Loving You [Chapter – 2]

loving u new

Rekap from INDO FF

Title: Loving You

Previous Chapter: [1]

Poster & Story are mine

Main Cast:

Park Jiyeon | Wu Yi Fan a.k.a Kris | Im Yoona | Lay

Other Cast:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Ryu Hyoyoung ‘5Dolls’| Lee Junho ‘2PM’

Genre:

A little marriage life | Romance | Hurt/Comfort | AU | Angst

Length:

Multichapter

Rating:

PG – 13

Chapter 2

Tuan Park mengamati Jiyeon yang sedang tertidur pulas sekali. Dia tersenyun memandang wajah cantik putri kandungnya itu.
“Kau tampak cantik, Jiyeon-a. Tak terasa, kau telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Semoga eommamu di sana bisa bahagia melihatmu yang tumbuh dengan baik dan mendapat kasih sayang dari semua orang.” Tuan Park mencium kening Jiyeon dan membelai rambut putrinya yang berwarna coklat tua itu.
Sementara itu, Yoona yang ingin mengambil air minum di dapur, mendengar ucapan appanya pada Jiyeon. Yoona mengintip di celah pintu yang tidak ditutup rapat. Dalam hatinya, Yoona ingin sekali diperlakukan begitu. Tapi kemudian ia sadar kalau hal seperti itu tidak mungkin terjadi.
Yoona pov
Appa sudah sangat baik padaku. Kebaikannya melebihi kebaikan appa kandungku dulu. Aku tidak boleh iri pada Jiyeon. Karena sebenarnya Jiyeon lah yang berhak mendapatkan kasih sayang appa seperti itu. Aku sudah mendapatkannya waktu Jiyeon ada di Jerman. Jadi, sekarang ini wajar saja kalau appa sangat merindukan Jiyeon karena bagaimanapun, Jiyeon adalah putri kandung appa.
Aku menuruni anak tangga satu per satu lalu menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah itu aku kembali ke kamarku. Saat melewati kamar Jiyeon, pintunya tertutup. Mungkin appa kembali ke kamarnya dan tidur.
Kedua mataku belum mengantuk. Apakah aku harus begadang lagi? Entah kenapa aku malas sekali ke kamarku. Aku melirik knop pintu kamar Jiyeon lalu membukanya. Tidak dikunci. Aku langsung masuk.
Benar kata appa, Jiyeon tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Aku tersenyum melihat dongsaengku yang lucu itu. Meski aku dan Jiyeon sudah dewasa, aku tetap menganggap Jiyeon sebagai dongsaeng kecilku yang sangat berharga.
Jiyeon tidur sangat pulas meskipun masih ada aroma alkohol di sekitarnya. Aku berbaring di sampingnya untuk menikmati kebersamaan kami. Tetapi, aku masih belum mengantuk. Ya… insomnia lagi dan lagi.
Yoona pov end

Di dalam mobil mewah, Kris tertidur hingga baru bangun di pagi hari. Dia mengingat-ingat kejadian kemarin dan kenapa dia bisa tertidur di dalam mobil.
“Aiissshh…” Kris mengacak rambutnya sendiri lalu tancap gas pulang ke rumahnya.
15 menit kemudian Kris menginjakkan kaki di lantai rumahnya yang terletak di daerah Cheongdamdong. Ia  berjalan melewati ruang makan. Di sana ada appa dan eommanya sedang menikmati sarapan ala orang kaya. Kris hanya melirik mereka, tanpa memberi salam.
“Darimana saja? Semalam tidur dimana? Kenapa baru pulang?” Appanya memberondonginya dengan beberapa pertanyaan.
Kris menghentikan langkahnya. Lalu menjawab “Tadi malam aku tertidur di mobil. Kalau appa tidak percaya, bisa cek CCTV jalan. Pasti ada mobilku di pinggir jalan.”
“Kau parkir sembarangan?”
“Anhi. Aku memarkirnya bukan di sembarang jalan.” Kris mulai menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu.
Kelopak matanya masih terasa berat. Ngantuk menghampiri. Kris menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba kenangan dua tahun yang lalu teringat lagi di memorinya.

Flashback.
Pagi-pagi, Jiyeon sudah bangun untuk menyiapkan keperluan Kris karena hari ini Kris harus berangkat pagi. Ia mengikuti seleksi masuk perusahaan BUMN di Jerman dan hari ini adalah tes wawancara. Jiyeon yang pandai memasak, segera membuatkan bubur kesukaan Kris. Ia sangat lihai dalam urusan dapur. Ya, Jiyeon pernah kursus memasak makanan Eropa selama dua bulan.
Masakan sudah matang. Ia pun membangunkan Kris yang masih tidur mesra di atas ranjangnya, ditemani bantal dan selimut.
“Oppa, ireona. Nanti kau bisa telat.”
Kris tak bergeming bahkan tak bergerak sedikitpun.
“Oppa, sarapanmu sudah siap. Aku buatkan bubur tapi…”
“Aku akan memakannya,” kata Kris yang sudah membuka matanya. Sejurus kemudian dia berdiri dan berjalan menuju ruang makan. Jiyeon dibuat heran olehnya. Ia pun menyusul suaminya ke ruang makan.
Kris menghabiskan hampir seluruh bubur yang dibuat oleh Jiyeon. Jiyeon tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu.
“Waeyo?” Kris sadar kalau dirinya sedang dipandang istrinya. “Hari ini aku akan membantu Lay lembur di restorannya. Jadi nanti siang kita harus makan bersama.” Kris melanjutkan sarapannya.
“Tumben sekali Lay oppa mengambil lembur. Apa karyawannya tidak ada yang membantu?” tanyan Jiyeon yang telah menyilangkan kedua tangannya.
“Entahlah. Mungkin mumpung dia lagi rajin.”
Jiyeon tertawa lepas mendengar kata-kata dari Kris. Sedangkan Kris hanya tersenyum melihat istrinya tertawa di pagi itu.
Flashback end.

Sadar dari lamunannya, Kris segera menutup mata. Cairan bening yang hangat keluar dari kedua ujung matanya. Ia menghembuskan nafas pelan. Diraihnya kalung yang melingkar di leher jenjangnya. Bandul berbentuk setengah hati di kalung itu berhasil menarik perhatiannya.
Kriiiing..
Suara dering telepon membuyarkan lamunannya.
“Yoboseo…”
“Kris hyung, jangan lupa. Hari ini kita ada meeting jam 9.”
Kris langsung merubah posisinya. Ia duduk di pinggir ranjangnya. “Mwo?”
Tit.
“Yaak, Kyungsoo-a!” Kris berteriak memanggil Do Kyungsoo di telepon. Dia kesal pada sekretarisnya itu. Bagaimana mungkin ada sekretaris yang seenaknya saja pada direkturnya. Kris melirik jam dinding di kamarnya. “Omo! Sudah jam 8. Aku harus segera mandi.” Kris berlari ke kamar mandi dengan pakaian yang masih lengkap melekat di tubuhnya. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi untuk melepaskan ikat pinggang dan kemejanya lalu balik ke kamar mandi lagi.

Jiyeon baru selesai sarapan. “Eomma, aku berangkat ne…” Jiyeon pamit pada eommanya dan melakukan rutinitas cium pipi kanan dan kiri eommanya. Dia terbiasa melakukan hal itu karena saat di Jerman, Jiyeon pasti mencium pipi kanan-kiri eomma angkatnya.
Dengan riang, Jiyeon menghampiri mobilnya yang sudah siap di depan rumah. Ia membuka pintu mobilnya lalu masuk ke sisi kiri di belakang kemudi.
“Omo!” Jiyeon menjerit kaget saat ingin mengencangkan sabuk pengamannya.
Yoona tersenyum senang. “Annyeong…” Ia menggerakkan kelima jarinya.
“Eonni, apa yang kau lakukan di sini?”
“Yaak, apa kau tidak mau balas budi, eoh?”
“Balas budi?”
Pletaakk!
“Eonni…” Jiyeon meraba bagian kepalanya yang baru saja dipukul oleh Yoona.
“Semalam kau mabuk. Aku yang membawamu pulang. Sekarang antar aku ke bar yang semalam. Mobilku masih di sana.”
Tanpa babibu, Jiyeon langsung tancap gas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Yoona merem-melek. Ia sudah terbiasa mengemudikan mobil dengan kecepatan seperti itu.
“Yaak, kau belum punya SIM! jangan ngebut!” seru Yoona.
“Kau meremehkanku eonni. Aku malah sudah punya SIM Internasional. Ternyata jalan di Korea sama bagusnya dengan jalan di Jerman. Nan johae… yuhuuuu…” Jiyeon bersorak kegirangan. Yoona malah memejamkan matanya. Ia tidak mau melihat ke depan karena takut kalau mobil itu akan menabrak sesuatu.
Ckiiit!
“Apa kita menabrak sesuatu?” tanya Yoona yang masih menutup kedua matanya.
“Eoh, aku menabrak mobilmu. Eonni, buka matamu. Kita sudah sampai. Bukankah hari ini kau ada meeting? Keluar dari mobilku. Palli palli!”
Yoona keluar dari mobil Jiyeon. Mobil itu segera melesat dengan cepat menjauhi Yoona yang masih berdiri mematung di samping mobilnya.

Jiyeon pov
Aaa… hari ini hari pertamaku bekerja di Diamond Grouo. Aku tidak boleh telat.
Tap! Tap! Tap!
Suara sepatuku beradu dengan lantai kinclong yang aku injak. Terdengar seperti bermain musik. Haha…
Aku mencari ruang kerja karyawan bidang pemasaran. Eodiseo? Ah, mungkin itu ruangannya.
Cekleek…
Aku mengintip dari luar, membuka pintunya sedikit. Kenapa sepi sekali? Tidak ada orang. Ku edarkan pandanganku menangkap pemandangan semampu penglihatanku dalam kegiatan mengintip ini. Omo! Aku melihat seseorang dan langsung menutup pintunya. Karena takut ketahuan, aku berlari dan masuk ke ruang sebelahnya.
Ruang apa atau siapa ini? Aigoo aku nyasar lagi. Aku berbalik dan membuka pintu.
“Nuguya?” Aku mendengar seseorang bertanya padaku. Aah, pasti ketahuan oleh pemilik ruangan ini.
Aku membalikkan badan dan….
Jlegeeerr!!
Namja itu. Namja yang tidak ingin aku temui. Tapi sekarang dia malah berdiri di depanku. Aku ingin pergi dari sini tetapi kakiku tidak bisa digerakkan. Ada apa ini?
“Jiyeon-a…” panggil Kris dengan lirih. Ia  terkejut melihatku ada di dalam ruangannya.
Jiyeon pov end

Jiyeon tampak tegang dan cemas.
“Park Jiyeon?!” Seseorang menepuk bahu Jiyeon. Seketika itu Jiyeon sadar dari lamunannya. “Gwaenchanayo?” tanya seorang ahjussi.
“Ah, ne, ahjussi. Darimana ahjussi tahu namaku Park Jiyeon?” Jiyeon membenahi rambutnya yang sudah kelihatan rapi.
“Aku lihat di nametag’mu.” Ahjussi itu menunjuk nametag Jiyeon yang masih baru.
Jiyeon menepuk dahinya. Aah, pabboya, batinnya.
“Kau tidak segera masuk?”
“Ne, ahjussi.”
Dalam perjalanan menuju ruang kerjanya dengan ayunan langkah santai, Jiyeon memikirkan lamunannya tadi. Untung saja hanya lamunan. Tuhan masih sayang padanya. Apa jadinya kalau dia bertemu dengan Kris yang notabennya adalah mantan suaminya. Mereka telah bercerai kurang lebih 2 tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu tentang pernikahan mereka. Tapi mereka sempat mencatatkan pernikahan ke pegawau pencatat nikah waktu di Jerman.

Tidak ada yang mengira kalau yeoja cantik polos dan pintar seperti Jiyeon pernah menikah dan sekarang malah menjadi seorang janda. Identitasnya ada di kartu penduduk dan kartu identitas lain kalau dia pernah menikah. Jika ada yang mengetahui, maka akan ada yang mengetahui status barunya itu.

Tap! Tap! Tap!
Suara langkah Jiyeon semakin dekat dengan ruang karyawan bidang pemasaran.
“Annyeonghaseo…” ucap Jiyeon yang sedikit membungkukkan punggungnya untuk memberi salam kepada semua karyawan yang ada di sana.
Semua karyawan pun membalas salam Jiyeon.
“Annyeong Jiyeon-ssi. Selamat bergabung di divisi pemasaran.” Seorang ahjussi yang disebut sebagai Direktur divisi Pemasaran menyambut Jiyeon dengan senyuman. Tak hanya direktur yang menyambutnya, beberapa karyawan yang sedang tidak sibuk juga menyambutnya dengan ramah. “Gurae, kami sudah menyiapkan meja kerjamu di sana.” Direktur itu menunjuk ke sebuah meja kerja yang lengkap dengan komputer, kursi dan beberapa atribut lainnya.
“Gamsahapnida, Direktur-nim…” Jiyeon membungkukkan punggungnya lagi dan berterimakasih pada direktur yang baik itu.
Jiyeon mengayunkan langkahnya ke arah meja kerjanya. Dia duduk di atas kursi empuk yang sudah ditata dengan rapi.
“Jiyeon-ssi!” panggil seseorang yang merupakan staf divisi pemasaran juga yang melamar kerja berbarengan dengan Jiyeon. Jiyeon menoleh ke arahnya. “Fighting!” Ia mengepalkan telapak tangan kanan dan mengayunkannya dengan mantab di depan matanya.
Jiyeon tersenyum. “Fighting!” balas Jiyeon yang kembali menghadap meja kerjanya.

“Park Jiyeon-ssi, sebentar lagi kita ada meeting penting dengan salah satu perusahaan ternama di Korsel. Kau harus bersiap-siap. Berkas ini bisa kau pelajari.”
Jiyeon menerima sebuah kumpulan berkas penting dari direktur bidang pemasaran.
‘Ige mwoya? Baru saja duduk di ruang kerja, sudah diminta ikut meeting…’ batin Jiyeon.
“Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan.”
“Ah, ye, direktur-nim. Jam berapa kita meeting?” tanya Jiyeon yang sedang melihat berkas itu lembar per lembar.
“Kurang dari 30 menit lagi.”
“Ye?” Jiyeon kaget. Gila, kurang dari 30 menit dia harus mempelajari berkas-berkas di tangannya. “Ye, direktur-nim.” Jiyeon tersenyum pada sang direktur dengan unsur paksaan.

Sementara itu, Yoona sedang menyiapkan memeriksa ulang berkas-berkas yang akan ia presentasikan saat meeting dengan Diamond Group nanti.
“Bagus, ini juga bagus.” Yoona tampak memilah-milah lembaran berkas itu dan membacanya sekilas. Ia puas dengan hasil kerja sekretarisnya. Ia yakin bahwa nanti saat meeting, perusahaannya akan berhasil mengadakan kerjasama dengan Diamond Group. “Johae…”
Sekretarisnya tersenyum senang mendapat pujian dari Yoona meskipun hanya satu kata ‘johae’.
“Bersiaplah. Sebentar lagi kita berangkat.” Yoona merapikan blazer merahnya lalu keluar ruangan untuk melihat para stafnya yang masih bekerja. Yeoja ini sangat disiplin dan profesional. Dia tidak pernah menjadikan alasan pribadi untuk melalaikan tugas-tugas dari kantor. Ia tidak pernah datang terlambat, selalu ramah pada karyawan dan menghargai semua karyawannya. Sungguh teladan yang baik.

Waktu meeting pun tiba. Yoona dan beberapa orang perwakilan dari perusahaannya telah tiba di Diamond Group. Mereka mengagumi gaya arsitek gedung itu. Luar biasa, pikir Yoona. Tak lama kemudian mereka dipandu oleh seorang staf untuk memasuki ruang meeting. Di sana sudah ada beberapa orang perwakilan dari Diamond Group yang mendapat giliran presentasi di awal meeting.
Tap tap tap!
Suara sepatu beberapa orang terdengar nyaring di indera pendengaran. Yoona baru saja memasuki ruangan. Ia terkejut melihat Jiyeon sudah duduk manis di tempatnya. Jiyeon juga kaget melihat Yoona. Ternyata Diamond Group akan meeting dengan perusahaan keluarganya sendiri. Jiyeon dan Yoona saling berpandangan. Jiyeon membuka mulutnya dan menggerakkannya membentuk kata ‘eonni’. Meski tanpa suara, Yoona tahu apa yang dimaksud dongsaengnya lewat gerakan bibir. Diapun membalas dengan melakukan hal serupa namun mengatakan ‘annyeong’. Mereka berdua tersenyum.
Saat semua staf dan para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, CEO Diamond Group datang. Kedatanganya disambut meriah oleh semua orang.
Seorang namja berperawakan tinggi berkulit putih menyusul sang CEO yang baru saja duduk. Semua mata terpana melihat namja itu, termasuk Yoona. Darimana datangnya namja tampan seperti dia? batin Yoona. Jiyeon masih sibuk menata berkasnya. Ia mengurutkan berkas sesuai urutan presentasi.

“Selamat datang para tamu agung dari perusahaan Park. Senang berjumpa dengan orang-orang hebat di pagi ini,” ucap sang CEO yang notabennya adalah appa Kris. Kris menebar senyum ke semua orang yang ada di ruangan itu. “Perkenalkan, ini putraku yang baru kembali dari Jerman. Namanya Wu Yi Fan atau lebih akrab disapa dengan panggilan Kris.”

Deg!

Jiyeon mendengar nama Kris disebut oleh sang CEO Diamond Group. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat apakah benar Kris yang dimaksud adalah Kris mantan suaminya. Sepasang manik mata indah milik Jiyeon menemukan sosok Kris yang tengah duduk di samping kiri CEO Diamond Group atau biasa dipanggil CEO Wu. Jiyeon segera mengalihkan pandangannya ke arah CEO. Kris juga melihat Jiyeon ada di ruangan itu. Senyum yang mengembang di wajah tampannya semakin memudar saat ia tahu bahwa mantan istrinya ada di sana.

Tuan Wu meminta Kris untuk member salam kepada para tamu dan staf. Kris pun menurut.

Acara meeting pagi itu dimulai dengan presentasi dari bidang penjualan yang dilakukan oleh Kris. Selanjutnya, presentasi dari bidang pemasaran yang ternyata dilakukan oleh Jiyeon sebagai wakil yang ditunjuk oleh Direktur bidang pemasaran. Untung saja Jiyeon sudah bisa menguasai materi yang akan dipresentasikan. Ia dapat mempresentasikan bagian pemasaran dengan baik. Suara tepuk tangan bergemuruh di ruangan itu. Jiyeon selesai presentasi dan kembali ke tempatnya semula. Yoona tak henti-hentinya menunjukkan senyum kepada dongsaengnya itu.

Ia mengambil ponselnya yang disimpan di dalam saku blazernya lalu membuka akun SNS nya.

Ia menulis ‘Dongsaengku benar-benar membanggakan. Gud Job!’ lalu mengirimnya ke akun milik Jiyeon.

Jiyeon membuka ponselnya dan membaca pesan berisi pujian dari eonninya. Lalu ia membalas ‘Aku harus tampil dengan sangat baik di depan eonni-ku. Kalau tidak, pasti aku akan dilaporkan pada Big Bos (Appa)’. Yoona menaham tawanya setelah membaca balasan dari Jiyeon.

Tanpa Jiyeon sadari, sejak ia mulai presentasi, Kris terus memperhatikannya. Menatapnya lekat-lekat. Tatapannya seolah mengatakan kalau dirinya sangat ingin menjabat tangan Jiyeon dan memberinya selamat. Dari tatapan matanya, ia juga menyiratkan rasa rindunya pada sang mantan istri yang kini sedang mengobrol dengan Direktur bidang pemasaran.

Meeting selesai. Akhirnya Diamond Group berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan Park. Dalam waktu dekat, kedua perusahaan besar itu akan segera melaksanakan proyek pertama. Satu persatu tamu dari perusahaan Park meninggalkan ruangan, kecuali Yoona. Dia member salam pada CEO, Kris, Direktur Pemasaran, dan Jiyeon. Mereka berjalan bersama-sama menuju lobi kantor. Jiyeon berjalan tepat di belakang Kris, sedangkan Yoona berjalan di samping Kris.

“Direktur-nim, ternyata tidak salah kau memilih staf bertalenta tinggi seperti Park Jiyeon,” puji CEO Diamond Group.

“Tentu saja. Kualifikasinya sangat bagus. Bahkan dia telah mengalahkanku. Kau hanya kurang pengalaman, Park Jiyeon. suatu saat kau pasti akan menjadi orang sukses di Negara ini,” puji direktur bidang pemasaran yang bernama lengkap Xiah Junsu.

Jiyeon tertunduk malu. Ia enggan mengangkat kepalanya karena jika ia melakukan hal itu maka yang pertama kali dilihatnya adalah punggung Kris. Jiyeon tidak ingin ia mengingat masa lalunya di tempat itu, apalagi ada Kris di depannya.

Sampai di teras kantor, Yoona dan sekretarisnya berpamitan. Ia juga tidka lupa mengucapkan terimakasih sekali lagi kepada CEO Diamond Group karena sudah bersedia bekerjasama dnegan perusahaannya. Yoona menjabat tangan semua yang ada di sana, termasuk dongsaengnya sendiri.

“Aku salut padamu, Jiyeon-ssi. Kau masih muda dan masih baru di perusahaan ini tetapi kau sudah menunjukkan kemampuanmu yang luar biasa. Chukae…” Yoona menjabat tangan Jiyeon dan memeluknya.

“Wah, Direktur Im dan Sekretaris Park kelihatannya sudah akrab sekali padahal baru saja ketemu,” kata Xiah Direktur.

Yoona dan Jiyeon hanya tersenyum. Belum ada yang mengetahui identitas mereka berdua. Jika ada yang mengetahui kalau keduanya bersaudara, pastilah dunia bisnis akan heboh karena Tuan Park memiliki dua orang putrid yang cantik dan cerdas.

“Gamsahapnida, CEO dan para direktur-nim. Kami pamit.” Yoona member salam pada orang-orang dari Diamond Group.

CEO, Direktur Xiah, dan sekretaris Kris berbalik untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing. Jiyeon masih menatap kepergian eonni-nya. Dia tidka percaya kalau hari pertamanya begitu sukses apalagi disaksikan oleh Yoona, eonni yang sangat disayanginya. Jiyeon tersenyum melihat kepergian Yoona yang semakin lama semakin menghilang dibawa oleh sebuah mobil mewah yang tentu saja milik perusahaan.

“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Kris buka suara. Ia berdiri di belakang Jiyeon.

Jiyeon kaget karena ia mengira Kris sudah kembali ke ruangannya bersama yang lain. Ia mematung di tempatnya, lidahnya terasa kaku. Bibirnya seolah tidak ingin mengatakan satu kata pun. “Baik.” Jiyeon membungkukkan badannya di depan Kris lalu berjalan menuju ruang kerjanya.

Tatapan mata Kris mengekor mengikuti kemana Jiyeon pergi lalu mulai melangkahkan kaki mengikuti Jiyeon dari belakang.

Jiyeon pov.

Jantungku, kenapa jangtungku tidak berhenti. Waegurae? Oh sesangi, apa yang harus aku katakana jika dia bertanya padaku? Apa yang harus aku lakukan jika kami bertemu? Aku belum siap bertemu dengannya lagi. Tetapi kenapa kau mempertemukan kami lagi di sini? Rencana apa yang sudah Kau siapkan untuk kami?

Aku kembali ke ruanganku. Sebenarnya aku tahu kalau Kris sedang mengikutiku dari belakang. Aku ingin menatap kedua matanya setelah aku tahu kalau ternyata tatapan matanya masih sama seperti dulu. Aku ingin sekali berbincang dengannya, membicarakan sesuatu atau berdebat seperti dulu. Tetapi jika aku teringat perpisahan kami, hatiku sangat sakit, bahkan hancur berkeping-keping.

Andai waktu dapat diputar kembali, aku tidak akan membiarkannya selingkuh di belakangku. Aku akan menjaganya agar tidak jatuh ke tangan yeoja lain. Tetapi takdir berkata lain. Aku harus rela berpisah dengan namja yang sangat kucintai. Kami terpaksa bercerai.

“Jiyeon-a, waeyo?” tanya Qri eonni padaku. Aku tersadar dari lamunanku dan tergagap. Tanpa kusadari, airmataku sudah membasahi pipiku.

Aku mengusapnya dengan tisu yang diberikan oleh Qri eonni.

“Gwaenchanayo?” tanya Qri eonni.

Aku mengangguk. “Ne, gwaenchanayo, eonni. Gomawo tisunya. Aku hanya terharu karena akhirnya aku telah berhasil melewati hari pertamaku bekerja di sini dengan sangat baik.”

“Chukae. Aku sangat bangga padamu. Akhirnya bidang pemasaran memiliki seorang staf yang cerdas.” Qri eonni memelukku.

Aku senang. Akhirnya aku berhasil. Namun satu hal yang membuatku kecewa, yaitu Kris ada di sini. Apalagi Kris adalah putra dari CEO Wu.

“Seluruh staf, tolong dengarkan.” Direktur Xiah meminta semua staf bidang pemasaran berkumpul. Akupun segera gabung dnegan yang lainnya. Sepertinya Direktur Xiah akan mengumumkan sesuatu. Kami siap mendengarkan pengumuman dari direktur Xiah.

“Dalam waktu dekat ini, kita akan bekerja bersama dengan bidang penjualan. Kalian pasti sudah mengetahui bahwa bidang penjualan dan bidang pemasaran tidak dapat dipisahkan. Kali ini, CEO meminta kita semua melakukan yang terbaik, termasuk bekerjasama dengan bidang penjualan. Proyek ini sangat berharga. Kalau tidak, mana mungkin CEO meminta kita bekerja sama dengan anak buah Direktur Kris.”

Jlegeerr!!

Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku sangat terkejut mendengar pengumuman dari Direktur Xiah bahwa kami harus bekerja sama dnegan anak buah Kris. Itu artinya aku akan sering bertemu dengan namja itu. Oh tidak…

“Aku akan menunjuk Jiyeon sebagai asisten dan sekretarisku. Aku butuh orang yang benar-benar berkompeten sepertimu, Jiyeon-a.”

“Direktur-nim. Para sunbaeku juga banyak yang memiliki kemampuan tinggi. Kenapa kau menujukku?” tanyaku. Sebenarnya aku hanya tidak ingin sering bertemu dengan mantan suamiku.

“Sudahlah, Jiyeon-a. terima saja,” bujuk Qri eonni

Di ruangannya, Kris tidak bergeming dan tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk santai di atas sofa di dekat pintu masuk ruangannya. Ia mengingat saat-saat indah dengan Jiyeon saat di Jerman. Tiba-tiba ia teringat saat-saat mereka berdua mulai tidak akur.

Flashback.

Kris baru pulang dari kantor lalu disusul oleh Jiyeon di belakangnya yang sedang membawa barang-barang belanjaan banyak sekali. Kris merasa sangat letih dan mengantuk tetapi Jiyeon malah memintanya membantu menyiapkan makanan untuk makan malam.

“Oppa, jebal… bantulah aku menyiapkan makanan untuk makan malam kita nanti.”

“Tidakkah kau melihat aku baru saja pulang? Badanku terasa lelah. Lakukan saja sendiri.” Kris merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu apartemen mereka.

Jiyeon kesal. Dia juga sangat lelah karena seharian bekerja sebagai pengajar bahasa Korea di suatu lembaga kursus Bahasa Korea di Jerman. Apa boleh buat, dia harus memasak sendirian.

Dengan keadaan lemas, Jiyeon tetap menyelesaikan tugas memasaknya. Sedangkan Kris malah tidur di atas sofa. Setelah makanan siap dihidangkan di atas meja, Jiyeon ingin membangunkan Kris. Namun perhatiannya beralih pada ponsel Kris yang diletakkan di atas meja. Jiyeon melihat siapa yang meleppon Kris malam-malam begini. Dia pun mengangkatnya.

“Yoboseo…” ucap Jiyeon lirih karena ia takut kalau nanti Kris mendengar suaranya.

“Oppa, kapan kau akan ke sini? Aku sudah menunggumu berhari-hari.” Terdengar suara yeoja dari seberang telepon.

Deg!

“Nuguya?” tanya Jiyeon.

“Eoh, ini bukan Kris oppa? Mana Kris oppa?”

Tiit.. jiyeon mematikan teleponnya. Di saat itulah Kris membuka matanya dan mengetahui kalau Jiyeon barusan bicara dengan seseorang yang menelepon di ponselnya.

Flashback end.

Kris mengepalkan telapak tangannya. Ia menyadari bahwa saat itu ia sangat bersalah telah menduakan Jiyeon dengan yeoja bernama Hyoyoung. “Jongmal mianhaeyo, Jiyeon-a…”

Pukul 10 malam. Jiyeon masih berkutat dengan computer di depannya. Hari ini dia harus menyelesaikan tugas kantornya karena Direktur Xiah sangat percaya padanya hingga namja paruh baya itu menyerahkan tugas penting padanya.

“Hooaaamm… ngantuk sekali. Sebentar lagi Park Jiyeon.” Jiyeon menyemangati dirinya sendiri agar cepat-cepat menyelesaikan laporan itu.

Sementara itu, di ruang bidang penjualan, Kris tampak bersiap pulang. Dia juga baru saja menyelesaikan laporan yang memaksanya untuk lembur hingga jam segini. Kris memakai jasnya lalu mematikan lampu ruangannya dan berjalan di koridor. Tepat di depan ruang bidang pemasaran, dia melihat lampu masih menyala.

“Siapa yang lupa tidak mematikan lampu? Pemborosan.” Kris ingin mematikan lampu. Saat tangan kanannya menyentuh saklar lampu, kedua matanya melihat seorang yeoja yang masih sibuk mengetik di ruangannya. “Oh rupanya masih ada yang lembur.” Kris mencoba melihat siapa yang masih lembur larut malam begini. Ia terkejut saat melihat yeoja yang lembur itu adalah Jiyeon. Yeoja itu tampak kelelahan. Kris memutuskan untuk menghampiri Jiyeon.

Tbc

Comment Juseyo 🙂

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: