The Lost Diary [2nd]

THE LOST DIARYRekap from INDO FF

Starring: Park Jiyeon | Lee Jieun a.k.a IU

Co. Starring: Wu Yi Fan a.k.a Kris | Chanyeol | Sehun

Genre: Drama | AU | Hurt/Comfort

Rating: PG – 13

Lenght: Two – shoot

This story is mine. Don’t plagiat or copycut!!

Enjoy my fanfiction

Second Shoot [End]

Jiyeon menoleh kanan-kiri mencari pemilik diary yang ia temukan. Namun hasilnya nihil, akhirnya ia membawa diary itu dengan harapan dapat menemukan pemiliknya.

“Yaak, Jiyeon-a, waegurae?” tanya Chanyeol yang sudah membawa dua buah tiket dan cemilan lengkap di tangannya.

“Eoh, anhiyo, oppa. Kajja.” Jiyeon mengajak Chanyeol untuk segera mencari tempat duduk karena sebentar lagi filmnya akan dimulai.

Jiyeon dan Chanyeol duduk di deretan tengah. Mereka segera memposisikan diri karena film sudah dimulai. Kalau tidak, penonton yang duduk di belakang mereka pasti akan protes karena terhalangi oleh mereka berdua.

Tanpa diketahui oleh Jiyeon dan Chanyeol, Kris dan Jieun sedang menikmati kebersamaan mereka di dalam bioskop. Tempat duduk mereka berdekatan dengan tempat duduk Jiyeon dan Chanyeol. Bahkan Jiyeon duduk tepat di sebelah kanan Kris. Film yang diputar pada saa itu adalah film sad romance yang dibintangi oleh Park Yoochun. Semua penonton terharu melihat adegan di film itu bahkan sebagian besar menitikkan airmata, termasuk Jiyeon. jiyeon adalah tipe yeoja yang sangat sensitif. Jadi, apapun suasananya ia pasti terbawa hanyut dalam film.

Dua jam lebih sedikit telah berlalu. Film juga telah berakhir. Jiyeon dan Chanyeol memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena orangtua mereka sudah kembali dari urusan bisnis mereka entah dimana mereka melakukannya. Di luar bioskop saat dalam perjalanan pulang, Jiyeon melihat buku diary yang ia temukan tadi. Karena penasaran, Jiyeon pun membuka samul diary itu.

“Lee Jieun? Nama yang tidak asing bagiku. Apa aku mengenal pemilik buku ini?” lirih Jiyeon.

Jiyeon membaca halaman depan diary itu. Ia bisa menebak siapa Jieun. Dari kata-katanya, yeoja bernama Lee Jieun itu orangnya baik, berperasaan, anak orang kaya, mungkin cantik dan yang pasti dia mempunyai namjachingu.

“Yeoja ini mempunyai namjachingu… betapa beruntungnya dia…” gumam Jiyeon.

“Yaak, kau sedang bicara tentang apa? Kenapa bicara sendiri?” tanya Chanyeol yang duduk di samping Jiyeon. ia sedang berkonsentrasi mengendarai mobil mewah miliknya itu.

“Kau tidak usah ikut campur, oppa. Konsentrasilah menyetir. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kita berdua. Aku kan belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Meski kau sudah putus dengan Seohyun eonni, setidaknya kau pernah merasakan pacaran.”

Chanyeol melirik kesal pada yeodongsaengnya.

Setiap hari, Jiyeon membaca diary milik Jieun. Begitu pula dengan Jieun, ia membaca diary milik Jiyeon. jieun ingin sekali menjadi Jiyeon. Kehidupannya tidak serumit dirinya meski yeoja itu belum pernah pacaran. Sedangkan Jiyeon, dia ingin menjadi Jieun karena memiliki namjachingu yang tampan. Jiyeon memperhatikan foto Kris yang terselip di lembaran diary milik Jieun itu.

“Aku pernah melihat namja ini. Tapi dimana?” gumam Jiyeon.

Jiyeon membaca diary Jieun secara acak. Di dalam diary yang ia baca tertulis;

Dear diary,

Hari ini aku bahagia sekali. Di hari ulang tahunku, Kris oppa memberikan kejutan padaku. Aku benar-benar beruntung memiliki namjachingu seperti dia. Aku tidak akan melepas Kris oppa meski mungkin suatu saat dia membenciku. Aku akan tetap mencintainya. Sehari tanpa dia, bagaikan ribuan tahun kulewati tanpa kebahagiaan. Tuhan, jangan pisahkan kami.

Dear diary,

Sehun, sahabatku dan sekaligus sepupu Kris oppa, dia mengatakan kalau oppa pergi dengan seorang yeoja seumuran denganku. Hatiku benar-benar hancur. Apakah Kris oppa berselingkuh di belakangku? Kenapa dia tidka bilang saja padaku kalau dia menyukai yeoja lain. Airmata ini sungguh tak bisa ku tahan lagi. Aku selalu menunggunya di taman, di tempat biasa. Kami selalu janjian di sana. Tapi saat tadi aku ke sana, Kris oppa tidak ada. Hatiku semakin hancur.

Jiyeon penasaran dengan sosok Kris.

“Omo! Sehun? Apa yang dimaksud adalah Oh Sehun yang waktu itu menemukan ponselku?” Jiyeon semakin penasaran. Ia membuka lagi diary Jieun. Di sana tertulis bahwa Jieun biasanya janjian dengan Kris pada jam 5 sore di taman atau tepi sungai Han. “Aku ingin melihat sosok Kris ini.” Jiyeon beranjak dari tempat tidurnya kemudian dia bersiap pergi ke taman untuk melihat sosok Kris atau Jieun. Apa benar salah satu diantara Kris dan Jieun akan berada di tempat itu pada jam 5 sore?

Jiyeon keluar dari rumahnya, namun tiba-tiba Chanyeol memanggilnya.

“Yaak, Jiyeonie, neo eodikka?”

“Eoh, oppa, aku ingin jalan-jalan dengan teman-temanku. Sebentaaaar saja. Tidak lama. Kira-kira dua jam. Tolong pamitkan pada eomma, ne… Annyeong…” Jiyeon langsung berlari menjauh dari rumah mewahnya.

“Yaaak! Aish, jinjja. Dia mirip sekali denganku. Bagaimana bisa kelakuannya mirip denganku…” Chanyeol kembali masuk ke dalam rumah.

Jiyeon masuk ke taman yang sedang ramai dikunjungi orang. Dia langsung tertuju pada tempat yang disebutkan oleh Jieun dalam diary yang kini dibawa Jiyeon. dari kejauhan, Jiyeon melihat ada seorang yeoja berperawakan kecil dan berambut panjang sedang duduk di bangku besi. Kelihatannya yeoja itu sedang menunggu seseorang.

“Apa dia Lee Jieun?” lirih Jiyeon bertanya pada dirinya sendiri. Langkahnya semakin pelan. Ia masih mengamati yeoja yang duduk di bangku besi itu. Jiyeon menoleh kanan-kiri. Ia berharap menemukan sosok orang yang bernama Kris. Jika yeoja itu benar-benar Jieun, maka ia sedang menunggu namjachingunya.

Q5 menit telah berlalu. Tak ada siapapun yang datang menghampiri yeoja yang mungkin bernama Lee Jieun itu. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk menghampiri yeoja itu. Ia bukan bermaksud untk mengembalikan diary milik Jieun. Namun ingin memastikan bahwa yeoja itu benar-benar Jieun. Lain waktu ia akan mengembalikan diary itu kepada pemiliknya.

Jiyeon sudah sampai di samping bangku besi yang diduduki yeoja itu.

“Jeogi, bolehkah aku duduk di sini?” Jiyeon meminta ijin pada yeoja itu untuk duduk di sisi lain dari bangku besi itu. Manik matanya tak lepas dari sosok yang dikiranya Jieun. “Tampaknya kau sedang menunggu seseorang…” Jiyeon membuka percakapan dengan sedikit ragu.

Yeoja itu menoleh ke arah Jiyeon. “Ah, anhhiyo.” Jieun terlihat kecewa yang nampak jelas di raut wajahnya yang imut itu.

“Joneun Park Jiyeon imnida.” Jiyeon mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Jieun,

Jieun terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh yeoja yang duduk di sampingnya. Park Jiyeon? Park Jiyeon pemilik diary yang dia bawa… tidak mungkin… pikir Jieun. “Naneun Lee Jieun. Kau bisa memanggilku Jieun saja.”

Senyum yang mengembang di wajah cantik Jiyeon sedikit memudar. Benar, yeoja itu Lee Jieun. Apakah ini benar-benar Lee Jieun sang pemilik diary yang ia bawa saat ini?

Hening. Itulah yang terjadi diantara dua yeoja yang tidak tahu bahwa diary mereka tertukar. Jiyeon bingung memilih tema yang cocok untuk percakapan perdana mereka. Begitu juga Jieun. Dia ingin mengembalikan diary milik Jiyeon tapi ia ragu kalau Jiyeon yang duduk di sampingnya itu bukanlah Jiyeon pemilik diary yang ia bawa.

“Jieun-ssi, apa kau sudah lama di sini?” tanya Jiyeon membuka percakapan. Ia tahu kalau kalimat yang baru saja ia ucapkan sama sekali tidak bermutu. Tidak penting dan sangat jelas mengandung unsur basa-basi. Jiyeon mengutuk dirinya sendiri karena mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak penting untuk dijawab.

“Ne, sudah 30 menit. Kau sendiri sudah lama?” tanya Jieun balik. Jieun pun kesulitan mencari kata-kata yang pantas. Kalimat yang baru dia ucapkan pun terlontar begitu saja tanpa proses pemikiran lebih dulu.

“Ajikdo. Mungkin masih 15 menit. Aku datang ke sini karena ingin mencari udara segar dan mencuci mataku dengan hal-hal yang indah. Kalau di rumah, aku hanya bersama oppaku yang cerewet. Jadi aku ingin jalan-jalan sendiri.” Kali ini Jiyeon berhasil mencairkan suasana. Ia pun memuji dirinya sendiri karena suasana diantara mereka sudah agak tidak canggung lagi.

“Menyenangkan sekali tinggal dengan saudara kandung. Aku ingin merasakan hal seperti itu. Setidaknya masih ada orang yang perhatian,” kata Jieun.

Jiyeon bengong. Ternyata Jieun adalah yeoja yang kesepian. Mungkin dia adalah putri tunggal jadi tidak punya saudara kandung. Kalau begitu Jiyeon masih beruntung daripada Jieun karena dia punya Chanyeol, oppa yang sangat dia sayangi. “Oppaku sangat menyebalkan. Jika kau kenal dengannya, kau akan geleng-geleng kepala saat mendengar kata-katanya.”

Jieun tersenyum. Jiyeon merasa lega melihat senyum Jieun. Jiyeon merasa bahwa dirinya dan Jieun mempunyai keberuntungan yang berbeda. Jieun punya namjachingu yang tampan tetapi tidak punya saudara kandung. Kalau dirinya, masih ada saudara kandung namun tidak memiliki namjachingu. Benar-benar kebetulan yang aneh.

“Jiyeon-ssi, aku pamit dulu ne… Aku harus masuk kursus piano,” pamit Jieun pada Jiyeon yang masih menikmai udara segar di taman itu.

“Ah, ne. Cosimi, Jieun-ssi. Senang berkenalan denganmu.”

“Annyeong…” ucap Jieun.

“Annyeong,” balas Jiyeon.

Jieun sudah pergi menjauh dari Jiyeon. Kini Jiyeon dapat bernapas lega karena Jieun tidak tahu kalau dirinya membawa diary Jieun dan membaca sebagian isinya.

“Jeogi, bolehkah aku duduk di sisi yang masih kosong?” terdengar suara namja. Suaranya terdengar berat dan agak parau. Jiyeon mendongakkan kepalanya utuk melihat siapa yang meminta ijin untuk duduk di sampingnya. Kedua matanya melotot. Kris? Ini kan Kris. Namja yang ada di foto yang terselip di dalam diary Jieun.

“Ah, ne. Silahkan.” Setelah dapat bernapas lega untuk satu menit, kini Jieun tampak tegang lagi. Tegang yang tidak beralasan. “Kau sedang mencari seseorang?” tanya Jiyeon yang memberanikan diri bertanya pada namja yang duduk di sampingnya.

“Tadinya sih begitu. Tapi kenyataannya orang itu tidak ada. Mungkin dia tidak datang.”

Apa yang dimaksud namja itu adalah Jieun? Kalau begitu Jiyeon harus memberitahukan pada Kris kalau tadi ada yeoja yang mungkin sedang ia cari. Ah, tidak jadi. Jiyeon mengurungkan niatnya untuk memberitahu Kris kalau tadi ada yeoja bernama Lee Jieun yang kelihatannya sedang menunggu seseorang.

“Aku pernah melihatmu. Tapi dimana ya?” Kris mengingat-ingat dimana ia melihat wajah yeoja seperti Jiyeon.

“Jinjja?”

“Ah, mungkin hanya orang yang mirip denganmu.”

Keesokan harinya, Jiyeon berangkat sekolah bersama Chanyeol. Chanyeol masih tampak terpukul karena perpisahannya dengan Seohyun. Sedangkan Jiyeon masih asyik membaca diary milik Jieun. Tampaknya ia hanyut dalam perasaan Jieun saat membaca diary itu. Kini Jiyeon tahu segalanya tentang hubungan Jieun dengan Kris yang awalnya harmonis dan baik-baik saja, sekarang sepertinya diambang kehancuran. Jiyeon mendesah pelan.

Sesampainya di sekolah, Chanyeol dan Jiyeon berpisah menuju kelas masing-masing.

“Hyung!” panggil Sehun pada Chanyeol yang berjalan di depanm kelasnya.

Chanyeol berhenti. “Eoh, wae?”

Sehun merangkul bahu Chanyeol. “Hyung, aku ingin bermain dengan tim inti. Hanya untuk latihan. Bolehkah?”

Chanyeol mengernyitkan keningnya. Memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Sehun. “Gurae, kau boleh latihan dengan tim inti.”

“Jongmal? Aaah, gomawo hyung…” Sehun memeluk Chanyeol karena terlalu girang diizinkan latihan basket dengan tim inti.

“Tapi besok aku tidak ikut latihan.”

“Wae?” tanya Sehun dengan ekspresi polosnya.

“Aku ada tugas individu. Tapi tenang saja, ada Kris yang akan menemanimu.”

“Mwo? Kris hyung? Kenapa harus dia? Aku sudah bosan berlatih dengannya di rumah.”

Chanyeol terkekeh mendengar pengakuan dari Sehun. “Baik-baiklah pada sepupumu sendiri.” Chanyeol melenggang pergi ke kelasnya. Sedangkan Sehun masih berdiri memikirkan lathan untuk besok.

“Tidak apa-apa. Kris hyung kan orangnya baik,” gumam Sehun lalu masuk ke kelasnya sendiri.

Bel istirahat berbunyi. Hampir semua siswa keluar kelas lalu pergi ke kantin namun tidak termasuk Jieun. dia terlihat sedang serius membaca diary milik Jiyeon.

Dear diary…

Apakah kau tahu apa yang paling ku inginkan selama beberapa waktu ini? semua orang berjalan berdua dengan pasangannya di taman, di bioskop, di jalan. Makan berdua di restoran, pergi jalan-jalan juga berdua. Aku ingin sekali seperti itu. Tapi kenapa sampai saat ini tidak ada satu namja pun yang memintaku berkencan dengannya? Apa ada yang salah denganku?

Jieun membalik lembaran diary Jieun asal. Ia menemukan satu halaman yang menarik baginya lalu membaca halaman itu.

Dear diary…

Aku syok mendengar kabar kalau Chanyeol oppa putus dengan Seohyun eonni. Mereka berdua sudah berpacaran cukup lama. Saat pulang sekolah, aku melihat oppa menekuk wajahnya. Tak ada senyum dan keceriaan seperti biasanya. Saat aku bertanya ada apa? Dia menjawab kalau mereka (oppa dan Seohyun eonni) sudah tidak bersama lagi. Aku turut prihatin. Oppaku sangat mencintai Seohyum eonni, tapi dia diputus sepihak oleh yeoja itu. Sungguh malang nasib oppaku. Satu hal yang dapat aku ambil hikmahnya, yaitu cinta tidak bisa dipaksakan. Seberapapun kuatnya cinta seseorang tapi kalau orang yang dicintai telah mencintai orang lain, maka perasaan itu hanya akan bertepuk sebelah tangan dan rasanya pasti sakit. Hal itulah yang aku takutkan. Jika aku mengalami hal itu, apakah aku akan kuat?

Jieun menutup diary Jiyeon. Benar kata Jiyeon bahwa peerasaan satu pihak hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan.

Jieun pov

Aku menahan airmata saat membaca diary ini. Pemiliknya belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Sungguh berbeda denganku. Dulu aku sangat senang saat awal-awal pacaran dengan Kris oppa. Tapi sekarang? Sepertinya dia telah menjauh dariku. Apakah ini seperti yang dilakukan oleh Seohyun kepada Chanyeol? Sesangi, aku tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini. pikiranku sudah dipenuhi kecurigaan-kecurigaan pada Kris oppa. Apakah ia masih mencintaiku atau tidak? Haruskah aku putus dengannya seperti yang dialami oleh Chanyeol-ssi dan Seohyun-ssi? Bagaimana jika nanti Kris oppa mengucap kata putus di depanku? Apakah aku bisa sekuat Chanyeol-ssi?

Memikirkan hal itu saja sudah membuatku merasa tidak percaya diri. Kris oppa tidak boleh mengucap kata putus di depanku. Jika kami memang harus berpisah, maka aku yang akan mengucap kata putus untuknya. Ya, aku aku harus bisa. Hubungan ini tidak bisa disebut lagi pacaran. Sudah cukup lama dia tidak menghubungiku meski kemarin kami nonton di bioskop bersama-sama dan bercanda ria. namun semua yang kami lakukan kemarin sungguh terasa canggung. Mungkin hal itu disebabkan karena kami sudah lama tidak bertemu.

Jieun pov end.

Jiyeon mengeluarkan diary milik Jieun dari dalam tasnya. Hari ini ia berniat mengembalikan diary itu kepada pemiliknya. Sebelum ia mengembalikannya pada Jieu, Jiyeon menuliskan kumpulan huruf hangul di atas lembaran yang masih kosong.

Aku tidak tahu persis apa yang disebut dengan cinta. Jatuh cinta menurutku adalah suatu pengalaman yang indah dalam hidup. Tapi aku belum pernah mengalaminya sekalipun. Keinginan terbesar bagi orang sepertiku adalah menemukan seorang namja yang dengan gentle-nya mengatakan ‘Maukah kau berkencan denganku’? Setelah membaca diary ini dan mengetahui apa yang dialami saudara laki-lakiku yang kecewa karena cinta, membuatku takut untuk jatuh cinta. Mungkin terdengar seperti pengecut. Tapi aku hanya ingin melindungi hatiku hingga saatnya nanti aku menemukan sosok namja yang baik untukku.

Cinta yang terdapat dalam hati seseorang tidak dapat dikendalikan bahkan oleh pemilik hati itu sendiri. Cinta datang dengan sendirinya. Kita tidak bisa memaksakan cinta datang pada hati kita. Kita juga tidak dapat memaksakan cinta itu keluar dan pergi dari hati kita.

Satu hal yang dapat aku pelajari: seberapa besar sakit hati yang dirasakan, tetaplah tegar dan berpikiran positif bahwa suatu saat pasti akan ada kebahagiaan untuk hati kita. Apapun itu, siapapun orangnya dan bagaimanapun caranya kita bisa bahagia.

Jieun-ssi, jongmal mianhaeyo. Aku membaca sebagian besar isi dari tulisan tanganmu dalam diary ini. Aku bisa memahami perasaanmu. Aku mengucapkan terimakasih untukmu. Kau telah memberikan beberapa pelajaran berharga padaku. Kini aku tahu kalau ternyata cinta tak seindah yang kita bayangkan. Semoga kau mendapat pria yang terbaik untukmu, Jieun-ssi. Aku mohon padamu, tolong doakan aku supaya ada namja yang ingin berkencan denganku. Gomawoyo…

(Park Jiyeon)

Jiyeon menghela nafas dalam-dalam. Ia menutup diary itu seperti semula lalu memasukkan lagi ke dalam tasnya.

“Aku harus menghubungi Sehun.” Jiyeon mengambil ponselnya dan menekan nomor Sehun. Dia mendapatkan nomor namja itu dari ponselnya yang ditemukan oleh Sehun. Mungkin namja itu yang menyimpankan nomornya di ponsel Jiyeon.

Tuuut…

“Yoboseo…” terdengar suara Sehun yang mirip sekali dengan suara bayi.

“Ýoboseo. Kau masih ingat dengan suaraku?” tanya Jiyeon.

“Nuguya?” Sehun berusaha mengingatnya. “Aaah, kau Park Jiyeon kan? Ya, Park Jiyeon dari kelas 2.”

“Yaak, aku lebih tua darimu. Panggil aku ‘noona’!”

“Eoh, noona. Waeyo?”

Jiyeon tidak ingin bertele-tele. Dia langsung pada pokok pembicaraan. Apa kau kenal dengan Lee Jieun dan Kris?”

“Kris hyung adalah sepupuku. Sedangkan Lee Jieun adalah yeojachingunya. Kenapa kau bertanya tentnag mereka? Apa ada salah satu yang sudah menyakitimu?”

“Anhyiyo. Aku ingin titip sesuatu lewat kau, Sehun-a.”

“Mwonde?”

Kita bertemu sepulang sekolah di depan gerbang. Eotte?”

“Oke.”

Tut…

Sambungan telepon terputus. Jiyeon tersenyum senang sambil melihat diary Jieun. “Gomawo, Jieun-ssi,” ucapnya lirih.

Sepulang sekolah, Jiyeon benar-benar menitipkan diary itu pada Sehun.

“Tolong berikan pada Lee Jieun,” pinta Jiyeon pada Sehun yang telah menerima diary itu dari tangan Jiyeon. Sehun sempat bingung, kenapa diary Jieun ada di tangan Jiyeon? Padahal Jiyeon tidak mengenal Jieun.

“Noona, sebenarnya Lee Jieun juga bersekolah di sini. Dia seangkatan dengan noona.”

“Mwo? Jinjja?” Jiyeon membulatkan kedua bola matanya. “Ya sudah, kau berikan saja padanya. Lain waktu kalau aku bertemu dengannya, aku akan bicara sendiri tentang hal ini. Gomawo Sehunie… annyeong…” Jiyeon melangkah menuju halte bus. Dia pulang naik bus karena Chanyeol ada jadwal latihan basket.

Sehun berlari menuju kediaman kelaurga Lee. Dia ketinggalan bus yang seharusnya membawanya ke halte dekat rumah Jieun. Setelah bersusah payah berlari selama 20 menit, akhirnya Sehun sampai di depan rumah Jieun. Rumahnya sepi.

Tok tok tok..

Cekleeek… tak menunggu waktu lama, pintunya dibuka oleh seorang yeoja paruh baya. Mungkin dia pembantu di keluarga ini, piker Sehun.

“Ahjumma, aku ingin bertemu dengan Jieun noona.”

“Yaak, aku di sini. Wae gurae?” tanya Jieun yang sedang menikmati jus jeruknya. Dia berjalan menemui Sehun yang masih berada di depan pintu. “Sehun-a, apa yang membawamu kemari?” tanya Jieun yang heran melihat kedatangan Sehun di rumahnya padahal namja itu jarang sekali mau main ke rumahnya.

“Igeo.” Sehun menyerahkan diary Jieun.

Jieun terkejut melihat diary-nya ada di tangan Sehun. “Darimana kau…”

“Park Jiyeon yang menemukannya. Dia titip salam untukmu,” sela Sehun. “Noona, aku pamit dulu. Badanku pegal-pegal. Annyeong…”

“Annyeong…” lirih Jieun seraya menatap kosong pada diary-nya. Jieun menutup pintu dan berjalan ke sofa. Ia membuka diary-nya lembar per lembar. Posisinya sudah senyaman mungkin duduk di atas sofa di ruang tamunya lalu dia membaca lembar terakhir dari diary-nya yang merupakan hasil tulisan tangan Jiyeon. Kedua manik mata Jieun terlihat berair membaca setiap kata yang ditulis oleh Jiyeon. Baru kali ini dia mengetahui ada seseorang yang begitu menginginkan kehadiran seorang namjachingu, berbeda sekali dengan dirinya. “Park Jiyeon?” gumam Jieun.

Jiyeon turun dari bus di dekat taman kota. Ia sedang tidak ingin langsung pulang ke rumah. Setidaknya, hari ini ada yang bisa merefresh pikirannya. Jiyeon berjalan sendirian, menyusuri taman yang ditumbuhi banyak tumbuhan.

“Ah, kakiku pegal sekali. Hari ini aku terlalu banyak berdiri. Apalagi tadi di dalam bus aku juga berdiri. Sial sekali nasibku hari ini…” Jiyeon mencari tempat duduk di dalam taman. Bukannya menemukan bangku yang masih kosong, sepasang mata indahnya menemukan sosok namja yang baru ia kenal, yaitu Kris.

Jiyeon menghampiri Kris. Ia tersenyum pada namja itu. Jiyeon tidak bisa memungkiri kalau Kris adalah namja yang tampan dan keren. Ia merasa tertarik untuk mengenal Kris lebih jauh. “Kris-ssi…”

Kris menoleh ke arah Jiyeon. “Eoh, Jiyeon-ssi. Kita bertemu lagi di sini.”

“Ne, sepulang sekolah, aku ingin refreshing di tempat ini. Kebetulan aku melihatmu sedang termenung sendirian. Sepertinya kau sedang ada masalah…”

Kris memasang senyum tipis. “Aku baru saja putus.”

“Mwo?” Jiyeon terkejut.

“Waeyo?” tanya Kris.

“Ah, anhiyo. Aku selalu terkejut mendengar orang lain putus hubungan. Kalau boleh bertanya, kenapa kau putus dengan yeojachingumu?”

“Mungkin kami sudah tidak cocok lagi. Sudah lama kami tidak bertemu. Hanya kemarin kami bertemu di bioskop. Aku merasa bersalah padanya karena sebelum kami putus, aku menggantungnya tanpa alasan yang jelas.”

“Aku ikut prihatin, Kris-ssi,” kata Jiyeon. Sebenarnya dia menyukai Kris sejak pertama kali bertemu dengan namja itu. Namun Jiyeon sadar bahwa Kris adalah namjachingu seseorang yang baik hatinya. Ia tidak ingin merebut kekasih orang. “Bersabarlah, Kris-ssi. Jika dia jodohmu, kau akan bertemu dengannya lagi di lain waktu.”

“Gomawoyo,” balas Kris.

Sejak hari itu, hubungan Kris dan Jiyeon semakin dekat. Bahkan mereka sering jalan-jalan sepulang sekolah. Jieun dan Chanyeol tidak mengetahui kalau Kris dan Jiyeon telah menjadi teman dekat.

Hari ini Jieun berencana mengembalikan diary milik Jiyeon. Setelah mendapat informasi alamat Jiyeon dari petugas di sekolah, Jieun berkunjung ke rumah Jiyeon. Ia sangat ingin bertemu dengan Jiyeon yang sudah mengembalikan diary miliknya.

Tok tok!

“Ne, tunggu sebentar!” teriak Chanyeol dari dalam.

Cekleekk…

Chanyeol terkejut melihat seorang yeoja imut-imut berdiri di depan pintu rumahnya. Dia tidak mengenal yeoja itu. apakah yeoja itu temannya Jiyeon? tanya Chanyeol dalam hati. “N, nuguya?”

“Aku ingin bertemu dengan Park Jiyeon. Apa dia ada di rumah?” tanya Jieun. “Perkenalkan, aku Lee Jieun.”

“Ne, masuklah. Silahkan duduk.” Chanyeol mempersilahkan Jieun untuk duduk di sofa ruang tamunya. “Tunggu sebentar, akan aku panggilkan dongsaengku.”

Tak berapa lama kemudian Jiyeon muncul dari balik pintu.

“Jieun-ssi, aku senang sekali kau datang ke rumahku. Gomawo sudah mampir ke sini. Keunde, ada perlu apa ya?” tanya Jiyeon to the point.

“Aku datang ke sini untuk mengembalikan diary-mu. Igeo.” Jieun menyerahkan diary milik Jiyeon kepada pemiliknya.

“Omo! Jadi diary-ku juga ada di tanganmu?” Jiyeon menerima diary-nya.

Jieun tersenyum. “Aku menemukannya di bawah bangku saat aku jalan-jalan di pinggir sungai Han. Karena diary itu hamper sama dengan milikku, aku mengambilnya dan mian karena aku membaca sedikit curhatmu di diary itu.”

“Gomawo, Jieun-ssi. Aku juga minta maaf karena telah membaca diary-mu.”

Jiyeon dan Jieun mulai berteman baik. Keduanya sering curhat tentang masalah-masalah mereka. Jiyeon berencana mencomblangkan Chanyeol dengan Jieun. Dia yakin kalau Jieun bukanlah yeoja seperti Seohyun yang dengan mudah meninggalkannya begitu saja. Chanyeol pun tidak keberatan karena dari awal dia sudah tertarik pada Jieun yang imut-imut.

Hari demi hari berlalu. Akhirnya Chanyeol dan Jieun resmi jadian. Orang yang paling bahagia atas bersatunya dua insane ini adalah Jiyeon. dia senang sekali karena akhirnya Jieun menemukan namja yang baik yang akan selalu mencintainya. Begitupun dengan oppanya. Dia telah membuat oppanya bahagia. Itulah yang diharapkan Jiyeon. Semua akan bahagia karena segala sesuatu pasti indah pada waktunya.

Jiyeon pov.

Syukurlah,Chanyeol oppa tidak galau lagi. Aku bisa melihatnya tersenyum dan tertawa setiap saat. Begitu juga dengan Jieun. Mereka berhak mendapat pasangan yang pantas. Inilah hikmahnya Jieun putus dengan Kris. Mungkin dulu dia bahagia dengan Kris tetapi ternyata berakhir dengan airmata. Semoga tidak untuk kali ini karena aku tidak rela melihat mereka menangis dan bersedih.

Bagaimana dengan diriku? Sejak pertama kali aku bertemu dengan Kris, aku langsung jatuh hati pada namja itu bahkan aku lupa kalau pada saat itu Kris masih berstatus namjachingu Jieun. Setelah mereka putus, barulah aku berani mendekati Kris. Rasanya bahagia. Sudah lama aku menantikan namja yang mau berkencan denganku. Tapi saat dia memintaku untuk menjadi yeojachingunya, aku menolaknya dengan halus. Entah kenapa aku bisa menolaknya padahal dalam hatiku, aku sangat ingin menjadi yeojachingunya. Mungkin hatiku belum siap untuk menerima namja itu menjadi kekasihku.

Aku bilang pada Kris, jika suatu saat kami bertemu lagi dan di saat itu aku sudah siap untuk berkencan, maka aku akan menerimanya sepenuh hatiku. Itulah yang menjadi janjiku padanya dan juga pada diriku sendiri. Dengan melihat orang-orang yang aku sayangi telah bahagia, aku juga merasa sangat bahagia. Mungkin belum waktunya aku bisa seperti mereka.

END

Advertisements

One thought on “The Lost Diary [2nd]

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s