[CHAPTER – PART 1] DON’T LEAVE ME AGAIN

DONT LEAVE ME AGAIN
Author:
Kim Lee Hye
Cast:
Park Jiyeon (T-ara)
Kim Myungsoo (Infinite)
Bae Suzy (Miss A)
Lee Jieun/IU
Genre: school life, sad romance
Happy Reading…
 
“Jieun-ah… Hari ini aku akan mentraktirmu,” kata seorang yeoja imut dengan rambut sebahunya.
“Jongmal? Ah, kau pasti bohong lagi.” Jieun yang awalnya senang dan semangat karena mau ditraktir malah jadi lesu karena ingat bahwa sahabatnya yang imut itu jarang memenuhi janjinya.
“Yak, ada apa dengan ekspresimu itu? kali ini aku serius. Pasti jadi kok.” Jiyeon berusaha meyainkan Jieun kalau kali ini ia pasti mentraktir sahabatnya itu.
“Jongmal?”
“Eoh. Kau mau makan apa? Bagaimana kalau jjajjangmyeon? Sudah lama aku tidak makan makanan itu.” Jiyeon mengelus perutnya yang terasa semakin lapar.
“Aku setuju. Saat ini aku juga ingin makan jjajjanggmyeon. Aigoo, kita sehati. Hahahaa…” Jieun tertawa lepas diikuti Jiyeon yang tak dapat menahan tawanya.
Jiyeon memesan jjajjangmyeon 3 porsi untuk 2 orang. Mereka berdua tak akan cukup jika hanya makan satu porsi. Maka dari itu Jiyeon memesan 3 porsi. Porsi yang satu akan dimakan bersama nantinya. Mereka sangat ahli dalam urusan makan. Oleh karena itu, Jiyeon pandai memasak berbagai jenis masakan agar jika ia lapar, banyak menu yang dapat ia pilih untuk dimasak. Jiyeon dan Jieun lebih sering makan masakan sendiri daripada makan makanan instant apalagi masakan restoran.
“Jongmal mashiketa,” ucap Jieun.
“Sudah lama kita tidak seperti ini,” timpal Jiyeon yang baru saja menumpuk 3 piring yang isinya sudah ludes. Kemudian ia menghela napas panjang.
“Oh iya, kemarin aku mendengar Hwang songsaenim mengatakan kalau di kelas kita akan ada mahasiswa baru dari Jepang.”
“Omo… Jepang?” tanya Jiyeon tak percaya.
“Eoh, dia seorang yeoja. Katanya sih cantik.”
“Ya jelas saja cantik. Mana ada yeoja tampan? Hahaha…” goda Jiyeon yang selanjutnya menegak habis cola di depannya.
“Jiyeon-a, apa kau tahu kabar Myungsoo?” tanya Jieun secara tiba-tiba yang sukses membuat Jiyeon tersedak.
“Mwo? Kau tanya apa tadi?”
“Yaak, dengarkan kalau aku bicara!” ketus Jieun. “Apa kau tahu kabar Myungsoo?”
“Kenapa kau bertanya padaku? Apa kau ingin aku menangis berhari-hari mengingat nama itu, eoh?”
“Mian, Jiyeon-a. Tadi tiba-tiba aku ingat Myungsoo. Aku rindu padanya.” Wajah Jieun terlihat murung.
“Aish, kau ini banyak sekali yang kau ingat. Jika kau rindu padanya, temui saja dia. Jangan mengajakku.”  Jiyeon beranjak pergi.
Jiyeon pov
Malam ini aku sulit sekali menutup mataku. Gara-gara Jieun, sampai sekarang aku masih terbayang tentangnya. Kim Myungsoo segeralah enyah dari pikiranku. Kau tak tahu betapa sakitnya hatiku.
Flashback
“Jiyeon-a, apa kau mau jalan-jalan denganku?” tanya Myungsoo dengan manisnya.
“Eoh, tentu saja. Kajja!” Aku langsung beranjak menggandeng tangannya yang terasa hangat.
“Jiyeon-a, apa yang ingin kau lakukan di masa depan?”
“Aku hanya ingin bersamamu, Myungsoo-a.”
“Jongmal?”
“Eoh.” Aku tersenyum manis kepadanya. Tak lama kemudian ia menawarkan es krim lalu berlari menuju toko penjual es krim terdekt.
5 menit, 10 menit, 15 menit, 1 jam, 2 jam Myungsoo tak datang juga. Apa terjadi sesuatu padanya? Apa ia baik-baik saja, kenapa lama sekali ia beli es krim? Dimana dia beli es krim? Segala pertaanyaan di otakku tak ada yang dapat menjawabnya.
Flashback end
Tak terasa airmataku mengalir indah di pipiku. Myungsoo yang pamit padaku ingin membeli es krim, hingga kini belum kembali. Dimana dia sekarang?
Jiyeon pov end
“Oppa, neo eodiseo?” terdengar suara yeoja yang merdu dari kejauhan mencari seorang namja.
“Eoh, ada apa Suzy-a?”
“Waah, cantik. Nuguya oppa?”
“Entahlah, aku hanya melihat yeoja ini sekali saat di stasiun kemarin.”
“Daebak! Kau benar-benar memiliki ingatan yang kuat, oppa.”
Myungsoo hanya tersenyum. “Kau tidak cemburu?”
“Anhiyo. Untuk apa aku cemburu pada yeoja asing. Kau bahkan hanya melihatnya sekali di stasiun.” Suzy melingkarkan kedua tangannya di pundak Myungsoo.
“Besok kita kuliah perdana, oppa. Aku ingin memiliki banyak teman nantinya.”
Lagi-lagi Myungsoo hanya tersenyum mendengar pengakuan yeoja cantik yang masih memeluknya dari belakang.
Keesokan harinya.
Hari ini kampus benar-benar ramai. Apalagi dengan kedatangan dua sejoli yang rupawan bagai dewa dewi dari khayangan.
Jiyeon heran dengan kelakuan mahasiswa saat ini. Mereka begitu antusias menyambut mahasiswa baru yang katanya cantik dan tampan. Untuk apa peduli pada mereka jika nilai bagus saja saat ini sulit didapatkan. Jiyeon dan Jieun tak mau ikut andil dalam keramaian penyambutan itu. Mereka memilih berdiam diri di perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Kesempatan ini sangat menguntungkan mereka berdua karena tidak harus antri meminjam buku.
“Mereka terlalu bodoh menyambut mahasiswa dari Jepang itu. Memangnya mereka punya keistimewaan apa selain dari wajahnya yang kata orang- orang sangat rupawan?” gumam Jiyeon yang kini sudah berhadapan dengan buku-bukunya di perpustakaan kampus.
“Sudahlah, yang penting kita bisa mengerjakan tugas. Kenapa kau jadi cerewet seperti ahjumma?” sindir Jieun yang sedikit kesal dengan Jiyeon karena mulai cerewet.
“Siang ini kita mau makan apa?” tanya Jiyeon. Tangan kanannya merangkul bahu sahabatnya, Jieun.
“Yaak, apa hanya makanan yanvg ada di otakmu, eoh?”
“Jieun-a, kenapa kau marah begitu? Tentu saja aku memikirkan makanan. Perutku sudah lapar sekali.” Jiyeon mengerucutkan bibirnya. “Kita ke kantin, eotte?”
“Eoh,” jawab Jieun singkat. Ia malas terlalu menanggapi Jiyeon yang sedang kambuh cerewetnya.
Kedua yeoja ini berjalan menuju kantin yang terletak di samping perpustakaan. Mereka melewati pintu perpustakaan yang tak lama kemudian muncul Myungsoo dan Suzy yang baru saja meminjam buku di sana. Sepasang kekasih ini berjalab ke arah yang berbeda dengan Jiyeon dan Jieun. Entah kenapa, tiba-tiba Jiyeon menoleh ke belakang. Ia hanya bisa melihat punggung Myungsoo dan Suzy. Namun ia tak tahu kalau orang itu adalah Myungsoo.
“Aish, kenapa menunya tetap seperti ini? Ahjumma, kenapa menunya tetap ini?” protes Jiyeon yang bosan melihat menu di kantin.
” Yaak, menu sebanyak ini apa masih tak bisa memuaskanmu?” tanya Jieun.
“Aku bosan, Jieun-a. Menu setiap hari ini itu. Semuanya sudah bosan di mulutku.” Akhirnya terpaksa Jiyeon hanya membeli tteokbokki.
“Jiyeon-a, apa kau tidak penasaran dengan mahasiswa baru itu?”
“Anhi… Kenapa aku harus penasaran? Bukankah hampir setiap hari di kampus kita ada mahasiswa baru? Buang-buang waktu saja.”
“Kali ini beda. Katanya sih si namja itu tampan sekali. Aku ingin lihat ketampanannya apakah bisa menandingi ketampanan Myungsoo.” Jieun menerawang jauh.
“Yaak, sudah berapa kali aku bilang padamu. Jangan menyebut nama itu lagi. Kali ini aku tidak ingin menangis. Jangan kau pancing-pancing dengan menyebut nama namja itu.” Jiyeon kesal karena Jieun selalu menyebut nama Myungsoo di depannya. Ia tak ingin mengingat Myungsoo lagi. Terlalu sakit hatinya jika mendengar nama Myungsoo apalagi bertemu dengannya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa hatinya pun masih merindukan namja yang hingga kini masih ia cintai. Rasa sakit di hatinya bercampur dengan rindu. Jiyeon merenung sesaat.
“Mianhae, Jiyeon-a. Kau pasti tahu kalau aku sangat merindukannya. Dia sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri tapi malah tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar tentangnya.
“Ah, ne. Araseo.” Jiyeon berdiri lalu mengambil tasnya di meja depannya. “Aku ada janji dengan seseorang. Apa kau mau ikut?” tanya Jiyeon. Ia sengaja ingin menjauhkan diri dari siapapun karena hatinya sedang gundah. Ia pun sengaja mengajak Jieun karea ia tahu bahwa Jieun tak pernah mau diajak janjian dengan seseorang. “Baiklah, aku pergi dulu.”
Jiyeon pov
Aku sengaja berbohong pada Jieun dan mengajaknya pergi menemui seseorang. Saat ini hatiku benar-benar sedih. Genap 3 tahun Myungsoo menghilang. Dia pergi entah kemana, meninggalkan aku dan semua kenangan kami. Hatiku terlalu sakit mengingat itu semua.  Dimana Myungsoo berada? Aku ingin bertemu dengannya. Oh Tuhan, bagaimana caranya bertemu dengan Myungsoo? Apakah ia masih mengingatku?
Jiyeon pov end
Tanpa sadar, kini Jiyeon sudah berada di ruang musik. Ruangan yang luas tanpa ada seorang pun di dalamnya kecuali Jiyeon sendiri. Perlahan ia mendekati piano yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Airmatanya tak dapat ditahan lagi.
Tak lama kemudian jari jemarinya memainkan lagunya ‘Tto reu reu’. Bibirnya pun bergerak menyanyikan lagu favoritnya itu. Sungguh, airmata yang mengalir di wajah cantiknya semakin deras. Ia menyenyikan lagu itu dengan sesenggukan. Menahan tangis yang ingin meledak.
Myungsoo pov.
Aku merasa bosan berada di samping Suzy terus menerus. Akhirnya ku putuskan untuk berkeliling melihat-lihat kampus megah ini. Di ujung sana ku lihat ada sebuah bangunan besar yang bercorak barat, bangunan paling indah, menurutku. Karena penasaran, ku bimbing langkah ini menuju bangunan itu. Ketika mendekati bangunan itu, aku mendengar dentingan piano yang dimainkan seseorang. Tunggu, lagu ini, ini adalah lagu kesukaan Jiyeon. Semakin penasaran, kupercepat langkahku. Ternyata bangunan itu adalah ruang musik. Samar-samar ku dengar seseorang sedang bernyanyi mengikuti alunan lagu dari piano itu. Suara yang tidak asing di indera pendengaranku. Kulihat pintunya terbuka sedikit. Langsung ku hampiri pintu itu dan mencoba mengintip siapa gerangan yang memainkan piano dan menyanyikan lagu seindah itu.
Mataku tak menemukan siapapun hingga akhirnya ku temukan sesosok yeoja yang sedang memainkan piano dan suaranya bernyanyi dengan sesenggukan. Tiba-tiba aku bangkit dari kesadaranku, suara itu… Park Jiyeon. Ya, dia pasti Jiyeon. Suaranya sama sekali tidak berubah. Suara yang sangat ku rindukan. Yeoja yang selalu hadir dalam pikiranku. Ya Tuhan, benarkah dia Park Jiyeon yang telah aku tinggalkan selama 3 tahun? Aku ingin sekali memeluknya. Tapi aku sadar bahwa yang bisa kulakukan hayalah memandangnya dari belakang. Hanya bisa melihat punggungnya, bahunya yang naik turun seirama dengan nafas dan tangisnya. Tiba-tiba permainan pianonya terhenti. Ia menangis sejadi-jadinya. Aku tak kuasa melihat pemandangan itu hingga akhirnya akupun tak kuat menahan airmataku. Tak ku sadari, aku menangis melihat yeoja yang kucintai ada di depanku. Dia sedang menangis, hatinya pasti terluka. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Mianhae, Jiyeon-a… Jongmal mianhae….
 
To be continued….

 

 

Advertisements

Give Your Response Juseyo...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s