera pendengaran kedua namja itu.
“Ne, noona. Karena itu kita harus segera menyusun strategi melawan mereka.”
“Aku akan mencari tahu tentang mereka. Agar kita lebih mudah menyusun siasat karena kita akan tahu seluk beluk tentang mereka. Sehun-ah, kau adalah yang termuda diantara kita sekeluarga. Maka dari itu berhati-hatilah.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jiyeon menghilang seketika.
“Jiyeon benar. Kau jangan jauh-jauh dariku, Sehun-a.”

Sehun tampak ceria sekali. Ia seperti baru dilahirkan tapi kekuatannya sepertinya meningkat. Jiyeon mencium bau sesuatu di rumahnya. Darah. Ya, itulah yang membuat Jiyeon merasa aneh. Darah manusia. Tapi siapa yang telah menghisap darah manusia? Tiba-tiba muncul Sehun yang sudah memakai seragam.
“Kau, apa yang kau lakukan?  Siapa yang kau bunuh?” Jiyeon menginterogasi Sehun yang.ketahuan telah menghisap darah manusia.
“Noona, kenapa nada bertanyamu seperti itu? Aku tidak membunuh. Aku membeli darah di rumah sakit. Mana mungkin aku membunuh manusia. Dulu kan aku juga manusia. Jadi mana tega aku membunuh sesama manusia?”
“Lalu kenapa kau menghisap darah manusia?” tanya Jiyeon lagi.
“Ini juga demi jaga-jaga, noona. Aku menghisap darah untuk menambah kekuatanku. Kalau ada serangan para pemburu itu secara mendadak, aku tidak akan gelagapan.”
Jiyeon manggut-manggut.membenarkan tindakan Sehun yang tidak merugikan siapapun. “Yaak, Sehun-a, ingatlah. Meski kita bangsa vampir, tapi kita masih punya sisi kemanusiaan. Jangan sampai merugikan siapapun. Neo arra?”
“Arraseo arraseo…”
“Sehun-a, besok aku akan memulai rencana kita. Setelah kematian Kris oppa, hatiku jadi tidak tenang. Ditambah lagi adanya namja bernama Kim Jongin. Kau, apa kau pernah mendengar nama Kim Jongin?”
Sehun memutar otaknya mengingat nama yang ditanyakan Jiyeon. Jongin?
“Ah, sepertinya aku pernah mendengar namanya. Tapi tunggu dulu. Biarkan otakku memutar memori sejenak.”
Gloddak!!
Jiyeon heran pada Sehun. Namja penurut ini selalu bersikap ‘lebay’.
“Ahaa, aku ingat, noona.”
“Mwo? Mwoya?” tanya Jiyeon serius.
“Setahuku Kim Jongin dulunya.manusia. Appanya adalah salah satu.pelayan di rumah appamu dulu. Setelah beberapa tahun bekerja di rumahmu dan juga tuan Kim telah sering menyaksikan appamu minum darah, maka appamu menjadikannya seorang vampir. Kala itu tuan Kim masih muda. Mungkin seumuran Jongin yang sekarang. Lalu tuan Kim menikah dengan gadis biasa. Bukan seorang vampir. Akhirnya lahirlah Kim Jongin yang ternyata mewarisi darah ayahnya, seorang vampir.”
“Kau tahu darimana?”
“Dari… Dari siapa ya? Ah, aku lupa noona. Hanya itu yang aku ingat.”
Sehun benar-benar payah. Sikapnya yang masih kekanakan ini kadang menyebalkan tapi berhasil menghibur Jiyeon. Ia sudah menganggap Sehun seperti adiknya sendiri. Sehun pun begitu. Ia sangat ingin mempunyai seorang noona. Tapi yang dia punya hanya hyung yang sudah meninggal. Jiyeon akan mempertaruhkan nyawanya untuk.melindungi orang-orang terdekatnya apalagi Sehun dan Baekhyun. Sebagai vampir original, Jiyeon tidak ingin asal usulnya ini malah membuatnya sombong. Vampir original memang tidak mudah dibunuh, mereka juga memiliki banyak kelebihan dibanding vampir biasa. Dan sebagai salah satu vampir original, Jiyeon akan melakukan hal-hal yang baik untuk siapapun.

Bel masuk telah berbunyi. Jiyeon memasuki kelasnya dengan santai tanpa beban. Wajah pucatnya selalu menjadi bahan pembicaraan teman-teman sekelasnya. Setidaknya bukan hanya Jiyeon yang mengalami itu. Myongsoo dan beberapa vampir di kelas lain juga mengalami hal yang sama.
Saat istirahat tiba, Jiyeon lebih memilih mengasingkan diri di atap sekolah. Yeoja itu tak mau repot-repot berkumpul dengan yang lainnya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Matanya terpejam, merasakan semilirnya angin yang menerpa wajah cantiknya. Meski matanya terpejam, kedua telinga Jiyeon sangat peka terhadap suara apapun, indera penciumannya juga begitu. Tiba-tiba dia membuka matanya. Indera penciuman dan pendengarannya menangkap seseorang yang sedang berjalan menuju atap, lebih tepatnya menuju tempatnya saat ini. Meski sudah mengetahui siapa yang akan datang, Jiyeon berpura -pura menutup mata.
Kim Jongin, batinnya.

Jongin pov
Aku mencium bau vampir dari atap sekolah. Karena penasaran, akhirnya aku putuskan untuk ke sana. Hmm bau ini semakin kuat. Siapa geranganyang tengah brrada di sana. Begitu pintu aku buka, seorang yeoja sedang menutup mata. Wajahnya yang diterpa angin dan rambutnya yang melambai-lambai membuatnya terlihat cantik meski dengan wajah pucat itu. Park Jiyeon, sedang apa dia di sini. Aku masih berdiri di depan pintu. Ku alihkan pandanganku ke sekeliling. Sunyi. Yeoja ini ternyata pandai memilih tempat yang cocok untuk beristirahat.
“Kenapa kau ada di sini?” tanyaku pada yeoja yang sedang duduk bersandar dengan mata tertutup.
“Apa urusanmu?” tanyanya balik dengan mata yang masih terpejam.
“Aku mencium ada bau vampir di sini. Makanya aku datang untuk memastikan.”
Aku mencium bau vampir yang berbeda dari Jiyeon. Ini pasti vampir lain. Kulihat Jiyeon membuka matanya.
“Apa kau juga mencium bau ini?” tanyaku padanya yang kini sudah berdiri dan bersiap untuk melihat keadaan sekitar.
“Eoh. Ada sesuatu yang buruk akan terjadi.” Ia memejamkan matanya. Entah untuk apa yeoja itu melakukannya. Mungkin untuk merasakan hawa dingin yang tidak baik.
“Angin berhembus berlainan arah dengan yang tadi. Dilihat dari tanda-tanda alam, seharusnya angin tidak berubah arah hembusannya,” jelas Jiyeon yang masih belum aku mengerti.
Jongin pov end

Tiba-tiba muncul seorang namja berperawakan kurus dan kulit putih yang sangat pucat. Namja itu, siapa lagi kalau bukan Sehun. Adik kesayangan Jiyeon.
“Noona, cepat tutup pintu itu.” Sehun yang baru saja datang, tiba-tiba meminta Jiyeon menutup pintu yang ada di belakangnya.
“W, waeyo?”
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah tangga.
“Cepatlah naik!” suara yeoja yang terdengar sangat jelas di telinga para vampir itu.
Sesaat kemudian muncul seorang yeoja dalam keadaan ketakuta. Jiyeon membelalakkan matanya, melihat siapa yang datang dari pintu.
“Krystal…” panggil Sehun yabg terkejut melihat Krystal ada di sana.
Tak berapa lama, sosok yeoja muncul lagi dari pintu. Yeoja yang sangat dingin dan kejam. Bahkan melebihi para vampir.
“Suzy..” gumam Jiyeon lirih.
Semua yang ada di atap terkejut melihat Krystal datang bersama Suzy.
“Eonni… Pergilah dari sini,” pinta Krystal dengan takut.
“Eonni? Ooh ternyata kalian sudah memiliki hubungan yang dekat.” Suzy mengikat kedua tangan Krystal.
“Apa yang kau lakukan padanya?” Sehun mendekati Krystal.
Melihat Sehun yang agresif, Suzy segera menempelkan sebilah pisau di leher Krystal. “Jika kalian berani maju satu langkah pun, akan aku bunuh yeoja ini.”

Jiyeon, Jongin, dan Sehun mengepalkan tangannya. Sudah tidak sabar untuk segera menghabisi yeoja licik itu.
“Suzy-a, lepaskan dia! Kubilang lepaskan dia!” teriak Sehun.
“Sehun-a, jongmal mianhae. Aku tak tahu kalau kau akan seperti mereka. Para pemangsa manusia. Aku terpaksa harus membunuhmu.” Suzy berkata dengan nada sengit.
“Kau yang pemangsa. Mana Suzy yang dulu ceria, baik hati dan penyayang, eoh? Kau benar-benar bukan Suzy yang dulu.”
Jiyeon dan Jongin tercengang mendengar kata-kata Sehun. Ternyata dulu Suzy dan Sehun adalah teman masa kecil.
“Suzy-a, yeoja itu tidak bersalah dan tak tahu apa-apa. Lepaskan dia!” perintah Jongin dengan halus.
“Mwo? Melepaskan dia? Memangnya siapa kau berani memerintahku seperti itu?” Suzy semakin beringas.
“Yaak, Bae Suzy, sebenarnya apa maumu?” tanya Jiyeon yang masih bisa menahan kesabarannya.
“Kalian pasti tahu apa keinginanku.”
“Jika kau ingin membunuh kami, jangan libatkan manusia yang tak bersalah!” bentak Sehun. Taringnya sudah keluar dan matanya tak lagi kuning, tapi agak kemerahan. Tanda bahwa dia sudah sangat siap untuk berperang.
“Tahan dulu, Sehun-a.” Jiyeon berusaha menenangkan Sehun yang emosinya masih labil.
“Noona, aku tidak sabar untuk menghisap darahnya.”
“Tahan dulu, Sehun-a…”
“Noona, Baekhyun hyung kemarin bilag padaku bahwa Suzy hanya bisa mati jika darahnya dihisap oleh vampir original.”
“Mwo?” Jiyeon terkejut mendengar pengakuan Sehun.

“Suzy-a, lepaskan yeoja itu dan bunuhlah kami jika itu yang kau inginkan,” pinta Jongin.
“Kau lagi. Jongin, kau namja tampan tapi nasibmu sangat buruk.”
“Sangat buruk? Suzy-a, apa kau tidak mengenaliku?” tanya Jongin. “Apa kau benar-benar sudah lupa padaku?”
Suzy bingung. Ia terlihat sedang mengingat sesuatu. Tiba-tiba ia menggeleng dan mundur satu langkah.
“Kau bukan dia. Kau hanya kakaknya. Kau bukan dia, Kim Jongin!” teriak Suzy. “Dia sudah mati. Appaku yang membunuhnya.”
Deg.
Jongin kaget mendengar pengakuan Suzy.

TBC

 

Advertisements

One thought on “Vampires Love [Chapter 1]

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s